Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gempa. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 28, 2024


Pascasarjana UIN Ar-Raniry bekerjasama dengan Kementerian Agama RI, ICAIOS dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan kegiatan diskusi dan talkshow dengan tema “Community Awareness tentang edukasi literasi kebencanaan berbasis pengetahuan lokal di Aceh” dalam rangla peringatan 20 tahun Tsunami Aceh.

Kegiatan tersebut bertempat di aula lantai tiga Pascasarjana UIN AR-Raniry, pada Jumat (15/11/2024). Pada pembukaan kegiatan tersebut juga dilakukan launching buku pedoman tentang kebencanaan yang berjudul “Pegangan Penyuluh Agama tentang Kebencanaan”.
Dr. Fakhriati, MA, Direktur Executive MOST UNESCO BRIN dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan resiko bencana dengan pengetahuan lokal, sehingga budaya dan pengetahuan lokal dapat diberdayakan dengan baik untuk mitigasi bencana.

Mego Pinandito, Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN yang turut memberi sambutan mengatakan bahwa 20 tahun tsunami Aceh menjadi refleksi bagi masyarakat Aceh dan Indonesia agar dapat menambil hikmah dan pengajaran dari fenomena tersebut.

Mego juga mengajak masyarakat terutama generasi muda agar dapat memadukan kearifan lokal dalam mitigasi bencana dan disebaran secara inklusif serta dapat diakses secara luas. Menurut Mego, Aceh memiliki banyak kekayaan lokal yang dapat dimanfaatkan dalam penanggulangan bencana.

“Kita memiliki kekayaan budaya lokal yang terkait dengan pendahulu kita yang terkait bencana, seperti budaya smong dari Simeulue.”

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Pascarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Eka Srimulyani, Ph.D, dan dilanjutkan dengan penandatanganan MoA antara Pascarjana UIN Ar-Raniry dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta peluncuran buku “Pegangan Penyuluh Agama tentang Kebencanaan” oleh perwakilan dari Pusat Litbang Lektur, Sugeng Riyanto.

Acara dilanjutkan dengan diskusi bersama para peneliti dan penulis buku yaitu Profesor Eka Srimulyani, Ridwan Bustamam dan Nurmala Hayati. Ketiga pemateri membahas dua buku tentang kebencanaan yang baru diterbitkan, yaitu “Buku Pegangan Penyuluh Agama tentang Kebencanaan” dan “Buku Ajar Tambahan tentang Kebencanaan”.

Prof. Eka Srimulyani, dalam materinya menyampaikan bahwa masyarakat memiliki kapasitas dan cara yang berbeda dalam menghadapi/meng-eksplore bencana. Perbedaan kapasitas yang dimiliki masyarakat dalam menghadapi bencana terlihat saat terjadinya Tsunami 2004, dimana terdapat perbedaan signifikan jumlah korban di kabupaten Simeulu dengan wilayah lain di Aceh yang terdampak.




Di Simeulu hanya menelan 44 korban jiwa, jumlah yang sangat sedikit dibandingkan jumlah di daerah lain seperti Banda Aceh dan Meulaboh yang mencapai ribuan orang. Hal ini menunjukkan adanya kapasitas pengetahuan lokal yang diimplementasikan dengan baik oleh masyarakat Simeulu yaitu melalui tradisi lisan Smong.

Prof. Eka juga mendapati bahwa cara orang-orang Aceh memandang bencana termasuk Tsunami melaui lensa mistisme, teologi dan rasional. Prof. Eka mengutip salah satu idiom yang dimiliki masyarakat Aceh “Adat bak tanyo, hakikat bak Po”. Kalimat tersebut bermakna bahwa kita harus percaya dan taat pada hakikat atau ketetapan dari Allah, termasuk bencana yang diberikan. Ketaatan tersebut menjadi salah satu sumber kekuatan besar masyarakat Aceh.

Sesi siang dilanjutkan dengan kegiatan talkshow kebencanaan yang diisi oleh empat narasumber yaitu Ahmad Nubli, Rickayautul Muslimah dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Fakhriati dari MOST UNESCO BRIN, dan Hermansyah dari Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry.

