Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, September 18, 2022

 


Innallillahi wa inna ilaihi rajiun. Kabar duka datang dari keluarga besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Azyumardi Azra, meninggal dunia, Ahad (18/9/2022) di RS Malaysia, pukul 11.30 WIB atau 12.30 waktu Malaysia. 

Sebelumnya Azyumardi, masih menjalani perawatan secara intensif oleh tim dokter di Rumah Sakit Selangor, Malaysia, pada Sabtu (17/9/2022) pagi. Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Malaysia, Hermono, mengatakan, tim dokter menyampaikan Prof Azra belum bisa dipindahkan ke rumah sakit lain sampai kondisinya menjadi lebih stabil.

Sebelumnya, ia mengatakan, ada rencana memindahkan Prof Azra ke rumah sakit di Kuala Lumpur, tapi masih menunggu persetujuan dari pihak rumah sakit yang akan menerima pasien. Berdasarkan keterangan pihak rumah sakit, ia mengatakan, Prof Azra dirawat di ruang zona merah yang lazimnya digunakan untuk perawatan pasien terinfeksi Covid-19.

Beliau hadir ke Malaysia untuk memenuhi undangan dan menjadi Keynote Speaker di  Persidangan Antarabangsa Kosmopolitan Islam "Mengilham Kebangkitan, Meneroka Masa Depan" Tanggal 17 September 2022 di Bangi Avenue Convention Center (BACC), Kajang, Malaysia. 

Namun, dalam pesawat perjalanan dari Jakarta Ke Kuala Lumpur, sekitar 20 menit sebelum mendarat di KL, beliau mengalami batuk-batuk tanpa henti, badannya menggigil berkeringat dingin. Kisah tersebut diceritakan oleh Prof. Budi Agustono, mantan dekan FIB-USU yang duduk sebaris dengan beliau dalam pesawat tersebut. 

"Narasi whatsapp ini ditulis di pesawat. Dua puluh menit sebelum pesawat mendarat, saat saya, istri dan pak azra sedang bercakap tiba tiba pak azra batuk tanpa henti, tubuhnya keringat dingin. Saya mintanya minum air air mineral. Saya memijat tubuhnya yang keringat dingin lalu meminta pramugari memasang selang oksigen di hidung dan mulut. Meski selang terpasang sesak nafasnya tak berhenti, malah tubuhnya begerak ke kiri ke kanan di atas kursi pesawat. 

Ketika pesawat parkir dan pintu pesawat dibuka menurunkan penumpang, saya dan istri mengurus kesehatan pak azra diminta turun  belakangan.  Saya dan istri gelisah dan cemas melihat kesehatan pak azra. Tidak lama sesudah ini kamu bertiga turun pak azra dengan selang oksigen ditampung dan dibawa segera ke bed panjang perawatan lalu dilarikan  ambulans ke rumah sakit."...









Berikut ini sekilas biografi cendekiawan muslim :

AZYUMARDI AZRA, CBE, lahir 4 Maret 1955, adalah gurubesar sejarah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Kini dia adalah Ketua Dewan Pers Republik Indonesia (2022- 2025).

Sebelumnya, dia pernah menjadi Staf Khusus Wakil Presiden RI untuk Bidang Reformasi Birokrasi (19 Januari 2017- 20 Oktober 2019); anggota Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Kehormatan (GTK) Sekretaris Militer Presiden RI (2014- 2019, 2019-2024); Direktur Sekolah PascaSarjana UIN Jakarta (2007-2011, 2011-2015). Dia juga pernah bertugas sebagai Deputi Kesra pada Sekretariat Wakil Presiden RI (April 2007-20 Oktober 2009). Sebelumnya dia adalah Rektor IAIN/UIN Syarif Hidayatullah selama dua periode (IAIN,1998-2002, dan UIN, 2002-2006).

Memperoleh gelar MA (Kajian Timur Tengah), MPhil dan PhD (Sejarah/Comparative History of Muslim Societies) dari Columbia University, New York (1992) with distinction, Mei 2005 dia memperoleh DR HC dalam humane letters dari Carroll College, Montana, USA. Dia juga gurubesar kehormatan Universitas Melbourne (2006-9); Selain itu dia juga anggota Dewan Penyantun, penasehat dan gurubesar tamu di beberapa universitas di mancanegara; dan juga lembaga riset dan advokasi demokrasi internasional. Dia telah menerbitkan lebih 44 buku dan puluhan artikel dalam bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Italia dan Jerman.

