Tampilkan postingan dengan label Hikayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikayat. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 26, 2021


SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Gubernur Aceh yang diwakili Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum, Iskandar AP, menyampaikan ucapan terima kasih atas penominasian Hikayat Aceh sebagai Memory of the World (MoW) dan penguatan Pusat Studi Arsip Tsunami yang telah diregistrasi dalam Register Internasional MoW UNESCO.


Ungkapan tersebut disampaikan Iskandar, saat menerima kunjungan Audiensi Tim Komite Nasional MoW, di Aula Serba Guna Kantor Gubernur Aceh, Jumat (22/10/2021).


"Kami atas nama Pemerintah Aceh sangat berterima kasih. Ini menjadi sebuah kehormatan bagi kami atas penominasian Hikayat Aceh dan Penguatan Pusat Studi Arsip Tsunami yang telah diregistrasi dalam Register internasional MoW UNESCO. Kami akan mendukungan penuh atas pendaftaran Nominasi Hikayat Aceh tersebut," kata Iskandar dalam sambutannya.


Ia menjelaskan, melalui "hikayat" Aceh telah berkontribusi besar dalam peradaban Islam di Nusantara.


Sehingga memperkaya perkembangan dunia intelektual, melalui manuskrip-manuskrip yang lahir dari buah pikir dan goresan pena para ulama di masa lampau.


"Hikayat adalah salah satu dari sekian banyak karya tulis lainnya yang diwariskan para cerdikiawan Aceh tempo dulu. Hal inilah yang menjadikan Aceh hingga kini masih menjadi lumbung naskah kuno di Indonesia," kata Iskandar.


Untuk mendukung pelestarian naskah kuno “Hikayat Aceh” tersebut, kata Iskandar, Pemerintah Aceh sudah melakukan pertemuan dan diskusi pra registrasi Hikayat Aceh sebagai tindak lanjut MoW 2019 pada Oktober 2018 lalu.


Pertemuan itu dilakukan untuk mengupayakan penyusunan naskah nominasi, dikarenakan pengusulan MoW harus disertai kajian akademik.




Selain itu, Pemerintah Aceh juga akan mencetak dan memperbanyak buku “Hikayat Aceh” untuk dijadikan koleksi literasi setiap perpustakaan di Aceh dan nasional.


Selanjutnya, Pemerintah Aceh juga akan melakukan berbagai promosi dan diseminasi naskah Hikayat Aceh serta berbagai bentuk dukungan lainnya yang akan lebih mendekatkan masyarakat Aceh terhadap literasi kuno tersebut.


Iskandar menuturkan, langkah-langkah yang diambil tersebut merupakan cara Pemerintah Aceh untuk menyelamatkan dan memulihkan “Hikayat Aceh”, maupun naskah-naskah kuno lainnya sebagai arsip warisan budaya masa lalu.


"Aceh, sudah seharusnya berkaca pada kondisi alamnya yang rawan tehadap bencana, jadi sudah sepatutnya kita berkonsentrasi pada penyelamatan dan perlindungan arsip-arsip lainnya dari dampak bencana, seperti arsip vital," pungkas Iskandar.



Oleh karena itu, untuk mendukung penyelamatan arsip vital yang merupakan bukti sejarah tetap terjaga dan terawat keberadaannya,  Pemerintah Aceh sesuai dengan permohonan Kepala ANRI telah menghibahkan tanah pertapakan bangunan kantor Balai Arsip Statis dan Tsunami ANRI yang berlokasi di Komplek Perkantoran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.


"Kami telah menyurati DPRA guna mendapat rekomendasi, sehingga dapat ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Aceh tentang Penetapan Hibah Barang Milik Aceh Kepada ANRI. Mari kita doakan semoga cepat selesai dan tanah tersebut dapat segera dihibahkan," katanya.


Sementara itu, Ketua Komite Nasional MoW yang juga Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Imam Gunarto menjelaskan, program Memory of the World diluncurkan oleh UNESCO pada tahun 1992, sebagai respon terhadap ancaman kepunahan warisan dokumenter berupa arsip, pustaka maupun artefak dari kerusakan, baik itu yang mengalami kerusakan ataupun kemusnahan yang disebabkan oleh faktor alamiah dan faktor manusia.




Imam menerangkan, keterlibatan Indonesia dalam pengajuan warisan dokumenter sebagai MoW, sudah diawali sejak tahun 2003.


