Tampilkan postingan dengan label manuskrip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manuskrip. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 11, 2025

 


Mengungkap pesona Indonesia di masa lampau lewat foto-foto historis kini bukan lagi hal yang mustahil. Meski terkadang tantangannya ada, harta karun visual tersebut ternyata bisa diakses dengan mudah oleh siapa saja!

Berbagai institusi arsip dan perpustakaan di Belanda membuka pintu lebar-lebar dengan sistem open access. Bagi Anda yang ingin menyelami lebih dalam, tersedia juga akses privat untuk eksplorasi data yang tak terbatas.

1. KITLV - Leiden University Libraries

Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda ini memiliki banyak koleksi data foto tentang Indonesia, hampir tiap daerah ada beberapa dara foto lamanya. Suku pedalaman Mentawai saja ada koleksinya

Perpustakaan Universitas Leiden terdapat bagian yang menyimpan koleksi khusus tentang Asia Tenggara yang tersimpan di lembaga Koninklijk Instituut voor Taal-Land-en Volkenkunde (KITLV) yang berpusat di Leiden. Lembaga ini telah ada sejak tahun 1851 dan membuka perwakilannya di Jakarta pada tahun 1969.

KITLV fokus untuk mengumpulkan informasi dan meneliti mengenai keadaan masa kini dan lampau daerah-bekas koloni Belanda. Dulu lembaga ini berdiri sendiri, sejak 1 Juli 2014 Perpustakaan KITLV di Leiden dan di Jakarta bergabung dengan Perpustakaan Universitas Leiden.


Alamat situsnya https://digitalcollections.universiteitleiden.nl 




2.  Tropenmuseum Amsterdam - NMVW Collection and Library

Tropenmuseum ini salah satu museum etnografi dan antropologi terbesar di Amsterdam yang telah eksis sejak tahun 1864. Museum ini banyak menyimpan koleksi benda-benda sejarah peninggalan bekas kolonial Belanda, termasuk Indonesia.

Ada berbagai lukisan, wayang, alat musik, patung, senjata kuno, manuskrip, artefak tekstil, hingga rempah-rempah Indonesia. Terpenting adalah koleksi data fotonya yang bisa diakses secara digital. Tropenmuseum ini paling banyak memiliki koleksi peninggalan dari Indonesia. Kumparan memberitakan ada 370 ribu koleksi dan 260 ribu foto yang dimiliki Tropenmuseum. 

Sejak 2017, Tropenmuseum bergabung dalam lembaga The National Museum of World Cultures (NMVW) bersama Museum Afrika di Berg en Dal, Museum Volkenkunde di Leiden dan Wereldmuseum di Rotterdam. NMVW memiliki koleksi hampir 450.000 objek, 260.000 foto dan sekitar 350.000 item film dokumenter dan materi video.


Alamat situsnya https://collectie.wereldculturen.nl




3. Rijkmuseum Amsterdam

Rijkmuseum Amsterdam merupakan museum yang paling terkenal dan banyak dikunjungi di Belanda. Rijksmuseum sering berpindah-pindah lokasi mula didirikan di Den Haag pada 9 November 1798 dan pindah ke Amsterdam pada tahun 1808.

Museum nasional Belanda ini menyimpan koleksi seni dan sejarah yang cukup banyak, termasuk di antaranya koleksi data-data foto dari Indonesia. Ada sekitar 1 juta objek yang berasal dari tahun 1200 hingga 2000. Sekitar 8.000 objek saat ini dipajang di Rijkmuseum Amsterdam,


Alamat webnya https://www.rijksmuseum.nl 


4. Collectie Nederland (Koleksi Belanda)

Situs Collectie Nederland ini menjadi wadah bagi 100 museum dan lembaga lainnya di Belanda yang saling terintegrasi dalam satu platform media digital yang dapat diakses secara bebas oleh masyarakat luar. Situs ini merupakan bagian dari Rijksdienst Voor Het Cultureel Erfgoed Ministerie Van Onderwijs Cultuur En Wetenschap. Dalam situs ini menyimpan 5894201 karya seni, monumen, dan benda lainya.

Alamat situsnya https://www.collectienederland.nl/


Dengan transformasi digital yang dijalankan oleh berbagai lembaga arsip dan perpustakaan, proses penelusuran koleksi kini dapat dilakukan dengan tingkat kemudahan yang jauh lebih tinggi. Kunci keberhasilan dalam eksplorasi ini terletak pada ketepatan penggunaan kata kunci. Untuk menelusuri situs asing, disarankan menggunakan sebutan geografis dalam bahasa asing, umumnya dalam bahasa Inggris atau Belanda, guna mengoptimalkan hasil pencarian. Proses ini tentunya memerlukan ketekunan dan kesabaran dalam mengeksplorasi setiap arsip yang tersedia.

Ketika data foto lama yang dicari berhasil ditemukan, seringkali timbul rasa takjub yang mendalam. Potret suasana masa lalu yang terekam ada yang masih menunjukkan kesinambungan dengan kondisi masa kini, namun tak sedikit yang telah mengalami transformasi besar, bahkan telah sirna dan digantikan oleh lanskap yang sama sekali baru.

Bagi para pegiat sejarah, kolektor, peneliti, hingga kalangan mahasiswa, situs-situs arsip ini merupakan sumber daya yang tak ternilai. Eksplorasi yang mendalam tidak hanya memperkaya wawasan historis, tetapi juga memungkinkan kita untuk memetik pelajaran serta nilai-nilai kebijaksanaan dari setiap jejak visual yang ditinggalkan. []

Akses Foto, Dokumen, Manuskrip dan Arsip Masa Lalu Nusantara di Belanda

Read More

Kamis, Oktober 09, 2025


Keempat, Iradat; yaitu visi misi, prospek dan target. Visi dan misi pemimpin lebih mengutamakan rakyat daripada pribadi dan kelompoknya, menghendaki kesejahteraan, kemakmuran dan kemajuan untuk seluruh golongan masyarakat, kemampuannya menuntaskan kemiskinan. Visi misi yang dimiliki bukan hanya membangun infrakstruktur, namun mempersiapkan generasi mendatang dengan mencerdaskan bangsa dan membangun intelektual yang berbasis agama, sehingga tidak terkikis keimanannya oleh pengaruh luar, baik agama maupun adat budaya. 