Dia mendapatkan berbagai penghargaan: 

  • The Asia Foundation Award 50 tahun The Asia Foundation (2005); 
  • Bintang Mahaputra Utama RI (2005); 
  • Gelar CBE (Commander of the Most Excellent Order of British Empire) dari Ratu Elizabeth, Kerajaan Inggris (2010); 
  • MIPI Award, Masyarakat Imu Pemerintahan Indonesia (MIPI, 2014); 
  • Commendations Kementerian Luarnegeri Jepang (2014); 
  • Fukuoka Prize 2014 Jepang (2014); 
  • Cendekiawan Berdedikasi Harian Kompas (2015); 
  • Penghargaan Achmad Bakrie (2015); 
  • LIPI Sarwono Award (2017); 
  • Bintang Pemerintah Jepang ‘The Order of the Rising Sun: Gold and Silver Star’ diserahkan Kaisar Akihito dan Perdana Menteri Shinzo Abe di Imperial Palace, Tokyo, Jepang (2017). 
  • The 500 Most Influential Muslim Leaders (2009) dalam bidang Scholarly (kesarjanaan/keilmuan), 
  • Prince Waleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding, Georgetown University, Washington DC 
  • The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Amman, Yordania di bawah pimpinan Prof John Esposito dan Prof Ibrahim Kalin.

Selamat jalan guru...

Selamat Jalan Prof. Azyumardi Azra.

Read More

Kamis, Oktober 29, 2020

 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ

Allāhumma śalli 'alā Sayyidinā Muhammad wa 'ala ālihi wa śahbihi ajma'īn..

Seluruh alam bersuka cita atas kelahiran baginda Nabi Muhammad. Setiap kitab-kitab samawi sebelumnya telah menyebut akan datang Nabi dan Rasul terakhir untuk umat manusia. Selawat, pujian dan keteladanan mengalir tiada akhir.





Salah satu manuskrip terbaik yang dibaca di seluruh wilayah muslim adalah kitab "Dalail al-Khairat wa Syawariq al-Anwar fī dhikri aś-Śalāt 'alā an-Nabī al-Mukhtār " (Tanda2 kebaikan dan Cahaya Cemerlang dalam Berselawat kepada Nabi Pilihan) karangan Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman bin Abu Bakar al-Jazuli al-Samlali asal Maroko, meninggal tahun 1465 M. 



Keindahan beberapa manuskrip Dalailul Khairat sebagai persembahan terbaik kepada Baginda Nabi Muhammad. Iluminasi dan seni hias yang indah dihiasi tinta emas, kecantikan khat (kaligrafi) dikhususkan kepada kaligrafer handal guna menghasilkan karya yang indah.



Hingga ini, Dalailul Khairat merupakan salah satu kitab populer lintas zaman dan generasi yang digunakan mayoritas muslim di seluruh pelosok bumi untuk mengungkapkan kecintaan dan kerinduannya kepada Baginda Nabi, dengan harapan syafaat, kebaikan dan keberkahan darinya.


#MaulidNabiMuhammadSAW

#dalailulkhairat

Manuskrip Maulid Nabi: Dalail al-Khairat

Read More

Selasa, September 11, 2018


Tahun Baru Islam diawali pada bulan Muharram merupakan bulaan yang penuh sejarah dan pelajaran bagi seluruh ummat Islam di dunia ini, dan manusia secara umum.

Tahun baru itu ditetapkan oleh para sahabat sebagai peringatan paling bersejarah dalam perjalanan agama terakhir di dunia ini, yaitu merujuk kepada peringatan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Mekkah ke Kota Madinah pada tahun 622 Masehi.

Hijrahnya Nabi Muhammad ke Kota Yatsrib (nama lama sebelum Madinah) membuka lembaran baru bagi kehidupan Rasulullah, para sahabat dan pengikutnya. Tahun itu juga ditandai tidak ada perbedaan antara kabilah-kabilah di dalam Islam, tidak ada "asoe lhok" pribumi dengan "ureung luwa" pendatang, antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Semua sama dalam Islam.

Maka, para sejarawan dan ulama memiliki beragam penafsiran terhadap peristiwa tersebut, bahkan ia tidak hadir dengan sendirinya, dan dipenuhi dengan berbagai harapan, asa dan doa yang luar biasa.

Maka, dianjurkan setiap akhir tahun untuk berdoa, sebagaimana disebutkan dalam naskah ini.