Para narasumber menyajikan ragam materi menarik, mulai dari literasi bencana masyarakat Aceh yang ditemukan melalui naskah-naskah kuno, integrasi pengetahuan lokal dengan teknologi dalam mitigasi bencaa, hingga potensi wisata edukasi terkait kebencanaan yang dimiliki Aceh.

Kolaborasi Talkshow dan Seminar Edukasi Kebencanaan Berbasis Pengetahuan Lokal.

Read More

Kamis, Agustus 06, 2020

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) adakan peluncuran dan bedah tiga buku sekaligus, antaranya buku Smong Purba, Khutbah Jum’at Kebencanaan dan Jejak Bencana di Aceh. 

Acara peluncuran dan bedah buku diadakan pada hari Kamis 19 Desember 2019 di Aula BPBA Banda Aceh yang dipandu oleh Hermansyah, dosen filologi di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh sekaligus salah seorang penulis buku tersebut.

Acara yang langsung diresmikan oleh Kepala Pelaksana BPBA, Ir. Sunawardi, M. Si ini dalam sambutannya menginformasikan bahwa 70 (tujuh puluh) peserta yang hadiri kegiatan ini terdiri dari masyarakat umum dan para akademisi kampus.

“Penanganan bencana hanya 30% tugas BPBA dan BPBD namun upaya mitigasi merupakan tugas semua lapisan masyarakat dan ini yang harus kita maksimalkan” ungkap Sunawardi.
Beliau menambahkan bahwa BPBA tidak hanya menerbitkan 9 (sembilan) buku pada tahun 2019 ini BPBA juga masuki jalur sosialisasi dengan lagu-lagu dan jingle-jingle kebencanaan bahkan baru-baru ini film karya anak bangsa berjudul “Ajari Aku Aceh” banyak mendapatkan perhatian dari Pemerintah Nasional.

Registrasi Acara Peluncuran dan Bedah Buku (Foto: BPBA)

Turut pula menghadiri Asisten II Sekda Aceh sekaligus sebagai penulis buku Smong Purba dan Jejak Bencana di Aceh, H.T. Ahmad Dadek, SH. Beliau mengingatkan masyarakat dan akedemisi agar meningkatkan budaya menulis dan membaca khususnya dalam bidang kebencanaan demi memperkaya ilmu mitigasi bencana individu masing-masing keluarga dan masyarakat luas pada umumnya.

“Buku Smong Purba ini tidak hanya tentang smong saja tapi juga menceritakan sejarah tsunami di Aceh dengan nama-nama yang berbeda sebagai contoh bahwa masyarakat Simeulu berhasil menggunakan istilah ini dan mewariskan ke generasi selanjutnya” Jelas Dadek.

Beliau juga berharap dengan penerbitan buku-buku kebencanaan oleh BPBA ini dapat memperkaya literasi sejarah Aceh tentang bencana-bencana yang pernah terjadi sehingga korban akibat bencana tersebut dapat berkurang dengan mitigasi yang baik melalui informasi turun-menurun dari generasi ke generasi.

“Kita dianggap bernilai bukan dari apa yang kita bicarakan tapi dari karya apa yang kita hasilkan” tutup Dadek.

Bpk Kalak BPBA Aceh, Ir. Sunawardi, M.Si., dan para Narasumber Bpk T. Ahmad Dadek, Yarmen Dinamika, Ust. Masrul Aidi, dan moderator Bpk. Hermansyah (Foto: BPBA)

Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Ustaz Masrul Aidi yang juga turut berkontribusi dalam penulisan buku Khutbah Jum’at Kebencanaan mengemukakan alasan kenapa informasi kebencanaan disampaikan melalui kutbah jum’at , tidak lain dikerenakan keyakinan masyarakat Aceh yang lebih mempercayai apa yang agama mereka katakan.

“Pendekatan agama menjadi mitigasi bencana paling tepat yang digunakan oleh BPBA saat ini dan saya setuju itu” sebut Ust. Masrul.