Dan kelima, Nur; cahaya atau penerang, yaitu sikap pemimpin yang bersih, jujur dan tidak korupsi. Cahaya (nur) sebagai simbol kegemilangan, kejayaan dan kesejahteraan yang mampu menerangi negeri dengan cinta atau kasih sayang, bukan dengan otoriter, apalagi radikalisme dan militerisme. Pemimpin tegas dan lugas, tapi tetap rasional dan tidak dipengaruhi hawa nafsu dan penyakit korupsi.


Konsep membangun karakter ini harus dimulai sejak dini, tidak akan berdiri kokoh satu negeri tanpa pondasi yang kuat. Kecerdasan, keimanan yang kuat, berakhlak mulia dan kejujuran tidak dapat dicetak dengan instan. Saat sifat dan syarat tersebut mampu dipenuhi oleh seorang pemimpin, tak diragukan kemakmuran akan dicapai. Maka lazim sudah pada abad ke-19, Singapura, Malaysia, Inggris dan Yogyakarta meneladani prinsip-prinsip di dalam naskah Tajus Salatin. Di Aceh, tak berlebihan jika disebut sultan Iskandar Muda pada abad ke-17, layaklah ia menjadi pemimpin yang diagungkan di Asia, bahkan dunia. 


Saat usia muda, kecerdasan sultan telah tumbuh menjadi pemimpin, dipercayakan memimpin sendiri kerajaan Pedir (Pidie), sebagai pintu gerbang kesultanan Aceh dari arah Timur perairan laut Selat Malaka, seorang pemimpin muda dalam lintasan jalur perang dan pemerintahan (hifz). Saat memimpin kesultanan Aceh, ia mengerti kebutuhan kaum tuha, dengan spirit (semangat) jiwa anak muda dalam aspek duniawi, yaitu memadukan spiritual yang seimbang dengan kemajuan, perekonomian dan stabilitas politik (fahm). 


Kemudian, ia mampu membuka jalur bisnis dengan pihak-pihak asing, investasi besar-besaran atas kerjasama dengan negara Eropa, ide dan perhatiannya ia curahkan mengelola SDM dan SDA untuk mensejahterakan rakyat (fikr). Selain membangun infrastruktur, mesjid Baiturrahman salah satunya, keberhasilannya membangun jaringan intelektual dengan dunia Jazirah Arab, dan menjadi pusat intelektual keislaman (Islamic Center) di Asia (iradah). 


Baca: ASA PEMIMPIN DALAM TAJUS SALATIN (1)


Dan, kejujurannya tak perlu diragukan lagi, ia begitu bijaksana menempatkan delegasinya di wilayah kerajaannya, termasuk menegakkan hukum sama antara rakyat, pejabat dan sahabat keluarganya, karna ia memandang semua sama di depan hukum (nur).


Kitab ini terdiri dari 24 bab. Keterkaitan sufistik dan kepemimpinan terlihat jelas menjadi satu kesatuan diantara bab. Empat bab pertama, mendidik manusia mengenal Tuhannya. Bab V sampai IX tamsil pemimpin yang adil dan yang zalim. Bab X-XIII membicarakan para menteri dan perwakilan rakyat (DPRA, DPRK, SKPA, dll). 


Bab XIV pendidikan anak. Bab XV-XVI sifat dan karakter leadership. Bab XVII tentang Ten Commandments (10 janji pokok) pemimpin, mengingatkan kita kepada peraturan naskah Adat Aceh. Bab XVIII-XIX memuat ilmu kiyāfa, hikmah dan ilmu firasat, yang kini total ditinggalkan di Aceh, setidaknya dalam dunia pendidikan. Bab XXI, 20 syarat non-muslin di negeri syariat Islam, konteks yang hangat dibicarakan di Aceh saat ini, dan negara-negara Islam. 


Bab terakhir, wasiat pengarang kitab kepada 4 sektor penting (main sector) pemerintahan; yaitu, sultan, perwakilan rakyat (DPRA, DPRK dan SKPA), rakyat yang berakal dan beriman dan kepada media yang netral. 


Melihat kuliatas karya Tajus Salatin, seharusnya menjadi bacaan wajib di pendidikan formal atau non-formal, untuk membangun karakter pemimpin yang jujur, idealis, cerdas dan berakhlak mulia. Tentu, lebih baik daripada disuguhkan cerita fiksi Hindu-Budha kepada anak-anak generasi sekarang ini, yang terkadang memiliki unsur panteisme dan monoteisme di dalamnya.


Pastinya, kerinduan rakyat kepada pemimpin (eksekutif dan legislatif) yang adil, berakhlak mulia, mementingkan kebijakan rakyat, dan bebas dari korupsi. Semua tidak terlepas dari kerinduan historis akan zaman kesultanan Iskandar Muda, hadir kembali ke Aceh. Setidaknya bukan dongeng seperti tuduhan Snouck Hurgronje, saat kita menceritakannya kepada anak cucu kita. Sehingga mengingatkan kita kepada salah satu syair “Buet ureng awai cit ka meutentee, geutanyoe mantong ta rika-rika”, dan ini bukan ilmu retorika untuk membangun Aceh dari sisa-sisa semangat yang belum luntur. []


Baca: ASA PEMIMPIN DALAM TAJUS SALATIN (1)



Note: Artikel ini telah dipublis di media Serambinews Tgl. 19 Juni 2011.

ASAS PEMIMPIN DALAM TAJUS SALATIN (2)

Read More

 


Entah sejauh mana kita mengenal naskah Tāj al-Salātin (Tajus Salatin). Manuskrip yang pernah mengharumkan negeri ini di seluruh penjuru dunia, menjadi bacaan wajib para sultan dalam memimpin negerinya, seakan ia menjadi persyaratan awal dalam memimpin dan mensejahterakan rakyatnya. 


Sebagai karya sastra, kitab ini digolongkan ke dalam buku adab, yaitu buku yang membicarakan masalah etika, sosial-politik dan pemerintahan, baik bersifat teoritis dan praktis. Oleh karena itu, ia dikenal Mahkota Raja-raja. Bukhari al-Jauhari nama pengarangnya, yang bisa diartikan “Bukhari di pandai emas” atau “Bukhari dari Johor” dinisbat kepada salah satu daerah. 


Walau tidak dicantum tahun dan tempat penulisan, Roorda van Eijisinga peniliti Belanda pada tahun 1827 berhasil merumuskan kode “rahasia’ yang digunakan oleh si pengarang.  Disimpulkan kitab ini selesai ditulis tahun 1012 H (1603 M), di Aceh, sebagai hadiah kepada sultan Alauddin Ri`ayat Syah bergelar Sayyid al-Mukammil (1590-1604 M), kakek Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). 