Indonesia juga memiliki andil sebagai co-nominator dalam pengajuan arsip seperti, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), manuskrip La Galigo (2011), Babad Diponegoro dan kitab Negara Kertagama (2013), arsip KAA (2015), Arsip Restorasi Borobudur, Naskah Cerita Panji dan Arsip Tsunami Samudera Hindia (2017). 


Lebih lanjut, jelas Imam, Indonesia melalui Komite Nasional MoW, akan mengajukan 3 warisan dokumenter untuk dicantumkan pada register internasional MoW UNESCO yaitu Arsip Sukarno: "To Build the World A New", Arsip KTT GNB I dan Hikayat Aceh.


"Saya memohon kepada seluruh pimpinan provinsi dan masyarakat Aceh dapat bersama-sama menggerakan upaya ini agar sukses diakui oleh UNESCO," ujarnya.


Pertemuan yang menerapkan protokol kesehat ketat itu turut dihadiri oleh Kepala ANRI, Kepala Perpustakaan Nasional RI, Plt Kepala BKN, dan para perwakilan Forkopimda Aceh.


Sumber: Serambi Indonesia


Hikayat Aceh Masuk Nominasi Memory of the World

Read More

Naskah Hikayat Aceh merupakan koleksi langka yang ditulis pada abad ke-17. Karya sastra kuno yang diajukan menjadi nominasi Memory of the World (MoW) ini berisikan kisah perjalanan Sultan Iskandar Muda sebagai sultan paling kuat dan besar dalam Kesultanan Aceh.

Peneliti filologi Melayu-Aceh Hermansyah, mengatakan, naskah Hikayat Aceh merupakan koleksi langka karena tidak banyak salinan. Saat ini, hanya terdapat tiga naskah Hikayat Aceh, dua naskah di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda dan satu naskah di Perpusnas

Dijelaskan, Hikayat Aceh menceritakan kisah para Sultan dan Kesultanan Aceh sebelum dan masa Sultan Iskandar Muda pada 1590-1636 M. Naskah kuno ini pun memenuhi nilai-nilai historis, baik melalui sumber primer sejarah, peristiwa, dan ketokohan.


Acara ini merupakan rangkaian kegiatan MOWEEK yang diselenggarakan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). 

Peneliti bidang agama dan tradisi keagamaan Melayu-Aceh Kementerian Agama Fakriati, mengatakan, naskah Hikayat Aceh ini banyak menceritakan masa Kejayaan Sultan Iskandar Muda. Namun di sisi lain, terdapat tradisi dan toleransi yang dibangun oleh tokoh utamanya, Sultan Iskandar Muda.


Dalam naskah Hikayat Aceh, Fakriati mencoba merangkai isi naskah bahwa di dalamnya terdapat toleransi yang dibangun dari beberapa unsur. Di antaranya, sultan/pejabat negara, ulama, rakyat, adat dan agama.


“Ada keterikatan antarunsur ini secara utuh. Saling mendukung sehingga membentuk nilai-nilai toleransi,” ujarnya dalam webinar Hikayat Aceh: Road to Memory of the World, yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI secara daring, Rabu (13/10/2021).


Dia menambahkan, Hikayat Aceh menanamkan pola hidup dan budaya multikultural dan interaksi antara Sultan dengan rakyat, serta antara pendatang dengan pribumi.


“Naskah Hikayat Aceh ini menggunakan aksara Jawi berbahasa Melayu. Namun, naskah yang ada ini, halaman awal dan akhir belum ditemukan,” ungkapnya.




“Sehingga perlu adanya reproduksi teks Hikayat Aceh dalam bentuk modern yang menjadi media edukasi dan sosialisasi naskah,” tuturnya.


Sementara itu, pakar pendidikan dan sejarah Wardiman Djojonegoro, menceritakan, pada 2017, Perpusnas berencana mengusulkan Hikayat Aceh untuk menjadi memori dunia tahun 2018. Namun, pada tahun tersebut pendaftaran MoW oleh UNESCO ditunda. Meski begitu, proses penyelesaian naskah nominasi tetap dilanjutkan.


“Pada tahun ini pendaftaran kembali dibuka dan Hikayat Aceh akan diajukan menjadi nominasi MoW. Karena selain langka, naskah ini agak berbeda dari naskah melayu lainnya. Tidak menceritakan tentang raja tetapi bercerita tentang keagungan raja,” ungkapnya.


