Tampilkan postingan dengan label Hulubalang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hulubalang. Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 09, 2025


Keempat, Iradat; yaitu visi misi, prospek dan target. Visi dan misi pemimpin lebih mengutamakan rakyat daripada pribadi dan kelompoknya, menghendaki kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan untuk seluruh golongan masyarakat, kemampuannya menuntaskan kemiskinan. Visi misi yang dimiliki bukan hanya membangun infrakstruktur, namun mempersiapkan generasi mendatang dengan mencerdaskan bangsa dan membangun intelektual yang berbasis agama, sehingga tidak terkikis keimanannya oleh pengaruh luar, baik agama maupun adat budaya. 


Dan kelima, Nur; cahaya atau penerang, yaitu sikap pemimpin yang bersih, jujur dan tidak korupsi. Cahaya (nur) sebagai simbol kegemilangan, kejayaan dan kesejahteraan yang mampu menerangi negeri dengan cinta atau kasih sayang, bukan dengan otoriter, apalagi radikalisme dan militerisme. Pemimpin tegas dan lugas, tapi tetap rasional dan tidak dipengaruhi hawa nafsu dan penyakit korupsi.


Konsep membangun karakter ini harus dimulai sejak dini, tidak akan berdiri kokoh satu negeri tanpa pondasi yang kuat. Kecerdasan, keimanan yang kuat, berakhlak mulia dan kejujuran tidak dapat dicetak dengan instan. Saat sifat dan syarat tersebut mampu dipenuhi oleh seorang pemimpin, tak diragukan kemakmuran akan dicapai. Maka lazim sudah pada abad ke-19, Singapura, Malaysia, Inggris dan Yogyakarta meneladani prinsip-prinsip di dalam naskah Tajus Salatin. Di Aceh, tak berlebihan jika disebut sultan Iskandar Muda pada abad ke-17, layaklah ia menjadi pemimpin yang diagungkan di Asia, bahkan dunia. 


Saat usia muda, kecerdasan sultan telah tumbuh menjadi pemimpin, dipercayakan memimpin sendiri kerajaan Pedir (Pidie), sebagai pintu gerbang kesultanan Aceh dari arah Timur perairan laut Selat Malaka, seorang pemimpin muda dalam lintasan jalur perang dan pemerintahan (hifz). Saat memimpin kesultanan Aceh, ia mengerti kebutuhan kaum tuha, dengan spirit (semangat) jiwa anak muda dalam aspek duniawi, yaitu memadukan spiritual yang seimbang dengan kemajuan, perekonomian dan stabilitas politik (fahm). 


Kemudian, ia mampu membuka jalur bisnis dengan pihak-pihak asing, investasi besar-besaran atas kerjasama dengan negara Eropa, ide dan perhatiannya ia curahkan mengelola SDM dan SDA untuk mensejahterakan rakyat (fikr). Selain membangun infrastruktur, mesjid Baiturrahman salah satunya, keberhasilannya membangun jaringan intelektual dengan dunia Jazirah Arab, dan menjadi pusat intelektual keislaman (Islamic Center) di Asia (iradah). 


Baca: ASA PEMIMPIN DALAM TAJUS SALATIN (1)


Dan, kejujurannya tak perlu diragukan lagi, ia begitu bijaksana menempatkan delegasinya di wilayah kerajaannya, termasuk menegakkan hukum sama antara rakyat, pejabat dan sahabat keluarganya, karna ia memandang semua sama di depan hukum (nur).


Kitab ini terdiri dari 24 bab. Keterkaitan sufistik dan kepemimpinan terlihat jelas menjadi satu kesatuan diantara bab. Empat bab pertama, mendidik manusia mengenal Tuhannya. Bab V sampai IX tamsil pemimpin yang adil dan yang zalim. Bab X-XIII membicarakan para menteri dan perwakilan rakyat (DPRA, DPRK, SKPA, dll). 


Bab XIV pendidikan anak. Bab XV-XVI sifat dan karakter leadership. Bab XVII tentang Ten Commandments (10 janji pokok) pemimpin, mengingatkan kita kepada peraturan naskah Adat Aceh. Bab XVIII-XIX memuat ilmu kiyāfa, hikmah dan ilmu firasat, yang kini total ditinggalkan di Aceh, setidaknya dalam dunia pendidikan. Bab XXI, 20 syarat non-muslin di negeri syariat Islam, konteks yang hangat dibicarakan di Aceh saat ini, dan negara-negara Islam. 


Bab terakhir, wasiat pengarang kitab kepada 4 sektor penting (main sector) pemerintahan; yaitu, sultan, perwakilan rakyat (DPRA, DPRK dan SKPA), rakyat yang berakal dan beriman dan kepada media yang netral. 


Melihat kuliatas karya Tajus Salatin, seharusnya menjadi bacaan wajib di pendidikan formal atau non-formal, untuk membangun karakter pemimpin yang jujur, idealis, cerdas dan berakhlak mulia. Tentu, lebih baik daripada disuguhkan cerita fiksi Hindu-Budha kepada anak-anak generasi sekarang ini, yang terkadang memiliki unsur panteisme dan monoteisme di dalamnya.


