Tampilkan postingan dengan label Belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belanda. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 11, 2025

 


Mengungkap pesona Indonesia di masa lampau lewat foto-foto historis kini bukan lagi hal yang mustahil. Meski terkadang tantangannya ada, harta karun visual tersebut ternyata bisa diakses dengan mudah oleh siapa saja!

Berbagai institusi arsip dan perpustakaan di Belanda membuka pintu lebar-lebar dengan sistem open access. Bagi Anda yang ingin menyelami lebih dalam, tersedia juga akses privat untuk eksplorasi data yang tak terbatas.

1. KITLV - Leiden University Libraries

Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda ini memiliki banyak koleksi data foto tentang Indonesia, hampir tiap daerah ada beberapa dara foto lamanya. Suku pedalaman Mentawai saja ada koleksinya

Perpustakaan Universitas Leiden terdapat bagian yang menyimpan koleksi khusus tentang Asia Tenggara yang tersimpan di lembaga Koninklijk Instituut voor Taal-Land-en Volkenkunde (KITLV) yang berpusat di Leiden. Lembaga ini telah ada sejak tahun 1851 dan membuka perwakilannya di Jakarta pada tahun 1969.

KITLV fokus untuk mengumpulkan informasi dan meneliti mengenai keadaan masa kini dan lampau daerah-bekas koloni Belanda. Dulu lembaga ini berdiri sendiri, sejak 1 Juli 2014 Perpustakaan KITLV di Leiden dan di Jakarta bergabung dengan Perpustakaan Universitas Leiden.


Alamat situsnya https://digitalcollections.universiteitleiden.nl 




2.  Tropenmuseum Amsterdam - NMVW Collection and Library

Tropenmuseum ini salah satu museum etnografi dan antropologi terbesar di Amsterdam yang telah eksis sejak tahun 1864. Museum ini banyak menyimpan koleksi benda-benda sejarah peninggalan bekas kolonial Belanda, termasuk Indonesia.

Ada berbagai lukisan, wayang, alat musik, patung, senjata kuno, manuskrip, artefak tekstil, hingga rempah-rempah Indonesia. Terpenting adalah koleksi data fotonya yang bisa diakses secara digital. Tropenmuseum ini paling banyak memiliki koleksi peninggalan dari Indonesia. Kumparan memberitakan ada 370 ribu koleksi dan 260 ribu foto yang dimiliki Tropenmuseum. 

Sejak 2017, Tropenmuseum bergabung dalam lembaga The National Museum of World Cultures (NMVW) bersama Museum Afrika di Berg en Dal, Museum Volkenkunde di Leiden dan Wereldmuseum di Rotterdam. NMVW memiliki koleksi hampir 450.000 objek, 260.000 foto dan sekitar 350.000 item film dokumenter dan materi video.


Alamat situsnya https://collectie.wereldculturen.nl




3. Rijkmuseum Amsterdam

Rijkmuseum Amsterdam merupakan museum yang paling terkenal dan banyak dikunjungi di Belanda. Rijksmuseum sering berpindah-pindah lokasi mula didirikan di Den Haag pada 9 November 1798 dan pindah ke Amsterdam pada tahun 1808.

Museum nasional Belanda ini menyimpan koleksi seni dan sejarah yang cukup banyak, termasuk di antaranya koleksi data-data foto dari Indonesia. Ada sekitar 1 juta objek yang berasal dari tahun 1200 hingga 2000. Sekitar 8.000 objek saat ini dipajang di Rijkmuseum Amsterdam,


Alamat webnya https://www.rijksmuseum.nl 


4. Collectie Nederland (Koleksi Belanda)

Situs Collectie Nederland ini menjadi wadah bagi 100 museum dan lembaga lainnya di Belanda yang saling terintegrasi dalam satu platform media digital yang dapat diakses secara bebas oleh masyarakat luar. Situs ini merupakan bagian dari Rijksdienst Voor Het Cultureel Erfgoed Ministerie Van Onderwijs Cultuur En Wetenschap. Dalam situs ini menyimpan 5894201 karya seni, monumen, dan benda lainya.

Alamat situsnya https://www.collectienederland.nl/


Dengan transformasi digital yang dijalankan oleh berbagai lembaga arsip dan perpustakaan, proses penelusuran koleksi kini dapat dilakukan dengan tingkat kemudahan yang jauh lebih tinggi. Kunci keberhasilan dalam eksplorasi ini terletak pada ketepatan penggunaan kata kunci. Untuk menelusuri situs asing, disarankan menggunakan sebutan geografis dalam bahasa asing, umumnya dalam bahasa Inggris atau Belanda, guna mengoptimalkan hasil pencarian. Proses ini tentunya memerlukan ketekunan dan kesabaran dalam mengeksplorasi setiap arsip yang tersedia.

Ketika data foto lama yang dicari berhasil ditemukan, seringkali timbul rasa takjub yang mendalam. Potret suasana masa lalu yang terekam ada yang masih menunjukkan kesinambungan dengan kondisi masa kini, namun tak sedikit yang telah mengalami transformasi besar, bahkan telah sirna dan digantikan oleh lanskap yang sama sekali baru.

Bagi para pegiat sejarah, kolektor, peneliti, hingga kalangan mahasiswa, situs-situs arsip ini merupakan sumber daya yang tak ternilai. Eksplorasi yang mendalam tidak hanya memperkaya wawasan historis, tetapi juga memungkinkan kita untuk memetik pelajaran serta nilai-nilai kebijaksanaan dari setiap jejak visual yang ditinggalkan. []

Akses Foto, Dokumen, Manuskrip dan Arsip Masa Lalu Nusantara di Belanda

Read More

Minggu, April 16, 2023


Pertengahan Ramadhan tahun 1444 H, bertepatan April 2023, untuk pertama kalinya kami (saya dan dua orang teman dari Malaysia pak Affendi dan pak Syukri) menikmati shalat Jumat di bulan Ramadhan di mesjid tuha (tua) Indrapuri Aceh Besar. 