Peserta yang hadir dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku (Foto BPBA)

Lanjutnya untuk membuat persepsi yang bagus kepada jama’ah khutbah maka pesan kebencanaan harus dengan kesan dan cara yang tepat.

“Mudah-mudahan dengan kita sudah patuh kepada ajaran agama untuk menjaga alam maka kita juga akan dengan mudah mengikuti peraturan negara yang mengikatnya demi kesiapan menghadapi bencana” tutup Ustaz Masrul mengakhiri.

Source: BPBA
Baca juga: satuacehnews.com

Peluncuran dan Bedah Buku Khutbah Kebencanaan di Aceh

Read More

Senin, Juli 13, 2020



Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan gempa terjadi pada Senin (13/7/2020) sekitar pukul 07.58 WIB. Pusat gempa berada di 121 km barat daya Banda Aceh, Aceh.

Pusat gempa berada di koordinat 5,12 Lintang Utara dan 94,32 Bujur. Gempa terjadi di kedalaman 10 km.


Gempa ini bertepatan dengan 21 Zulqa'dah 1441 H. Atau dikenal bulan haji. Pada bulan ini gempa menjadi bersejarah bagi Aceh pada tahun 2004, tepatnya 26 Desember 2004 atau bertepatan 14 Zulqa'dah 1425 H.

Gempa tersebut menelan banyak para syuhada, tak terkecuali calon jamaah haji yang bersiap berangkat ke Tanah Suci.  Asrama Haji di Kota Banda Aceh porak-poranda menjadi saksi derasnya hempasan gelombang tsunami.

Maka untuk menolak segala bala dan kemungkinan buruk terjadi, umat Islam dianjurkan membaca doa.

Inilah doa ketika gempa bumi.
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 


اَللَّهُمّ إِنّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ؛
 وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّمَافِيْهَا وَشَرِّمَا أَرْسَلْتَ بِهِ

Bismillāhirrahmānirrahīm
"Allahumma innī as'aluka khairahā, wa khaira mā fīhā, wa khaira mā arsalta bihi, 
wa a'udhubika min syarrihā, wa syarri mā fīhā wa syarri mā arsalta bihi"



Artinya:
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan apa yang didalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi, dan keburukan atas apa yang terjadi didalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau kirimkan."

Halaman awal Teks Naskah Kuno Tabir Gempa


Doa Ketika Gempa Bumi

Read More

Sabtu, Desember 29, 2018


Puluhan naskah Ta’bir Gempa memiliki struktur sama dalam penulisan secara periodik, mulai dari bulan Hijriyah, pergantian waktu pagi, siang, sore dan malam, serta waktu-waktu shalat lima waktu. Perbedaannya antara satu teks dengan teks gempa lainnya adalah dampak akibat gempa, yang selama ini dianggap sebuah tafsiran (ramalan). Potret dampaknya tersebut akan mencerminkan lokalitas naskah yang identik dengan penduduk setempat, misalnya pertanian, perdagangan, pemerintahan (kesultanan) dan pengetahuan agama.


Apabila dibandingkan seluruh naskah-naskah gempa akan ditemui perbedaan peristiwa dan dampak akibat gempa itu satu dengan lainnya yang menunjukkan rekaman gempa. Gempa-gempa yang terjadi ditulis (disalin) sesuai dengan kondisi alam, situasi politik, ekonomi dan tradisi pengetahuan masyarakat. Oleh karena itu, satu penyalin dengan penyalinnya akan berbeda cara pandang saat mengalami gempa yang sama karena berdasarkan situasi dan kondisi serta psikologi masyarakat saat itu.

Naskah koleksi Museum Negeri Aceh


Teks Ta’bir Gempa bukan sebatas tulisan dan bacaan, bahkan bukan ramalan yang disusun tempo dulu untuk menerawang masa depan. Akan tetapi Ta’bir Gempa merupakan ingatan kolektif masyarakat pada periode tertentu untuk mewariskan pengetahuan tentang bencana gempa. Oleh karena itu, teks-teks Ta’bir Gempa mayoritas berada di antara teks-teks naskah bacaan harian, seperti doa, zikir, hizib dan lainnya sebagai tanda menjadi salah satu bacaan umum untuk memahami bencana.


