Tampilkan postingan dengan label Sarakata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sarakata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Maret 25, 2023




Surat Sultan Aceh, As-Sultan 'Alauddin [Alauddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammal] 
bin Firmansyah, yang diberikan kepada Kapten kapal Inggris bernama Harry Middelton sekitar tahun 1602 untuk izin berdagang di seluruh wilayah "Teluk Rantau Aceh", atau wilayah kekuasaan dan naungan Kesultanan Aceh. Surat ini menjadi dasar utama wilayah perdagangan dan kekuasaan Aceh yang dikelola secara bersama-sama.



Surat izin perdagangan sultan Aceh ini disimpan di Bodleian Library dengan nomor MS (manuscript). Douce Or. e. 4. di Universitas Oxford (University of Oxford). Informasi ini diadaptasi dari Richard Greentree dan Edward Williams Byron Nicholson, Katalog Naskah Melayu dan Naskah Berkaitan dengan Bahasa Melayu di Bodleian Library, Clarendon Press, 1910.

Surat ini disimpan dalam bungkusan kain sutra berwarna hijau yang kini disimpan dalam kotak khusus yang dibuat oleh Bodleian. Surat berbahan kertas Eropa dengan teks tertulis 14,5 x 16 cm, tulisan indah dengan khat Naskhi.

Di atas teks terdapat cap Sultan yang berkuasa pada tersebut, tertulis ditengahnya "As-Sultan 'Alauddin bin Firmansyah" yang merujuk kepada Sultan Alauddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammal, berkuasa antara tahun 1589-1604, dan beliau meninggal dunia dengan tenang tahun 1605.



Berikut teks hasil alihaksaranya:

Dengan anugerah Tuhan seluruh alam sekalian, sabda yang maha mulia datang kepada segala panglima negeri 

dan pertuha segala negeri yang takluk ke Aceh. Adapun barang tahu kamu sekalian bahwa

kapal orang-orang Inglitir ini Kaptennya bernama Hary Middelton asalnya kapal ini berlabuh  

di labuhan negeri Aceh berapa lamanya ia di sana, maka mohon dirinya ia berlayar ke Jawa jika ia 

memeli lada atau barang suatu diberinya akan kamu dirham atau barang suatu yang orang Inglitir 

ini orang sahabat kita raja Inglitir, maka kaptennya dan segala saudagarnya itu hamba pada raja

Inglitir, yang hamba raja Inglitir itu serasa orang kitalah. Jika ia meli beri jual dengan kamu yang dalam 

Teluk Rantau Aceh itu dengan sebenar-benarnya jua. Maka surat sitmi yang kita karuniai akan dia ini 

dengan dipohonkan daripada kita supaya jangan ia dicabuli segala orang Teluk Rantau kita.

Maka jika ditunjukkannya kepada kamu sekalian sitmi ini hendaklah kamu permulia, dan janganlah 

seorang daripada kamu  mencabuli dia. Inilah sabda kita kepada kamu sekalian. Wassalam. 



Note:
- Sitmi adalah surat resmi kesultanan yang ada cap (stempel) resmi pemerintahan
- Inglitir adalah penyebutan kepada bangsa Inggris
- Teluk Rantau merupakan wilayah-wilayah kerajaan lain di Nusantara yang tunduk dan bekerja sama dengan Kesultanan Aceh.
- mencabuli dimaknai memusuhi, mencelakai dan atau membajak atau mengganggu

Surat Izin Dagang Sultan Aceh Kepada Kapten Inggris

Read More

Sabtu, Mei 25, 2019


Beberapa hari lalu, teman-teman di media sosial (medsos) mengirim sebuah teks naskah ramalan dari sebuah tulisan di situs tentang ramalan Syekh Abdurrauf al-Fansuri atau dikenal juga Teungku Syiah Kuala yang bernama kitab Mandiyatul Badiyah.

Tulisannya berjudul “Pergantian Presiden Tahun 2019 (1440 H) menurut Kitab Mandiyatul Badiah karya Teungku Syiah Kuala Negeri Aceh” yang meramal Aceh dan Indonesia masa lalu, saat ini dan masa mendatang.

Dengan dalil-dalil yang lemah, penulis artikel tanpa menggunakan nama asli yang berinisial Abu Qurma al-Masyriqy (AQM) tersebut mangaduk dan merunut kejadian-kejadian yang telah berlalu dengan ramalan dusta, bercampur mitos dan fakta-fakta yang pernah terjadi.

Semua prediksi dan ramalan dalam tulisannya tersebut adalah dusta. Kebohongan yang dibangun dalam beragumentasi sangat jelas, selain manuskrip bodong alias palsu bin hoax, juga mengaitkan kebohongan tersebut dengan membawa nama ulama besar Aceh dan alam Melayu, Syaikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri yang dikenal sekarang Syekh Syiah Kuala.

Beberapa kepalsuan yang nyata jelas terlihat di antaranya, Pertama; Kitab Mandiyatul Badiyah bukanlah karya Abddurrauf Syiah Kuala, sebab judul yang umum "Mawa'idul Badi'ah" (Petuah-petuah berharga) yang membahas seputar hadist Nabi dan tasawuf . Sejauh ini, Abddurrauf Syiah Kuala tidak pernah mengarang kitab dengan judul tersebut. Penelusuran dan penelitian saya pribadi, peneliti local, nasional bahkan internasional tidak pernah menyentil judul ini.