Pengaruh gemilang Tajus Salatin bertahan berabad-abad. Raffles misalnya, menyatakan dengan tegas bahwa pada pemerintahan zaman sultan Singapura mengacu kepada asas-asas di dalam Tajus Salatin, sementara Abdullah Munsyi, berusaha mengetahui watak gubernur Inggris itu berdasarkan asas-asas ilmu firasat yang ditemukan dalam kitab ini. Pada abad ke-19, adaptasi-adaptasi masih dibaca di kraton Yogyakarta dan Surakarta dalam versi Jawa disebut Serat Tajus Salatin. 




Dua abad sebelumnya, usaha penerjemahan sudah dilakukan ke bahasa Belanda (Roorda van Eijisinga, 1827), bahasa Prancis (A. Marre, 1878), dan dikaji dan diterjemah dalam bahasa Inggris (E Winstedt, 1920). Namun di negerinya, naskahnya yang semkin langka, sedangkan perhatian dan kajiannya masih belum terjamah. Kitab ini merupakan satu-satunya karangan Bukhari al-Jauhari yang dijumpai sampai sekarang. 


Sejauh ini, belum diperoleh profil lengkap biografinya, hingga naskah sejarah spektakuler, Bustan al-Salatin pun tidak mengukir namanya. Braginsky menegaskan bahwa Tajus Salatin merupakan karangan asli dari seorang cendekiawan Aceh yang berasal dari Bukhara dan tinggal lama di Aceh. Uraian tentang masalah-masalah yang terkandung didalamnya dijelaskan melalui kisah-kisah yang menarik, diambil dari berbagai sumber kitab dan kemudian digubah kembali oleh pengarangnya dalam konteks pada masa itu. 


Persoalan yang dikemukakan adalah persoalan-persoalan yang hangat pada waktu itu, yaitu masalah-masalah politik dan pemerintahan. Walaupun kesultanan Aceh sedang mengalami krisis internal, yang menyebabkan Sultan Sayyid al-Mukammil dipaksa turun tahta oleh dua orang anaknya. Sisi lain, era tersebut, Aceh sedang giat meluaskan wilayah kekuasaannya bersama proses Islamisasi, beberapa negeri yang penduduknya belum beragama Islam, seperti Tanah Batak dan Karo, juga ditaklukkan. 



Dalam kitabnya, Bukhari al-Jauhari berusaha menjelaskan bagaimana seharusnya raja-raja Melayu yang beragama Islam memimpin sebuah negeri yang penduduknya multi-etnik, multi-agama, multi-ras dan multi-budaya. Bukhari al-Jauhari mengemukakan sistem kenegaraan yang ideal, dan peranan seorang pemimpin (sultan, gubernur, bupati/walikota, camat dan kepala desa) yang adil dan benar. Sedikitnya ada 5 asas landasan seorang pimpinan atau syarat memilih pemimpin negeri dan daerahnya; 



Pertama, Hifz; secara harfiah artinya memelihara, menjaga dan amanah. Negara makmur jika dipimpin oleh orang yang menjaga amanah, memelihara kepercayaan rakyat, menunaikan kewajiban janjinya. Hifz; juga diartikan orang memiliki ingatan yang baik, yaitu cerdas dan pandai, itu menjadi modal dasar membangun negeri ini. 


Kedua, Fahm, artinya mengerti dan tanggap, yaitu tanggap dan mengerti kebutuhan rakyat, pemimpin memiliki pemahaman dan konsep yang benar terhadap berbagai kebutuhan rakyatnya, bukan mendahulukan keinginan pribadi dan kelompoknya. Ia mengerti kebutuhan yang berbeda disetiap daerah dan wilayah, dan mampu mengakomodasinya. 


Ketiga, Fikr; yaitu idealis, tajam pikiran dan luas wawasannya; seorang pemimpin tidak terbuai dengan kekayaan dan fasilitas negara, namun ia mencurahkan segala upaya dan usaha memikirkan rakyatnya. Saydina Umar r.a menjadi contoh baik seorang pemimpin yang melayani rakyatnya tanpa dibatasi jam kerja. Ide-ide brilian menjadi pendukung utama dalam membangun negeri, termasuk anggota legislatif dan para pimpinan SKPA di seluruh lini. Keempat, Iradat; yaitu visi misi, prospek dan target.


Bersambung...


Note: Artikel telah dipublis di Serambinews Tgl. 19 Juni 2011.


ASAS PEMIMPIN DALAM TAJUS SALATIN (1)

Read More

Senin, Oktober 07, 2024


Kodikologi berasal dari kata Latin Codex (bentuk tunggal : bentuk jamak ialah codices) yang di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi naskah, bukan menjadi kodeks. Dahulu, kata caudex atau codex dalam bahasa Latin menunjukkan bahwa ada hubungannya dengan pemanfaatan kayu sebagai alat tulis; pada dasarnya, kata itu berarti ‘teras batang pohon’. Kata codex kemudian di dalam berbagai bahasa dipakai untuk menunjukkan suatu karya klasik dalam bentuk naskah. Sedangkan Baried menguraikan sebagai berikut: Kodikologi ialah ilmu kodeks. Kodeks adalah bahan tulisan tangan.... Kodikologi mempelajari seluk-beluk semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraaan penulispenulis naskah (Baried, 1983 : 55).

Hermans dan Huisman menjelaskan bahwa istilah kodikologi codicologie diusulkan oleh seorang ahli bahasa Yunani. Alphonse Dain, dalam kuliah-kuliahnya di Ecole Normale Superieure, Paris, pada bulan Februari 1944. Istilah ini baru terkenal pada tahun 1949, ketika karyanya, Les Manuscrits, diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun tersebut (Hermans dan Huisman dalam Rujiati, 1994 : 2) Dain sendiri menjelaskan bahwa kodikologi ialah ilmu mengenai naskah-naskah dan bukan ilmu yang mempelajari apa yang tertulis di dalam naskah. Ditambahkannya pula bahwa walaupun kata ini baru, ilmu kodikologi sendiri bukanlah ilmu yang baru.



Selanjutnya, dikatakannya bahwa tugas dan “daerah” kodikologi antara lain ialah sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian mengenai tempat naskah-naskah yang sebenarnya, masalah penyusunan katalog, penyusunan daftar katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan naskah-naskah itu. Istilah lain yang dapat dipakai di samping istilah naskah ialah istilah manuskrip (bahasa Inggris manuscript). Kata manuscript diambil dari ungkapan Latin codicesmanu scripti (artinya, buku-buku yang ditulis dengan tangan. Kata manu berasal dari manus yang berarti tangan dan scriptusx berasal dari scribere yang berarti menulis. Dalam bahasa-bahasa lain terdapat kata-kata handschrift (Belanda), Handschrift (Jerman), dan manuscrit (Perancis).