Menurutnya, pengajuan naskah Hikayat Aceh untuk MoW telah memenuhi kriteria MoW UNESCO dan mempunyai potensi untuk diterima sebagai warisan dunia. “Semoga naskah nominasi dapat disusun bersama dan segera diselesaikan untuk memenuhi kriteria dari UNESCO,” harapnya.


Dukungan terhadap pengajuan Naskah Hikayat Aceh sebagai nominasi MOW juga ditunjukkan oleh Pemerintah Provinsi Aceh. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Edi Yandra mengatakan, pihaknya telah melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai MoW 2019, pada Oktober 2018.


“FGD ini diperlukan untuk memperkaya usulan penyusunan naskah nominasi, karena pengusulan MoW harus disertai kajian akademik,” terangnya.


Dia berharap, Hikayat Aceh ditetapkan menjadi Memori Dunia. Ke depannya, jika sudah ditetapkan, Pemerintah Aceh akan mencetak dan memperbanyak buku Hikayat Aceh, menjadikannya sebagai koleksi literasi di setiap perpustakaan di seluruh Aceh, bahkan seluruh Indonesia. Pihaknya berjanji akan melestarikan dan membudayakan seni Hikayat Aceh dalam kegiatan tingkat daerah hingga internasional.


“Kami harap naskah Hikayat Aceh ini menjadi bacaan untuk semua kalangan, terutama menambah pengetahuan bagi generasi muda,” ungkapnya.


Selain itu, diselenggarakan pula penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Perpisnas dan ANRI. Bersamaan, diluncurkan web portal Memori Kepresidenan RI yang merupakan integrasi situs web kepustakaan presiden-presiden milik Perpusnas dengan situs web diorama arsip kepresidenan milik ANRI.


Pada September lalu, ANRI terpilih menjadi Komite Nasional Memory of the World Indonesia. Sebelumnya, Komite Nasional MoW diemban oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengatakan, dengan dipilihnya Kepala ANRI sebagai Ketua Komite Nasional MoW menjadi sebuah langkah besar yang dilakukan untuk memulai kerja sama.


“Ini sebuah misi yang akan kita emban ke depan, sehingga misi peran kedua institusi makin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya. 


sumber: infoaceh.net

Hikayat Aceh, Naskah Kuno Berisi Kisah Sultan Iskandar Muda Diusul Jadi Memori Dunia

Read More

Minggu, Desember 31, 2017

Sultan Iskandar Muda yang berkuasa pada 1607-1636, adalah sultan termashyur dan termegah selama Kesultanan Aceh berdaulat (1496 – 1903).

Namanya terukir hingga ke Eropa, melampaui zamannya.

Di wilayah Asia dan Timur Tengah, periode Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai penguasa Selat Malaka dan laut sekitarnya.

Ia melanjutkan agresor ayah dan kakeknya dalam mempertahankan eksistensi Kesultanan Islam di Melayu-Nusantara dari tangan-tangan penjajah Eropa.

Pada saat itu, Portugis adalah salah satu musuh besar bagi Kerajaan Aceh.

Sejak 5 April 1607, Iskandar Muda resmi memangku posisi sebagai Sultan menggantikan saudaranya Sultan Ali yang meninggal sehari sebelumnya.

Keterlibatannya dalam Kesultanan Aceh bukan pertama kali.

Pada tahun 1606 ia sudah terlibat langsung dalam perang menyerang Portugis di Selat Malaka, karenanya kemudian ia terkenal Perkasa Alam dengan kapal laut terkenalnya.

Pengalamannya di laut Aceh dan semenanjung Melayu telah menjadi pelajaran penting dalam menangkal berbagai serangan asing, yang terjadi selama beliau menjabat sebagai Sultan Kerajaan Aceh.

Terutama penempatan pasukan militer laut, kapal-kapal perang, strategi perang, dan jaringan hubungan internasional.

Kapal laut satu-satunya alat media perang paling canggih yang dilengkapi beragam meriam, sebab pada saat itu belum tersedia tank ataupun pesawat tempur.


Hikayat Malem Dagang

Hikayat Malem Dagang, sebagian berpendapat sama dengan Hikayat Meukuta Alam, adalah sebuah hikayat yang berisi catatan perjalanan Sultan Iskandar Muda, merebut kembali Malaka dari Portugis.

Hikayat Malem Dagang ini ditulis oleh Tgk Chik Pante Geulima, untuk membangkitkan semangat orang Aceh dalam berperang melawan Belanda.