Kekeliruan kedua disebutkan “ramalan Syiah Kuala yang wafat pada tahun 1699 H ini memberikan gambaran tentang perjalanan Negeri Aceh (Bilad al-Asyi) dulu dan masa mendatang” adalah kekeliruan luar biasa. Pada hakikatnya, Syiah Kuala meninggal 1693 M, sedangkan tahun 1699 adalah meninggalnya (turun tahta) Sultanah Zainatuddin Kamalat Syah (Sultan perempuan ke-4 di Kesultanan Aceh). Sehingga tahun ramalan jauh setelah Abdurrauf Syiah Kuala meninggal.

Dusta yang ketiga adalah menghubungkan ramalan dengan sejarah Aceh yang tidak linier, bahkan mengada-ngada. Seperti wasiat Nabi Khidir untuk Sultan Iskandar Muda (1606-1637) dan Abdurrauf Syiah Kuala (1661-1693). Keduanya berbeda periode dan tidak saling jumpa, sehingga tidak mungkin mewasiatkan satu sama lainnya tentang ramalan tersebut.

Poin paling penting adalah sisi kajian filologis dan kodikologis, selembar kertas (di Aceh dikenal arakate atau sarakata) tidak disebut kitab. Struktur kitab tidak memenuhi manuskrip secara umum yang ditulis oleh Syekh Abddurauf terdiri dari pembukaan, selawat, sebab, nasab, judul dan isi. Sedangkan sisi paleo-kodikologis menunjukkan teks tulisan periode modern, sebab itulah ditulis "dinukilkan dari pada Syekh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala)" bahwa kata Syiah Kuala hadir pada tahun 1960an. Sedangkan ukuran kertas jauh dari ukuran normal kertas naskah kuno umumnya.  

Alasan selanjutnya bahwa, Syiah Kuala sendiri menentang ramalan-ramalan yang bersifat mistis dan tidak sesuai dengan syariat. Hal tersebut diungkap dalam kitabnya tentang sakaratul maut. Pada saat itu, ia menentang tentang paganism dan sinkritisme di masyarakat Aceh di saat seseorang meninggal akan bercahaya dengan warna (aura) sesuai perilaku seseorang.

Oleh karena itu, perihal tersebut menunjukkan AQM telah bersembunyi dalam selimut kepalsuan dan mengatasnamakan ulama besar Aceh untuk kepentingan politik praktis dan untuk pribadinya saja. Kejahatan ini harus ditindak oleh lembaga  pemerintah terkait keagamaan di Aceh seperti Dinas Syariat Islam (SI), Majelis Permusyawaratan Aceh (MPU), ataupun seperti Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) supaya tidak terus berkembang ramalan hoax dan telah mencatut nama ulama Aceh untuk kepentingan tertentu. []

Mandiyatul Badiyah Manuskrip Hoax

Read More

Rabu, Oktober 31, 2018

Naskah kuno berjudul “Hikajat Atjeh” (Hikayat Aceh) yang ditulis pada paruh kedua abad 17 dan diyakini sebagai karya Syamsuddin As-Sumatrani, kini sedang diperjuangkan Perpustakaan Pusat Nasional (Perpusnas) RI untuk diterima Unesco sebagai warisan Memory of the World (MoW) Tahun 2019.

Terkait dengan upaya itu, Kamis (25/10/2018) pagi dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai Memory of The World 2019 di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.

FGD itu diperlukan untuk memperkaya upaya penyusunan naskah nominasi, karena pengusulan MoW harus disertai kajian akademik.

FGD yang dihadiri 20 pakar itu dibuka Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Dr Wildan MPd dan difasilitasi Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika.

Mengawali FGD, Prof Dr Wardiman Djojonegoro (mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Orde Baru) dan Hermansyah (Dosen Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry) tampil sebagai narasumber utama membahani para peserta yang notabene juga narasumber FGD.

Prof Wardiman yang saat ini berusia 83 tahun dengan penuh semangat membeberkan bahwa Unesco (Badan Resmi PBB untuk Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan) akan kembali membuka pendaftaran MoW, diperkirakan pada Mei 2019.

Untuk itu, Kepala Perpusnas, Dr Syarif Bando, mengusulkan dua naskah sastra kuno untuk didaftarkan (diregister) sebagai nominee MoW dari Indonesia.

Naskah tersebut adalah Sang Hyang Sikusa dan Hikajat Atjeh. Alasan pengajuan karena naskah Hikajat Atjeh termasuk tua, merupakan warisan sastra kuno, masih tersimpan dengan baik dan aman (di Perpusnas dan di Universitas Leiden, Belanda), dan luput dari bencana tsunami.

Kepala Perpusnas, kata Prof Wardiman, juga setuju untuk mengundang Pemerintah Aceh menjadi salah satu co-nominator, di samping Universitas Leiden.

“Pemerintah Aceh diajak sebagai co-nominator, agar para ilmuwannya dapat ikut aktif mengkaji pengusulan naskah ini,” kata Wardiman didampingi Dr Ahmad Masykuri, Kepala Pusat Reservasi Bahan Pustaka Perpusnas RI.

Menurut Wardiman, untuk ukuran sebuah manuskrip Indonesia, naskah Hikajat Atjeh itu tergolong sangat tua (ditulis antara 1650-1700), karena naskah di Indonesia biasanya cepat rusak akibat kelembaban yang tinggi, mengingat Indonesia negeri tropis.

