Tampilkan postingan dengan label Naskah Kuno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Kuno. Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 09, 2025


Keempat, Iradat; yaitu visi misi, prospek dan target. Visi dan misi pemimpin lebih mengutamakan rakyat daripada pribadi dan kelompoknya, menghendaki kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan untuk seluruh golongan masyarakat, kemampuannya menuntaskan kemiskinan. Visi misi yang dimiliki bukan hanya membangun infrakstruktur, namun mempersiapkan generasi mendatang dengan mencerdaskan bangsa dan membangun intelektual yang berbasis agama, sehingga tidak terkikis keimanannya oleh pengaruh luar, baik agama maupun adat budaya. 


Dan kelima, Nur; cahaya atau penerang, yaitu sikap pemimpin yang bersih, jujur dan tidak korupsi. Cahaya (nur) sebagai simbol kegemilangan, kejayaan dan kesejahteraan yang mampu menerangi negeri dengan cinta atau kasih sayang, bukan dengan otoriter, apalagi radikalisme dan militerisme. Pemimpin tegas dan lugas, tapi tetap rasional dan tidak dipengaruhi hawa nafsu dan penyakit korupsi.


Konsep membangun karakter ini harus dimulai sejak dini, tidak akan berdiri kokoh satu negeri tanpa pondasi yang kuat. Kecerdasan, keimanan yang kuat, berakhlak mulia dan kejujuran tidak dapat dicetak dengan instan. Saat sifat dan syarat tersebut mampu dipenuhi oleh seorang pemimpin, tak diragukan kemakmuran akan dicapai. Maka lazim sudah pada abad ke-19, Singapura, Malaysia, Inggris dan Yogyakarta meneladani prinsip-prinsip di dalam naskah Tajus Salatin. Di Aceh, tak berlebihan jika disebut sultan Iskandar Muda pada abad ke-17, layaklah ia menjadi pemimpin yang diagungkan di Asia, bahkan dunia. 


Saat usia muda, kecerdasan sultan telah tumbuh menjadi pemimpin, dipercayakan memimpin sendiri kerajaan Pedir (Pidie), sebagai pintu gerbang kesultanan Aceh dari arah Timur perairan laut Selat Malaka, seorang pemimpin muda dalam lintasan jalur perang dan pemerintahan (hifz). Saat memimpin kesultanan Aceh, ia mengerti kebutuhan kaum tuha, dengan spirit (semangat) jiwa anak muda dalam aspek duniawi, yaitu memadukan spiritual yang seimbang dengan kemajuan, perekonomian dan stabilitas politik (fahm). 


Kemudian, ia mampu membuka jalur bisnis dengan pihak-pihak asing, investasi besar-besaran atas kerjasama dengan negara Eropa, ide dan perhatiannya ia curahkan mengelola SDM dan SDA untuk mensejahterakan rakyat (fikr). Selain membangun infrastruktur, mesjid Baiturrahman salah satunya, keberhasilannya membangun jaringan intelektual dengan dunia Jazirah Arab, dan menjadi pusat intelektual keislaman (Islamic Center) di Asia (iradah). 


Baca: ASA PEMIMPIN DALAM TAJUS SALATIN (1)


Dan, kejujurannya tak perlu diragukan lagi, ia begitu bijaksana menempatkan delegasinya di wilayah kerajaannya, termasuk menegakkan hukum sama antara rakyat, pejabat dan sahabat keluarganya, karna ia memandang semua sama di depan hukum (nur).


Kitab ini terdiri dari 24 bab. Keterkaitan sufistik dan kepemimpinan terlihat jelas menjadi satu kesatuan diantara bab. Empat bab pertama, mendidik manusia mengenal Tuhannya. Bab V sampai IX tamsil pemimpin yang adil dan yang zalim. Bab X-XIII membicarakan para menteri dan perwakilan rakyat (DPRA, DPRK, SKPA, dll). 


Bab XIV pendidikan anak. Bab XV-XVI sifat dan karakter leadership. Bab XVII tentang Ten Commandments (10 janji pokok) pemimpin, mengingatkan kita kepada peraturan naskah Adat Aceh. Bab XVIII-XIX memuat ilmu kiyāfa, hikmah dan ilmu firasat, yang kini total ditinggalkan di Aceh, setidaknya dalam dunia pendidikan. Bab XXI, 20 syarat non-muslin di negeri syariat Islam, konteks yang hangat dibicarakan di Aceh saat ini, dan negara-negara Islam. 


Bab terakhir, wasiat pengarang kitab kepada 4 sektor penting (main sector) pemerintahan; yaitu, sultan, perwakilan rakyat (DPRA, DPRK dan SKPA), rakyat yang berakal dan beriman dan kepada media yang netral. 


Melihat kuliatas karya Tajus Salatin, seharusnya menjadi bacaan wajib di pendidikan formal atau non-formal, untuk membangun karakter pemimpin yang jujur, idealis, cerdas dan berakhlak mulia. Tentu, lebih baik daripada disuguhkan cerita fiksi Hindu-Budha kepada anak-anak generasi sekarang ini, yang terkadang memiliki unsur panteisme dan monoteisme di dalamnya.


Pastinya, kerinduan rakyat kepada pemimpin (eksekutif dan legislatif) yang adil, berakhlak mulia, mementingkan kebijakan rakyat, dan bebas dari korupsi. Semua tidak terlepas dari kerinduan historis akan zaman kesultanan Iskandar Muda, hadir kembali ke Aceh. Setidaknya bukan dongeng seperti tuduhan Snouck Hurgronje, saat kita menceritakannya kepada anak cucu kita. Sehingga mengingatkan kita kepada salah satu syair “Buet ureng awai cit ka meutentee, geutanyoe mantong ta rika-rika”, dan ini bukan ilmu retorika untuk membangun Aceh dari sisa-sisa semangat yang belum luntur. []


Baca: ASA PEMIMPIN DALAM TAJUS SALATIN (1)



Note: Artikel ini telah dipublis di media Serambinews Tgl. 19 Juni 2011.

ASAS PEMIMPIN DALAM TAJUS SALATIN (2)

Read More

Sabtu, November 30, 2024


Naskah kuno yang telah dialihaksara yang penting bagi peneliti terkaid Jawa adalah "Buku Babad Majapahit", Sudah dilakukan beragam kajian sejak tempo dulu, ini salah satu buku yang langka dan sulit ditemukan, dialih bahasa dari manuskrip Babad Majapahit oleh Rusman Sutiasumarga dengan Rekaan Tembang oleh Kadir Tisna Sujana tahun 1987. Silahkan klik DOWNLOAD





Download Buku Langka "Babad Majapahit"

Read More

Minggu, Oktober 13, 2024


Banda Aceh (Balitbang Diklat)---Digitalisasi manuskrip keagamaan sangat penting sebagai bagian dari upaya pengembangan ekosistem digital di bidang humaniora menghadirkan pembicara dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Eka Srimulyani, MA dan Hermansyah, M.Hum. 