Inilah doa akhit tahun, yaitu hendaklah dibaca tiga kali pada akhirnya waktu Ashar hari Dua Puluh Sembilan atau Tiga Puluh dari pada bulan Zulhijjah. Maka barang siapa membaca doa ini daripada waktu yang telah tersebut.

Maka berkatalah setan "kesesuhanlah bagiku dan sia-sialah pekerjaanku menggoda anak Adam pada setahun ini".

Maka dibinasakan dengan satu saat jua dengan sebab membaca doa ini. Maka diampuni Allah sekalian dosanya yang setahun ini. inilah doanya:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ 
اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَىَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرْا ئَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى اَسْتَغْفِرُكَ فَغْفِرْلِى وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ
 فَاَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَ الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعَ رَجَائِى مِنْكَ يَاكَرِيْمُ
 وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


Artinya:
Dengan menyebut nama Allhh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dan Allah tetap melimpahkan Rahmat dan Salam kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau.
Ya Allah. Apa yang saya lakukan pada tahun ini tentang sesuatu yang Engkau larang aku melakukannya, kemudian belum bertaubat, padahal Engkau tidak meridhai, tidak melupakannya, dan Engkau bersikap lembut kepadaku setelah Engkau berkuasa menyiksaku dan Engkau seru aku untuk bertaubat setelah aku melakukan kedurhakaan kepada-Mu.
Maka sungguh aku mohon ampun kepada-Mu, ampunilah aku! Dan apapun yang telah aku lakukan dari sesuatu yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala kepadaku, maka aku mohon kepada-Mu ya Allah, Zat Yang Maha Pemurah, Zat Yang Maha tinggi lagi Maha Mulia, terimalah permohonanku dan janganlah Engkau putus harapanku dari-Mu wahai Zat Yang Maha Mulia.
Semoga Allah tetap melimpahkan Rahmat dan Salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat sekalian.

Manuskrip Akhir Tahun Baru Islam dan Do'anya

Read More

Kamis, September 08, 2016


A letter written by Teungku Mahidin, alias Teungku Chik Mayet, secon son of Teungku Syeh Saman di Tiro who met his sacred death on September 5, 1910. It is addressed to Tuanku Raja Keumala, Panglima Polem’s brother-in-law, and to all Moslem in Samalanga. The letter described the war situation in Pidie and the death of Teungku di Tungkop. (top)

Begitulah keterangan dalam buku Belanda tentang sebuah sarakata (surat) dari Panglima Perang Aceh di Pidie saat perang Aceh-Belanda berkecamuk. Catatan di atas dapat diartikan sebagai berikut:
"Sepucuk surat Teungku Mahidin alias Teungku Chik Mayet, putra kedua Teungku Syeh Saman di Tiro, syahid pada tanggal 5 September 1910 yang ditujukan kepada Tuanku Raja Keumala, ipar Panglima Polem dan kaum muslimin di Samalanga, antara lain mengenai berkecamuknya peperangan di Pidie dan syahidnya Teungku di Tungkob". Wilayah Tungkop yang dimaksud adalah Tungkop di Pidie.

Informasi tambahan sebenarnya juga terdapat dalam surat tersebut, yaitu saat Teungku di Tungkop syahid, lalu penggantinya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin. Dalam kondisi perang, "struktur panglima perang" sebagai pemegang komando perang sangat penting sebagai pemberi komando (peunutoh), saat satu pimpinan tertinggi syahid dalam perang, maka secara mufakat atau struktural akan digantikan oleh yang lain sesuai dengan kesepakatan. Sepertinya, inilah yang dimaksud dalam surat tersebut "negeri empunya peunutoh meualon-alon" secara struktural dan terorganisir.


Berikut transkripsi teks perbaris:

1. Hadharat Seri Paduka yang mulia Tuanku Raja Keumala serta segala yang
2. ikutannya daripada saudara Muslimin dalam negeri  Samarlanga [Samalanga] ada semuanya.
3. Wa ba’du. As-salamu’alaikum wa-rahmatullah wa barakutuhu. Maka ahwal Pedir [Pidie] semua
4. dalam gaduh perang tiap-tiap ketika tiada khāli sekali-kali melainkan setengah tempat
5. ada yang terima surat kafir, serta tiada apa-apa atas kami sekali-kali melainkan
6. syahid Teungku di Tungkob  dengan garis takdir dalam Nisfu awal Sya’ban ini
7. serta sudah dijadi ada tandanya Teungku di Buket Muhammad ‘Ali Zainal ‘Abidin
8. akan gantinya dengan izin Tuhan Rabb al-‘Alamin, melainkan harap
9. kami bahwa berbanyak-banyak doa tuanku serta doa tuan-tuan akan keduanya
10. dan akan kami yang tinggal dalam negeri empunyai peunutoh meualon-alon seperti
11. di-ék trön u binéh pasie adanya. Was-salam ‘alà man ittaba’a al-hudà.
12. Daripada perhamba [poe hamba] faqir Mahyiddin Tiro.