MoW ini, kata Wardiman, bertujuan untuk melestarikan warisan arsip dunia dengan teknologi mutakhir dan meningkatkan preservasi dari arsip-arsip yang mempunyai arti global, maupun arsip yang mempuyai nilai regional atau nasional.

Tujuan lainnya adalah meningkatkan kepedulian para negara anggota atas arsip-arsip mereka, khususnya arsip yang mempunyai nilai warisan dan arti global.
Ms. Hikayat Aceh koleksi Perpustakaan Nasional RI, Jakarta

Narasumber lainnya, Hermansyah merekomendasikan perlu adanya reproduksi naskah, alih media modern, dan sosialisasi naskah Hikajat Atjeh yang akan didaftarkan ke Unesco itu.

Ia menyebut nakah tersebut sebagai salah satu dari Naskah Agung Aceh yang berdasarkan kajian Dr Hoesein Djajadiningrat maupun Dr Teuku Iskandar, diyakini sebagai karya Syamsuddin As-Sumatrani yang pernah menjadi Mufti Agung pada masa Kerajaan Aceh.

Aceh sendiri, menurutnya, memiliki 5.141 naskah yang sudah terdata, tapi baru 944 yang didigitalisasi.

Ia berharap, naskah kuno lainnya dari Aceh sepanjang ditemukan naskah aslinya layak diusulkan ke Unesco sebagai MoW.

Di antaranya Hikayat Raja-raja Pase yang lebih tua dibanding Hikajat Atjeh.

Para peserta FGD seluruhnya setuju dan gembira jika naskah Hikajat Atjeh diregister ke Unesco untuk mendapatkan MoW tahun 2019, karena hal itu menunjukkan tingginya tamadun dan peradaban Aceh pada abad 17 yang bukti fisiknya masih ada hingga kini.


Artikel ini telah tayang di Serambinews.com
http://aceh.tribunnews.com/2018/10/26/hikayat-aceh-dinominasikan-masuk-memory-of-the-world-unesco

Hikayat Aceh Dinominasikan Masuk Memory of the World UNESCO

Read More

Sabtu, Desember 03, 2016




Pernyataan Belanda di Museum Bronbeek, Arnhem-Belanda "Kenangan Pahit yang harus dikenang".

Hampir semua lini masyarakat Aceh mengambil bagian melawan Belanda pada era kolonial. Bukan hanya murni pejuang, para Sultan, Uleebalang, ulama, kepala-kepala Mukim, perempuan, dan termasuk anak-anak. Banyak korban (syahid) dari pihak Aceh, bukan berarti berhenti dari perjuangan. Bahkan, perlawanan, demi perlawanan terus digalakkan untuk merebut wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda.

Menurut Belanda, tahun-tahun terakhir syahidnya para "keluarga Tiro" merupakan akhir dari perjuangan dan perlawanan Aceh terhadap Belanda. Sebab setelah melumpuhkan Kesultanan Aceh, menguasai Mukim-mukim Aceh Besar, sentral perang Aceh pindah ke Pidie,  mampu mengubur "Kesultanan Pidie", beralih pada kepemimpinan ulama.

Dalam tahun 1910-1911 dianggap akhir dari perjuangan Tiro, karena pada tahun ini hampir semua keluarga Tiro syahid. Pada tahun 1910 yang syahid banyak nama-nama pejuang dan ulama pejuang Aceh. Di wilayah Aceh Utara, tewas Teungku Di Buket (21 Mei 1910), Teungku Tjhi' Harun alias Teungku Di Pineung (21 Mei 1910), dan Teungku-teungku ulama; Teungku Ali dari Teutue, Teungku Ismail Gluempang Payeung, Teungku Pi dari Iboih, Teungku Jit dari Lho' Kayu, Teungku Deah dari Geumpang, Teungku Saleh dari Tangse, Teungku Rahman dari Tiro (Said, 459), dan Teungku Mahyiddin alias Teungku Chik Mayet.

Nama terakhir adalah putra kedua Teungku Chik Saman di Tiro yang syahid pada 5 September 1910. Teungku Mahyiddin Tiro pernah mengirim surat kepada Tuanku Raja Keumala dan para pemimpin di Samalanga bahwa ia akan terus berjuang melawan Belanda hingga syahid. Surat itu ditemukan Belanda yang berisikan beberapa peristiwa dalam waktu itu. Baca: Surat Peunutoh Teungku Mahyiddin Tiro

Cap/stempel yang ditemukan pada jenazah Teungku Chi' Maye't syahid 5 September 1910
Tulisannya: Mahyiddin bin Syekh Muhammad Saman Tiro
(The seal with the inscription "Mahyiddin bin Syekh Muhammad Saman Tiro", found on the body or Teungku Chi' Maye't, who died on September 5, 1910)

Pada tahun 1911 masih terjadi perang di seluruh Aceh dan beberapa orang ulama syahid. Pada tanggal 21 Oktober 1911 Teungku Mohamad Akbar bin Aridin, pada September 1911 juga Teungku Alee Tu tue, Teungku Maruful Krus, Teungku Abdul Wahab Tanah Abe alias Teungku Di Cot Minyeu (29 September 1911). Teungku Saleh bin Mohamad Amin Di Tiro (3 Desember 1911). dan tanggal 3 Desember 1911 syahid Teungku Ma'at, putera terakhir dari Teungku Di Tiro. Kejadian ini dianggap oleh Belanda adalah akhir dari "garis Tiro" dan berakhirnya perang Pidie, sebab semua keluarga Tiro telah meninggal. Penilaian itu ternyata salah, bahkan perang terus berkecamuk dan meluas.