Dalam hikayat ini, Tgk Chik Pante Geulima menulis tentang beberapa kapal perang yang dimiliki Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda.

Sebagaimana tradisi hikayat-hikayat Aceh lainnya, bahwa hikayat merupakan salah satu tradisi lisan atau tradisi tutur yang hidup dan kental di masyarakat. Para "penghikayat" yang cukup handal dan mampu menghapal alur cerita akan tampil dengan baik dalam berhikayat, baik alur cerita, irama, hingga intonasi dalam hikayat.

Kapal-kapal ini digunakan untuk tujuan pelayaran, perdagangan, perang, diplomasi, dan keperluan investasi.

Dari beberapa kapal laut yang dimiliki Kerajaan Aceh, yang paling sering digunakan oleh Sultan Iskandar Muda adalah kapal bernama Cakra Donya.

Kapal Cakra Donya ini memiliki catatan khusus dalam memori para prajurit angkatan laut Portugis.

Espando del Munto 

Sejarawan Spanyol, Manuel Faria Y Sousa (1590 – 1649) dalam bukunya “Asia Portuguesa” yang diterbitkan di Lisboa (1666-1675) menulis, setiap kali melihat kapal ini, para prajurit angkatan laut Portugis berteriak “Espanto del Mundo” (teror dunia).

Manuel Faria Y Sousa juga mendeskripsikan kehebatan kapal perang milik Kerajaan Aceh ini.

Menurutnya, kapal ini memiliki panjang hingga 200 jengkal (kira-kira 100 meter), mempunyai tiga tiang, dan dilengkapi 100 meriam di sisi kanan dan kiri.

Faria Y Sousa pun menggambarkan rasa takjubnya, “tidak sia-sialah kapal itu diberi nama ‘teror dunia’. Betapa hebatnya, betapa kuatnya, betapa indahnya, betapa kayanya. Meskipun mata lelah karena sering terheran melihat benda-benda indah, kami semua terbelalak melihat yang ini (Kapal Cakra Donya-pen)”.

Catatan Manuel Faria Y Sousa tentang Kapal Cakra Donya ini ditulis kembali oleh Sejarawan Prancis, Denys Lombard dalam buku berjudul “Kerajaan Aceh” yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia tahun 1986.

Kembali ke Hikayat Malem Dagang, kapal Cakra Donya ini membawa tiga lonceng besar hadiah dari Dinasti Ming (sekitar 1469) kepada Kerajaan Pasai pada tahun keempat zaman Cheng Hua.

Salah satu dari tiga lonceng ini, kini dipajang di Komplek Museum Aceh, di Banda Aceh.

Memang, hubungan Pasai dengan beberapa kerajaan di luar “negeri bawah angin” cukup baik, termasuk Eropa, Turki, dan Arab.

Selain kapal Cakra Donya dengan kapasitas 800 orang dan dilengkapi beragam ukuran meriam, terdapat beberapa kapal lainnya yang digunakan untuk mengawal kapal induk, seperti Cakra Alam, Rijalul ‘Asyiqin, Nurul ‘Isyqi, Cari Lawan, dan Naga Kentara. (Profil kapal-kapal ini akan ditulis terpisah)

Kapal-kapal tersebut masih digunakan setelah Sultan Iskandar Muda mangkat tanggal 27 Desember 1636 di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), terutama untuk menjaga kedaulatan Kerajaan Aceh dan Islam Melayu.

Hikayat Meukuta Alam tidak mendeskripsikan detail bentuk kapal, namun kehebatannya dalam menangani Portugis cukup menunjukkan besar dan hebatnya kapal tersebut.


Tulisan ini telah dipublish di Serambi Indonesia

Espanto del Mundo: Kapal Mahkota Alam Kesultanan Aceh

Read More

Sabtu, Agustus 20, 2016

Terus terang, hingga saat ini saya masih penasaran dengan Kerajaan Pasai yang pernah berjaya dan  menguasai Melayu Nusantara sekaligus pelopor Islam di Nusantara. Kejayaan berabad-abad  tetapi tidak memiliki peninggalan kuat di bidang intelektual yang dapat dijadikan sumber-sumber saat ini. Syukurnya, selain peninggalan numismatik dan arkeologis nisan yang mengagumkan bersemanyam di sana. Dalam khazanah literatur tertulis, hanya Hikayat Raja-raja Pasai jadi sumber saat ini. 