11 Sya’ban 1318 H

Kedengaran Teuku Dua Ploh Dua 
sudah sampai dalam Gloeng [Galöng] Tiro.




Surat Peunutoh Teungku Mahyiddin Tiro

Read More

Rabu, Mei 11, 2016

Pasca kepulangan Rasulullah dari Isra dan Mi’raj tersebut, ia menceritakan peristiwa Isra dan Mi’raj di hadapan kaum Qurays Mekkah. Di antara yang hadir adalah Abu Bakar dan Abu Lahab, dua tokoh penting saling berseberangan keyakinan hadir ditengah jamaah pagi tersebut.

Rasulullah mengungkap segala bukti yang terjadi pada dirinya dan kejadian yang sedang berlangsung di pagi hari, Abu Bakar yang telah masuk Islam merupakan salah seorang yang pertama percaya terhadap peristiwa di luar nalar manusia, ia pun kemudian digelar as-shiddiq.

Sebaliknya, Abu Lahab menangkal semua peristiwa tersebut dan dianggap sebagai cerita dongeng Muhammad. Maka Allah melaknat Abu Lahab dengan surat al-Lahab. Bahkan ia mengajak orang-orang Qurays untuk ingkar kepada peristiwa Isra Mi’raj tersebut, perselisihan antara pro vs anti Islam semakin membara, boikot ekonomi, kekerasan terhadap muslim, hingga pembunuhan terhadap orang-orang yang baru masuk Islam.

Kini, di era modern, dua kubu ini terus mengalir pengikunya dengan beragam argumentasi, satu kubu berada di pihak Abu Bakar yang meyakini peristiwa itu terjadi secara nyata, dan di kubu lainnya pengikut Abu Lahab yang mengingkarinya.

source: http://aceh.tribunnews.com/2016/05/05/manuskrip-isra-miraj-tour-teristimewa-rasulullah?page=3

Baca juga: Manuskrip Isra Mikraj: Tour Teristimewa Rasulullah

Manuskrip Isra Mikraj: Abu Bakar vs Abu Lahab

Read More

Jumat, Januari 01, 2016

Hamburg merupakan kota kedua terbesar di Jerman, jumlah populasi penduduk beragam dan multi etnis. Orang-orang Turki merupakan imigran Muslim terbesar di wilayah ini. Mayoritas mereka bekerja sebagai pedagang toko dan restoran. Warung-warung makan (restoran) didominasi oleh mereka dengan makanan khas ala Turki. Maka tidak salah, mesjid Turki (disebut demikian karena khutbah Jumat disampaikan dalam bahasa Turki) merupakan salah satu mesjid terbesar di kota perdagangan ini selain mesjid Iran.

Kriteria mesjid besar di sini adalah memiliki kubah dan menara. Dan, untuk ukuran mesjid Turki ini memiliki empat lantai. Lantai ke dua dan ke tiga digunakan shalat berjamaah, dan lantai ke empat difungsikan untuk kaum hawa. Kemungkinan juga untuk anak-anak. Sedangkan lantai dasar untuk kantor mesjid, toko buku/kitab, serta disudut terdapat warung teh alias warung kopi (warkop)

Menjelang waktu Jum'at (musim dingin dimulai jam 12.15 pm), setiap jamaah yang hadir akan melakukan shalat sunnah tahiyat mesjid 4 rakaat. Kemudian menunggu hingga tiba waktunya azan. Disini, azan dikumandang dua kali; pertama saat masuknya waktu Jumat, dan kedua saat khatib telah di atas mimbar.

Azan pertama di kumandang dengan lantang dan tegas, tidak terlalu panjang iramanya. Usai azan, maka muazzin pun membaca doa dan menyeru untuk Shalat Sunnah Qabliyah. Shalat sunnah tersebut dilakukan mayoritas jamaah (didominasi jamaah Turki dan sekitarnya) sebanyak 4 rakaat juga. Pelaksanaan shalat sunnah empat rakaat diutamakan pada siang hari merujuk kepada beberapa hadist Nabi tentang pelaksanaan Shalat Sunnah di siang hari.