Cap/stempel ditemukan pada jenazah Teungku Ma'at, syahid 3 Desember 1911.
inkripsinya "Sahèh Syaikh Ma'at bin Muhammad Amin Tiro.
(Seal found on Teungku Ma'at body, who died on December 3, 1911, with the inscription: Sahèh Syaikh Ma'at bin Muhammad Amin Tiro)

Esoknya, tanggal 4 Desember 1911 dijadikan hari berduka karena meninggalnya Teungku Ma'at sebagai generasi terakhir dari Teugnku Chik Muhammad Saman di Tiro. Setahun sebelumnya pahlawan-pahlawan perang dari keluarga Tiro juga ikut syahid. Oleh tanggal inilah Hasan Tiro mendeklarasikan gerakannya sebagaimana disebutkan dalam bukunya "The Price of Freedom" (h. 15).

Namun demikian,  perjuangan dan perlawanan Belanda tetap berkecamuk, pada tahun yang sama kepemimpinan perang dipimpin oleh setiap panglima di negeri masing-masing, Aceh Besar kepada Pang Bintang, Pang Abaih dari Kulu (25 Mukim) dan Pang Mat dari Pijeueng dari 22 Mukim. Bahkan perang meluas hingga ke Gayo, Rojo Kahar, Lahidin, Teungku Muda Pendeng dan Pang Manaf di Gayo adalah bagian pemimpin dan pejuang yang syahid di Gayo (1914). (Said, 461).

Meriam Aceh di Museum Bronbeek Arnhem Belanda, Latar belakang foto Jendral Belanda "Si Mata Satu"

Perjuangan di Tiro adalah bagian kecil dari peperangan dan perjuangan besar Aceh. Jika melihat kalkulasi korban selama perang Aceh yang disebut Said, maka masih banyak bagian-bagian Aceh yang belum terekam. Menurut data jumlah yang mati dalam perang menurut catatan  resmi Belanda  selama agresi di Aceh dari tahun 1873 s/d 1914.
  • >> Tewas sebanyak 1216 orang
  • >> Luka-luka 13011 di antaranya meninggal kemudian 793 sehingga yang tewas berjumlah 2009.
  • >> Jumlah serdadu Belanda sakit karena tugas antara 1873 s/d 1880 menurut Kielstra 6898, menurut Kruisheer yang sakit antara 1893 s/d 1896 = 818 orang. 
  • >> Untuk 10 tahun 7716. Yang meninggal akibat sakit antara 1873 sampai dengan 1914 = 10.000 orang. 
  • >> Jumlah orang hukuman yang tewas sampai dengan 1881 saja sekitar  8250. Menurut Sid bahwa orang-orang yang terkena hukuman turut dijadikan umpan perang dan "pion" terdepan.

Bila dikalkulasikan kerugian Belanda dari tahun 1873 s/d 1914 sebanyak 2009 orang tewas, 10.500 orang meninggal karena sakit, 25.000 orang karena hukuman. Dengan sendirinya angka tewas di pihak Belanda tanpa memasukkan orang-orang yang terkena hukuman 2009 + 10.500 = 12.509.

Sedangakn merujuk pada catatan resmi Belanda mengenai syahidnya para pejuang Aceh dalam masa:
  • >> Tahun 1873 s/d 1880 sebanyak 30.000 orang. 
  • >> Tahun 1899 s/d 1914 berjumlah 23.198 orang. 
  • >> Total keseluruhan yang syahid berjumlah  53.198 orang. 
Kalau dihimpun dengan masa 17 tahun, antara 1881 s/d 1898 menjadi semua dalam waktu yang sama seperti diatas berkisar antara 70.000 orang. Taksiran Encyclopedia van Ned. Indie menurut Paul van 't Veer jiwa penduduk Aceh ditahun 1890 sebanyak 500.000 orang, atas dasar angka kematian 50.000 orang, maka dapat dicatat setiap 10 orang tewas orang Aceh 10%. Menurut Said,  angka kematian itu sangat dilebih-lebihkan oleh pihak Belanda, tapi dapat dicatat bahwa semua rakyat Aceh telah mengambil bagian aktif berjuang. (h. 462)

Maka, jika merujuk kembali pada kerugian ril dan materil, Aceh mengalami banyak kerugian, walaupun tetap mampu bertahan, dan tidak seperti wilayah lainnya di Indonesia. Sepatutnya, survival masyarakat Aceh tersebut dijadikan momentum dan pembelajaran untuk ke depan, bertahan dalam beragam bencana yang terjadi, sebab ini semua bukan akhir dari perjuangan Aceh. []


Sumber:
Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad II. Diterbitkan oleh: PT. Harian Waspada Medan, dicetak oleh: PT. Percetakan Prakarsa Abadi Press. Tp. h. 462
Tim. Perang Kolonial Belanda di Aceh, Bandung: PT. Harapan Offset, 1977.
Hasan Tiro, The Price of Freedom: the Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro. Published by National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984.