 

Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh Syarifuddin menyambut baik inovasi ini. menurutnya, kegiatan ini bertujuan memperkaya wawasan tentang digitalisasi manuskrip keagamaan di Indonesia.

 

Syarifuddin menyampaikan bahwa selama ini Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry berupaya mengintegrasikan berbagai bidang humaniora, seperti sejarah, filologi, sastra, dan kebudayaan, ke dalam sistem informasi digital yang dapat diakses publik.

 



"Ini adalah langkah besar dalam pelestarian pengetahuan, dan kami berharap kerja sama dengan berbagai pihak dapat mempercepat transformasi ini," ujarnya dalam sosialisasi Sistem Informasi Jaga Warisan Bangsa (SI-JAWARBA) yang diselenggarakan Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Balitbang Diklat di Banda Aceh, Kamis (3/10/2024).

 

Acara ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam akses terhadap manuskrip keagamaan di Aceh melalui SI-JAWARBA. "Semoga sistem informasi digital ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat, khususnya komunitas pernaskahan di Aceh," pungkasnya.

 

Sebelumnya, Kepala Subbagian Tata Usaha Puslitbang LKKMO Sugeng Riyanto menyatakan bahwa tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya bangsa melalui platform digital SI-JAWARBA. "Kegiatan ini diadakan untuk mengingatkan kita semua tentang pentingnya melestarikan warisan budaya bangsa, yang sekarang dapat kita kelola melalui aplikasi SI-JAWARBA," kata Sugeng.

 

Acara ini dihadiri peserta dari berbagai lembaga, seperti UIN Ar-Raniry, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Universitas Syiah Kuala, Dinas Perpustakaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, Manassa Aceh, Rumoh Manuskrip, BDK Aceh, dan Museum Pedir. (Rois Maulana)

Hermansyah Paparkan Lika-Liku Naskah Kuno di Aceh

Read More

Kamis, September 12, 2024

 


Buku Pengantar Teori Filologi ini semula merupakan naskah yang berjudul ''Pengantar Teori Filologi" yang disusun oleh tim dari Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada Tahun 1984. 

Tulisan berjudul Pengantar Teori Filologi ini diharapkan dapat memenuhi keperluan sebagai pegangan awal untuk memperoleh gambaran mengenai seluk-beluk filologi atau kajian naskah dan teorinya beserta penerapannya padakarya sastra Nusantara.
 





Perkenalan dengan karya -karya tersebut akan menumbuhkan rasa akrab dengannya. Penanganan naskah-naskah dengan pendekatan dan metode yang tepat akan membuahkan hasil yang memadai, yang menempatkan suatu karya dalam dimensi ruang dan waktu seperti yang diduga diciptakan oleh pengarangnya. 

Analisis fungsi dan amanatkarya-karya itu akan memperkaya kehidupan rohani masyarakat.

BAB I Studi Filologi
BAB II Kedudukan Filologi di antara Ilmu-ilmu Lain
BAB III Sejarah Perkembangan Filologi
BAB IV Teori Filologi dan Penerapannya
BAB V Studi Filologi bagi Pengembangan Kebudayaan 



Download bukunya di sini. "DOWNLOAD/UNDUH
Download bukunya di sini. "DOWNLOAD/UNDUH"

Download Buku Pengantar Teori Filologi

Read More

Kamis, September 01, 2022


Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh Hermansyah bahas Qanun Meukuta Alam di Malaysia. Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Tanjong Malim Perak, Malaysia mengadakan Pameran dan Persidangan Antarabangsa Manuskrip Melayu (PPAMM), Selasa-Kamis  9-11 Agustus 2022.

Acara dua tahunan itu diresmikan dan dibuka Menteri Pelancongan (Pariwisata), Seni dan Budaya Malaysia, YB Datuk Seri Dr Santhara. Hadir saat pembukaan acara tersebut, Ketua Pengarah Perpustakaan Negara Malaysia (PNM), YBrs Puan Salasiah binti Abdul Wahab. Kemudian Rektor UPSI, YBhg Dato’ Prof Dr Md Amin bin Md Taff sebagai tuan rumah penyelenggara kegiatan tersebut.

Makan malam bersama dengan Rektor UPSI (Universitas Pendidikan Sultan Idris) dan pengurus dan para narasumber.

Seminar internasional ini menghadirkan 23 pakar manuskrip Melayu dari dalam dan luar negeri yang dibagi menjadi 8 sesi. Pembicara dalam negeri hadir dari berbagai instansi, baik dari universitas ataupun peneliti lepas. Sedangkan pembicara dari luar negara wilayah Malaysia berasal dari Amerika Serikat, Brunai Darussalam, dan tiga dari Aceh, Indonesia.

Peneliti manuskrip yang juga Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Hermansyah, diundang dalam seminar tersebut untuk membedah manuskrip Qanun Meukuta Alam (Undang-undang Aceh), sesuai dengan tema seminar tahun 2022 “Manuskrip Perundangan Melayu: Korpus Warisan Tempatan dan Dunia”.

Menurut Hermansyah, ditinjau dari warisan manuskrip Aceh, maka terdapat tiga qanun atau Undang-undang Aceh yang diperoleh saat ini. Naskah Undang-undang Aceh, naskah Ma Baina as-Salathin atau dikenal Adat Aceh, dan Tadhkirat at-Tabaqat Tgk Di Mulek yang sering disebut Qanun Meukuta Alam.

“Sedangkan Qanun Syara’ al-Asyi merupakan sub-bagian dari Qanun Meukuta Alam,” ungkap Hermansyah kepada media, Jumat (12/8/2022).

Semua naskah qanun di Kesultanan Aceh tersebut, kata Hermansyah, saling terkait dan memiliki jalur silsilah yang hampir sama periodenya, yaitu pada periode Sultan Syarif Jamalul Alam Badrul Munir (1703-1726).

Meski penyebutan dalam naskah merujuk kepada Qanun Meukuta Alam Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Hermasyah menyampaikan, seminar ini dikhususkan untuk mengkaji undang-undang atau qanun yang pernah berlaku dan berjaya pada masa kerajaan-kerajaan Melayu tempo dulu yang dapat diaktualisasikan dan diaplikasikan pada zaman sekarang ini.


Selain sesi Qanun Meukuta Alam asal Kesultanan Aceh Darussalam, juga diseminarkan Hukum Qanun Melaka, Hukum Qanun Pahang, Undang-undang Kedah, Hukum Qanun Brunei Darussalam, Undang-undang Laut, Sejarah Perundang-undangan, dan Undang-undang dari aspek bahasa dan disiplin ilmu lainnya.

Seminar internasional yang diadakan oleh PNM kali ini mengambil tempat di UPSI Tanjong Malim, Perak.

Kata “Malim” yang dibaca malem memiliki pengertian yang sama di Aceh yaitu orang yang berilmu atau alim. Alkisah terdapat tanjung (unjung) sungai di kawasan tersebut yang didiami oleh para penuntut ilmu.