Sayangnya, tradisi merawat pengetahuan dalam bentuk dokumen (manuskrip) tidak menjadi fokus utama dalam bidang keilmuan kecuali dalam bidang keagamaan, tata bahasa dan tasawuf. Manuskrip-manuskrip yang ditemui pada saat ini mayoritasnya merupakan produksi di lembaga keagamaan, yang fokus terhadap bidang-bidang keagamaan dan pendidikan. Di lembaga keagamaan (zawiyah dan dayah) di Aceh dengan tradisi transfer knowledge dan tradisi transmisi keilmuan dalam bentuk tulisan masih kental terawat.

Tradisi Mewarat Pengetahuan Mitigasi Gempa

Read More

Minggu, Desember 25, 2016

Hikayat salah satu literatur dan "tradisi populer" di masayarkat Aceh. Sebagaimana diketahui kata "hikayat" diambil dari kata Arab yang konotasinya cerita, dongeng, atau cerita panjang. Kata kerjanya "haka" yaitu menceritakan kepada orang lain. Dalam pengertian sastra Indonesia dan Melayu, hikayat dimaksud dalam bentuk prosa.

Berbeda dengan terminologi Aceh, hikayat bukan hanya sebuah cerita pemanis tidur. Hikayat dalam sastra Aceh juga bukan dalam bentuk prosa, akan tetapi hikayat di Aceh dalam bentuk puisi atau sanjak. Hikayat Aceh diciptakan dalam bentuk puisi, awalnya masyhur dalam tradisi lisan yang didendangkan atau dilantunkan di depan publik, termasuk dalam kesultanan. Sejauh ini, belum banyak penelitian dalam bidang "eksistensi dan tradisi hikayat di Aceh", bahkan belum ada pakar hikayat Aceh dan perguruan tinggi di Aceh yang membuka jurusan "sastra Aceh". Akan tetapi, hikayat-hikayat dalam sastra Aceh sangat terkenal yang memiliki beragam kandungan, pesan, multiguna, multigender, mulai dari kisah masa lalu hingga kejadian realita.

Salah satu hikayat dalam bentuk real adalah "Hikayat Geumpa di Atjeh" karya Syekh Rih Krueng Raja (sekarang disebut Krueng Raya) yang disusun tahun 1964, atau pada saat gempa terjadi di Aceh, epicenternya di Aceh Besar. Buku ini dalam bahasa Aceh beraksara Latin dengan ejaan belum disempurnakan. Syukurnya buku ini dapat didownload gratis di website Acehbook.

Syair ini menceritakan kisah nyata terjadi gempa pada Kamis 2 April 1964 di Aceh, tepatnya terjadi di kaki gunung Seulawah, beberapa daerah yang berada di pesisir pantai Aceh Besar hingga perbatasan Pidie. Dalam syair karya Syehk Rih berasal dari Krueng Raya tidak disebut kekuatan gempa, akan tetapi melalui beberapa catatan sejarah gempa diketahui magnitude-nya 6.5 SR. Sama kekuatannya dengan gempa yang baru terjadi di Pidie Jaya (07 Desember 2016) dengan magnitude 6,5 SR (BMKG).

Dalam hikayat Geumpa di Atjeh, Syekh Rih membuka syairnya (transliterasi dalam EYD):


Cémpala meusu ditjöng u dara
Aneuk nggang dama yang panyang gatéh
Bacut lön suson gampoeng Krueng Raya
Bak uroe geumpa bak beungôh Haméh
        
 Nibak buleun peuet bak tanggai duwa
Poh lapan kira bak lön disidéh
Bak thon nam ploeh peuet ka jeut takira
Uroe nyan geumpa é dum na waréh (h. 4)
Artinya:
Burung Cempala bersuara di atas
Burung Flaminggo panjang tungkai kakinya
Kususun sedikit (syair) di gampong Krueng Raya
Di hari gempa di pagi hari Kamis

          Bulan empat, tanggal dua
Sekitar jam delapan, saya disana
Pada tahun Enam Puluh Empat sudah diketahui
Hari itu terjadi gempa wahai saudara

Hikayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa jam 8 pagi hari Kamis, 2 April 1964 gempa terjadi. Secara umum, sejauh ini gempa-gempa besar yang pernah terjadi di Aceh pada waktu pagi hari, akan tetapi bukan berarti tidak terjadi pada malam atau siang hari seperti gempa di Gayo 12 Juli 2013 dengan magnatude 6,1 SR.