Bukan Akhir Perjuangan Aceh

Read More

Kamis, September 08, 2016


A letter written by Teungku Mahidin, alias Teungku Chik Mayet, secon son of Teungku Syeh Saman di Tiro who met his sacred death on September 5, 1910. It is addressed to Tuanku Raja Keumala, Panglima Polem’s brother-in-law, and to all Moslem in Samalanga. The letter described the war situation in Pidie and the death of Teungku di Tungkop. (top)

Begitulah keterangan dalam buku Belanda tentang sebuah sarakata (surat) dari Panglima Perang Aceh di Pidie saat perang Aceh-Belanda berkecamuk. Catatan di atas dapat diartikan sebagai berikut:
"Sepucuk surat Teungku Mahidin alias Teungku Chik Mayet, putra kedua Teungku Syeh Saman di Tiro, syahid pada tanggal 5 September 1910 yang ditujukan kepada Tuanku Raja Keumala, ipar Panglima Polem dan kaum muslimin di Samalanga, antara lain mengenai berkecamuknya peperangan di Pidie dan syahidnya Teungku di Tungkob". Wilayah Tungkop yang dimaksud adalah Tungkop di Pidie.

Informasi tambahan sebenarnya juga terdapat dalam surat tersebut, yaitu saat Teungku di Tungkop syahid, lalu penggantinya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin. Dalam kondisi perang, "struktur panglima perang" sebagai pemegang komando perang sangat penting sebagai pemberi komando (peunutoh), saat satu pimpinan tertinggi syahid dalam perang, maka secara mufakat atau struktural akan digantikan oleh yang lain sesuai dengan kesepakatan. Sepertinya, inilah yang dimaksud dalam surat tersebut "negeri empunya peunutoh meualon-alon" secara struktural dan terorganisir.


Berikut transkripsi teks perbaris:

1. Hadharat Seri Paduka yang mulia Tuanku Raja Keumala serta segala yang
2. ikutannya daripada saudara Muslimin dalam negeri  Samarlanga [Samalanga] ada semuanya.
3. Wa ba’du. As-salamu’alaikum wa-rahmatullah wa barakutuhu. Maka ahwal Pedir [Pidie] semua
4. dalam gaduh perang tiap-tiap ketika tiada khāli sekali-kali melainkan setengah tempat
5. ada yang terima surat kafir, serta tiada apa-apa atas kami sekali-kali melainkan
6. syahid Teungku di Tungkob  dengan garis takdir dalam Nisfu awal Sya’ban ini
7. serta sudah dijadi ada tandanya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin
8. akan gantinya dengan izin Tuhan Rabb al-‘Alamin, melainkan harap
9. kami bahwa berbanyak-banyak doa tuanku serta doa tuan-tuan akan keduanya
10. dan akan kami yang tinggal dalam negeri empunyai peunutoh meualon-alon seperti
11. di-ék trön u binéh pasie adanya. Was-salam ‘alà man ittaba’a al-hudà.
12. Daripada perhamba [poe hamba] faqir Mahyiddin Tiro.

11 Sya’ban 1318 H

Kedengaran Teuku Dua Ploh Dua 
sudah sampai dalam Gloeng [Galöng] Tiro.




Surat Peunutoh Teungku Mahyiddin Tiro

Read More

Senin, November 09, 2015


[1] الحمد لله عز شأنه
[2] أقول وأنا السلطان منصور شاه بن المرحوم السلطان جوهر العالم شاه بن المرحوم السلطان محمد شاه الأفخم
[3] لما كان في يوم الخميس 15 في ربيع الأول سنة 1265 أرسلنا خدمنا العزيز المكرم محمد غوث سيف العالم شاه
[4] إلى الحرمين الشريفين ثم إلى غيرهما من البلدان بلدان العرب أو العجم أو الترك أو الإنقليز أو الفرنسيس
[5] وغيرهم ممن بيننا وبينهم معرفة وصحبة ولا سيما التجار والنواخذ والحجاج أهل الآشي وغيرهم
[6] فنحن نوصيكم على المذكور في كل ما يحتاج من الدراهم والأقوات قدر ما يكفيه ولو ألفين ريال أو خمسة ألاف
[7] أو عشرة ألاف ريال أو زاد منه فأنتم أعينوه وأعطوه مطلوبه كفاية واكتبوا عليه وعلينا ذلك سندا
[8] وأشهدوا عليه شهودا ومن يوم ما وصلتم إلينا بالسند نسلم لكم القدر المشروح فيه ولا تخافوا من
[9] شيء لأنه أدمينا والمنتسب منا ومرسول من عندنا إلى جهات مهمة وفي أمور مهمة جدا ولأجل ذلك
[10] ختمناه بالأمهار التسعة التي ما نكتبها في كل مكتوب إلا في المهمات فقط وصلى الله
[11] وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين آمين

Terjemahan:

Segala puji bagi Allah Yang Maha Tinggi Zat-Nya

Aku katakan, dan aku adalah Sultan Manshur Syah anak Al-Marhum Jauharul ‘Alam Syah anak Al-Marhum Muhammad Syah yang mulia.
Tatkala pada hari Kamis 15 Rabi’ul Awwal 1265 [Hijriah] [8 Februari 1849 M] kami telah mengutus pelayan kami yang mulia dan terhormat Muhammad Ghuts (Ghauts; Aceh Goeh) Saiful ‘Alam Syah menuju dua tanah haram yang mulia, kemudian ke negeri-negeri lain, negeri-negeri Arab, ‘Ajam (Persia), Turki, Inggris, Perancis atau lainya yang memilki diplomasi dan kerjasama antara kami, terutama lagi kepada para pedagang [businessman], nakhoda [pelayaran dan kemaritiman], jamaah haji dari Aceh dan selain mereka.