Hikayat Raja-raja Pasai untuk pertama kali dikaji oleh Dr. Ed. Duraurier, guru dalam bahasa Melayu pada "L'Ecolades Legues Orientales" di Paris. Ia telah mengutip selengkapnya isi hikayat itu dalam huruf Arab (Jawi) sendiri, hanya didahului oleh sepanjang 31/2 halaman mukaddimah dan diterbitkan  oleh "Imprimerie Nationale Paris", 1849.

Sesudah Dulaurier, menyusul Aristide Marre, tahun 1874, dengan karyanya membuat salinan seluruh teks hikayat tersebut dalam bahawa Perancis, berjudul "Histoire des Reois de Pasay" dengan annotasi beberapa halaman sekaligus kutipan mukaddimah Dulaurier. Keduanya tidak membicarakan kapan dan di mana serta oleh siapa hikayat itu ditulis melainkan sama-sama menyebut saja bahwa naskah itu disalin dari pada naskah koleksi Raffless no. 67, sebagai yang diungkap oleh suatu katalogus van der Tuuk.

Selain kepada keduanya di atas, ikut serta ambil bagian J.P Mead karyanya diterbitkan di tahun 1916 ke dalam huruf Latin sekaligus  terjemahan dalam bahasa Inggris. Orientalis terkenal Sir Richard Winstedt tampil mempelopori pengupasan tentang kapan kiranya hikayat itu ditulis, sambil membuat ringkasan isinya, dikatakannya bahwa hikayat itu telah ditulis sesudah tahun 1350 dan tidak lebih lama dari tahun 1536. Dalam suatu monograf tentang kesusasteraan Melayu lama berjudul "A History of Classical Malay Literature" Sir Richard menegaskan lagi pendapat tersebut. 

Ternyata, menurut Mohammad Said (2: 69-72) tentang "Hikayat Raja-raja Pasai" sejauh ini ditemukan hanya salinan di Demak, dalam tulisannya bahwa  "sepanjang diketahui naskah hikayat ini belum pernah ditemukan di daerah Aceh sendiri, khususnya di Pasai. Keganjilannya yang menarik perhatian ialah bahwa hikayat ini hanya dikenal dari salinan naskahnya, itupun tidak ditemukan di tanah air, melainkan di London, Inggris".

Sambungnya demikian "Peristiwa demikian. Segera setelah Inggris berhasil merampas pulau Jawa dari Belanda di tahun 1811, lalu ditempatkanlah Raffles menjadi Letnan Gubernur di sana. Ia gemar mengumpul bahan-bahan sejarah terutama naskah-naskah. Dalam kesempatan berada di sana antara lain ia mengetahui ada sebuah naskah "Hikayat Raja-raja Pasai" di tangan seseorang Bupati di Jawa.

Mungkin karena tidak begitu tertarik untuk membeli dan memiliki naskah tersebut, atau mungkin pula karena si pemilik tidak bersedia menyerahkannya, maka ia hanya berhasil meminta salinkan saja naskah tersebut. Catatan si penyalin di kolofon naskah tersebut memberitahu naskah telah selesai disalin dari aslinya pada tanggal 21 Muharram 1230 H atau bertepatan dengan 2 Januari 1814. Di bawah sekali terdapat lagi catatan ditulis dengan aksara Jawa. Bunyinya sebagai yang telah disalin dan dihuruf-latinkan oleh Dr. A.H. Hill, adalah: "Sangking Kyai Suradimanggala, Bupati Sapuhpu negeri Demak negeri Bogor, warsa 1742".

Tidak lama setelah meninggalkan pulau Jawa, Raffles pindah ke Singapura, seterusnya ke Bengkulen, sesudah itu kembali ke London dan meninggal di sana. Pada tanggal 16 Januari 1830 Nyonya Sophia, janda Raffles menyerahkan salinan naskah ini kepada Lembaga Royal Asiatic Society, London, untuk disimpan dan dimanfaatkan demi penelitian ilmiah.

Saya bersyukur atas informasi Annabel Teh Gallop, naskah yang disalin Raffles sekarang masih disimpan dalam Royal Asiatic Society; Sedangkan naskah Hikayat Raja Pasai di British Library merupakan naskah lain sekali, yang baru ditemui tahun 1986, tetapi ternyata disalin di Jawa pula, di Semarang, tetapi bukan atas permintaan orang asing, melainkan orang Makasar, pada tahun 1797. Kini naskah itu dapat diakses di British Library (Or. 14350).