Selanjutnya ia menyebutkan lokasi-lokasi gempa yang terjadi di seputaran gampong di wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh.


Bah teuduek dilèe gampoeng Krueng Raya
Jino Lamteuba lön cuba kisah
Sidéh bak kawom keu lön troh haba
Sidéh syeedara pih lëe museunah (h. 13)
Artinya:
Saat dulu tinggal di gampong Krueng Raya
Sekarang saya ceritakan kisah di Lamteuba
Dari saudaraku kabar ini kuterima
Disana mereka pun jadi korban

Tutue Lamtamot pih get that rupa
Meunurot haba kiwing dum patah
Sampee geuritan han jeut jilata
Meunan keuh rupa haba gob peugah (h. 15)
Artinya:
Jembatan Lamtamot juga rusak parah
Menurut informasi bengkok dan patah
Sehingga kereta api tidak bisa berjalan
Begitulah kabarnya dari cerita orang

Di Padang Tiji wahee syeedara
Asrama teuntra dum habeh reubah
Reubah meupunjoot habeh roet rungka
Bukeuti nyata loen kalon leumah (h. 15)
Artinya:
Di Padang Tiji wahai saudara
Asrama tentara juga semua roboh
Roboh terjungkal semua kerangkanya
Itu bukti nyata saya lihat langsung

Di Darussalam kuta peulaja
Aneuk sikula bak jigrop patah
Patah bak jigrop tëuot ka rungga
Nyan dumkeuh bahla neubri lèe Allah (h. 16)
Artinya:
Di Darussalam kota pelajar
Anak sekolah patah saat lompat
Patah lututnya saat lompat
Begitulah bala yang Allah beri

Jalur atau daerah gempa yang disebut dalam Hikayat Geumpa di Atjeh, 1964

Setidaknya, dalam syair Syekh Rih diketahui beberapa daerah koordinat gempa atau wilayah yang berdampak gempa, mulai dari wilayah Darussalam (Banda Aceh), Lamteuba, Lamtamot hingga ke Padang Tiji (Pidie). Jalur ini yang kemudian disebut oleh BMKG "Sileumeum Fault" dan peneliti Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) dan beberapa penelitian lainnya terhadap gempa di Aceh. Dengan temuan ini juga dapat digunakan untuk penelitian arkeologis dan paleoklimatologi di masa mendatang.


Maka tulisan ringan ini hanya menginformasi sedikit perihal gempa yang telah menghancurkan rumah, sekolah, asrama TNI dan membuat masyarakat mengungsi. Merujuk dan mengutip dari Hikayat Geumpa di Atjeh Syekh Rih Krueng Raya menyebut beberapa lokasi dampak terjadinya gempa dan menyertakan laporan bantuan Pemerintah kepada para korban. 

Lebih dari itu, saya menyimpulkan ini adalah sebuah tradisi (cara) kearifan lokal "mitigasi bencana" di Aceh melalui oral tradition (tradisi lisan) sebagaimana diwariskan tradisi hikayat bencana, maka istilah Ie Beuna di Aceh dan Smong di Seumeulu (istilah tsunami) dan beberapa daerah lainnya dalam bentuk tutur atau hikayat. Hikayat merupakan satu-satunya media menyebarkan informasi kepada publik secara massif, atraktif dan produktif untuk pendengar. Semoga tradisi ini tumbuh kembali di masyarakat Aceh dengan media terkini dalam menangani dan menimalisir korban bencana. 