Maka, kami menyampaikan kepada anda sekalian untuk memenuhi segala keperluan pelayan kami ini baik itu dirham (keuangan) dan kebutuhan pokok sejumlah yang diperlukannya, sekalipun itu berjumlah 2000 Riyal, 5000 Riyal, 10000 Riyal atau lebih. Anda sekalian diharapkan membantunya dan memberikan apa saja yang diperlukannya sampai cukup, dan mohon tuliskan untuk kami dan untuk dia satu tanda bukti serta hadirkan beberapa saksi di depannya. Nanti pada hari Anda sekalian telah sampai kepada kami dengan membawa tanda bukti, maka kami akan mengembalikan kepada Anda sejumlah yang tertera dalam tanda bukti itu.

Janganlah Anda sekalian merasa kuatir sebab yang bersangkutan adalah kerabat kami dan dari golongan kami serta merupakan utusan dari pihak kami kepada pihak-pihak yang penting dan dalam rangka melaksanakan tugas-tugas (misi-misi) yang teramat penting.

Untuk itulah, maka kami cap surat ini dengan mohor (cap) sembilan yang hanya kami terakan pada tulisan-tulisan (surat-surat) yang penting saja.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan ke atas Penghulu kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau sekalian. Amin.

(Sebagian dikutip dari www.mapesaaceh.com)

Transliterasi: Musafir Zaman
Foto Sarakata: Dr. Annabel Gallop

Sarakata Sultan Mansur Syah Aceh, 1849

Read More

Jumat, Juni 26, 2015

Teks "Mawa'id al-Badi' (al-Badi'ah)" karya Syekh
Abdurrauf  al-Fansuri
ABDURRAUF BIN ALI AL JAWI AL FANSURI adalah salah seorang ulama besar di Aceh dan pengembang utama tarekat Syattariyah di Aceh dan Asia Tenggara.
Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Selain penasihat empat Sultanah di Kerajaan Aceh, ia juga termasuk ulama yang paling aktif menulis kitab sepanjang abad di berbagai bidang ilmu berjumlah kurang lebih 38 judul kitab.
Ia menulis mulai bidang ubudiyah, muamalah, tauhid, tasawuf, tafsir Quran, etika dan lainnya di bidang sosial dan kearifan masyarakat Aceh khususnya, dan masyarakat Melayu umumnya.
Salah satu kitabnya berjudul Mawa’id al-Badi’ (al-Badi’ah) diartikan Pengajaran yang indah-indah (berguna) yang berisikan 50 wasiat pengajaran (poin) Syekh Abdurrauf kepada manusia.
 “Dan kunamai akan dia Mawa’id al-Badi’ artinya segala pengajaran yang indah-indah. Hai segala anak Adam laki-laki dan peremppuan, percayakan oleh kamu akan segala pengajaran ini, jangan engkau syak (ragu) akan dia, karena segala pengajaran ini setengahnya (sebagiannya) aku ambil dari perkataan Allah, dan dari Rasulullah, para Sahabat, Aulia Allah, hukama, dan ulama..”.
Pesan tersebut dimulai dengan sebuah anjuran supaya dikaji ulang pada setiap hari atau seminggu sekali atau sekurang-kurangnya sebulan sekali. Faidah membaca kitab ini menurut ulama pengarang kitab tafsir  berbahasa Melayu (Indonesia) pertama kali supaya hati manusia menjadi lembut.
Bahkan, barangsiapa yang telah membacanya dan tidak mengamalkan isinya akan termasuk orang yang merugi. Maka, maklum saja jika kitab ini diperoleh banyak sekali variannya.
Kitab ini disalin oleh banyak orang dalam beberapa tahun berikutnya hingga masa kemerdekaan.
Apabila dipersentasekan isi kitab ini, wasiat pengajaran Abdurrauf banyak membahas tentang etika dan karakter seorang muslim. Anjuran-anjuran di dalamnya mengutamakan sikap bersosial terhadap orang lain, sepuluh peringatan pertama seluruhnya menyebutkan tentang sikap manusia.
Pertama yang diungkapkan oleh Abdurrauf adalah kematian (maut) dan proses di hari kiamat. Epistemologi tersebut merupakan langkah utama bagi manusia yang dianggap baligh dan berakal sebagai tujuan akhir hidup ini.
Kemudian, pada peringatan kedua ia menegaskan tentang tauhid.

Ini Wasiat Abdurrauf Syiah Kuala Untuk Kita

Read More

Senin, September 23, 2013

“Qaulul haqq walau kana murran”.

Hijrah Nabi SAW sanah Seribu Dua Ratus Enam Tahun pada tahun Zai pada bulan Safar pada Dua Puluh Tujuh Hari bulan, [27 Safar 1206 H] pada hari Senin, pada waktu Zuhur, insya Allah Ta'ala.
Dengan berkat mukjizat khatimul anbiya' wa sayyidul mursalin, 
dan dengan berkat syafaat segala anbiya’ wal-mursalin, 
dan dengan berkat sahabat yang empat radhiallahu 'anhum ajma'in, 
dan dengan berkat segala sahabat ridhwanullah 'alaihim ajma'in, 
dan dengan berkat karamat as-sultan al-arifin sayyid syekh Muhyiddin Abdul Qadir Jailani, 
dan dengan doa segala Qutub ar-rabbani ghaust al-hamdani [samadani], 
dan dengan berkat seumpena segala auliya Allah al-shalihin al-'abidin min masyariqi al-ardhi ila magharibiha, 
dan dengan berkat apuwah paduka marhum sekalian raja Rum, 
dan dengan berkat apuwah paduka sayyid al-Mukammil, 
dan dengan berkat apuwah paduka Meukuta Alam, 
dan dengan berkat apuwah paduka marhum 'Alauddin Ahmad Syah, 
dan dengan berkat apuwah paduka marhum 'Alauddin  Johan Syah, 
dan dengan berkat apuwah  paduka marhum 'Alauddin Mahmud Syah, 