Mesjid tuha Indrapuri salah satu mesjid bernilai sejarah yang sangat penting. Disebut mesjid tuha untuk membedakan dengan mesjid jamik Abu Indrapuri yang berada di seberang sungai dan seberang jalan.



 Sebelum memasuki waktu shalat Jumat, saya sempat menikmati kisah cerita dari ureung tuha setempat tentang peranan dan perjalanan mesjid tua yang dulunya sebagai mesjid jamik/ mesjid raya Indrapuri berangsur berubah mesjid tuha yang kini hanya tunduk tiga gampong saja. 

Oleh karenanya shalat Jumat dan shalat berjamaah masih tetap dilaksanakan dan dihadiri oleh penduduk tiga gampong tsb dan para jamaah luar. 

Masjid berbentuk piramida dengan atap bertingkat tiga ditopang oleh 36 tiang dan berdinding langsung dengan tembok tebal setinggi setengah badan. Mesjid ini sangat nyaman, apalagi di bulan puasa, derai angin yang bertiup, pemilihan kemarik yang unik nan dingin semakin menggoda kami untuk rebahan 😁 



Sebagaimana banyak informasi berkembang tentang konstruksi dan asal usul mesjid ini, walaupun itu hanya dari cerita ke cerita, tanpa kajian secara konprehensif. Padahal konstruksi dan gayanya masih mengikuti mesjid-mesjid tuha yang ada di Aceh Besar, Pidie dan lainnya. 

Terlepas dari itu, dalam tradisi arsitektur bangunan Aceh tempo dulu, para utoh (tukang bangunan) akan mengukir tanggal/tahun selesainya pembangunan atau rekonstruksinya. 

Hal itu dapat ditemui banyak di rumoh Aceh, mesjid dan meunasah serta bangunan kuno lainnya yang berkonstruksi kayu, biasanya berada di salah satu sudut bangunan, termasuk pada mesjid tua ini yang tertera tahunnya 1274 (mengikuti teori angka al-Banna) dikonversi sekitar tahun 1858. 

Boleh jadi itu tahun rehab terakhir atap mesjid sebelum mesjid ini dikuasai oleh Belanda pada tahun 1880 sebagaimana foto C. Kruger yang tampak bendera di atas kubahnya, para tentara kolonial Belanda dan batu-batu makam para syuhada pejuang Aceh.  


Sejarah penting lainnya masjid tuha Indrapuri ini sebagai saksi bisu penobatan Sultan Aceh yang masih kecil, Sultan Muhammad Daudsyah di Mesjid tuha Indrapuri ini pada tahun 1878, Tuanku Hasyim Bangtamuda sebagai Mangkubumi. Sebab inilah, Belanda mengincar masjid ini sebagai titik koordinat para pejuang Aceh dan sultannya.



Saat ini, mesjid tuha Indrapuri sudah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya. Meski demikian, masih sangat banyak rekaman sejarahnya belum tergores dalam tinta sejarah perjalan dan perannya hingga saat ini. 

Shalat Jumat di Mesjid Tua Indrapuri

Read More

Minggu, Maret 20, 2022

 


Perang Aceh melawan kolonial Belanda masih menyisakan perlawanan-perlawanan kecil di beberapa wilayah pada tahun 1927. Namun sebagian lainnya telah dikuasai penuh dengan bentuk "Korte Verklaring" atau juga "Domein Verklaring" antara Belanda dengan pemimpin lokal Aceh dikenal uleebalang atau hulubalang, dan sekaligus para pemilik tanah. 

Sebenarnya sebagian besar para hulubalang Aceh tidak pro-Belanda, apalagi anti terhadap perjuangan pejuang-pejuang Aceh. Akan tetapi, lebih mencari posisi aman dengan sikap aturan ganda. Satu sisi mereka menyelamatkan harta kekayaan dan tetap bisa eksis berbisnis, di sisi lain mereka harus membayar pajak dan selalu dalam bayangan teror, dari kedua belah pihak.  

Sejak ditemukannya minyak bumi di Idi Rayeuk, di kawasan "Julok Rayeuk" (Djoeloe Rajeu) telah membuat sebagian besar kolonial Belanda beralih ke Idi, Aceh Timur, menanggalkan wilayah-wilayah pesisir Aceh Besar dan Pidie. Apalagi, kawasan Aceh Timur lebih dekat ke Pangkalan Susu, Pulau Sembilan dan Pulau Kampai yang relatif aman untuk berlabuh kapal-kapal Belanda daripada pelabuhan-pelabuhan di Lhokseumawe, Langsa dan atau Aceh Timur.   







J.H.L van Wijk salah seoarng pengusaha dari Belanda menandatangani kontrak lima tahun dengan Batavian Petroleum Company (BPC) pada tahun 1927 dan memulai proyek pengeboran minyak bumi di "Djoeloe Rajeu" (Julok Rayeuk ?) Idi Aceh Timur. 

Melihat keuntungan besar, J.H.L van Wijk pun tak segan-segan mengucurkan dan membangun infrastuktur modern sekaligus membuat sebuah pemukiman di pedalaman Aceh Timur. 



 Mesin-mesin besar ditempatkan di pedalaman dengan pengawalan ketat dari serdadu Marsose dan serdadu Belanda. Pasukan Marsose yang beranggota penduduk pribumi yang direkrut dan dibayar oleh Belanda diletakkan pada ring paling luar, untuk menangkis serbuan musuh. Sedangkan pasukan Belanda menjada di kawasan utama. 



 

Hutan-hutan lebat nan subur oleh fauna dibabat habis untuk bisa dibangun pabrik sekaligus barak-barak tentara Belanda. Mereka memburu para pejuang di dalam hutan sambil mengeruk hasil alamnya. 