Oleh karena itu disebut Tanjong Malem yang kini oleh Sultan Perak diganti namanya menjadi Tanjung Muallim, atau dikenal tanah Muallim. (*)


Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh Paparkan Manuskrip Qanun Meukuta Alam di Malaysia

Read More

Selasa, Juni 07, 2022


Pagi hari itu cukup cerah, bahkan terik panas matahari lebih  awal muncul dari biasanya. Sejak bulan Ramadhan hingga pertengahan Syawal belum pernah hujan, mendungpun tak kunjung menunjukkan tanda-tandanya. Namun kegiatan surau sudah dipenuhi para pengunjung yang ingin berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan, seorang ulama tersohor penyebar Tarekat Syattariyah di Pariaman, Padang.

Salah satu surau yang dikunjungi oleh penziarah adalah Surau Pondok Ketek, Ulakan Pariaman. Di surau ini, tersimpan ratusan teks naskah dalam beragam bidang ilmu, terutama bidang keagamaan dan tata bahasa. Selain itu, pemilik dan perawat manuskrip di surau ini adalah Tuanku Khalifah XV, Buya Heri Firmansyah.

Hermansyah bersama Pramono menelusuri naskah-naskah Aceh di Padang, Sumbar


Perjalanan dari Kota Padang ke surau ini membutuhkan waktu 1 jam lebih. Sesampainya kami di sana sudah banyak jamaah dari luar kota, mereka biasanya berziarah ke makam Syekh Ulakan yang berjarak beberapa kilometer dari surau tersebut. Kegiatan di surau ini selain pengajian, ceramah dan mendengar kisah perjuangan ulama-ulama Ulakan.

Tim kami harus menunggu lebih dari dua jam di rumah Buya tersebut, mengingat jamaah dari luar kota lebih awal sampai di tempat. Tim peneliti yang terdiri  dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dengan Universitas Andalas dan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry terkait dengan moderasi beragama dari sumber-sumber manuskrip di Sumatera dengan lokasi penelitian Padang dan Aceh. Penelitian kolaborasi yang melibatkan eksternal lembaga adalah salah satu program utama penelitian BRIN dengan universitas-universitas di Indonesia.

Setelah sekian lama menunggu dan berdiskusi Dr. Pramono, dosen Universitas Andalas dan pengurus Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara) Pusat dan Khairullah dari Manassa Komisariat Padang, yang juga tergabung dalam Komunitas Suluah di Padang. Akhirnya pimpinan surau hadir setelah memimpin aktivitas pengajiannya.

Surau Pondok Ketek di Pariaman menyimpan beberapa naskah kuno yang merupakan warisan leluhur sebelumnya. Terdapat beberapa tema naskah dan termasuk Alquran berjuz. Diskusi kami sangat panjang, mulai dari sejak awal kepemimpinannya hingga bagaimana proses naskah-naskah itu masih bertahan di sana.

Naskah-naskah di surau ini sudah diindeks dan diinventarisasi koleksinya, walaupun belum dilakukan restorasi dan termasuk mendigitalkan kandungan isi naskah. Dua program akhir tampaknya harus segera dilakukan melihat kondisi naskah koleksi tersebut mulai rusak akibat kondisi alam, lembap dan dimakan rayap.

Pada akhirnya kami tertuju pada satu naskah yang cukup tebal, masih utuh dengan sampulnya. Di dalamnya terkandung beberapa teks, termasuk tentang naskah Syair Ruba’i Hamzah Fansuri yang dikarang oleh Syamsuddin bin Abdullah As-Sumatra’i. Namun tidak diketahui masa penulisan atau penyalinan teks ini mengingat tidak ada informasi di kolofon (bagian akhir) teks.

Bersama Buya Surau Pondok Ketek Ulakan Pariaman Padang 


Sebagaimana diketahui, Syekh Syamsuddin bin Abdullah as-Sumatra’i adalah murid dan sekaligus teman Hamzah Fansuri. Ulama dan Syaikhul Islam tersebut memiliki peran penting pada masa pemerintahan Iskandar Muda. Ia pun syahid pada tahun 1630 saat penyerangan Portugis di Malaka.

Ketenaran dan kedalaman ilmu tasawuf, Syekh Syamsuddin bin Abdullah As-Sumatra’i diakui oleh Syekh Nuruddin Ar-Raniry dalam kitabnya Bustanus Salatin, meskipun keduanya tidak berjumpa karena periode yang berbeda.

Ternyata, naskah yang tersimpan di surau tersebut adalah salah satu bagian dari sekian banyak manuskrip-manuskrip ulama Aceh yang ada di tanah Minang. Tentu saja, Negeri Minangkabau, Padang dengan Negeri Serambi Mekkah, Aceh memiliki hubungan kuat secara keilmuan.

Nasib naskah-naskah kuno di Padang juga masih memprihatinkan, masih banyak kondisinya rusak, lembap dan dimakan rayap. Tentu juga naskah-naskah Aceh, baik karya ataupun pengarangnya. Naskah-naskah di sini belum dikonservasi dan restorasi. Semoga ke depan Pemerintah Aceh mau mengidentifikasi bahkan membackup naskah-naskah Aceh di luar Provinsi Aceh.

Telah dipublikasi: www.marjinal.id

Nasib Naskah Kuno Aceh di Padang, Sumatera Barat

Read More

Selasa, Oktober 26, 2021


SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Gubernur Aceh yang diwakili Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum, Iskandar AP, menyampaikan ucapan terima kasih atas penominasian Hikayat Aceh sebagai Memory of the World (MoW) dan penguatan Pusat Studi Arsip Tsunami yang telah diregistrasi dalam Register Internasional MoW UNESCO.


Ungkapan tersebut disampaikan Iskandar, saat menerima kunjungan Audiensi Tim Komite Nasional MoW, di Aula Serba Guna Kantor Gubernur Aceh, Jumat (22/10/2021).


"Kami atas nama Pemerintah Aceh sangat berterima kasih. Ini menjadi sebuah kehormatan bagi kami atas penominasian Hikayat Aceh dan Penguatan Pusat Studi Arsip Tsunami yang telah diregistrasi dalam Register internasional MoW UNESCO. Kami akan mendukungan penuh atas pendaftaran Nominasi Hikayat Aceh tersebut," kata Iskandar dalam sambutannya.


Ia menjelaskan, melalui "hikayat" Aceh telah berkontribusi besar dalam peradaban Islam di Nusantara.


Sehingga memperkaya perkembangan dunia intelektual, melalui manuskrip-manuskrip yang lahir dari buah pikir dan goresan pena para ulama di masa lampau.


"Hikayat adalah salah satu dari sekian banyak karya tulis lainnya yang diwariskan para cerdikiawan Aceh tempo dulu. Hal inilah yang menjadikan Aceh hingga kini masih menjadi lumbung naskah kuno di Indonesia," kata Iskandar.