Sarakata Penanggulangan Hama Tikus di Aceh [1]

Read More

Selasa, Mei 21, 2013

Saat restorasi naskah di rumah Tarmizi A Hamid
Bersama tim PKPM, 2012
Pasca gempa-tsunami Aceh 2004 telah menghancurkan banyak cagar budaya Aceh, termasuk manuskrip (naskah kuno). Manuskrip adalah dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis dengan tangan yang telah berumur 50 tahun lebih (UU Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992, Bab I Pasal 2). Pada saat bencana itu datang, ratusan naskah dan ribuan teks tulisan musnah di Aceh dilahap oleh ombak air laut. Beberapa di antara kolektor, seperti Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Tarmizi A Hamid (kolektor pribadi) belum sempat melakukan preservasi, salinan ulang, digitalisasi, ataupun backup manuskrip yang bernilai tinggi dan memiliki informasi penting lainnya.
Belajar dari kejadian tersebut, kemudian banyak lembaga terjun ke Aceh, dari luar dan dalam negeri, untuk melakukan preservasi naskah. Sebagian programnya, ada yang tuntas, setengah jalan, mungkin ada yang gagal total. Tapi kini, melihat semua hasil tersebut belum mencapai sasaran (dalam beberapa bidang) misalnya, pemahaman masyarakat dalam melestarikan warisannya, pengetahuan untuk pelestarian dan perawatan naskah, ataupun pengembangan kajian manuskrip.
Karenanya, perlu ada pendidikan dan informasi umum untuk masyarakat, supaya manuskrip tidak hanya disimpan, disakralkan, atau sebaliknya, dibakar, dimusnahkan, dan diabaikan. Setidaknya ada pengetahuan masyarakat bagaimana mereka menjadi bagian dalam penyelematan warisan indatunya.
Dalam dunia pernaskahan, dan melihat konstektual pernaskahan di Aceh. Ada dua pendekatan dalam mengkaji warisan kebudayaan sastra yang tertuang dalam naskah pertama Filologi kedua kodikologi.

Strategi Preservasi Manuskrip

Read More

Rabu, April 10, 2013



Departemen Perpustakaan untuk buku-buku langka di Universitas Princeton, AS ternyata menyimpan ribuan manuskrip Islam yang ditulis dalam bahasa Arab, Persia, Turki Ustmani dan bahasa-bahasa lainnya dari berbagai negara Muslim di dunia.

Saat ini ada sekitar 9.500 manuskrip Islam yang tersimpan di Library’s Departemen of Rare Books and Special Collection, Universitas Princeton. Dari jumlah tersebut, 200 manuskrip pilihan di sediakan dalam bentuk online sehingga mudah diakses bagi siapa saja yang ingin melakukan penelitian.

Don Skemer, kurator manuksrip kuno mengatakan, Universitas Princeton adalah salah satu lembaga yang memiliki banyak koleksi manuskrip penting dan terbaik di dunia. Akses online terhadap 200 manuskrip Islam pilihan itu, kata Skemer, adalah bagian dari proyek digitalisasi katalog manuskrip-manuskrip Islam yang sudah dimulai sejak tahun 2005. Nantinya, seluruh manuskrip akan dikatalogkan secara online dilengkapi dengan informasi tentang penulis dan isi manuskrip untuk membantu para peneliti apakah akan memesan salinan dalam bentuk mikro film atau hanya perlu datang sendiri ke perpustakaan.

Ribuan Manuskrip Islam Kuno Tersimpan di Perpustakaan Universitas AS

Read More

Selasa, April 02, 2013


Sepucuk surat dari Sultan Ottaman Turki untuk Sultan Aceh muncul di jejaring sosial Twitter hari ini. Surat itu berasal dari abad ke-15.
Adalah akun Lost Islamic History @LostIslamicHist yang memuat surat itu disertai pengantar, "A letter from the Ottoman sultan in #Istanbul to the sultan of #Aceh, in #Indonesia (1500s)."
Postingan itu memang tidak menjelaskan secara detail isi surat itu. Namun, jika mengacu kepada sejarah. Kerajaan Aceh Darussalam memiliki hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki Utsmani sejak abad 15. Saat itu Turki merupakan kerajaan kekhalifahan Islam terbesar di dunia setelah berhasil menaklukkan Konstatinopel yang dikuasai pasukan Eropa.
Hubungan antara Kesultanan Aceh dengan Ottoman Turki Istambul dimulai sejak masuknya pedagang-pedagang Eropa ke nusantara. Para pedagang asal Eropa itu kerap mengganggu kedaulatan kerajaan-kerajaan di semenanjung Malaka, termasuk Aceh.
Guna menghadapi imperialisme bangsa Eropa tersebut, Kerajaan Aceh mencari dukungan dari kerajaan-kerajaan tetangga termasuk dari Khalifah Abdul Aziz dari ke khalifahan Turki Utsmani pada tahun 1563 M.
Utusan dari Aceh membawa serta hadiah-hadiah berharga dari Sultan untuk dipersembahkan kepada penguasa Turki. Hadiah-hadiah itu antara lain berupa emas, rempah-rempah dan lada.