Apa yang disebutkan oleh Mohammad Said bahwa belum  ditemukannya naskah "Hikayat Raja-Raja Pasai" selain dari catatan Raffles masih menjadi misteri. Bahwa kemudian saya menemukan "Hikayat Raja-Raja Pasai" sesuai penuturan Tgk Ibrahim PMTOH di Aceh Utara. Setidaknya ini menjawab "setengah" penasaran kisah Kesultanan Pasai yang kian hari tergerus dilupakan. Penemuan  naskah "Hikayat Raja-Raja Pasai" lainnya versi bahasa Aceh beraksara Jawo (Jawi) di Aceh Utara koleksi Tgk Ibrahim PMTOH, hasil copian yang selamat pasca gempa tsunami 2004. Kitabnya ini pun sudah terendam air lumpur, beberapa bagian rusak parah, dan sulit terbaca.

Maka jika dibandingkan kedua naskah Hikayat Raja-Raja Pasai koleksi di Inggris berbahasa Melayu ditulis dalam bentuk prosa, sedangkan Hikayat Raja-Raja Pasai koleksi Aceh Utara berbahasa Aceh yang ditulis dalam bentuk puisi dibagi dua kolom. Bahkan dapat diasumsikan bahwa naskah Hikayat Raja-Raja Pasai (Aceh,  dan Inggris) memiliki kesamaan judul dan ketokohan salah satunya Ahmad, namun belum tentu memiliki kesamaan isinya.


Perlu penelitian dan bandingan alur isi naskah untuk menjawabnya, penasaran saya belum terjawab dan menyisakan beragam pertanyaan, terkait hubungan kedua naskah ini (koleksi Aceh dan koleksi Inggris), apakah memiliki kesamaan isi, alur cerita, tokoh. Mungkin butuh waktu dan para peneliti lainnya yang bersedia untuk meneliti. Selain itu, apa yang disebut Mohammad Said belum ditemukannya Hikayat Raja-raja Aceh di Aceh sendiri, seakan-akan menjadi asing di negerinya sendiri. []


Futher reading:
Annabel Teh Gallop, Hikayat Raja Pasai: the oldest Malay history. 24 October 2013.
A.H. Hill, ‘Hikayat Raja-raja Pasai: a revised romanised version of Raffles MS 67, together with an English translation’, Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, 1960, 33 (2): [1]-215. 
E.U. Kratz, ‘Hikayat Raja Pasai: a second manuscript’, Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, 1989, 62 (1):1-10. 
Russell Jones, (ed.), Hikayat Raja Pasai (Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan and Fajar Bakti, 1999).
Hermansyah, ‘Terkuburnya naskah Hikayat Raja Pasai’, 2 Feb 2013 [blogpost]



Naskah Hikayat Raja Pasai; Antara Aceh dan Inggris

Read More

Selasa, Mei 31, 2016


Tanggal 20 Juli 1969 bertepatan pada 5 Jumadil Awal 1389 H, pertama kalinya NASA terbang ke bulan dan berhasil menginjak kakinya di sana yang masyhur dengan tokoh Neil Amstrong dan timnya.
Salah satu laporan yang mengejutkan bahwa lapisan luar bulan terdapat garis lurus besar yang mengitari bulan menunjukkan bahwa bulan yang berbentuk bulat seperti bola seakan-akan dilem dua sisinya. NASA-pun mengkonfirmasi bahwa bulan pernah terbelah dengan melihat permukaan kedua sisinya.

Adalah Tom Watters peneliti dan pakar dari Smithsonian National Air and Space Museum NASA mengakui bahwa ada tanda lekatan hasil tabrakan keras material kedua sisi bulan sehingga meninggal bekas dengan permukaan yang berbeda.

Hasil wawancaranya kemudian dipublikasi di media online dan dapat diakses di Youtube. Pasca hasil penemuan sensasional tersebut, banyak para ilmuwan mengkaji lebih jauh fenomena langka yang pernah terjadi dan tidak banyak diketahui orang.

Memang, empat belas ribu abad silam, bulan yang menghiasi malam kita pernah terbelah dua, bagaikan belahan dua sisi bola.

Demikian fakta tersebut disinggung dalam manuskrip Hikayat Nur Muhammad dan Hikayat Nabi Meucukoe dalam bahasa Aceh, dan di naskah Nur Yaqin berbahasa Jawi (Malay), sebuah karya ulama Aceh-Nusantara yang begitu melekat pada masyarakat Aceh tempo dulu, yang kini beralih pada bacaan dongeng fiktif produk luar.