Dalam berbagai katalogus, kata manuscript dan manuscrit biasanya disingkat menjadi MS untuk bentuk tunggal dan MSS untuk bentuk jamak, sedangkan handschrift dan handschrifen disingkat menjadi HS dan HSS. Di dalam bahasa Malaysia, perkataan naskah digunakan dengan meluas sebelum perkataan manuskrip. Di dalam bahasa Indonesia, kata naskah jauh lebih banyak dipakai daripada kata manuskrip untuk pengertian codex. Oleh karena kata naskah sudah pendek, sebaiknya kita jangan lagi menyingkat kata ini. Dengan demikian, kodikologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang naskah atau ilmu pernaskahan. Di dalam kehidupan sehari-hari, arti kata naskah dalam bahasa Indonesia, memang bermacam-macam. Biasanya, digabungkan juga dengan kata-kata lain sehingga kita dapatkan sejumlah gabungan kata seperti naskah pidato, naskah undang-undang, naskah perjanjian, dan naskah kerja sama. Dalam hal ini, arti kata naskah telah bergeser pada arti teks.



Di dalam kodikologi atau ilmu pernaskahan --juga di dalam ilmu filologi – kita harus membedakan antara kata naskah dan teks. Secara singkat dapat dikatakan bahwa yang dimaksudkan dengan teks ialah apa yang terdapat di dalam suatu naskah. Dengan perkataan lain, teks merupakan isi naskah atau kandungan naskah, sedangkan naskah adalah wujud fisiknya.

Kodikologi dan Studi Fisik Naskah

Read More

Kamis, September 12, 2024

 


Buku Pengantar Teori Filologi ini semula merupakan naskah yang berjudul ''Pengantar Teori Filologi" yang disusun oleh tim dari Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada Tahun 1984. 

Tulisan berjudul Pengantar Teori Filologi ini diharapkan dapat memenuhi keperluan sebagai pegangan awal untuk memperoleh gambaran mengenai seluk-beluk filologi atau kajian naskah dan teorinya beserta penerapannya padakarya sastra Nusantara.
 





Perkenalan dengan karya -karya tersebut akan menumbuhkan rasa akrab dengannya. Penanganan naskah-naskah dengan pendekatan dan metode yang tepat akan membuahkan hasil yang memadai, yang menempatkan suatu karya dalam dimensi ruang dan waktu seperti yang diduga diciptakan oleh pengarangnya. 

Analisis fungsi dan amanatkarya-karya itu akan memperkaya kehidupan rohani masyarakat.

BAB I Studi Filologi
BAB II Kedudukan Filologi di antara Ilmu-ilmu Lain
BAB III Sejarah Perkembangan Filologi
BAB IV Teori Filologi dan Penerapannya
BAB V Studi Filologi bagi Pengembangan Kebudayaan 



Download bukunya di sini. "DOWNLOAD/UNDUH
Download bukunya di sini. "DOWNLOAD/UNDUH"

Download Buku Pengantar Teori Filologi

Read More

Sabtu, Maret 25, 2023




Surat Sultan Aceh, As-Sultan 'Alauddin [Alauddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammal] 
bin Firmansyah, yang diberikan kepada Kapten kapal Inggris bernama Harry Middelton sekitar tahun 1602 untuk izin berdagang di seluruh wilayah "Teluk Rantau Aceh", atau wilayah kekuasaan dan naungan Kesultanan Aceh. Surat ini menjadi dasar utama wilayah perdagangan dan kekuasaan Aceh yang dikelola secara bersama-sama.



Surat izin perdagangan sultan Aceh ini disimpan di Bodleian Library dengan nomor MS (manuscript). Douce Or. e. 4. di Universitas Oxford (University of Oxford). Informasi ini diadaptasi dari Richard Greentree dan Edward Williams Byron Nicholson, Katalog Naskah Melayu dan Naskah Berkaitan dengan Bahasa Melayu di Bodleian Library, Clarendon Press, 1910.

Surat ini disimpan dalam bungkusan kain sutra berwarna hijau yang kini disimpan dalam kotak khusus yang dibuat oleh Bodleian. Surat berbahan kertas Eropa dengan teks tertulis 14,5 x 16 cm, tulisan indah dengan khat Naskhi.

Di atas teks terdapat cap Sultan yang berkuasa pada tersebut, tertulis ditengahnya "As-Sultan 'Alauddin bin Firmansyah" yang merujuk kepada Sultan Alauddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammal, berkuasa antara tahun 1589-1604, dan beliau meninggal dunia dengan tenang tahun 1605.



Berikut teks hasil alihaksaranya:

Dengan anugerah Tuhan seluruh alam sekalian, sabda yang maha mulia datang kepada segala panglima negeri 

dan pertuha segala negeri yang takluk ke Aceh. Adapun barang tahu kamu sekalian bahwa

kapal orang-orang Inglitir ini Kaptennya bernama Hary Middelton asalnya kapal ini berlabuh  

di labuhan negeri Aceh berapa lamanya ia di sana, maka mohon dirinya ia berlayar ke Jawa jika ia 

memeli lada atau barang suatu diberinya akan kamu dirham atau barang suatu yang orang Inglitir 

ini orang sahabat kita raja Inglitir, maka kaptennya dan segala saudagarnya itu hamba pada raja

Inglitir, yang hamba raja Inglitir itu serasa orang kitalah. Jika ia meli beri jual dengan kamu yang dalam 

Teluk Rantau Aceh itu dengan sebenar-benarnya jua. Maka surat sitmi yang kita karuniai akan dia ini 

dengan dipohonkan daripada kita supaya jangan ia dicabuli segala orang Teluk Rantau kita.

Maka jika ditunjukkannya kepada kamu sekalian sitmi ini hendaklah kamu permulia, dan janganlah 

seorang daripada kamu  mencabuli dia. Inilah sabda kita kepada kamu sekalian. Wassalam. 