Para pekerja lokal dipaksa bekerja rodi tanpa gaji apalagi pesangon (bonus). Para pejuang Aceh yang ditangkap biasanya tangan dan atau kaki mereka dirantai, guna tidak dapat melawan ataupun melarikan diri. Para pekerja dipaksa untuk tidka mampu memberikan segala perlawanan.

Minyak-minyak bumi ini diolah dan ditempatkan di Aloer-I-Merah (Alue Ie Mirah) sebelum diolah dan digiling di Medan. 


 

Gambar-gambar ini membuktikan Kompani Belanda mengeruk minyak bumi atau dikenal "emas hitam" di pedalaman Idi, dan menyalurkan melalui pipa-pipa ke Alue Ie Mirah (Aloer-I-Merah), dan diteruskan ke Medan untuk ekspor ke Eropa. Untuk melancarkan bisnisnya direkrut pekerja luar dan pekerja lokal. 




Penjajahan bukan hanya sebatas penaklukan suatu wilayah, tetapi juga mengeruk hasil alam dan menindas penduduk di negeri tersebut.


Sumber foto: KITLV

Emas Hitam Idi Aceh Timur dan Tenggelamnya Kapal van Wijk.

Read More

Selasa, Juli 20, 2021



Pelayanan haji di masa Hindia Belanda di Nusantara mendapat sorotan tajam dari beragam pihak, termasuk pemerintahan Belanda di benua Eropa. Walaupun tidak semua tempat mendapat perlakuan yang sama, akan tetapi salah satunya apa yang terjadi di Sidoarjo menjadi perhatian beberapa delegasi. 

Kasus tersebut dapat dilihat pada tulisan Laffan "Sejarah Islam Nusantara" (2015: 198-199) menuliskan bahwa tentang sebuah surat yang dikirim kepada Snouck dari Singapura menyebutkan Sidoarjo dalam kaitannya dengan ketegangan yang meningkat di Riau. Setelah mengunjungi Tanjung Pinang pada Juni 1904, Haji ‘Abd al-Jabbar dari Sambas menyatakan “sangat terkejut” oleh perilaku pemerintah di sana:

"Belanda sangat buruk memperlakukan orang dan tidak menghargai Islam .... Seorang kepala kampung bernama Haji Muhammad Tayyib dipecat dari jabatannya karena menggelar maulid di rumahnya hingga pukul 2.00 dini hari, meskipun rumahnya berada di kampung Melayu yang sangat jauh dari permukiman Belanda. Sementara itu, orang-orang Belanda bisa melakukan apa pun yang mereka suka jika berpesta, baik di rumah maupun di ruang dansa, dengan musik band atau drum dan biola, menari dan membuat kebisingan lain sembari menyulut petasan hingga larut malam, padahal mereka dekat masjid tempat orang-orang sedang shalat. Yang lebih [mengejutkan] adalah mereka memaksa menanami kuburan orang-orang Muslim sehingga makam- makamnya hilang, yang dilakukan oleh para tahanan Belanda yang memerintah negeri ini. Semua muslim di negeri ini, dan negeri-negeri tetangga, sangat tersinggung. Mereka ingin mengeluh, tapi takut menghadapi kekuasaan. Mereka pun hanya mengeluh diam-diam. Jadilah itu potensi pemberontakan melawan pemerintah. Orang-orang selalu menyalahkan para Haji, mengatakan mereka menghasut orang. Oleh karena itu, saya menulis kepada Tuan dengan harapan Paduka Yang Mulia membantu mendiskusikan perilaku dan tindakan orang-orang Belanda yang tidak patut sehingga Orang-orang Besar Batavia bisa mengeluarkan kebijakan dan memberikan bimbingan yang lebih baik, agar tidak terjadi kerusuhan dan pemberontakan seperti yang baru saja terjadi di negeri Jawa, Sidoarjo. Karena Paduka Yang Mulia paling tahu tentang orang-orang Muslim, meskipun banyak yang tidak melaksanakan semua yang diwajibkan agama mereka". 


Perlakuan Belanda melarang acara-acara keagamaan seperti maulid, ceramah, takbiran, dan lain sebagainya. Tetapi di sisi lain, Belanda membolehkan dan membebaskan kaumnya sendiri berpesta meriah, ricuh dan membuat keributan di kampung-kampung orang Muslim. 

Aturan yang ketat kepada masyarakat muslim setempat, ditambah lagi tuduhan-tuduhan tidak beralasan yang dihubungkan dengan para tokoh-tokoh yang pulang dari haji yang kadang dianggap sebagai penghasut.

Perilaku buruk tersebut telah membuat banyak orang geram dan marah, terutama kawasan-kawasan utama Islam di Nusantara, termasuk Aceh. Kerajaan Aceh yang diindependen sebelum invansi Belanda 1873 telah mengirim beberapa kali laporan ke pihak Eropa dan Turki tentang tabiat buruk tersebut, khususnya juga tentang haji. 

Para jamaah haji dari Nusantara mendapat kesulitan dan beragam aturan yang sulit dipenuhi. Untuk mengetahui sejauh mana kesulitan tersebut dapat dilihat pada catatan visa haji ke Mekkah pada era Kolonial Hindia-Belanda

Pada catatan penting (peringatan) di dalam surat itu sebagaimana tercantum beberapa poin (a s/d d) yang harus dipatuhi oleh para calon jamaah haji dar  dalam gambar di bawah ini:



 





Pelayanan Haji Di Jawa Era Kolonial

Read More

Senin, Juli 19, 2021

Era kolonial Hindia-Belanda, tidak semua orang-orang di negeri ini dapat menunaikan ibadah haji, apalagi di daerah-daerah yang masih bergejolak. Beragam usaha perlawanan dilakukan rakyat di setiap wilayah, tetapi sebaliknya bermacam cara Belanda berusaha untuk mengendalikannya. Termasuk izin pergi ke Mekkah (Reispas naar Mekka) untuk menunaikan ibadah haji. 