Peristiwa bulan terbelah terjadi pada masa Rasulullah masih di Makkah, saat para kaum Quraysh Mekkah meminta Nabi membuktikan kerasulannya dan utusan terakhir.

maka mereka akan masuk Islam dan mereka percaya atas kenabiannya.
Sebaliknya, jika tidak mampu maka Nabi Muhammad dianggap pembohong dan siap menerima hukuman. Permintaan tersebut tentu tidak masuk akal manusia pada zaman tersebut dan zaman sekarang, akan tetapi Nabi menyanggupinya walaupun para sahabat yang sudah Islam resah atas peristiwa tersebut.

Dalam Hikayat Nur Muhammad menyebutkan;
Lom talakee bak Muhammad bulen musyahadah dengo suara
Teuma neuyu bak Muhammad tayu ek u langet pinta sigra
Troeh u langet lom tahilah tayu neuplah bulen purnama
Siblah u masyriq siblah u magrib dumna rakyat leumah nyata.

(Lagi-lagi kamu pinta pada Muhammad untuk memanggil bulan.
Kamu pinta Muhammad naik ke langit untuk memintanya segera.
Sampai di langit kamu minta belah bulan purnama
sebelah ke barat, sebelahnya ke timur, dan semua orang melihatnya nyata)

Allah menunjukkan kekuasaannya melalui Rasul akhir zaman untuk membelah bulan. Dalam surat al-Qamar : 1-2 terekam "Telah dekat datangnya kiamat itu, dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka melihat sesuatu tanda (ayat/mukjizat), mereka berpaling dan berkata ini adalah sihir yang terus-menerus".

Bulan pun terbelah dua, jarak bulan antar kedua sisi sejauh renggangan tangan Rasulullah. Maka dalam riwayat literatur Islam terkenal dengan bulan keluar dari kedua tangan Rasulullah.

Sebutan tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah bukan sihir yang mengelabui sekejap mata manusia, tetapi ia benar-benar melakukannya secara nyata sebagai tanda mukjizat diberikan Allah kepadanya.
Sedangkan sebagian para ulama menafsirkan bahwa ayat tersebut menjelaskan bahwa kejadian bulan terbelah sudah disebutkan dalam kitab-kitab agama Samawi sebelum Islam, bahwa salah satu mukjizat nabi terakhir (Muhammad) dapat membelah bulan.

Ketika itu, dari Hadist Atsar para sahabat-sahabat Nabi yang masuk Islam pertama menjadi saksi dan membenarkan kejadian tersebut. Alhasil, sebagian kaum Mekkah beriman, tetapi tidak sedikit yang mengingkarinya.

Pasca wafatnya Rasulullah banyak orang-orang mendeklarasi dirinya nabi, baik pada masa sahabat hingga zaman sekarang.

Tetapi semua orang dan agama tidak ada yang percaya, sebab salah satu mukjizat nabi terakhir yang disebut dalam kitab adalah membelah bulan, lalu nabi palsu manakah yang mampu melakukannya?
Di era modern nan serba canggih, hasil penelitian dan pengakuan NASA tahun 1969 selaras dengan Hikayat Aceh dua ratus tahun lalu, bahwa 14 abad silam bulan terbelah sebagai bukti kenabian Muhammad dan rasul terakhir.

Maka kini, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.


Dipublish di Serambi Indonesia http://aceh.tribunnews.com/2016/05/29/lihat-bulan-sudah-terbelah

Lihat, Bulan Sudah Terbelah

Read More

Jumat, November 19, 2010

Tgk Chik Pante Kulu dikenal sebagai pengarang Hikayat Perang Sabi. Dia dilahirkan tahun l25l H (l836 M) di desa Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Kecamatan Kemalawati, Kabupaten Pidie, Aceh. Nama lengkapnya Tgk Chik Haji Muhammad Pante Kulu.

Mula-mula ia belajar Al Quran dan ilmu-ilmu agama Islam dalam bahasa Melayu (Jawi). Kemudian melanjutkan pelajarannya pada 'Dayah Tiro' di Pidie yang dipimpin Tgk Haji Chik Muhammad Amin Dayah Cut, seorang ulama Tiro yang kebetulan baru pulang menunaikan ibadah haji di Mekkah.