Note:
- Sitmi adalah surat resmi kesultanan yang ada cap (stempel) resmi pemerintahan
- Inglitir adalah penyebutan kepada bangsa Inggris
- Teluk Rantau merupakan wilayah-wilayah kerajaan lain di Nusantara yang tunduk dan bekerja sama dengan Kesultanan Aceh.
- mencabuli dimaknai memusuhi, mencelakai dan atau membajak atau mengganggu

Surat Izin Dagang Sultan Aceh Kepada Kapten Inggris

Read More

Kamis, September 01, 2022


Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh Hermansyah bahas Qanun Meukuta Alam di Malaysia. Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Tanjong Malim Perak, Malaysia mengadakan Pameran dan Persidangan Antarabangsa Manuskrip Melayu (PPAMM), Selasa-Kamis  9-11 Agustus 2022.

Acara dua tahunan itu diresmikan dan dibuka Menteri Pelancongan (Pariwisata), Seni dan Budaya Malaysia, YB Datuk Seri Dr Santhara. Hadir saat pembukaan acara tersebut, Ketua Pengarah Perpustakaan Negara Malaysia (PNM), YBrs Puan Salasiah binti Abdul Wahab. Kemudian Rektor UPSI, YBhg Dato’ Prof Dr Md Amin bin Md Taff sebagai tuan rumah penyelenggara kegiatan tersebut.

Makan malam bersama dengan Rektor UPSI (Universitas Pendidikan Sultan Idris) dan pengurus dan para narasumber.

Seminar internasional ini menghadirkan 23 pakar manuskrip Melayu dari dalam dan luar negeri yang dibagi menjadi 8 sesi. Pembicara dalam negeri hadir dari berbagai instansi, baik dari universitas ataupun peneliti lepas. Sedangkan pembicara dari luar negara wilayah Malaysia berasal dari Amerika Serikat, Brunai Darussalam, dan tiga dari Aceh, Indonesia.

Peneliti manuskrip yang juga Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Hermansyah, diundang dalam seminar tersebut untuk membedah manuskrip Qanun Meukuta Alam (Undang-undang Aceh), sesuai dengan tema seminar tahun 2022 “Manuskrip Perundangan Melayu: Korpus Warisan Tempatan dan Dunia”.

Menurut Hermansyah, ditinjau dari warisan manuskrip Aceh, maka terdapat tiga qanun atau Undang-undang Aceh yang diperoleh saat ini. Naskah Undang-undang Aceh, naskah Ma Baina as-Salathin atau dikenal Adat Aceh, dan Tadhkirat at-Tabaqat Tgk Di Mulek yang sering disebut Qanun Meukuta Alam.

“Sedangkan Qanun Syara’ al-Asyi merupakan sub-bagian dari Qanun Meukuta Alam,” ungkap Hermansyah kepada media, Jumat (12/8/2022).

Semua naskah qanun di Kesultanan Aceh tersebut, kata Hermansyah, saling terkait dan memiliki jalur silsilah yang hampir sama periodenya, yaitu pada periode Sultan Syarif Jamalul Alam Badrul Munir (1703-1726).

Meski penyebutan dalam naskah merujuk kepada Qanun Meukuta Alam Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Hermasyah menyampaikan, seminar ini dikhususkan untuk mengkaji undang-undang atau qanun yang pernah berlaku dan berjaya pada masa kerajaan-kerajaan Melayu tempo dulu yang dapat diaktualisasikan dan diaplikasikan pada zaman sekarang ini.


Selain sesi Qanun Meukuta Alam asal Kesultanan Aceh Darussalam, juga diseminarkan Hukum Qanun Melaka, Hukum Qanun Pahang, Undang-undang Kedah, Hukum Qanun Brunei Darussalam, Undang-undang Laut, Sejarah Perundang-undangan, dan Undang-undang dari aspek bahasa dan disiplin ilmu lainnya.

Seminar internasional yang diadakan oleh PNM kali ini mengambil tempat di UPSI Tanjong Malim, Perak.

Kata “Malim” yang dibaca malem memiliki pengertian yang sama di Aceh yaitu orang yang berilmu atau alim. Alkisah terdapat tanjung (unjung) sungai di kawasan tersebut yang didiami oleh para penuntut ilmu.

Oleh karena itu disebut Tanjong Malem yang kini oleh Sultan Perak diganti namanya menjadi Tanjung Muallim, atau dikenal tanah Muallim. (*)


Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh Paparkan Manuskrip Qanun Meukuta Alam di Malaysia

Read More

Kamis, Juni 16, 2022


Di era orde baru dan awal reformasi, perhatian terhadap pelestarian naskah belum memadai dikarenakan beberapa faktor, antaranya situasi politik Aceh dengan konflik vertikal berkepanjangan, ternyata banyak mempengaruhi ke sektor lain, termasuk pendidikan, budaya dan penelitian keilmuan. Faktor lainnya yang mempengaruhi lemahnya regulasi pemerintah terhadap pelestarian warisan tulis adalah minimnya sumber daya manusia (SDM) di Aceh. Akibatnya, pengetahuan seputar ilmu filologi dan pernaskahan (manuskrip) tidak diketahui oleh banyak orang, termasuk pelajar dan para pewaris manuskrip itu sendiri.



Sebenarnya, program kegiatan pemeliharaan (preservation) sudah dikenal sejak dahulu, dan pasca gempa-Tsunami 2004 terus tumbuh berkembang dalam dunia pernaskahan Aceh, preservasi masa mendatang dapat meliputi; Inventarisasi naskah, Katalogisasi, Restorasi naskah, Digitalisasi naskah, Database (pangkalan data), dan Tipologi kajian (analisis) teks, naskah serta kajian kontekstual.


Baca juga: Nasib Manuskrip Aceh di Padang
 

Sebahagiannya sudah dilakukan secara berkelanjutan, walaupun belum ada prioritas kebijakan terhadap program-program tersebut, sehingga belum ada sinerginitas antara satu lembaga dengan lainnya. Secara periodik, perhatian terhadap preservasi naskah di masyarakat dapat dipilah menjadi dua bagian sesuai dengan situasi dan kondisi Aceh, yaitu pra dan pasca bencana alam dan bencana kemanusiaan. 

Hal itu untuk memudahkan melihat regulasi pemerintah dan perhatian masyarakat terhadap kearifan dan pengetahuan untuk merevitalisasi pengetahuan budaya dan kultur masa lalu dengan konteks sekarang dengan jumlah ribuan naskah di Aceh.




Akumulasi angka tersebut tentu akan mencapai jumlahnya jika dirunut sebelum tragedi gempa dan tsunami Aceh-Nias pada 26 Desember 2004 atau sesudahnya. Hingga sebelum tragedi bencana dunia tersebut, Aceh memiliki beberapa lembaga yang mengoleksi naskah-naskah Jawi (Bahasa Aceh dan Melayu) dan Arab, seperti di Museum Negeri Aceh, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy (YPAH) berlokasi di Banda Aceh. Zawiyah Tanoh Abee di Seulimuem, Aceh Besar, dan Dayah Awee Geutah, Bireuen. 