Saat khatib naik ke atas mimbar yang memiliki 4 anak tangga, ia membaca do'a di atas membar menghadap kiblat (membelakangi jamaah). Usai membaca doa, ia balikkan badan dan duduk. Sang muazzin pun mengumandangkan azan ke dua yang lebih lembut dan syahdu. Sebelum mengumandangkan azan, maka muazzin membaca "Inna Allah wa malaikatahu yashallu 'ala an-Nabi... dst".

Mimba Jumat mengikuti mesjid Madinah dan Turki, anak tangga terbuka menghadap jamaah, sehingga saat berdiri Khatib di atas mimbar terlihat seutuhnya tubuh Khatib dari kaki hingga kepalanya. Ini mengikuti anjuran Nabi saat naik mimbar menghadap kiblat dan membaca doa di atasnya menghadap kiblat, sebelum berbalik menghadap ke Jamaah. Tidak ada tongkat yang disediakan di atas mimbar.

Khatib Jumat menyampaikan ceramah (maw'izah) dalam bahasa Turki, tidak terlalu lama waktu yang digunakan untuk memberikan nasehat dalam khutbah tersebut, hanya berkisar selama 5-10 menit. Kemudian masuk rukun dua khutbah dan dilaksanakan shalat Jum'at. Usai Jum'at, tidak ada shalat i'adah Jumat atau shalat Zuhur. Di mesjid ini, waktu shalat Jumat termasuk dipercepat jika dibandingkan dengan mesjid-mesjid sekitarnya di Hamburg.

Mimbar Jumat yang digunakan sama seperti mimbar di Madinah atau di mayoritas tempat muslim lainnya, yaitu mimbar terbuka menghadap jamaah, sang khatib akan menaiki mimbar dari arah jamaah, menghadap kiblat. Biasanya akan membaca doa sebelum menaiki mimbar. Itulah fungsi mimbar menghadap kiblat, supaya sang khatib dapat membaca doa sebelum memaling ke jamaah untuk khutbah Jumat. Sang khatib tidak menggunakan tongkat, dan tidak disediakan tongkat di atas mimbar. Mesjid besar di Hamburg ini tergolong indah ornamen dan hiasan di dalamnya, bunga-bunga hiasan di dinding mencerminkan kemegahan Ottoman Turki.

~ Hamburg, 16 Oktober 2015


Jumat di Turki

Read More

Jumat, Juli 20, 2012

Naskah Puasa Ramadhan

Naskah puasa Ramadhan "Syahdan, Apabila kelihatanlah bulan pada suatu negeri, maka lazimlah puasa isi negeri itu dan isi negeri yang muwafaqah [=mufakat] tempat terbit matahari mereka itu, dengan terbit matahari dari karena melihat bulan itu berlainan, sebab berlain-lainan tempat yang melihat dan kedudukan negeri. Dan jika tiada muwafakat tempat terbit matahari dua negeri itu maka tiadalah wajib isi negeri yang kedua"
Semenanjung Arab adalah bentang daratan beralam kejam di siang hari. Tandus dan kering. Namun di malam hari. Arab adalah "surga" bagi para astronom. Langit Arab di malam hari, selalu indah.
Seperti China, sebagai bangsa dan peradaban tua, sastrawan Arab banyak menyanjung langit di malam hari. Malam adalah inspirasi keindahan, sedangkan siang diibaratkan "kekerasan."
Tak mengherankan jika khasanah intelektual dunia soal astronomi banyak lahir di tanah Arab. Gugusan bintang-bintang banyak lahir dari istilah Arab awal. Rasi bintang Orion awalnya dikenal dengan Al-Jabbar, Taurus (Ath-Thawr), Canis Major (Al-Kalb Al-Akbar), Canis Minor (Al-Kalb Al-Asghar), Leo (Al-Asad), Gemini (At-Tawa'man), Scorpius (Al-'Aqrab), dan beberapa lainnya.
Inilah yang menjelaskan, kenapa di banyak negara-negara Islam di Semenanjung Arab, seperti Mesir, Syira, atau Yaman dalam memutuskan 1 Ramadan, selalu merujuk ke Arab. Ke Tanah Haram, Mekkah.
Bahkan Malaysia dan Jepang, yang jauh di tenggara Asia, pun senantiasa berkiblat pada penentuan 1 Ramadan atau Syawal di Mekkah. Langit Mekkah dan Jeddah, selalu lebih terang. Rasi bintang di malam hari selalu terlihat lebih jelas.