Untuk mendukung pelestarian naskah kuno “Hikayat Aceh” tersebut, kata Iskandar, Pemerintah Aceh sudah melakukan pertemuan dan diskusi pra registrasi Hikayat Aceh sebagai tindak lanjut MoW 2019 pada Oktober 2018 lalu.


Pertemuan itu dilakukan untuk mengupayakan penyusunan naskah nominasi, dikarenakan pengusulan MoW harus disertai kajian akademik.




Selain itu, Pemerintah Aceh juga akan mencetak dan memperbanyak buku “Hikayat Aceh” untuk dijadikan koleksi literasi setiap perpustakaan di Aceh dan nasional.


Selanjutnya, Pemerintah Aceh juga akan melakukan berbagai promosi dan diseminasi naskah Hikayat Aceh serta berbagai bentuk dukungan lainnya yang akan lebih mendekatkan masyarakat Aceh terhadap literasi kuno tersebut.


Iskandar menuturkan, langkah-langkah yang diambil tersebut merupakan cara Pemerintah Aceh untuk menyelamatkan dan memulihkan “Hikayat Aceh”, maupun naskah-naskah kuno lainnya sebagai arsip warisan budaya masa lalu.


"Aceh, sudah seharusnya berkaca pada kondisi alamnya yang rawan tehadap bencana, jadi sudah sepatutnya kita berkonsentrasi pada penyelamatan dan perlindungan arsip-arsip lainnya dari dampak bencana, seperti arsip vital," pungkas Iskandar.



Oleh karena itu, untuk mendukung penyelamatan arsip vital yang merupakan bukti sejarah tetap terjaga dan terawat keberadaannya,  Pemerintah Aceh sesuai dengan permohonan Kepala ANRI telah menghibahkan tanah pertapakan bangunan kantor Balai Arsip Statis dan Tsunami ANRI yang berlokasi di Komplek Perkantoran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.


"Kami telah menyurati DPRA guna mendapat rekomendasi, sehingga dapat ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Aceh tentang Penetapan Hibah Barang Milik Aceh Kepada ANRI. Mari kita doakan semoga cepat selesai dan tanah tersebut dapat segera dihibahkan," katanya.


Sementara itu, Ketua Komite Nasional MoW yang juga Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Imam Gunarto menjelaskan, program Memory of the World diluncurkan oleh UNESCO pada tahun 1992, sebagai respon terhadap ancaman kepunahan warisan dokumenter berupa arsip, pustaka maupun artefak dari kerusakan, baik itu yang mengalami kerusakan ataupun kemusnahan yang disebabkan oleh faktor alamiah dan faktor manusia.




Imam menerangkan, keterlibatan Indonesia dalam pengajuan warisan dokumenter sebagai MoW, sudah diawali sejak tahun 2003.


Indonesia juga memiliki andil sebagai co-nominator dalam pengajuan arsip seperti, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), manuskrip La Galigo (2011), Babad Diponegoro dan kitab Negara Kertagama (2013), arsip KAA (2015), Arsip Restorasi Borobudur, Naskah Cerita Panji dan Arsip Tsunami Samudera Hindia (2017). 


Lebih lanjut, jelas Imam, Indonesia melalui Komite Nasional MoW, akan mengajukan 3 warisan dokumenter untuk dicantumkan pada register internasional MoW UNESCO yaitu Arsip Sukarno: "To Build the World A New", Arsip KTT GNB I dan Hikayat Aceh.


"Saya memohon kepada seluruh pimpinan provinsi dan masyarakat Aceh dapat bersama-sama menggerakan upaya ini agar sukses diakui oleh UNESCO," ujarnya.


Pertemuan yang menerapkan protokol kesehat ketat itu turut dihadiri oleh Kepala ANRI, Kepala Perpustakaan Nasional RI, Plt Kepala BKN, dan para perwakilan Forkopimda Aceh.


Sumber: Serambi Indonesia


Hikayat Aceh Masuk Nominasi Memory of the World

Read More

Naskah Hikayat Aceh merupakan koleksi langka yang ditulis pada abad ke-17. Karya sastra kuno yang diajukan menjadi nominasi Memory of the World (MoW) ini berisikan kisah perjalanan Sultan Iskandar Muda sebagai sultan paling kuat dan besar dalam Kesultanan Aceh.

Peneliti filologi Melayu-Aceh Hermansyah, mengatakan, naskah Hikayat Aceh merupakan koleksi langka karena tidak banyak salinan. Saat ini, hanya terdapat tiga naskah Hikayat Aceh, dua naskah di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda dan satu naskah di Perpusnas

Dijelaskan, Hikayat Aceh menceritakan kisah para Sultan dan Kesultanan Aceh sebelum dan masa Sultan Iskandar Muda pada 1590-1636 M. Naskah kuno ini pun memenuhi nilai-nilai historis, baik melalui sumber primer sejarah, peristiwa, dan ketokohan.


Acara ini merupakan rangkaian kegiatan MOWEEK yang diselenggarakan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). 

Peneliti bidang agama dan tradisi keagamaan Melayu-Aceh Kementerian Agama Fakriati, mengatakan, naskah Hikayat Aceh ini banyak menceritakan masa Kejayaan Sultan Iskandar Muda. Namun di sisi lain, terdapat tradisi dan toleransi yang dibangun oleh tokoh utamanya, Sultan Iskandar Muda.


Dalam naskah Hikayat Aceh, Fakriati mencoba merangkai isi naskah bahwa di dalamnya terdapat toleransi yang dibangun dari beberapa unsur. Di antaranya, sultan/pejabat negara, ulama, rakyat, adat dan agama.


“Ada keterikatan antarunsur ini secara utuh. Saling mendukung sehingga membentuk nilai-nilai toleransi,” ujarnya dalam webinar Hikayat Aceh: Road to Memory of the World, yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI secara daring, Rabu (13/10/2021).


Dia menambahkan, Hikayat Aceh menanamkan pola hidup dan budaya multikultural dan interaksi antara Sultan dengan rakyat, serta antara pendatang dengan pribumi.


“Naskah Hikayat Aceh ini menggunakan aksara Jawi berbahasa Melayu. Namun, naskah yang ada ini, halaman awal dan akhir belum ditemukan,” ungkapnya.




“Sehingga perlu adanya reproduksi teks Hikayat Aceh dalam bentuk modern yang menjadi media edukasi dan sosialisasi naskah,” tuturnya.


Sementara itu, pakar pendidikan dan sejarah Wardiman Djojonegoro, menceritakan, pada 2017, Perpusnas berencana mengusulkan Hikayat Aceh untuk menjadi memori dunia tahun 2018. Namun, pada tahun tersebut pendaftaran MoW oleh UNESCO ditunda. Meski begitu, proses penyelesaian naskah nominasi tetap dilanjutkan.