Izin pergi haji atau semacam visa untuk dapat melewati perbatasan di Nusantara dan memasuki Mekkah menjadi wajib. Tanpa izin tersebut akan dapat banyak perkara, orang-orang tersebut yang pulang dari tanah Haram tersebut akan diawasi. 

Dua dokumen surat visa di bawah ini menunjukkan usaha-usaha Hindia-Belanda mengontrol masyarakat yang pergi dan pulang dari haji.





Dokumen pertama (gbr. 1 & 2) atas nama L. Mohd. Umar  berukuran 47 x 57 cm yang diterbitkan di Surabaya  tahun 1906. Ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Jawa. Kini dikoleksi di Tropen Museum Belanda dengan nomor inventarisir TM-4353-1.

 


Sedangkan dokumen lainnya (gbr 3 & 4) diberikan izin kepada Moekamat Tamin bertanggal 27 Febr 1911 ditulis dalam aksara Latin berbahasa Belanda dan aksara Jawi berbahasa Indonesia (Melayu).  Dan kini menjadi koleksi digital The Khalili Collection.

Melihat bukti-bukti tersebut, tentu setiap daerah wilayah yang diduduki Hindia-Belanda memiliki surat izin atau visa haji. Namun, bagaimana proses mendapatkan surat tersebut, dan hal-hal lainnya yang berkaitan. 

Dan tentu, bagaimana pejuang-pejuang di setiap daerah yang ingin berhaji, bagaimana jalur menuju ke tanah yang diimpikan setiap muslim tersebut. 

Visa Haji ke Mekkah

Read More

Rabu, September 09, 2020

 


Jenderal Belanda bernama Johannes Benedictus van Heutsz Van Heutsz (1851-1924) menjadi juru penyelamat terhadap pemerintah kolonial Belanda yang mulai  kehilangan akal dengan kerugian sumberdaya manusia dan ekonomi akibat Perang Aceh. 

Di awal perang Van Heutsz hanya seorang letnan dua, pangkatnya melesat menjadi gubernur militer di Aceh pada 1898.


Untuk menaklukan Aceh, Van Heutsz berkonsultasi  dengan Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) seorang kontroversi di Aceh atas statusnya. Ia menjadi penasihat kolonial bidang bahasa-bahasa Timur dan hukum Islam. 


Taktik van Heutsz dijalankan sesuai saran dari Snouck Hurgronje dengan taktik adu domba pemimpin Aceh, garda depan perlawanan gerilya rakyat Aceh, kaum ulama dan uleebalang (bangsawan).


Van Heutsz juga melakukan restrukturisasi pasukan Belanda dan pasukan Marsose, yang secara resmi diterjunkan ke Aceh pada tanggal 20 April tahun 1890 untuk menggantikan pasukan Belanda yang banyak mati di Aceh.


Taktik kejahatan perang juga dilakukan seperti bumi hangus setiap kampung dan wilayah yang melawan Belanda. Perang di Batee Iliek menjadi saksi kejahatan perangnya. 

Penyerbuan Belanda ke Batee Iliek

Aksi kejahatan lainnya adalah  pembantaian di beberapa wilayah di Aceh. 

Berkat aksinya di Aceh, pamor Van Heutsz kian naik sampai puncak menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (1904-1909).


Dia memperkenalkan sekolah dasar di desa-desa untuk pengajarannya diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia (penggunaan aksara Latin dan dialek Melayu)


Tanggal 9 September 1904, ratu Belanda mengangkat van Heutsz menjadi gubernur jenderal, singgasana kolonial yang tertinggi di tanah Hindia Belanda. Perkembangan ini dengan sendirinya menarik perhatian untuk dapat dipahami serta sedikit mengenai latar belakang dari "Gayo-tocht" yang telah diselesaikan oleh van Daalen tersebut. (Said: 338)

Kuburan van Heutsz


Guna mengenang jasanya, maka pemerintahan Belanda memberikan beberapa kehormatan kepadanya:

  • Kapal Van Heutsz diluncurkan pada Maret 1926. Kapal penumpang ini melayari rute Hindia Belanda ke Singapura dan Cina dalam naungan Perusahaan Pelayaran Kerajaan Belanda (KPM). Selama Perang Dunia II, Van Heutsz disewakan kepada Kementrian Transportasi Perang Inggris terhitung sejak 25 Juni 1942, sebelum akhirnya berhenti beroperasi pada 1957. Dua tahun kemudian jadi besi tua.

  • Nama jalan tak jauh dari Monumen Van Heutsz di Menteng, terdapat jalan Van Heutsz Boulevaard. Ketika Belanda membangun kawasan elite Menteng pada 1920-1930, jalan raya lebar ini dibangun untuk memfasilitasi kawasan elite Menteng yang penuh dengan bangunan-bangunan mewah. Ketika Indonesia merdeka, Taman Cut Mutia dan Jalan Tengku Umar di dekatnya pada masa Belanda dinamakan Van Heutsz Boulevaard (Jalan Raya Van Heutsz) (kini Jalan Teuku Umar pahlawan dari Aceh)., terdapat dua buah boulevard (jalan raya lebar) lainnya, yakni Oranye Boulevard (kini Jalan Diponegoro) dan Nassau Boulevard (kini Jalan Imam Bonjol).

  • Resimen untuk citra militeristik Van Heutsz hidup kembali dalam nama resimen infantri tentara Kerajaan Belanda, Regiment van Heutsz, yang dibentuk pada 1 Juli 1950. Resimen yang berperan dalam aksi pertahanan udara ini dibentuk sebagai “pembawa tradisi KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda)” dan dipersiapkan sebagai partisipasi Belanda dalam Perang Korea (1950-1953)

  • Lagu mars militer pun merekam Nama Van Heutsz yang turut diabadikan, seperti tercantum dalam sebuah situs tentang Van Heutsz (vanheutsz.nl). Mars tersebut, yang dinamakan Mars Van Heutsz, diciptakan oleh A. Van Veluwen dan dipentaskan untuk kali pertama pada 1954. Mars ini menjadi mars milik Resimen Van Heutsz. Komposisi mars ini kemudian menginspirasi lagu yang populer di kalangan komunitas Indo-Belanda

  • Monumen van Heutsz di Taman Cut Mutia Menteng Jakarta Pusat. Kemudian tugu monumen dengan gambarnya setengah badan dihancurkan pada tahun 1960an. 