Naskah Ramadhan dan Toleransi Perbedaan Itsbat

Read More

Kamis, Juli 12, 2012

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Indonesia atau PNRI yang berada di Salemba Jakarta menyimpan sepuluh ribuan naskah tulisan tangan (manuskrip) dari berbagai daerah, sebagiannya berasal dari Aceh, baik yang berbahasa Melayu (Jawi) dan berbahasa Aceh. Harta karun Aceh ini masih bersemanyam di lantai 5 Perpusnas Jakarta, bersama dengan naskah-naskah lainnya. Koleksi PNRI ini terdiri dari dua bagian besar, ialah koleksi berupa buku terjilid yang disimpan dalam bebarisan rak besi, diurut sesuai nama subkoleski, dan koleksi "non-buku" yang tersimpan dalam peti yang dulu disebut trommel, tapi sekarang dalam kota karton atau laci kabinet.

Mayoritas naskah Melayu pada koleksi Bataviaasch Genootschap terdapat dalam tiga koleksi tertutup (Br, Cs, W) dan satu koleksi terbuka. Naskah Melayu diberi kode ML dalam katalo T.E Behrend, dan awalnya berjumlah 594 buah, yang dinomori 1 s/d 542. Apabila ada naskah berbahasa Melayu dan aksara Arab-Jawi yang diperoleh PNRI, akan didolongkan dalam kategori NB (Naskah Baru). Lagi-lagi Bataviaasch Genootschap menggolongkan naskah tersebut menjadi dua kelompok, yakni open collecties (koleksi terbuka) dan gesloten collecties (koleksi tertutup). Koleksi terbuka masih ditambahkan naskah perolehan baru, sedangkan yang tertutup sudah dianggap genap, biasanya karena kekhasan identitas koleksi tersebut.

Sedangkan naskah Aceh tergabung dalam koleksi Aneka Bahasa  Nusantara, yaitu subkoleksi Verschillende Talen  (VT). Ada sekitar 448 buah naskah dalam 47 bahasa. Sedangkan bahasa Aceh sekitar 73 naskah, dan bahasa Belanda yang membahas Aceh sekitar 15 naskah. Puluhan naskah yang berbahasa Aceh tersebut meliputi berbagai bidang ilmu, dan mengandung berbagai pengetahuan dan informasi, misalnya naskah Hikayat balukia, Hikayat Cahya Manikam, Hikayat Malem Diwa, Hikayat Bakawali, Malem Dagang, Moesang Meujanggot, Hikayat Mekah-Madinah, Hikayat Prang Sabi, Hikayat Prang Coempani, dan sebagainya.

Harta Karun Aceh di Perpustakaan Nasional Indonesia

Read More

Kamis, Juli 05, 2012


Syukur Alhamdulillah kepada Allah Yang Maha Esa, dengan berkah dan karunia-Nya, buku ini hadir di tangan masyarakat. Penerbitan buku-buku bersumber agama memang harus terus digalakkan di Aceh, terutama dalam penguatan syariat Islam dan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pengetahuan, keyakinan dan pengamalannya.

Syari’at Islam sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh bersosial dan berbudaya. Ini terkait dengan sejarah Islamisasi dan tradisi (adat istiadat) yang meresap ke dalam masyarakat Aceh. Walaupun sejarah dan kebudayaan Aceh berlandaskan Islam, pasang surut dalam implementasi menerapkan nilai-nilali Islam dalam kesehariannya, ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh ekonomi, politik dan kenegaraan.

Termasuk di antaranya paham, ajaran dan aliran sesat yang mewabah di Aceh. Bahkan terjadi berulang-ulang pada saat penegakan syariat Islam digalakkan, terutama pasca reintegrasi dan rekonstruksi gempa tsunami. Hal tersebut memunculkan berbagai pertanyaan, apakah tradisi keilmuan dan pengetahuan Islam di Aceh mengalami stagnasi, bagaimana paham atau aliran merasuk dalam segelintir masyarakat Aceh, bagaimana perkembangan kelompok-kelompok sesat bertahan di negeri Syari’at.

Buku "Aliran Sesat di Aceh; Dulu dan Sekarang"

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top