“Pada tahun ini pendaftaran kembali dibuka dan Hikayat Aceh akan diajukan menjadi nominasi MoW. Karena selain langka, naskah ini agak berbeda dari naskah melayu lainnya. Tidak menceritakan tentang raja tetapi bercerita tentang keagungan raja,” ungkapnya.


Menurutnya, pengajuan naskah Hikayat Aceh untuk MoW telah memenuhi kriteria MoW UNESCO dan mempunyai potensi untuk diterima sebagai warisan dunia. “Semoga naskah nominasi dapat disusun bersama dan segera diselesaikan untuk memenuhi kriteria dari UNESCO,” harapnya.


Dukungan terhadap pengajuan Naskah Hikayat Aceh sebagai nominasi MOW juga ditunjukkan oleh Pemerintah Provinsi Aceh. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Edi Yandra mengatakan, pihaknya telah melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai MoW 2019, pada Oktober 2018.


“FGD ini diperlukan untuk memperkaya usulan penyusunan naskah nominasi, karena pengusulan MoW harus disertai kajian akademik,” terangnya.


Dia berharap, Hikayat Aceh ditetapkan menjadi Memori Dunia. Ke depannya, jika sudah ditetapkan, Pemerintah Aceh akan mencetak dan memperbanyak buku Hikayat Aceh, menjadikannya sebagai koleksi literasi di setiap perpustakaan di seluruh Aceh, bahkan seluruh Indonesia. Pihaknya berjanji akan melestarikan dan membudayakan seni Hikayat Aceh dalam kegiatan tingkat daerah hingga internasional.


“Kami harap naskah Hikayat Aceh ini menjadi bacaan untuk semua kalangan, terutama menambah pengetahuan bagi generasi muda,” ungkapnya.


Selain itu, diselenggarakan pula penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Perpisnas dan ANRI. Bersamaan, diluncurkan web portal Memori Kepresidenan RI yang merupakan integrasi situs web kepustakaan presiden-presiden milik Perpusnas dengan situs web diorama arsip kepresidenan milik ANRI.


Pada September lalu, ANRI terpilih menjadi Komite Nasional Memory of the World Indonesia. Sebelumnya, Komite Nasional MoW diemban oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengatakan, dengan dipilihnya Kepala ANRI sebagai Ketua Komite Nasional MoW menjadi sebuah langkah besar yang dilakukan untuk memulai kerja sama.


“Ini sebuah misi yang akan kita emban ke depan, sehingga misi peran kedua institusi makin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya. 


sumber: infoaceh.net

Hikayat Aceh, Naskah Kuno Berisi Kisah Sultan Iskandar Muda Diusul Jadi Memori Dunia

Read More

Rabu, Oktober 31, 2018

Naskah kuno berjudul “Hikajat Atjeh” (Hikayat Aceh) yang ditulis pada paruh kedua abad 17 dan diyakini sebagai karya Syamsuddin As-Sumatrani, kini sedang diperjuangkan Perpustakaan Pusat Nasional (Perpusnas) RI untuk diterima Unesco sebagai warisan Memory of the World (MoW) Tahun 2019.

Terkait dengan upaya itu, Kamis (25/10/2018) pagi dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai Memory of The World 2019 di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.

FGD itu diperlukan untuk memperkaya upaya penyusunan naskah nominasi, karena pengusulan MoW harus disertai kajian akademik.

FGD yang dihadiri 20 pakar itu dibuka Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Dr Wildan MPd dan difasilitasi Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika.

Mengawali FGD, Prof Dr Wardiman Djojonegoro (mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Orde Baru) dan Hermansyah (Dosen Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry) tampil sebagai narasumber utama membahani para peserta yang notabene juga narasumber FGD.

Prof Wardiman yang saat ini berusia 83 tahun dengan penuh semangat membeberkan bahwa Unesco (Badan Resmi PBB untuk Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan) akan kembali membuka pendaftaran MoW, diperkirakan pada Mei 2019.

Untuk itu, Kepala Perpusnas, Dr Syarif Bando, mengusulkan dua naskah sastra kuno untuk didaftarkan (diregister) sebagai nominee MoW dari Indonesia.

Naskah tersebut adalah Sang Hyang Sikusa dan Hikajat Atjeh. Alasan pengajuan karena naskah Hikajat Atjeh termasuk tua, merupakan warisan sastra kuno, masih tersimpan dengan baik dan aman (di Perpusnas dan di Universitas Leiden, Belanda), dan luput dari bencana tsunami.

Kepala Perpusnas, kata Prof Wardiman, juga setuju untuk mengundang Pemerintah Aceh menjadi salah satu co-nominator, di samping Universitas Leiden.

“Pemerintah Aceh diajak sebagai co-nominator, agar para ilmuwannya dapat ikut aktif mengkaji pengusulan naskah ini,” kata Wardiman didampingi Dr Ahmad Masykuri, Kepala Pusat Reservasi Bahan Pustaka Perpusnas RI.

Menurut Wardiman, untuk ukuran sebuah manuskrip Indonesia, naskah Hikajat Atjeh itu tergolong sangat tua (ditulis antara 1650-1700), karena naskah di Indonesia biasanya cepat rusak akibat kelembaban yang tinggi, mengingat Indonesia negeri tropis.

MoW ini, kata Wardiman, bertujuan untuk melestarikan warisan arsip dunia dengan teknologi mutakhir dan meningkatkan preservasi dari arsip-arsip yang mempunyai arti global, maupun arsip yang mempuyai nilai regional atau nasional.

Tujuan lainnya adalah meningkatkan kepedulian para negara anggota atas arsip-arsip mereka, khususnya arsip yang mempunyai nilai warisan dan arti global.
Ms. Hikayat Aceh koleksi Perpustakaan Nasional RI, Jakarta

Narasumber lainnya, Hermansyah merekomendasikan perlu adanya reproduksi naskah, alih media modern, dan sosialisasi naskah Hikajat Atjeh yang akan didaftarkan ke Unesco itu.

Ia menyebut nakah tersebut sebagai salah satu dari Naskah Agung Aceh yang berdasarkan kajian Dr Hoesein Djajadiningrat maupun Dr Teuku Iskandar, diyakini sebagai karya Syamsuddin As-Sumatrani yang pernah menjadi Mufti Agung pada masa Kerajaan Aceh.

Aceh sendiri, menurutnya, memiliki 5.141 naskah yang sudah terdata, tapi baru 944 yang didigitalisasi.

Ia berharap, naskah kuno lainnya dari Aceh sepanjang ditemukan naskah aslinya layak diusulkan ke Unesco sebagai MoW.

Di antaranya Hikayat Raja-raja Pase yang lebih tua dibanding Hikajat Atjeh.

Para peserta FGD seluruhnya setuju dan gembira jika naskah Hikajat Atjeh diregister ke Unesco untuk mendapatkan MoW tahun 2019, karena hal itu menunjukkan tingginya tamadun dan peradaban Aceh pada abad 17 yang bukti fisiknya masih ada hingga kini.