Resource:

- Historia.id

- republika.co.id

- Wikiwand

Van Heutsz, Penjahat Perang di Aceh

Read More

Jumat, Agustus 14, 2020

Bendera-bendera Aceh masih terpancang tinggi di setiap pelabuhan di Aceh sebelum tahun 1874, wilayah-wilayah di luar "Dalam" (Keraton Aceh) di Banda Aceh masih utuh milik Kesultanan dan masyarakat Aceh.

Pada eranya, bendera yang dalam bahasa Aceh disebut "alam" muncul bervariasi mengikuti kekuasaan dan karakteristik masing, di mana bendera-bendera tersebut bukanlah sebuah kedaulatan negara (kesultanan), akan tetapi panji (bendera) perang ataupun wilayah otonomi. 

Oleh karena itu, panji-panji rampasan perang oleh Belanda di Aceh sangat beragam. Demikian pula beberapa kesultanan yang berdaulat ke Kerajaan Aceh juga memiliki perbedaan benderanya dengan Aceh. 

Demikian saat perang melawan Belanda tahap 1 tahun 1873 dan tahap 2 tahun 1874 terus berkecamuk di Aceh, setiap sejengkal tanah di Aceh harus dibayar mahal dengan marwah dan nyawa.  
Sejak peperangan berlangsung, bendera-bendera panji perang terus dipertahankan di Aceh.

Demikian juga saat keterlibatan Teungku Chik di Tiro atau disebut juga Syekh Saman di Tiro Pidie, yang mengibarkan panji (bendera) jihad terhadap kolonial Belanda.

Bendera Teungku Chik di Tiro bukan sebuah bendera kedaulatan, tetapi adalah panji (bendera) perang, di mana bendera itu dikibarkan akan menunjukkan itu tanda wilayah kekuasaan Tgk. Chik Di Tiro, markas dan pasukannya.


Benderanya tersebut memiliki warna dasar merah dan abu-abu coklat muda. Walau tampak sepertinya merah dan putih, hanya saja warna putih sudah mulai memudar. Warna merah menunjukkan simbol keberanian, sebuah warna yang umum digunakan pada bendera-bendera lainnya periode tersebut di Aceh dan alam Melayu. Sedangkan warna putih dimaknai suci, bersih dan shafa (bening). 

Sedangkan di dalamnya terdapat dua gambar pedang saling berhadapan. Gambar pedang tersebut juga digunakan pada beberapa panji bendera di Aceh lainnya, di mana dimaknai sebagai peudeung Saidina Ali r.a. 


Di bawahnya didapati juga tulisan "انيله علامة (عا)لم تغكو دي تيروي " (Inilah alamat Alam Teungku Di Tiro) yang ditempel di atas kain warna abu-abu kecoklatan.

Sejauh ini belum diketahui di mana disimpan bendera Teungku Chik Di Tiro. Dulu saya menemukannya pada blog kleinnagelvoort.file.wordpress.com. Sayangnya, situs tersebut telah kadaluwarsa, sehingga tidak mengetahui dari mana asal dan dimana koleksi bendera tersebut.

Biografi Singkat Tgk. Chik Di Tiro

Teungku Muhammad Saman adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. 

Dengan semangat perang sabilnya, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukannya. 

Keberhasilannya terbesar pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Tgk Di Tiro  dapat merebut benteng Belanda di Lam Baro, Aneuk Galong, Montasiek dan lain-lain. Belanda akhirnya terjepit di sekitar kota Banda Aceh dengan mempergunakan taktik lini konsentrasi (concentratie stelsel) yaitu membuat benteng yang mengelilingi wilayah yang masih dikuasainya.

Teungku Chik di Tiro adalah tokoh yang kembali menggairahkan Perang Aceh setelah menurunnya kegiatan penyerangan terhadap Belanda. Selama ia memimpin peperangan terjadi 4 kali pergantian gubernur Belanda yaitu:
  1. 1. Abraham Pruijs van der Hoeven (1881-1883)
  2. 2. Philip Franz Laging Tobias (1883-1884)
  3. 3. Henry Demmeni (1884-1886)
  4. 4. Henri Karel Frederik van Teijn (1886-1891)
Pada bulan Januari 1891 beliau menghembus nafas terakhir di benteng Aneuk Galong .



Sumber:
https://kleinnagelvoort.files.wordpress.com/2016/09/rv-1429-212.jpg?w=648

Bendera Teungku Chik Di Tiro

Read More

Rabu, April 08, 2020

Belanda menyerang kerajaan Aceh secara sepihak tanpa ultimatum perang pada tanggal 26 Maret 1873. Sejak tanggal itu, Jenderal Belanda F.N. Nieuwenhuyzen, yang memimpin pasukan Belanda dari kapal Citadel van Antwerpen didukung oleh kapal 6 buah kapal perang dinamai "Djambi", "Marnix", "Soerabaja", dan "Sumatra". Ditambah dukungan dua kapal perang milik Belanda dinamai "Marnix" dan “Coehoorn" dari Pulau Pinang.

Selain itu, dua kapal 2 buah kapal angkatan laut pemerintah ("Siak" dan "Bronbeek"), 5 buah barkas, 8 buah kapal peronda, 1 buah kapal komando, 6 buah kapal pengangkut, serta 5 buah kapal layar, masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut, yaitu 3 buah untuk pasukan artileri, kavaleri dan pekerja-pekerja, 1 buah untuk amunisi dan perlengkapan, serta 1 buah untuk orang-orang sakit.