Chik Pante Kulu pernah belajar di Mekkah. Menurut salah satu versi riwayat bahwa Puisi 'Hikayat Perang Sabil' ditulisnya dalam perjalanan Mekkah-Aceh, artinya saat pelayaran dilakukan didalam kapal ditengah laut, jika menilik alur cerita syairnya sangat besar kemungkinan ini dikarang disana (Arab) paling tidak dua judul (bagian) kisah Pasukan Gajah dan Sa'id Salmy jelas adalah kisah di negeri Arab.

Sedangkan versi ke dua ialah hikayat perang sabil ini ditulis Chik Pante Kulu adalah atas suruhan Tgk. Chik Abdul Wahab Tanoh Abee yang lebih dikenal Tgk. Chik Tonoh Abee. Dari dua kisah dari empat kisah keseluruhan mencerminkan semangat petriotisme dan epos melawan penjajah di negerinya. Maka menurut asumsi saya adalah

Prang Sabi Dikenang, Tgk Chik Pante Kulu Terlupakan

Read More

Senin, Juli 26, 2010

Filologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang bahasa teks kesusasteraan, terutama kesusastraan kuno. Hikayat adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab yang berarti cerita dalam bentuk narasi. Di dalam bahasa Aceh, terlepas dari isinya, hikayat pun berarti sebuah cerita dalam bentuk narasi yang biasanya ditulis secara berirama.

Salah satu ciri hikayat adalah seksi awalnya berisi pujian-pujian kepada Tuhan dan Nabi Muhammad yang diikuti dengan pandangan umum penulis, peringatan-peringatan atau nasihat-nasihat. Hikayat biasanya dikarang untuk dibaca di hadapan sekelompok kecil atau sekelompok besar pendengar. Isi hikayat mencakup serentetan subjek seperti sejarah, agama, pendidikan, fiksi dan sebaginya.

Tersebutlah salah satu hikayat dalam bahasa Aceh yakni Hikayat Prang Sabi. Dalam bahasa Indonesia, disebut dengan prang sabil, memiliki sebuah arti mirip dengan “Prang Suci” atau “berjuang di Jalan Allah”, yakni jihad fi sabilillah. Hikayat Prang Sabi dapat dikatakan sebagai sebuah kisah atau cerita naratif yang ditulis dalam bentuk berirama yang bertujuan untuk memberi nasihat dan semangat kepada orang-orang untuk terjun ke medan peperangan melawan orang-orang kafir, terlepas dari sebagiannya yang juga tersisip peringatan-peringatan bagi pendengarnya untuk taqwa kepada Tuhan secara umum.

Filologi Hikayat Prang Sabi *

Read More

Kamis, Juni 17, 2010

Sastra Aceh telah berkembang seiring zaman perkembangan peradaban dan sejarah dari abad ke abad, dan baru dikenal (disalin) pada abad ke 14, namun sastra lisan telah berkembang sejak Aceh dikenal pada abad ke 9. Jika ditilik perbedaan sejarah sangat jauh jangka panjang antara lisan dan tulisan. Namun,, belum tentu hal tersebut benar, mengingat tidak ada satu sejarapun mencatat perjalanan sastra tersebut secara detail dan rapi, kita hanya dihadapkan pada naskah Manuskrip Sejarah raja-raja Pasai yang menggambarkan keberadaan Kesultanan Pasai.

Bisa disebutkan bahwa Aceh merupakan daerah pusat kebudayaan Islam sebab dari negeri ujung Sumatera pada awal menyebarkan Islam di seluruh Nusantara, termasu didalamnya Malaysia dan Pathani, paling tidak masih ditemukan di dua negara tersebut karya-karya para ulama-ualam Aceh. Maka tak pelak, jika bumi Seuramoe Mekkah ini banyak mewariskan beragam corak sastra Islami. Dari bumi serambi Mekkah juga asal muasal pembaharuan sastra Melayu Indonesia. Yang berpengaruh dan membawa perubahan terhadap sastra Melayu Indonesia. Daerah Aceh memiliki aset kekayaan genre (cabang ) sastra klasik (classic literature).

Ciri-ciri umum karya sastra klasik adalah sama dengan ciri sastra lama yaitu: a) bersifat anonim (tidak memiliki nama pengarang), b) bercorak ragam lisan diceritakan dan dibicarakan dari mulut ke mulut, c) bersifat turun temurun antar generasi ke generasi, d) jika berupa puisi unsur ritma dan sajak lebih dominan.

Sastra Klasik Indatu Orang Aceh

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top