Artikel ini telah tayang di Serambinews.com
http://aceh.tribunnews.com/2018/10/26/hikayat-aceh-dinominasikan-masuk-memory-of-the-world-unesco

Hikayat Aceh Dinominasikan Masuk Memory of the World UNESCO

Read More

Selasa, September 11, 2018


Tahun Baru Islam diawali pada bulan Muharram merupakan bulaan yang penuh sejarah dan pelajaran bagi seluruh ummat Islam di dunia ini, dan manusia secara umum.

Tahun baru itu ditetapkan oleh para sahabat sebagai peringatan paling bersejarah dalam perjalanan agama terakhir di dunia ini, yaitu merujuk kepada peringatan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Mekkah ke Kota Madinah pada tahun 622 Masehi.

Hijrahnya Nabi Muhammad ke Kota Yatsrib (nama lama sebelum Madinah) membuka lembaran baru bagi kehidupan Rasulullah, para sahabat dan pengikutnya. Tahun itu juga ditandai tidak ada perbedaan antara kabilah-kabilah di dalam Islam, tidak ada "asoe lhok" pribumi dengan "ureung luwa" pendatang, antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Semua sama dalam Islam.

Maka, para sejarawan dan ulama memiliki beragam penafsiran terhadap peristiwa tersebut, bahkan ia tidak hadir dengan sendirinya, dan dipenuhi dengan berbagai harapan, asa dan doa yang luar biasa.

Maka, dianjurkan setiap akhir tahun untuk berdoa, sebagaimana disebutkan dalam naskah ini.


Inilah doa akhit tahun, yaitu hendaklah dibaca tiga kali pada akhirnya waktu Ashar hari Dua Puluh Sembilan atau Tiga Puluh dari pada bulan Zulhijjah. Maka barang siapa membaca doa ini daripada waktu yang telah tersebut.

Maka berkatalah setan "kesesuhanlah bagiku dan sia-sialah pekerjaanku menggoda anak Adam pada setahun ini".

Maka dibinasakan dengan satu saat jua dengan sebab membaca doa ini. Maka diampuni Allah sekalian dosanya yang setahun ini. inilah doanya:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ 
اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَىَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرْا ئَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى اَسْتَغْفِرُكَ فَغْفِرْلِى وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ
 فَاَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَ الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعَ رَجَائِى مِنْكَ يَاكَرِيْمُ
 وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


Artinya:
Dengan menyebut nama Allhh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dan Allah tetap melimpahkan Rahmat dan Salam kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau.
Ya Allah. Apa yang saya lakukan pada tahun ini tentang sesuatu yang Engkau larang aku melakukannya, kemudian belum bertaubat, padahal Engkau tidak meridhai, tidak melupakannya, dan Engkau bersikap lembut kepadaku setelah Engkau berkuasa menyiksaku dan Engkau seru aku untuk bertaubat setelah aku melakukan kedurhakaan kepada-Mu.
Maka sungguh aku mohon ampun kepada-Mu, ampunilah aku! Dan apapun yang telah aku lakukan dari sesuatu yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala kepadaku, maka aku mohon kepada-Mu ya Allah, Zat Yang Maha Pemurah, Zat Yang Maha tinggi lagi Maha Mulia, terimalah permohonanku dan janganlah Engkau putus harapanku dari-Mu wahai Zat Yang Maha Mulia.
Semoga Allah tetap melimpahkan Rahmat dan Salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat sekalian.

Manuskrip Akhir Tahun Baru Islam dan Do'anya

Read More

Rabu, Januari 04, 2017

Siapa sangka, manuskrip tulisan tangan karya leluhur tempo doeloe yang berumur ratusan tahun tidak dapat dibaca lagi saat ini. Bukan karena hilang, bukan rusak fisiknya dan bukan juga dilarang baca, akan tetapi karena isi kandungannya tidak dapat terbaca lagi.

Ini salah satu kondisi riil yang banyak orang -termasuk pemerintah- mengabaikannya. Naskah yang dianggap tampak dari luar bagus, tetapi tidak dapat dibaca lagi isinya. Teks-teks tulisan di dalamnya rusak akibat zat asam tinta, dimakan rayap, ataupun rusak secara alami, yang berakibat pada musnahnya kitab-kitab tersebut, tepat di era yang modern nan serba canggih.

Parahnya kerusakan tersebut digerogoti dari dalam lembaran naskah aus akibat tinta yang merambah ke halaman-halaman lainnya. Banyak yang menyangka, fisik naskah yang masih utuh, dibungkus rapi dan  sampulnya baik-baik saja, ternyata di dalamnya telah hancur melebur kehitaman dengan tinta. Hal inilah yang tidak banyak diketahui oleh para kolektor di masyarakat, bahkan termasuk koleksi-koleksi di lembaga pemerintahan sekalipun.

Walhasil, sang kolektor -personal atau lembaga- hanya menyimpan lembaran kosong nan rusak, tetapi isinya tidak dapat dibaca lagi sebagian atau bahkan seluruhnya.

Rusaknya manuskrip-manuskrip akibat tinta, suhu cuaca, ataupun tempat penyimpanan yang tidak baik (stabil) adalah faktor umum di Aceh. Namun demikian, dapat juga kadaluarsa zat-zat campuran dalam tinta tersebut sehingga berefek pada lembar-lembar naskah yang telah tergores oleh zat kimia tidak dapat menetralisir dan bertahan sebagaimana layaknya kertas di era modern.

Dalam kasus di atas, saya banyak temui naskah-naskah tersebut di Aceh, baik di koleksi perpustakaan pribadi masyarakat, ataupun koleksi Museum Aceh dan lembaga swasta seperti Yayasan Ali Hasjmy dan Zawiyah Tanoh Abee. Seluruh lembaga yang sebutkan di atas mengoleksi ratusan naskah yang sebagian besar belum banyak dibaca, belum pernah dikaji apalagi didigitalisasi.

Salah satu kasus yang saya temui- dan sangat terkejut-  pada saat saya publikasi foto naskah Maulid Nabi koleksi Yayasan Ali Hasjmy dalam blog saya "Indahnya Manuskrip Maulid Nabi di Aceh" Desember  2015, yang ternyata halaman yang sama pernah difoto oleh bu Annabel Teh Gallop tahun 1993.

Foto yang saya upload diambil sekitar tahun  2011, atau mungkin lebih awal sedikit, maka tampak naskah sebagaimana di bawah ini yang hangus akibat zat tinta.

Naskah Koleksi Yayasan Museum Ali Hasjmy, dokumen foto sekitar tahun 2011
Naskah Koleksi Yayasan Museum Ali Hasjmy, dokumen foto sekitar tahun 1993

Ternyata, naskah yang sama pernah difoto oleh Dr. Annabel Teh Gallop yang ternyata naskah sebelumnya sangat mengejutkan indahnya. Ia memotret naskah tersebut saat Ali Hasjmy (alm) masih hidup sekitar tahun 1993. Beliau juga terkejut dengan kondisi foto naskah di atas, kemudian Bu Annabel mengirim foto naskah di bawah (tahun 1993) ke saya dan beliau bersedia untuk dipublis di sini.