Dan, atas dasar itulah menjadi bukti bahwa gempa tahun 1964 merupakan jalur “Sileumeum fault” (Bukan Seumeulum Fault sebagaimana beberapa tulisan). Dari data sejarah gempa diperoleh besar magnatude 6.5 SR, hikayat menyebutkan bahwa gempa tersebut dirasakan dan terjadi kepanikan, walaupun dampak gempa ini belum diketahui lebih jauh, baik kerugian ril materil yang terjadi, ataupun korban jiwa dan pengungsian. 

Namun demikian, gempa yang kembali terjadi baru-baru ini (7 Desember 2016) meninggalkan banyak duka dan "tanda tanya" bagi para peneliti gempa dan Badan Kebencanaan di Aceh dan Indonesia untuk selalu siap menginput data, mengulas informasi, dan memberikan informasi sekaligus pengertian lebih banyak kepada masyarakat, sebab bagian-bagian Aceh berada di atas patahan "ring of fire" gempa. Dan gempa 7 Desember 2016, sampai saat ini belum terungkap jelas jalurnya, apakah ini jalur "Sileumeun Fault" atau "Samalanga-Sipopok Fault" oleh para pakar.


Sumber:
-  Syekh Rih Krueng Raya, Hikayat Geumpa di Atjeh. Banda Aceh. Anzib Lamnyong, 1964
- Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
- Media online (Serambi Indonesia, Republika, Kompas, Harian Aceh, dll)

Hikayat Deteksi Lokasi Gempa Aceh 1964

Read More

Rabu, Desember 07, 2016


“Bermula jika pada bulan Rabiul Awwal gempa pada waktu Subuh alamatnya rahmat Allah akan datang kepada negeri itu. Jika pada waktu Dhuha alamatnya beroleh anugerah Allah Ta’ala akan dia isi negeri itu. Jika pada waktu Zuhur alamatnya orang jauh akan datang bahagialah kita berbuat ibadah akan Allah Ta’ala. 
(Museum Aceh. Inv. 07.1676)

Itulah sepenggal catatan gempa dalam manuskrip  koleksi Museum Aceh di Banda Aceh. Versi yang sama dan yang berbeda juga terdapat beberapa manuskrip lainnya seperti koleksi lainnya di Museum Aceh sebanyak 4 teks, Yayasan Museum Ali Hasjmy 1 teks, koleksi pribadi Tarmizi A Hamid dan bang Rijal, masing-masing 1 teks dan keduanya di Banda Aceh.

Di luar Aceh, naskah tabir gempa juga didapati di daerah-daerah rawan dan sering bencana gempa seperti di Padang, tepatnya di Surau Lubuk Ipuh, Surau Pakandangan, Surau Pondok Koto Panjang Ulakan. Koleksi teks rekaman gempa juga dikoleksi di Perpustakaan Negeri RI (PNRI) Jakarta dan koleksi Pepustakaan Leiden sebanyak 3 teks (Or. 1695, Or. 1977, Or. 1978). Sejauh ini, saya telah  inventarisir sebanyak 21 manuskrip teks tab'ir gempa dengan struktur yang sama.

Salah satu kandungan teks Tabir Gempa lainnya menyebutkan bahwa: 
"Bab pada bulan Rabiul Awwal gempa pada waktu Subuh alamat lapar isi negeri itu. Dan jika pada waktu Dhuha alamat orang dari jauh akan datang. Dan jika pada waktu Zuhur gempa alamat dari jauh akan datang bagi kita berbuat baik".


Jika dibandingkan kedua teks tersebut merupakan rekaman “Tabir Gempa” yang ditulis oleh pendahulu, beberapa bagian memiliki kesamaan, dan disebagian lain lainnya tidak sama. Naskah yang mencatat gempa tidak semua terdapat penanggalan, tahun, tempat penyalinan, bahkan si penyalin itu sendiri. Namun yang pasti catatan-catatan itu telah berada "selamat dihadapan kita" yang berisikan gempa dan dampak pasca gempa, di dalamnya diinterpretasi akan berakibat baik atau buruk, seperti dalam tafsiran kedua teks di atas dapat dimaknai beragam, khususnya gempa pada Subuh hari. Itu belum lagi dibandingkan 21 manuskrip lainnya.

