Tampilkan postingan dengan label Jawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 04, 2020

Dasar tulisan Jawi merujuk kepada huruf hijaiyyah, kecuali beberapa huruf tambahan yang mengikuti fonetik Melayu ditambah (dipinjamkan) huruf Parsi. Tulisan Jawi adalah tulisan Melayu yang memakai aksara Arab atau aplikasi huruf Arab dalam bahasa Melayu, yaitu tulisan yang banyak dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak periode Kesultanan hingga saat ini yang telah tumbuh yang diperkirakan telah muncul pada abad ke-14 M.

Kini dapat disebut juga digunakan di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Indonesia, Thailand Selatan (Patani, Yala, dan Narathiwat), dan Philipina Selatan (Mindanao dan sekitarnya) 

Teks Tata Bahasa Arab yang diterjemah dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi. MS Koleksi Museum Aceh Cod. 07.518
Teks Tata Bahasa Arab yang diterjemah dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi. MS Koleksi Museum Aceh Cod. 07.518

Pada dasarnya tulisan Jawi merupakan tulisan Arab yang dipakai secara utuh dan ditambahkan beberapa huruf yang diubah dengan menambah titik-titiknya guna menyesuaikan dengan konsonan yang berlaku dalam bahasa Jawi.


Teks Shirat al-Mustaqim karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry
Teks "Shirat al-Mustaqim" karya Nuruddin Ar-Raniry pada abad ke-17 M yang menyebutkan "mutarajjaman bi-bilisan al-Jawi, menterjemahkan daripada bahasa Arab kepada bahasa Jawi"

Bukti tertua tentang munculnya tulisan Jawi di Asia Tenggara adalah ditemukannya Batu Bersurat Trengganu yang bertanggal 4 Rajab 702 H (22 Februari 1303 M) yang bertulis huruf Jawi yang berisi undang-undang dan hukum Islam yang berlaku di Trengganu adad ke-14 M. 


Mir'at at-Thullab karya Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri

Teks "Mir'at ath-Thullab" karya Syekh Abdur Rauf al-Jawi al-Fansuri yang menyebutkan "Dua orang saudarakuk yang salih lagi fadhil lagi fashahah keduanya pada bahasa Jawi itu"

Setelah itu, juga ditemukan Batu Bersurat di Pahang dengan pertanggalan lebih muda hampir dua abad dari temuan pertama, yaitu 15 Syawal 900 H (7 Juli 1495) dengan jenis tulisan yang sama. Dengan demikian, berarti tulisan Jawi sudah dipakai dalam penulisan pada abad ke-14 M dan setelah itu tulisan tersebut telah dipakai sebagai media penulisan naskah-naskah dalam berbagai bentuk. 




Artikel lengkap: KESULTANAN PASAI PENCETUS AKSARA JAWI (TINJAUAN NASKAH-NASKAH DI NUSANTARA)

Tulisan dan Aksara Jawi [Periode Awal Kesultanan Aceh]

Read More

Rabu, April 01, 2020

Dalam dunia pernaskahan, kolofon (colophon) menjadi salah satu bagian penting terhadap identitas sebuah naskah kuno atau manuskrip. Bagian kolofon akan diperoleh berbagai informasi penting, yang sebagiannya, di luar kandungan utama teks.

Merujuk ke KBBI, kolofon adalah catatan penulis yang pada umumnya terdapat diakhir naskah atau terbitan, berisi keterangan mengenai tempat, waktu, dan penyalin naskah.

Menurut Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia (1995), kolofon adalah catatan yang terdapat pada halaman akhir teks, biasanya berisi keterangan mengenai penyalin, tarikh dan tempat penyalinan teks.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2018) seirama dengan sebelumnya, yaitu paragraf dalam naskah yang biasanya berisi keterangan tentang tarikh serta tempat penulisannya, umumnya ditulis di awal atau di akhir teks.

Fungsi kolofon  menjadi bagian penentu usia teks dan penulisan naskah, khususnya penyalinan teks itu terjadi. Penentuan usia naskah dapat diketahui mudah saat dijumpai kolofon, karena di dalamnya tertera selesai penyalinan. Biasanya dalam teks Melayu (termasuk Aceh) ditulis dengan kata “Tamat”, mengadopsi kata Arab “Tammat”.

Kolofon juga dapat menjadi penentuan posisi naskah itu sendiri, apakah teks autograf, arketip, atau hiperketip. Sehingga sangat membantu para pengkaji naskah dalam membandingkan teks dan naskah, sehingga dapat ditemui naskah yang tua dan naskah salinan yang paling muda.

Kadang kala kolofon juga menyertai waktu dan tempat secara detail. Informasi tersebut tentu akan membantu para pengkaji naskah dalam mendeskripsikan naskah, informasi naskah, dan jaringan naskah itu sendiri.

Walaupun demikian belum tentu semua naskah memiliki kolofon dengan berbagai faktor, misalnya sikap rendah hati seorang penyalin atau empunya naskah.