Kapal Perang Belanda "Soerabaia" tahun 1905. Lihat: http://www.netherlandsnavy.nl/JVH.htm

Tampaknya, mulai tanggal 26 Maret sampai 3 April telah terjadi perang di laut, namun sayangnya belum ada informasi mendetail tentang perang di laut tersebut antara kapal laut Aceh dengan kapal perang Belanda.

Merujuk ke beberapa sumber, Belanda mulai masuk melalui perairan Aceh antara tanggal 4 atau 6 April. Pada tanggal tersebutlah perang di darat terjadi, tepatnya di Pantai Ceureumen Ule Lheue dan kemudian di area sekitar Mesjid Raya Baiturrahman.

Pendaratan pertama Belanda di Aceh pada awal bulan April 1873 di Pantai Ceureumen, Ulee Lheue Banda Aceh
Merujuk ke beberapa sumber, Belanda mendarat tanggal 6 April untuk pertama kali di Pantai Ceureumen, sebelah Timur Ulèe Lheue, mereka dipukul mundur oleh pejuang-pejuang Aceh yang telah berjaga di pos-pos kerajaan Aceh.

Dan, barulah pada tanggal 8 April berikutnya seluruh induk pasukan Belanda didaratkan di bumi Aceh yang berjumlah 3600 pasukan militer. Pendaratan ini dipimpin oleh mayor jenderal
J.H.R. Köhler, dibantu oleh wakilnya merangkap komandan infanteri kolonel E.C. van Daalen.

Pada hari pendaratan pertama saja kapal perang "Citadel van Antwerpen" memperoleh dua belas tembakan meriam lila (meriam kecil) milik pasukan kerajaan Aceh.


Bencana Awal April 1873 di Aceh

Read More

Senin, Maret 11, 2019

James Loudon (1872-1873) hanya menjabat satu tahun sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebagai pengambil keputusan untuk memerangi Aceh. Perang yang diperkirakan hanya berlangsung beberapa minggu, ternyata tidak berjalan sesuai dengan rencana. Bahkan, petaka perang paling lama dengan kerugian paling besar dalam sejarah Pemerintah Hindia Belanda.

Bukan hanya sebatas itu, perang ini juga merupakan tragedi paling merugikan bagi Belanda, di mana 75% keuangan negara harus dialokasi untuk memerangi pejuang Aceh. Pantas, negeri-negeri jajahan lainnya dipaksa kerja bertahun, tanpa gaji dan tidak ada tunjangan demi menutupi kerugian tersebut.

James Loudon kelahiran tahun 1824 berdarah keturunan Inggris yang datang dan masuk ke Hindia Belanda. Ia menjadi warga negara Belanda dan jadi pengusaha monopoli gula. Itu sebabnya kedekatan Belanda-Inggris pada tukar guling wilayah yang akan dijajah dan terjajah beberapa tahun sebelum perang pecah.

Kini, tak lama menjabat, dia harus menanggung malu dan berselisih pendapat terhadap keputusannya tersebut dengan para pejabat di Belanda. Akibatnya, sejumlah Menteri Kabinet Belanda mengundurkan diri sebagai tanda tidak setuju. Sebagian lainnya menentang untuk secepatnya dihentikan. Alhasil, Loundon pun akhirnya terpaksa berhenti juga setelah mengalami kekalahan pada perang Belanda-Aceh pertama.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon (1872
James Loundon juga orang yang paling bertanggung jawab atas banyaknya kematian selama agresi pertama terjadi, bukan hanya terhadap orang-orang Aceh, tetapi juga terhadap bumiputera (orang lokal) yang disewa Belanda, para perwira Belanda dan terkhusus terhadap Jenderal Köhler.

Köhler yang terkenal itu mengalami sial saat hendak merayakan kemenangannya di tanah Aceh, beberapa hari melihat kondusi semakin kondusif, berharap pasukan mujahidin Aceh telah kalah dan mundur dari Mesjid Raya Baiturrahman. Tetapi, di depan mesjid raya, ia tewas ditembak oleh pejuang Aceh. Akibatnya, pasukan ini harus kembali lebih awal ke Batavia (Jakarta).


Dalam laporan James Loundon di Bogor, bulan Mei 1873, menyebutkan bahwa saat mengetahui Jenderal Kohler mati, maka saya (red. Loundon) mengangkat Jenderal Verspijck menjadi Kepala Staf Armada. Sementara para komisaris Pemerintah Belanda urusan Aceh mulai mempertimbangkan untuk berhenti bertempur dengan Aceh, dan mencari alasan yang tepat atas penarikan pasukan  untuk dilaporkan ke Pemerintah di Belanda.

Salah satu alasan yang dibuat-buat adalah musim penghujan sudah tiba dan menghambat hubungan antara daratan dengan tempat-tempat kapal berlabuh. Dengan tidak adanya hubungan pasokan dari kapal utama ke para prajurit Belanda di darat, maka sudah tepat untuk kembali ke Batavia dan menunggu cuaca yang mendukung, sekaligus mencari dana dan kekuatan yang lebih besar. Sebab, agresi pertama ini Belanda mengalami kerugian besar.

James Loudon (source: Wikipedia)

Walaupun James Loundon mengucapkan “selamat datang kembali (kepada armada agresi pertama) di tengah-tengah kami semua....”, yang pada akhirnya ia pun berhenti (dipecat) atas kegagalan ini.

Dalam laporannya juga disebutkan bahwa, para prajurit Belanda berbahagia, sebab pejuang-pejuang Aceh tidak menembak kapal-kapal dengan meriam yang dimiliki. Hingga saat berlayar kembali, semuanya tampak kondisi tenang dan kondusif, walaupun gejolak keduanya tidak dapat dibendung.