Baca juga: Hikayat Aceh Masuk Nominasi Memory of the World

Perjalanan Awal Program Preservasi Naskah di Aceh

Read More

Selasa, Juni 07, 2022


Pagi hari itu cukup cerah, bahkan terik panas matahari lebih  awal muncul dari biasanya. Sejak bulan Ramadhan hingga pertengahan Syawal belum pernah hujan, mendungpun tak kunjung menunjukkan tanda-tandanya. Namun kegiatan surau sudah dipenuhi para pengunjung yang ingin berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan, seorang ulama tersohor penyebar Tarekat Syattariyah di Pariaman, Padang.

Salah satu surau yang dikunjungi oleh penziarah adalah Surau Pondok Ketek, Ulakan Pariaman. Di surau ini, tersimpan ratusan teks naskah dalam beragam bidang ilmu, terutama bidang keagamaan dan tata bahasa. Selain itu, pemilik dan perawat manuskrip di surau ini adalah Tuanku Khalifah XV, Buya Heri Firmansyah.

Hermansyah bersama Pramono menelusuri naskah-naskah Aceh di Padang, Sumbar


Perjalanan dari Kota Padang ke surau ini membutuhkan waktu 1 jam lebih. Sesampainya kami di sana sudah banyak jamaah dari luar kota, mereka biasanya berziarah ke makam Syekh Ulakan yang berjarak beberapa kilometer dari surau tersebut. Kegiatan di surau ini selain pengajian, ceramah dan mendengar kisah perjuangan ulama-ulama Ulakan.

Tim kami harus menunggu lebih dari dua jam di rumah Buya tersebut, mengingat jamaah dari luar kota lebih awal sampai di tempat. Tim peneliti yang terdiri  dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) dengan Universitas Andalas dan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry terkait dengan moderasi beragama dari sumber-sumber manuskrip di Sumatera dengan lokasi penelitian Padang dan Aceh. Penelitian kolaborasi yang melibatkan eksternal lembaga adalah salah satu program utama penelitian BRIN dengan universitas-universitas di Indonesia.

Setelah sekian lama menunggu dan berdiskusi Dr. Pramono, dosen Universitas Andalas dan pengurus Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara) Pusat dan Khairullah dari Manassa Komisariat Padang, yang juga tergabung dalam Komunitas Suluah di Padang. Akhirnya pimpinan surau hadir setelah memimpin aktivitas pengajiannya.

Surau Pondok Ketek di Pariaman menyimpan beberapa naskah kuno yang merupakan warisan leluhur sebelumnya. Terdapat beberapa tema naskah dan termasuk Alquran berjuz. Diskusi kami sangat panjang, mulai dari sejak awal kepemimpinannya hingga bagaimana proses naskah-naskah itu masih bertahan di sana.

Naskah-naskah di surau ini sudah diindeks dan diinventarisasi koleksinya, walaupun belum dilakukan restorasi dan termasuk mendigitalkan kandungan isi naskah. Dua program akhir tampaknya harus segera dilakukan melihat kondisi naskah koleksi tersebut mulai rusak akibat kondisi alam, lembap dan dimakan rayap.

Pada akhirnya kami tertuju pada satu naskah yang cukup tebal, masih utuh dengan sampulnya. Di dalamnya terkandung beberapa teks, termasuk tentang naskah Syair Ruba’i Hamzah Fansuri yang dikarang oleh Syamsuddin bin Abdullah As-Sumatra’i. Namun tidak diketahui masa penulisan atau penyalinan teks ini mengingat tidak ada informasi di kolofon (bagian akhir) teks.

Bersama Buya Surau Pondok Ketek Ulakan Pariaman Padang 


Sebagaimana diketahui, Syekh Syamsuddin bin Abdullah as-Sumatra’i adalah murid dan sekaligus teman Hamzah Fansuri. Ulama dan Syaikhul Islam tersebut memiliki peran penting pada masa pemerintahan Iskandar Muda. Ia pun syahid pada tahun 1630 saat penyerangan Portugis di Malaka.

Ketenaran dan kedalaman ilmu tasawuf, Syekh Syamsuddin bin Abdullah As-Sumatra’i diakui oleh Syekh Nuruddin Ar-Raniry dalam kitabnya Bustanus Salatin, meskipun keduanya tidak berjumpa karena periode yang berbeda.

Ternyata, naskah yang tersimpan di surau tersebut adalah salah satu bagian dari sekian banyak manuskrip-manuskrip ulama Aceh yang ada di tanah Minang. Tentu saja, Negeri Minangkabau, Padang dengan Negeri Serambi Mekkah, Aceh memiliki hubungan kuat secara keilmuan.

Nasib naskah-naskah kuno di Padang juga masih memprihatinkan, masih banyak kondisinya rusak, lembap dan dimakan rayap. Tentu juga naskah-naskah Aceh, baik karya ataupun pengarangnya. Naskah-naskah di sini belum dikonservasi dan restorasi. Semoga ke depan Pemerintah Aceh mau mengidentifikasi bahkan membackup naskah-naskah Aceh di luar Provinsi Aceh.

Telah dipublikasi: www.marjinal.id

Nasib Naskah Kuno Aceh di Padang, Sumatera Barat

Read More

Senin, Maret 21, 2022


Syekh Abdur Ra'uf (Abdurrauf) as-Singkili merupakan ulama terkenal dan dihormati di Aceh. Inisialnya Abdurrauf dinobatkan pada perguruan tinggi di Banda Aceh yang dikenal Universitas Syiah Kuala (Unsyiah, sekarang USK). Disebut Syiah Kuala karena ia dimakamkan di Kuala Aceh. 

Namun belakangan, ada dua makam Syekh Abdurrauf di Aceh, pertama makam syekh Abdurrauf di Kuala Banda Aceh, terletak di pinggir Kuala pantai Aceh menghadap ke Selat Melaka.

Dan kedua, makam syekh Abdurrauf di singkel yang berada di bibir Sungai Singkil, sekitar 5 KM atau 8 menit dari ibu kota Kabupaten Aceh Singkil. 

Kedua makam tersebut ramai dikunjungi oleh penziarah dari luar Aceh, di mana transportasinya  menuju ke makam Syekh Abdurrauf dapat melalui perjalanan laut, darat, dan udara.