Tentunya, dalam teologi agama, manusia dianjurkan untuk “melebihkan timbangan" berpikir yang baik (positif thingking) kepada Sang Pencipta karena semua ada hikmahnya.

Dalam pandangan keilmuan sosial, ini merupakan “kolektif memori” masyarakat Aceh (dan Nusantara) terhadap kolektif di tengah masyarakat, atau komunitas yang mengalami bencana. Ingatan dan kenangan bersama dimaknai oleh orang-orang arif terhadap dampak akibat gempa, dengan kata lain ini bentuk rekaman masyarakat Aceh dan umumnya Melayu-Nusantara, bukan ramalan gempa sekarang dan dampak yang akan terjadi ke depan, atau pada saat ini.

Perbedaan catatan kedua teks tabir gempa di atas bukan tidak beralasan. Pastinya, catatan tersebut terjadi pada periode berbeda, di wilayah geografis berbeda, situasi berbeda, dan oleh orang-orang yang berbeda pula. Selain itu, penting sebagai catatan bahwa, ini menunjukkan telah terjadi transmisi penyalinan teks dan (tradisi) keilmuan di Aceh (Melayu Nusantara) dari zaman ke zaman terhadap mitigasi bencana. Lantas bagaimana masyarakat sekarang?

Pelajaran yang penting harus dipetik adalah, masyarakat dulu telah berusaha merawat rekaman gempa dan dampak ikutannya, semestinya kita belajar lebih jauh dalam menangani bencana, khususnya gempa, misalnya infrastruktur bangunan yang anti gempa, jalur evakuasi, sistem penanganan dini terhadap gempa, catatan-catatan penting terhadap gempa dan sebagainya.


Sebagai informasi catatan-catatan gempa tersebut, kita tidak banyak tahu, bahkan harus berterima kasih kepada Syekh Rih Krueng Raya atas bukunya “Hikayat Geumpa di Atjeh” tahun 1964. Akhirnya kita tahu bahwa gempa di Aceh pernah melanda Aceh Besar, Pidie dan Banda Aceh pada tanggal 2 April 1964. Bahkan pemerintah mengulurkan bantuan ke epicentrum gempa di Krueng Raya, Lamteuba, dan Lamtamot, sebesar Rp. 2.360.000,- (angka  yang cukup besar pada periode tersebut) disertai barang-barang bantuan lainnya.

Melihat gempa Pidie dan Pidie Jaya, maka ini adalah jalur baru mengikuti jalur gempa di kaki gunung Seulawah Aceh Besar. Jalur baru ini tidak banyak tercatat dalam sejarah catatan gempa. Merujuk kepada BMKG berdasarkan peta tataan tektonik Aceh tampak bahwa di zona gempa bumi memang terdapat struktur sesar mendatar. Ini sesuai dengan hasil analisis BMKG yang menunjukkan bahwa gempa bumi Pidie Jaya dibangkitkan oleh aktivitas sesar mendatar (strike-slip fault). Dugaan kuat sesar aktif yang menjadi pembangkit gempa bumi ini adalah Sesar Samalanga-Sipopok Fault yang jalur sesarnya berarah barat daya-timur laut.

Akhirnya, belajar dari bencana gempa dan dampaknya, pemerintah dan seluruh masyarakat Aceh harus serius belajar “mitigasi bencana” dan “rukun dengan alam” sesuai kearifannya. Semoga diberi ketabahan terhadap korban bencana alam ini 7 Desember 2016, menjelang peringatan akbar gempa tsunami 26 Desember 2004.

Foto-foto bencana gempa Pidie Jaya, 7 Desember 2016. (Mag. 6.4 SR. Pukul 05.05)












Sumber:
- Teks manuskrip koleksi Museum Aceh. Nomor 07.1676
- Teks Manuskrip dan gambar dari berbagai koleksi medsos (FB)
- Syekh Rih Krueng Raya, Hikayat Geumpa di Atjeh. Banda Aceh. Anzib Lamnyong, 1964
- www.okezone.zom

Manuskrip dan Memaknai Gempa Pijay

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top