Tentu saja masih banyak pertanyaan yang harus diuraikan tentang teknik dan strategi orang Aceh berperang, apakah membiarkan musuh yang telah merusak tatanan di Aceh dibiarkan pergi, atau memang kondisi Aceh yang tidak memiliki persenjataan besar lagi, seperti meriam untuk membantai kapal-kapal Belanda yang bersandar di perairan Aceh.
Penjelasan tentang Perang Aceh dengan Belanda tertera di bagian ruang di Museum Bronbeek, Belanda. Photo: Hermankhan

Namun, amatan saya juga melihat duka mendalam bagi para pejuang Aceh, selain mesjid terbakar akibat meriam bola api, juga syahidnya Imam mesjid raya (anonim). Syahidnya sang Imam Mesjid Raya Baiturrahmah terekam jelas pada catatan di dalam Mushaf Aceh yang kini disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.

Baca juga tentang Mushaf Mesjid Raya Baiturrahman: Darah Imam di Mushaf Mesjid Raya Baiturrahman


*Rujukan dari berbagai sumber  

Loudon: Selamat Jalan Kohler, Aku Dipecat.

Read More

Sabtu, Maret 02, 2019

Jumat pagi, 7 Maret 1873, cuaca cerah menyinari kota Batavia. Upacara pelepasan pasukan Belanda dengan senjata penuh menuju perairan Aceh telah disiapkan. Kapal-kapal perang dan kapal laut sipil siap dikerahkan ke perairan Aceh. Belanda cukup mengetahui kekuatan Aceh, walau tidak sehebat dan setangguh periode sebelumnya. Informasi tentang itu sepertinya diperoleh dari internal orang Aceh, atau orang dari serumpun (yang kemudian diistilahkan dengan bumiputera). Memang, kemunduran Aceh diawali konflik (perang) internal di Kesultanan Aceh disebabkan perebutan (pembagian) kekuasaan, sebagaimana disebut dalam Hikayat Po Tjut Muhammad.

Kekuatan Belanda yang dikerahkan pada agresi pertama sebenarnya tergolong besar. Tidak kurang dari 7 tujuh kapal perang berlayar menuju Aceh, kapal perang milik Belanda "Citadel van Antwerpen", "Marnix", "Coehoorn", "Bronbeek". Kapal pemerintahan sipil (kemungkinan kapal milik kesultanan lainnya di kepulauan Melayu dan Nusantara) bernama "Siak", "Djambi", "Soerabaja", dan "Sumatra" yang dioperasionalkan untuk mengangkut para pekerja dan pasukan bayaran dari daerah lain.


Secara detail terdapat 5 barkas (kapal laut kecil), 8 buah kapal peronda, 1 buah kapal komando, 6 buah kapal pengangkut, serta 5 buah kapal layar, masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut, yaitu 3 buah untuk pasukan artileri, kavaleri dan para pekerja, 1 buah untuk amunisi dan perlengkapan, serta satu buah kapal untuk kedokteran dan palang merah.

Komandan armada ialah kapten laut J.F. Koopman. Angkatan darat dan laut itu yang seluruhnya terdiri dari 168 orang perwira (140 orang Eropah, 28 orang bumiputera), 3198 orang bawahan (1098 orang Eropah dan 2100 orang bumiputera), 31 ekor kuda untuk perwira, 149 ekor kuda pasukan, 1000 orang pekerja paksa dengan 50 orang mandor, 220 orang wanita bumiputera (8 orang setiap kompi) serta 300 orang laki-laki bumiputera sebagai pelayan perwira-perwira, dipimpin oleh mayor jenderal J.H.R. Köhler, dibantu oleh wakilnya merangkap komandan infanteri kolonel E.C. van Daalen, disertai pula oleh kepala dan wakil kepala staf, ajudan-ajudannya, komandan-komandan batalion, Zeni, kesehatan dan topografi.

Keberangkatan kapal-kapal perang tersebut diharapkan pertengahan bulan Maret 1873, sehingga sebelum ultimatum itu dikumandangkan, kapal-kapal telang memblokade perairan Aceh. Tujuannya untuk menutupi akses laut Aceh dari bala bantuan dan hubungan Kesultanan Aceh dengan negara-negara tetangga atau yang masih mengakui kedaulatan Aceh. Tujuan lainnya untuk menunjukkan bahwa pihak Belanda memiliki kekuatan penuh yang dapat menaklukkan Aceh seketika.

Kapal Perang Ustmani Ertugrul sekitar tahun 1863. Kemungkinan besar kapal perang sejenis ini digunakan di Aceh pada periode abad ke 18-19 M.  (Project Ertugrul/Syamina)

Namun sejauh ini, perlu dikaji kembali apakah pasukan Aceh pernah menyerang kapal-kapal Belanda yang akan berlabuh dan mengepung Aceh pada detik-detik hubungan Aceh dengan Belanda semakin panas. Sebagaimana dalam riwayat, bahwa Kesultanan Aceh memiliki kapal perang, kapal laut sipil dan beberapa kapal yang ditakuti di jalur selat Malaka dan perairan Aceh [Bersambung]




Detik-detik Perang Belanda-Aceh: Pasukan dan Peralatan Perang Belanda (2)

Read More


Dari Riau, kapal Laut "Marnix" kemudian bersandar di pelabuhan yang tidak terlalu besar di Singapura. Salah satu penumpangnya adalah beberapa orang utusan dari Aceh yang ingin mengadakan hubungan dengan konsulat Amerika dan Italia. 

Pada dasarnya, Konsul Amerika sendiri bersama para utusan tersebut mempersiapkan sebuah konsep perjanjian kerja sama sederajat antara Amerika dan Aceh dalam menghadapi ancaman Belanda. 

Hubungan Aceh dengan Amerika sudah terjalin sebelumnya, pernah membaik dan memburuk, khususnya antara tahun 1831-1832 saat penyanderaan kapal "Friendship" milik Amerika oleh Aceh dan penyerangan balasan oleh Amerika dengan kapal laut USS "Potomac" di wilayah Barat Daya Aceh yang dikenal “Quallah Battoo” atau Kuala Batee. Inilah serangan pertama sekali negara Amerika ke Asia Tenggara.