Syekh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri



Awal nama Abdurrauf masyhur di tengah Kesultanan Aceh dan masyarakat setelah ulama asal Fansur (sebagian menyebut sekarang masuk bagian Aceh Singkel) ini setelah menebar tarekat Syattariyah di Aceh sejak awal kepulangannya sekitar tahun 1660/61 M. Menetap dan membuka zawiyah bernama Zawiyah Menara di Kuala Aceh.

Menjadi tokoh utama tarekat Syattariyah dan diterima oleh masyarakat luas, pihak kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultanah Safiyatuddin Syah Tajul Alam (1640-1675) memberikan mandat untuk menulis kitab fikih tentang hukum yang dapat digunakan di Aceh secara umum. Walau awalnya ia menolak dengan halus, namun akhirnya ia menerima dan menulis kitab fenomenal yang dinamai "Mir'atuth Thullab".

Banyak kitab yang dikarangnya dengan jelas menulis namanya, Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri. Sebagian manuskrip karangannya yang disalin dikemudian hari menulis dengan gelar Syekh Aminuddin Abdurrauf bin Ali al-Fansuri al-Jawi. 




Namun, konsentrasi pengembangan tarekat Syattariyah tetap dia jalani, hal itu dapat dilihat jaringan muridnya yang sangat luas di Nusantara dan alam Melayu. Melalui silsilah tarekat Syattariyah inilah dapat dijumpai kiprah Syekh Abdurrauf di Haramain, jaringan guru-murid sangat luas dan dinamis. Tokoh-tokoh utama penyebar tarekat Syattariyah di dalam dan luar Aceh lebih banyak melalui jalurnya.

Para murid-muridnya banyak menulis dalam kitab mereka bahwa dalam penyelesaian penulisan dan penyalinan kitab diselesaikan (ditammatkan) pada makam syaikhina wa maulana syekh Abdurrauf bin Ali di Zawiyah Meunara.

Lantas, siapakah Syekh Abdurrauf as-Singkili di Singkel..?



(bersambung...)

Dua Makam Syekh Abdur Rauf di Aceh, Kenapa?

Read More

Selasa, Oktober 26, 2021


SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Gubernur Aceh yang diwakili Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum, Iskandar AP, menyampaikan ucapan terima kasih atas penominasian Hikayat Aceh sebagai Memory of the World (MoW) dan penguatan Pusat Studi Arsip Tsunami yang telah diregistrasi dalam Register Internasional MoW UNESCO.


Ungkapan tersebut disampaikan Iskandar, saat menerima kunjungan Audiensi Tim Komite Nasional MoW, di Aula Serba Guna Kantor Gubernur Aceh, Jumat (22/10/2021).


"Kami atas nama Pemerintah Aceh sangat berterima kasih. Ini menjadi sebuah kehormatan bagi kami atas penominasian Hikayat Aceh dan Penguatan Pusat Studi Arsip Tsunami yang telah diregistrasi dalam Register internasional MoW UNESCO. Kami akan mendukungan penuh atas pendaftaran Nominasi Hikayat Aceh tersebut," kata Iskandar dalam sambutannya.


Ia menjelaskan, melalui "hikayat" Aceh telah berkontribusi besar dalam peradaban Islam di Nusantara.


Sehingga memperkaya perkembangan dunia intelektual, melalui manuskrip-manuskrip yang lahir dari buah pikir dan goresan pena para ulama di masa lampau.


"Hikayat adalah salah satu dari sekian banyak karya tulis lainnya yang diwariskan para cerdikiawan Aceh tempo dulu. Hal inilah yang menjadikan Aceh hingga kini masih menjadi lumbung naskah kuno di Indonesia," kata Iskandar.


Untuk mendukung pelestarian naskah kuno “Hikayat Aceh” tersebut, kata Iskandar, Pemerintah Aceh sudah melakukan pertemuan dan diskusi pra registrasi Hikayat Aceh sebagai tindak lanjut MoW 2019 pada Oktober 2018 lalu.


Pertemuan itu dilakukan untuk mengupayakan penyusunan naskah nominasi, dikarenakan pengusulan MoW harus disertai kajian akademik.




Selain itu, Pemerintah Aceh juga akan mencetak dan memperbanyak buku “Hikayat Aceh” untuk dijadikan koleksi literasi setiap perpustakaan di Aceh dan nasional.


Selanjutnya, Pemerintah Aceh juga akan melakukan berbagai promosi dan diseminasi naskah Hikayat Aceh serta berbagai bentuk dukungan lainnya yang akan lebih mendekatkan masyarakat Aceh terhadap literasi kuno tersebut.


Iskandar menuturkan, langkah-langkah yang diambil tersebut merupakan cara Pemerintah Aceh untuk menyelamatkan dan memulihkan “Hikayat Aceh”, maupun naskah-naskah kuno lainnya sebagai arsip warisan budaya masa lalu.


"Aceh, sudah seharusnya berkaca pada kondisi alamnya yang rawan tehadap bencana, jadi sudah sepatutnya kita berkonsentrasi pada penyelamatan dan perlindungan arsip-arsip lainnya dari dampak bencana, seperti arsip vital," pungkas Iskandar.



Oleh karena itu, untuk mendukung penyelamatan arsip vital yang merupakan bukti sejarah tetap terjaga dan terawat keberadaannya,  Pemerintah Aceh sesuai dengan permohonan Kepala ANRI telah menghibahkan tanah pertapakan bangunan kantor Balai Arsip Statis dan Tsunami ANRI yang berlokasi di Komplek Perkantoran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.


"Kami telah menyurati DPRA guna mendapat rekomendasi, sehingga dapat ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Aceh tentang Penetapan Hibah Barang Milik Aceh Kepada ANRI. Mari kita doakan semoga cepat selesai dan tanah tersebut dapat segera dihibahkan," katanya.


Sementara itu, Ketua Komite Nasional MoW yang juga Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Imam Gunarto menjelaskan, program Memory of the World diluncurkan oleh UNESCO pada tahun 1992, sebagai respon terhadap ancaman kepunahan warisan dokumenter berupa arsip, pustaka maupun artefak dari kerusakan, baik itu yang mengalami kerusakan ataupun kemusnahan yang disebabkan oleh faktor alamiah dan faktor manusia.




Imam menerangkan, keterlibatan Indonesia dalam pengajuan warisan dokumenter sebagai MoW, sudah diawali sejak tahun 2003.


Indonesia juga memiliki andil sebagai co-nominator dalam pengajuan arsip seperti, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), manuskrip La Galigo (2011), Babad Diponegoro dan kitab Negara Kertagama (2013), arsip KAA (2015), Arsip Restorasi Borobudur, Naskah Cerita Panji dan Arsip Tsunami Samudera Hindia (2017). 