Tentunya lebih jauh untuk berdiskusi dan memikirkan langkah-langkah apa yang baik untuk penyelamatan naskah yang sangat menyedihkan dan prihatin  dengan kondisi naskah yang saya publis sebelumnya.

Naskah di atas yang difoto pada tahun 1993 masih tampak sangat indah dan lengkap dengan ukiran bunga, warna hijau yang dominan lebih menonjol dari warna merah, biru dan kuning. Naskah yang berisikan tentang bait-bait pujian kepada Nabi Muhammad semakin indah dan lengkap dengan hiasan bunga tersebut.

Tetapi, kondisinya sekarang ini sangat prihatin. Walaupun sampul masih bagus dan terlihat sempurna, tetapi kandungan teks (tulisan) telah rusak akibat katajaman tinta. Apabila kondisi naskah di bawah ini terjadi pada tahun 2011, maka sudah barang tentu kondisinya sekarang (tahun 2017) semakin parah.

Kerusakan manuskrip akibat ketajaman tinta ini belum dapat solusi ampuh, bahkan dalam beberapa kasus teks  sama sekali tidak dapat dibaca isinya dalam waktu relatif singkat,  hal itu diakibatkan faktor-faktor lain yang mendukung percepatan kerusakannya. Jika itu terjadi, maka satu-satunya sikap yang harus disegerakan adalah digitalisasi naskah, atau proses pemotretan isi naskah segera mungkin.

Contoh lainnya dengan kasus yang sama juga saya temui pada saat saya menginventarisir dan mendeksripsi naskah koleksi Bapak Tarmizi A Hamid (sekitar tahun 2012). Salah satu naskah fikih yang tampak baik-baik saja di luar, ternyata di dalamnya hancur akibat zat tinta.

Bahkan lembaran-lembarannya tidak dapat dibuka perlembar secara sempurna akibat kerusakan tersebut. Naskah di atas koleksi Bapak Tarmizi A Hamid dapat dilihat dua perbedaan. Matan teks (teks utama) di tengah masih untuk sempurna. Akan tetapi, teks disekelilingnya rusak total (hangus) dan sama sekali tidak dapat dibaca lagi.

Pada tahun 2017, entah bagaimana nasib naskah tersebut, kemungkinan besar bertambah hancur. Karena dari laporan empunya koleksi menuturkan tidak ada program-program restorasi dan preservasi naskah dari pemerintah ataupun lembaga lain hingga saat ini.

Kepedulian dan Keseriusan Pemerintah

Jika dipersentasekan jumlah naskah yang didigitalkan untuk penyelamatan dari keseluruhan naskah di Aceh, dapat saya katakan hanya 30%.  Contoh misalnya untuk program digital naskah koleksi Museum Aceh pasca rehab-rekon, hanya sekitar 600-800 naskah yang baru didigitalkan dari 1900 naskah koleksinya. Tapi bila dibandingkan dengan naskah-naskah lainnya, seperti Yayasan Museum Ali Hasjmy, Zawiyah Tanoh Abee, koleksi pribadi seluruh Aceh yang hampir 4 ribu naskah, hampir seluruhnya belum didigitalkan atau difoto.

Pada dasarnya ini menjadi dilema bagi seseorang kolektor ataupun pecinta manuskrip, mendigital naskah tentu akan mengurangi "sentuhan tangan" langsung dengan naskah, yang dalam ilmu filologi dianggap belum masuk ke ranah "kodikologi. Namun demikian, penyelamatan kandungan isi (teks) naskah juga lebih penting karena bagian utama kajian filologi pada masa sekarang dan masa mendatang.

Singkatnya, pemerintah setempat (Aceh) punya kewajiban untuk program penyelamatan naskah ini. Di tangan Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota program ini akan cepat dan tepat, bekerjasama dengan para  kolektor di masyarakat. Cepat karena bertaruh dengan waktu dan kerusakan manuskrip itu, dan "tepat" sebab pemerintah-lah yang memiliki sumber daya manusia, dana dan fasilitas pendukung yang melebihi cukup. Sekarang, tinggal hanya "political will" alias kemauan dan kepedulian atau tidak.


Program digitalisasi naskah dapat dibarengi dengan program lainnya, misalnya pelatihan dan pengetahuan restorasi naskah kepada para kolektor. Selain itu, juga dapat dilakukan beragam program baik oleh pemerintah secara langsung ataupun masyarakat, misalnya pengelolaan data IT, sebab digitalisasi tidak mesti selamanya harus dipublikasi online. Misalnya, cukup disimpan di pemilik naskah, Data Center Manuscript Aceh (semoga ini terwujud) dan pihak yang terpercaya.

Apabila Pemerintah Aceh masih mengabaikan penyelamatan manuskrip di Aceh, fisik atau isinya, maka saya jamin banyak manuskrip, karya, ulama, peradaban, khazanah dan lainnya di Aceh akan dianggap hanya dongeng belaka. Wallahu a'lam.

Pentingnya Digitalisasi Naskah: Dari Kisah Nyata

Read More

Minggu, Desember 25, 2016

Hikayat salah satu literatur dan "tradisi populer" di masayarkat Aceh. Sebagaimana diketahui kata "hikayat" diambil dari kata Arab yang konotasinya cerita, dongeng, atau cerita panjang. Kata kerjanya "haka" yaitu menceritakan kepada orang lain. Dalam pengertian sastra Indonesia dan Melayu, hikayat dimaksud dalam bentuk prosa.

Berbeda dengan terminologi Aceh, hikayat bukan hanya sebuah cerita pemanis tidur. Hikayat dalam sastra Aceh juga bukan dalam bentuk prosa, akan tetapi hikayat di Aceh dalam bentuk puisi atau sanjak. Hikayat Aceh diciptakan dalam bentuk puisi, awalnya masyhur dalam tradisi lisan yang didendangkan atau dilantunkan di depan publik, termasuk dalam kesultanan. Sejauh ini, belum banyak penelitian dalam bidang "eksistensi dan tradisi hikayat di Aceh", bahkan belum ada pakar hikayat Aceh dan perguruan tinggi di Aceh yang membuka jurusan "sastra Aceh". Akan tetapi, hikayat-hikayat dalam sastra Aceh sangat terkenal yang memiliki beragam kandungan, pesan, multiguna, multigender, mulai dari kisah masa lalu hingga kejadian realita.

Salah satu hikayat dalam bentuk real adalah "Hikayat Geumpa di Atjeh" karya Syekh Rih Krueng Raja (sekarang disebut Krueng Raya) yang disusun tahun 1964, atau pada saat gempa terjadi di Aceh, epicenternya di Aceh Besar. Buku ini dalam bahasa Aceh beraksara Latin dengan ejaan belum disempurnakan. Syukurnya buku ini dapat didownload gratis di website Acehbook.