Belanda sendiri telah mengawasi gerak-gerik para saingannya, terutama Amerika dan Italia dan menemukan bukti konsul-konsul tersebut telah membantu kedudukan Aceh. 


Tepat tanggal 18 Febr 1873 Para penguasa di Nederland memerintahkan James Loudon untuk mengirim pasukan angkatan laut  ke Aceh untuk mewaspadi gerakan lain yang berkoalisi dengan Aceh. Wilayah perairan Aceh diblokade dari bantuan luar negeri.

Belanda khawatir jika dikemudian Amerika akan membantu Aceh. Maka pada 1 Maret 1873 Gubernur Belanda mengangkat F.N Nieuwenhuyzen sebagai Komisaris Pemerintah Hindia Belanda.

Pada tanggal 2 Maret 1873, ia mendapat tugas utama dan berat yaitu dikirim sebagai delegasi ke Aceh dengan misi membujuk dan mengusahakan Sultan Aceh agar mengakui kedaulatan Belanda. 

Andaikata Aceh mau mengakui kedaulatan Hindia Belanda yang berpusat di Batavia (sekarang Jakarta), maka tidak akan ada pengiriman pasukan untuk penyerangan Aceh.

Namun, Kesultanan dan rakyat Aceh adalah bangsa yang merdeka dan berdaulat, mengetahui bahwa Belanda sedang menjajah beberapa negeri serumpun di kepulauan kecil dan besar, pulau Jawa, pulau Sumatera dan lainnya. Penjajahan dan penindasan inilah yang ditolak oleh Aceh. [bersambung] 


* Gambar pertama Surat Sultan Aceh Mansur Syah bin Sultan Jauhar Alam Syah kepada Sultan Ottoman Turki SUltan Abdul Majid Khan bin Sultan Mahmud Khan.
* Gambar kedua lukisan peperangan kapal Potomac milik Amerika ke daerah Kuala Batee di Aceh Barat Daya

Note: Referensi dari berbagai sumber.
- Dr İsmail Hakkı Kadı, Dr Annabel Teh Gallop and Dr Andrew Peacock. Islam, Trade and Politic Across the Indian Ocean.
- Teuku Ibrahim Alfian, Perang Dijalan Allah: Perang Aceh 1873-1912.
- Anthony Reid, The Contest for North Sumatra: Aceh, the Netherlands and Britain, 1858-1898



Detik-detik Perang Belanda-Aceh: Diplomasi Dalam Perang (1)

Read More

Selasa, September 26, 2017

Pengadilan Jakarta Pusat, Kamis (24/8/2017) menggelar sidang lanjutan perkara gugatan Asrizal H Asnawi terhadap Bank Indonesia (BI) yang menerbitkan gambar pahlawan wanita asal Aceh, Cut Meutia tanpa penutup kepala di uang pecahan Rp 1.000.
Untuk diketahui, Asrizal H Asnawi yang menggugat gambar Cut Meutia pada uang kertas Rp 1.000, saat ini menjabat sebagai Anggota DPR Aceh, sekaligus Ketua Fraksi PAN DPRA.
Kuasa hukum penggugat, Safaruddin SH dalam pesan Whatapps kepada Serambinews.com mengatakan, sidang lanjutan dengan agenda pembuktian ini dimulai pada pukul 14.30 WIB. Dengan majelis hakim, Tafsir Sembiring Meliala SH MH (ketua), Abdul Kohar SH MH, dan Desbenneri Sinaga SH MH.
Safaruddin yang mendampingi Asrizal H Asnawi dalam persidangan tersebut mengatakan pihaknya mengajukan sejumlah bukti untuk memperkuat alasan menggugat.
1. Catatan Ahli Sejarah Aceh, Hermansyah dengan judul: Peuteupat (meluruskan) Sumber Sejarah Pahlawan, yang mengkaji tentang foto Cut Meutia yang digunakan oleh Bank Indonesia dalam uang pecahan Rp1000,-.
Foto perempuan Aceh, karya Christiaan Benjamin Nieuwenhuis (1901) yang diduga sebagai cikal bakal gambar Cut Meutia. (KITLV)
Dalam hal ini dapat merujuk kepada dua alternative/versi:
1. Foto versi lainnya Cut Mutia dalam buku resmi Belanda-Indonesia berjudul "Perang Kolonial Belanda di Aceh" (1977) (Gambar 113. Hal. 153) Pelukis: Gambiranom (antara tahun 1960-1970). Walaupun tidak wajah asli Cut Mutia, tetapi foto ini yang digunakan dalam buku tersebut resmi.
2. Versi kedua mereproduksi kembali sketsa Cut Mutia merujuk kepada foto cucu perempuannya.
Sketsa tersebut dapat dilakukan seperti gambar Pocut Meurah Biheue oleh Gambiranom di dalam buku yang sama (Gb. 107 hal. 147). Atau sketsa tokoh Tgk Chik Di Tiro atau Tgk Chik Abbas Kutakarang oleh Belanda.
Pihak penggugat juga mengajukan sederet bukti dokumen lainnya. Seperti, Bahagian Buku Aceh Bumi Srikandi yang diterbitkan oleh Pemerintah Aceh tahun 2008, yang menerangkan sosok Cut Meutia sebagai pahlawan Aceh.
Bahagian Buku: Aceh Tanah Rencong, yang diterbitkan oleh pemerintah Aceh tahun 2008, yang menerangkan sosok dan rekaan wajah Cut Meutia dengan memakai hijab.
Bahagian Buku: Ensiklopedi Aceh yang diterbitkan oleh Pemerintah Aceh tahun 2008, yang menerangkan tentang pakaian Cut Meutia pada masa itu. Serta referensi Gambar Cut Meutia dari berbagai sumber.
"Sidang akan dilanjutkan pada tanggal 7 September 2017 dengan agenda pemeriksaan saksi fakta dan saksi ahli dari penggugat," kata Safaruddin yang juga menjabat Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA).

Penggugat Uang Seribu Ajukan Sederet Bukti Ke Pengadilan

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top