Lebih lanjut, jelas Imam, Indonesia melalui Komite Nasional MoW, akan mengajukan 3 warisan dokumenter untuk dicantumkan pada register internasional MoW UNESCO yaitu Arsip Sukarno: "To Build the World A New", Arsip KTT GNB I dan Hikayat Aceh.


"Saya memohon kepada seluruh pimpinan provinsi dan masyarakat Aceh dapat bersama-sama menggerakan upaya ini agar sukses diakui oleh UNESCO," ujarnya.


Pertemuan yang menerapkan protokol kesehat ketat itu turut dihadiri oleh Kepala ANRI, Kepala Perpustakaan Nasional RI, Plt Kepala BKN, dan para perwakilan Forkopimda Aceh.


Sumber: Serambi Indonesia


Hikayat Aceh Masuk Nominasi Memory of the World

Read More

Naskah Hikayat Aceh merupakan koleksi langka yang ditulis pada abad ke-17. Karya sastra kuno yang diajukan menjadi nominasi Memory of the World (MoW) ini berisikan kisah perjalanan Sultan Iskandar Muda sebagai sultan paling kuat dan besar dalam Kesultanan Aceh.

Peneliti filologi Melayu-Aceh Hermansyah, mengatakan, naskah Hikayat Aceh merupakan koleksi langka karena tidak banyak salinan. Saat ini, hanya terdapat tiga naskah Hikayat Aceh, dua naskah di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda dan satu naskah di Perpusnas

Dijelaskan, Hikayat Aceh menceritakan kisah para Sultan dan Kesultanan Aceh sebelum dan masa Sultan Iskandar Muda pada 1590-1636 M. Naskah kuno ini pun memenuhi nilai-nilai historis, baik melalui sumber primer sejarah, peristiwa, dan ketokohan.


Acara ini merupakan rangkaian kegiatan MOWEEK yang diselenggarakan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). 

Peneliti bidang agama dan tradisi keagamaan Melayu-Aceh Kementerian Agama Fakriati, mengatakan, naskah Hikayat Aceh ini banyak menceritakan masa Kejayaan Sultan Iskandar Muda. Namun di sisi lain, terdapat tradisi dan toleransi yang dibangun oleh tokoh utamanya, Sultan Iskandar Muda.


Dalam naskah Hikayat Aceh, Fakriati mencoba merangkai isi naskah bahwa di dalamnya terdapat toleransi yang dibangun dari beberapa unsur. Di antaranya, sultan/pejabat negara, ulama, rakyat, adat dan agama.


“Ada keterikatan antarunsur ini secara utuh. Saling mendukung sehingga membentuk nilai-nilai toleransi,” ujarnya dalam webinar Hikayat Aceh: Road to Memory of the World, yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI secara daring, Rabu (13/10/2021).


Dia menambahkan, Hikayat Aceh menanamkan pola hidup dan budaya multikultural dan interaksi antara Sultan dengan rakyat, serta antara pendatang dengan pribumi.


“Naskah Hikayat Aceh ini menggunakan aksara Jawi berbahasa Melayu. Namun, naskah yang ada ini, halaman awal dan akhir belum ditemukan,” ungkapnya.




“Sehingga perlu adanya reproduksi teks Hikayat Aceh dalam bentuk modern yang menjadi media edukasi dan sosialisasi naskah,” tuturnya.


Sementara itu, pakar pendidikan dan sejarah Wardiman Djojonegoro, menceritakan, pada 2017, Perpusnas berencana mengusulkan Hikayat Aceh untuk menjadi memori dunia tahun 2018. Namun, pada tahun tersebut pendaftaran MoW oleh UNESCO ditunda. Meski begitu, proses penyelesaian naskah nominasi tetap dilanjutkan.


“Pada tahun ini pendaftaran kembali dibuka dan Hikayat Aceh akan diajukan menjadi nominasi MoW. Karena selain langka, naskah ini agak berbeda dari naskah melayu lainnya. Tidak menceritakan tentang raja tetapi bercerita tentang keagungan raja,” ungkapnya.


Menurutnya, pengajuan naskah Hikayat Aceh untuk MoW telah memenuhi kriteria MoW UNESCO dan mempunyai potensi untuk diterima sebagai warisan dunia. “Semoga naskah nominasi dapat disusun bersama dan segera diselesaikan untuk memenuhi kriteria dari UNESCO,” harapnya.


Dukungan terhadap pengajuan Naskah Hikayat Aceh sebagai nominasi MOW juga ditunjukkan oleh Pemerintah Provinsi Aceh. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Edi Yandra mengatakan, pihaknya telah melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai MoW 2019, pada Oktober 2018.


“FGD ini diperlukan untuk memperkaya usulan penyusunan naskah nominasi, karena pengusulan MoW harus disertai kajian akademik,” terangnya.


Dia berharap, Hikayat Aceh ditetapkan menjadi Memori Dunia. Ke depannya, jika sudah ditetapkan, Pemerintah Aceh akan mencetak dan memperbanyak buku Hikayat Aceh, menjadikannya sebagai koleksi literasi di setiap perpustakaan di seluruh Aceh, bahkan seluruh Indonesia. Pihaknya berjanji akan melestarikan dan membudayakan seni Hikayat Aceh dalam kegiatan tingkat daerah hingga internasional.


“Kami harap naskah Hikayat Aceh ini menjadi bacaan untuk semua kalangan, terutama menambah pengetahuan bagi generasi muda,” ungkapnya.


Selain itu, diselenggarakan pula penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Perpisnas dan ANRI. Bersamaan, diluncurkan web portal Memori Kepresidenan RI yang merupakan integrasi situs web kepustakaan presiden-presiden milik Perpusnas dengan situs web diorama arsip kepresidenan milik ANRI.


Pada September lalu, ANRI terpilih menjadi Komite Nasional Memory of the World Indonesia. Sebelumnya, Komite Nasional MoW diemban oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengatakan, dengan dipilihnya Kepala ANRI sebagai Ketua Komite Nasional MoW menjadi sebuah langkah besar yang dilakukan untuk memulai kerja sama.


“Ini sebuah misi yang akan kita emban ke depan, sehingga misi peran kedua institusi makin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya. 


sumber: infoaceh.net

Hikayat Aceh, Naskah Kuno Berisi Kisah Sultan Iskandar Muda Diusul Jadi Memori Dunia

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top