Pastinya, kerinduan rakyat kepada pemimpin (eksekutif dan legislatif) yang adil, berakhlak mulia, mementingkan kebijakan rakyat, dan bebas dari korupsi. Semua tidak terlepas dari kerinduan historis akan zaman kesultanan Iskandar Muda, hadir kembali ke Aceh. Setidaknya bukan dongeng seperti tuduhan Snouck Hurgronje, saat kita menceritakannya kepada anak cucu kita. Sehingga mengingatkan kita kepada salah satu syair “Buet ureng awai cit ka meutentee, geutanyoe mantong ta rika-rika”, dan ini bukan ilmu retorika untuk membangun Aceh dari sisa-sisa semangat yang belum luntur. []


Baca: ASA PEMIMPIN DALAM TAJUS SALATIN (1)



Note: Artikel ini telah dipublis di media Serambinews Tgl. 19 Juni 2011.

ASAS PEMIMPIN DALAM TAJUS SALATIN (2)

Read More

Minggu, Maret 20, 2022

 


Perang Aceh melawan kolonial Belanda masih menyisakan perlawanan-perlawanan kecil di beberapa wilayah pada tahun 1927. Namun sebagian lainnya telah dikuasai penuh dengan bentuk "Korte Verklaring" atau juga "Domein Verklaring" antara Belanda dengan pemimpin lokal Aceh dikenal uleebalang atau hulubalang, dan sekaligus para pemilik tanah. 

Sebenarnya sebagian besar para hulubalang Aceh tidak pro-Belanda, apalagi anti terhadap perjuangan pejuang-pejuang Aceh. Akan tetapi, lebih mencari posisi aman dengan sikap aturan ganda. Satu sisi mereka menyelamatkan harta kekayaan dan tetap bisa eksis berbisnis, di sisi lain mereka harus membayar pajak dan selalu dalam bayangan teror, dari kedua belah pihak.  

Sejak ditemukannya minyak bumi di Idi Rayeuk, di kawasan "Julok Rayeuk" (Djoeloe Rajeu) telah membuat sebagian besar kolonial Belanda beralih ke Idi, Aceh Timur, menanggalkan wilayah-wilayah pesisir Aceh Besar dan Pidie. Apalagi, kawasan Aceh Timur lebih dekat ke Pangkalan Susu, Pulau Sembilan dan Pulau Kampai yang relatif aman untuk berlabuh kapal-kapal Belanda daripada pelabuhan-pelabuhan di Lhokseumawe, Langsa dan atau Aceh Timur.   







J.H.L van Wijk salah seoarng pengusaha dari Belanda menandatangani kontrak lima tahun dengan Batavian Petroleum Company (BPC) pada tahun 1927 dan memulai proyek pengeboran minyak bumi di "Djoeloe Rajeu" (Julok Rayeuk ?) Idi Aceh Timur. 

Melihat keuntungan besar, J.H.L van Wijk pun tak segan-segan mengucurkan dan membangun infrastuktur modern sekaligus membuat sebuah pemukiman di pedalaman Aceh Timur. 



 Mesin-mesin besar ditempatkan di pedalaman dengan pengawalan ketat dari serdadu Marsose dan serdadu Belanda. Pasukan Marsose yang beranggota penduduk pribumi yang direkrut dan dibayar oleh Belanda diletakkan pada ring paling luar, untuk menangkis serbuan musuh. Sedangkan pasukan Belanda menjada di kawasan utama. 



 

Hutan-hutan lebat nan subur oleh fauna dibabat habis untuk bisa dibangun pabrik sekaligus barak-barak tentara Belanda. Mereka memburu para pejuang di dalam hutan sambil mengeruk hasil alamnya. 



Para pekerja lokal dipaksa bekerja rodi tanpa gaji apalagi pesangon (bonus). Para pejuang Aceh yang ditangkap biasanya tangan dan atau kaki mereka dirantai, guna tidak dapat melawan ataupun melarikan diri. Para pekerja dipaksa untuk tidka mampu memberikan segala perlawanan.

Minyak-minyak bumi ini diolah dan ditempatkan di Aloer-I-Merah (Alue Ie Mirah) sebelum diolah dan digiling di Medan. 


 

Gambar-gambar ini membuktikan Kompani Belanda mengeruk minyak bumi atau dikenal "emas hitam" di pedalaman Idi, dan menyalurkan melalui pipa-pipa ke Alue Ie Mirah (Aloer-I-Merah), dan diteruskan ke Medan untuk ekspor ke Eropa. Untuk melancarkan bisnisnya direkrut pekerja luar dan pekerja lokal. 




Penjajahan bukan hanya sebatas penaklukan suatu wilayah, tetapi juga mengeruk hasil alam dan menindas penduduk di negeri tersebut.


Sumber foto: KITLV

Emas Hitam Idi Aceh Timur dan Tenggelamnya Kapal van Wijk.

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top