Sarakata Sultan Turki ke Sultan Aceh

Read More

Jumat, Februari 22, 2013



Bismillahirahmanirrahim, wabihi nasta’in.
Alhamdulillah ladhi ‘azza sya’nuhu, was-shalatu was-salamu ‘ala Rasulihi waaminihi. Fas-Salamu ‘alaikum warahmatullahi Ta’ala wabarakatuhu ‘ala ad-dawami, serta diiringi pula dengan ‘izzah wa-mahabbah dengan takrim yang tiada berkeputusan selama-lamanya daripada kami Seri Paduka Tuanku Mahmud dan Tuanku Raja Keumala dan Seri Muda Perkasa Teuku Panglima Polem yang adalah sekarang di Kutaraja Aceh Besar adanya barang disampaikan Allah SWT kehadapan Majelis Hazhratul al-Aziz al-Mukarram punghulu kami Habib Abdurrahman Teupin Wan dan guru kami Teungku Mahyiddin dan Teungku di Buket ibnal-Mukarram Maulana al-Mudabbir al-Malik teungku di Tiro dan Teungku Hasyim dan Teungku di Ulee Tuetue dan Teungku Ibrahim dan sekalian ikutannya yang ada di ahyal khairi di dalam mengerjakan perang Sabilillah di dalam rimba belantara negeri Pidir dengan selamat sejahtera.  Mata’anallah Ta’ala bi-liqa’ihim, Amin.

Syahdan adalah kami ketiganya mengharapkan dengan sehabis-habis harap kepada Allah wa Rasul, dibelakang itu kami harap dengan sehabis-habis harap akan penghulu kami dan akan syaikhuna kami, maka sebab berani harap tawakkal kami beserta dengan yakin tambahan lagi tulus semata-mata kepada guru kami ketiganya oleh karena berkenang kami akan Maulana wa Syaikhuna Mudabbir al-Mulki yang telah ke kubur mengadap [menghadap] ke Rahmatullah Ta’ala, itulah jadinya tiada berkeputusan ingatan kami akan penghulu kami dan akan guru-guru kami.

Maka adapun hal dunia pada zaman ini selama kami meninggalkan guru kami adalah kami bangkit dari negeri Aceh qasadnya membayar fardhu Islam pergi ke tanah Makkah al-Mukarramah, hatta dengan berkat doa-doa guru-guru kami Alhamdulillah sudahlah Allah SWT persempurnakan empat kali  haji, kami ada tinggal di tanah Mekkah beserta di dalam itupun adalah kami ijtihad serta memandang dengan mata kepala sendiri atas tiap-tiap bangsa Islam di dalam zaman ini terlampaulah amat sangat masyaqqah kesukarannya  masing-masing terlebih maklum penghulu kami serta guru-guru kami  sebab dunia ini akhir zaman, bukan seperti dahulu kalanya.

Maka adapun seperti kita-kita semuanya berperang dahulu dengan kompeni Belanda, maka jikalau sudah habis ikhtiar tiada kuasa lagi melawan dia patutlah kita taslim kepadanya oleh karena dianya tiada mengubah dan melarang kita punya agama melainkan kita juga masing-masing yang mengubahnya.
Cobalah penghulu kami serta guru-guru kami pikirkan yang halus tambahan lagi pasal kita taslim kepada musuh apabila tiada kuasa melawan dia, bukanlah sekali-kali kita memulakan isti’adat itu melainkan telah berlaku di atas angin yang terlalu amat abnyaknya, seperti negeri Hindi semuanya Taslim di bawah perintah kompeni Inggris, seperti tanah Magrib semuanya taslim di bawah perintah Prancis, dan seperti tanah Mesir bersyarikat [berserikat] perintahnya dengan Inggris, dan lain-lainnya terlalu amat banyak di atas angin daripada jenis orang Islam mentaslim di bawah perintah musuhnya dan habis kesemuanya sebelah bawah angin taslimnya.

Maka adapun yang pikiran mereka itu berpaka semuanya atas taslim ketika lemah mereka itu, sebab takut mereka itu habis kerusakan agamanya serta negerinya, maka apabila sudah mereka itu taslim jadi mereka itu masing-masing memeliharakan agamanya barang sekuasanya sekedar mungkin supaya tiada hilang semuanya. Demikianlah pikiran mereka yang telah zahir pada pandangan kami.

Maka sekarang Habib yang penghulu kami dan guru-guru kami pada zaman sekarang terlebih baik guru kami dan penghulu kami janganlah duduk di rimba lagi dengan permintaan kami baik Habib turun serta guru-guru kami kemari beserta semuanya mengikut seperti yang telah dijalani oleh orang atas angin  yang terlebih kuasanya dan akal daripada kita beserta jangan sekali-kali ketinggalan barang yang ada alat niscaya supaya jangan jadi fitnah hari kemudian.

Maka yang akan hal dengan kompeni adalah Allah dan Rasul dan adalah kami ketika pertemukan penghulu kami dan guru-guru  kami dengan Paduka Seri Yang Dipertuan Besar Aceh adanya, maka sehabis-habis harap kami sebagaimana pikiran dan tambahnya daripada penghulu kami serta guru kami lazim memberi jawab surat ini dengan segeranya.
Tertulis di Kutaraja, Kampung Kedah pada 18 Rajab 1327 H   (Kamis, 5 August 1909 M)

Melafaz Sarakata Wali Nanggroe

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top