Syair ini menceritakan kisah nyata terjadi gempa pada Kamis 2 April 1964 di Aceh, tepatnya terjadi di kaki gunung Seulawah, beberapa daerah yang berada di pesisir pantai Aceh Besar hingga perbatasan Pidie. Dalam syair karya Syehk Rih berasal dari Krueng Raya tidak disebut kekuatan gempa, akan tetapi melalui beberapa catatan sejarah gempa diketahui magnitude-nya 6.5 SR. Sama kekuatannya dengan gempa yang baru terjadi di Pidie Jaya (07 Desember 2016) dengan magnitude 6,5 SR (BMKG).

Dalam hikayat Geumpa di Atjeh, Syekh Rih membuka syairnya (transliterasi dalam EYD):


Cémpala meusu ditjöng u dara
Aneuk nggang dama yang panyang gatéh
Bacut lön suson gampoeng Krueng Raya
Bak uroe geumpa bak beungôh Haméh
        
 Nibak buleun peuet bak tanggai duwa
Poh lapan kira bak lön disidéh
Bak thon nam ploeh peuet ka jeut takira
Uroe nyan geumpa é dum na waréh (h. 4)
Artinya:
Burung Cempala bersuara di atas
Burung Flaminggo panjang tungkai kakinya
Kususun sedikit (syair) di gampong Krueng Raya
Di hari gempa di pagi hari Kamis

          Bulan empat, tanggal dua
Sekitar jam delapan, saya disana
Pada tahun Enam Puluh Empat sudah diketahui
Hari itu terjadi gempa wahai saudara

Hikayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa jam 8 pagi hari Kamis, 2 April 1964 gempa terjadi. Secara umum, sejauh ini gempa-gempa besar yang pernah terjadi di Aceh pada waktu pagi hari, akan tetapi bukan berarti tidak terjadi pada malam atau siang hari seperti gempa di Gayo 12 Juli 2013 dengan magnatude 6,1 SR.

Selanjutnya ia menyebutkan lokasi-lokasi gempa yang terjadi di seputaran gampong di wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh.


Bah teuduek dilèe gampoeng Krueng Raya
Jino Lamteuba lön cuba kisah
Sidéh bak kawom keu lön troh haba
Sidéh syeedara pih lëe museunah (h. 13)
Artinya:
Saat dulu tinggal di gampong Krueng Raya
Sekarang saya ceritakan kisah di Lamteuba
Dari saudaraku kabar ini kuterima
Disana mereka pun jadi korban

Tutue Lamtamot pih get that rupa
Meunurot haba kiwing dum patah
Sampee geuritan han jeut jilata
Meunan keuh rupa haba gob peugah (h. 15)
Artinya:
Jembatan Lamtamot juga rusak parah
Menurut informasi bengkok dan patah
Sehingga kereta api tidak bisa berjalan
Begitulah kabarnya dari cerita orang

Di Padang Tiji wahee syeedara
Asrama teuntra dum habeh reubah
Reubah meupunjoot habeh roet rungka
Bukeuti nyata loen kalon leumah (h. 15)
Artinya:
Di Padang Tiji wahai saudara
Asrama tentara juga semua roboh
Roboh terjungkal semua kerangkanya
Itu bukti nyata saya lihat langsung

Di Darussalam kuta peulaja
Aneuk sikula bak jigrop patah
Patah bak jigrop tëuot ka rungga
Nyan dumkeuh bahla neubri lèe Allah (h. 16)
Artinya:
Di Darussalam kota pelajar
Anak sekolah patah saat lompat
Patah lututnya saat lompat
Begitulah bala yang Allah beri

Jalur atau daerah gempa yang disebut dalam Hikayat Geumpa di Atjeh, 1964

Setidaknya, dalam syair Syekh Rih diketahui beberapa daerah koordinat gempa atau wilayah yang berdampak gempa, mulai dari wilayah Darussalam (Banda Aceh), Lamteuba, Lamtamot hingga ke Padang Tiji (Pidie). Jalur ini yang kemudian disebut oleh BMKG "Sileumeum Fault" dan peneliti Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) dan beberapa penelitian lainnya terhadap gempa di Aceh. Dengan temuan ini juga dapat digunakan untuk penelitian arkeologis dan paleoklimatologi di masa mendatang.


Maka tulisan ringan ini hanya menginformasi sedikit perihal gempa yang telah menghancurkan rumah, sekolah, asrama TNI dan membuat masyarakat mengungsi. Merujuk dan mengutip dari Hikayat Geumpa di Atjeh Syekh Rih Krueng Raya menyebut beberapa lokasi dampak terjadinya gempa dan menyertakan laporan bantuan Pemerintah kepada para korban. 

Lebih dari itu, saya menyimpulkan ini adalah sebuah tradisi (cara) kearifan lokal "mitigasi bencana" di Aceh melalui oral tradition (tradisi lisan) sebagaimana diwariskan tradisi hikayat bencana, maka istilah Ie Beuna di Aceh dan Smong di Seumeulu (istilah tsunami) dan beberapa daerah lainnya dalam bentuk tutur atau hikayat. Hikayat merupakan satu-satunya media menyebarkan informasi kepada publik secara massif, atraktif dan produktif untuk pendengar. Semoga tradisi ini tumbuh kembali di masyarakat Aceh dengan media terkini dalam menangani dan menimalisir korban bencana. 

Dan, atas dasar itulah menjadi bukti bahwa gempa tahun 1964 merupakan jalur “Sileumeum fault” (Bukan Seumeulum Fault sebagaimana beberapa tulisan). Dari data sejarah gempa diperoleh besar magnatude 6.5 SR, hikayat menyebutkan bahwa gempa tersebut dirasakan dan terjadi kepanikan, walaupun dampak gempa ini belum diketahui lebih jauh, baik kerugian ril materil yang terjadi, ataupun korban jiwa dan pengungsian. 

Namun demikian, gempa yang kembali terjadi baru-baru ini (7 Desember 2016) meninggalkan banyak duka dan "tanda tanya" bagi para peneliti gempa dan Badan Kebencanaan di Aceh dan Indonesia untuk selalu siap menginput data, mengulas informasi, dan memberikan informasi sekaligus pengertian lebih banyak kepada masyarakat, sebab bagian-bagian Aceh berada di atas patahan "ring of fire" gempa. Dan gempa 7 Desember 2016, sampai saat ini belum terungkap jelas jalurnya, apakah ini jalur "Sileumeun Fault" atau "Samalanga-Sipopok Fault" oleh para pakar.


Sumber:
-  Syekh Rih Krueng Raya, Hikayat Geumpa di Atjeh. Banda Aceh. Anzib Lamnyong, 1964
- Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
- Media online (Serambi Indonesia, Republika, Kompas, Harian Aceh, dll)

Hikayat Deteksi Lokasi Gempa Aceh 1964

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top