Sedangkan sebagian besarnya naskah-naskah di Alam Melayu, khususnya di Aceh terdapat kolofon dengan beragam informasi dan narasi yang sebagian besarnya berbentuk segitiga, sebagaimana contoh-contoh di bawah ini:


Kandungan teks:

Tammat at-Tafsir (Red. Turjuman al-Mustafid) Faqir al-Haqir wahiya al-Hajj Al-imam Abdus Shamad bin Talib fi Zawiyah Lampaseh  fi al-waqti adh-Dhuha fi yaum Arbi’a, Arba’ata al-Ayyam Syahr Rabi’i al-Awwal min sana hal-Ba. Hijrah Nabi Sh (Shallallahu ‘Alaihi Wasallama). Seribu Dua Ratus Empat Puluh Dulapan [Delapan) Tahun. Adapun yang menyurat di orang yaitu Abdus Shamad dan Abdul Mu’thi. Wabillahi at-Taufiq. 1248 H.

Informasi Tafsir lebih lanjut di sini  ***

Teks lainnya yang menunjukkan kolofon:

Kandungan teks:

Tammat al-Kitab bi'aunillah al-Malik al-Wahhab al-Musamma bi-Asrar as-Suluk. Ta'lif Syaikhuna Faqih Jalaluddin, nafa'a Allah bihi. Amin ya Rabb al-'Alamin.
Wa-Sahibuhu wa katibuhu Faqir al-haqir al-mu'taraf bid-dhanbi wa at-Taqshir minallah ma'a qillati al-'ilmi wa al-'amal. 
Tammat al-kitab min Syahr Rabi'i al-Awwal min yaum al-Jum'at, dakhalat yaumuhu tsamaniyyah, wa Shallallahu 'ala Sayyidina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi Ajma'in. Amiin. Tamma

Dapat dimaknai "Tamat kitab atas pertolongan Allah yang Maha Menguasai dan Yang Maha Anugerah dinamainya dengan Asrar as-Suluk. Pengarang adalah syekh kita Fawih Jalaluddin, semoga Allah memberinya manfaat. Amin Ya Rabbal 'Alamin.
Dan pemiliknya dan penulisnya fakir lagi hina dipenuhi dengan dosa dan kekurangan kepada Allah disertai ilmu dan amal yang sedikit.
Tamat kitab pada bulan Rabiul Awal di hari Jumat, telah masuk penanggalannya delapan hari bulan. Segala salawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarganya dan seluruh sahabatnya. Amin".

Kolofon yang ke dua menunjukkan beberapa informasi kolofon yang kurang lengkap, antaranya dengan sengaja tidak disebut nama penyalin atau penulis. Juga, tidak tercantum tahun penanggalan penulisan teks tersebut.

Terdapat juga kolofon lebih ringkas:

Kandungan teks:

Tammat al-Kitab *** Hadist al-Arba'in fi Syahri Dhi-Hijjah fi yaumi al-Isnaini. Amin. Amin.

Artinya: Tamat kitab *** Hadist Arbain (Hadist 40) pada bulan haji pada hari Senin. Amin- Amin".


Dengan demikian, kolofon menjadi identitas dan informasi tentang teks, biasanya terletak di bagian paling akhir teks atau penghujung kitab.

Kolofon Manuskrip

Read More

Sabtu, Mei 25, 2019


Beberapa hari lalu, teman-teman di media sosial (medsos) mengirim sebuah teks naskah ramalan dari sebuah tulisan di situs tentang ramalan Syekh Abdurrauf al-Fansuri atau dikenal juga Teungku Syiah Kuala yang bernama kitab Mandiyatul Badiyah.

Tulisannya berjudul “Pergantian Presiden Tahun 2019 (1440 H) menurut Kitab Mandiyatul Badiah karya Teungku Syiah Kuala Negeri Aceh” yang meramal Aceh dan Indonesia masa lalu, saat ini dan masa mendatang.

Dengan dalil-dalil yang lemah, penulis artikel tanpa menggunakan nama asli yang berinisial Abu Qurma al-Masyriqy (AQM) tersebut mangaduk dan merunut kejadian-kejadian yang telah berlalu dengan ramalan dusta, bercampur mitos dan fakta-fakta yang pernah terjadi.

Semua prediksi dan ramalan dalam tulisannya tersebut adalah dusta. Kebohongan yang dibangun dalam beragumentasi sangat jelas, selain manuskrip bodong alias palsu bin hoax, juga mengaitkan kebohongan tersebut dengan membawa nama ulama besar Aceh dan alam Melayu, Syaikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri yang dikenal sekarang Syekh Syiah Kuala.

Beberapa kepalsuan yang nyata jelas terlihat di antaranya, Pertama; Kitab Mandiyatul Badiyah bukanlah karya Abddurrauf Syiah Kuala, sebab judul yang umum "Mawa'idul Badi'ah" (Petuah-petuah berharga) yang membahas seputar hadist Nabi dan tasawuf . Sejauh ini, Abddurrauf Syiah Kuala tidak pernah mengarang kitab dengan judul tersebut. Penelusuran dan penelitian saya pribadi, peneliti local, nasional bahkan internasional tidak pernah menyentil judul ini.



Kekeliruan kedua disebutkan “ramalan Syiah Kuala yang wafat pada tahun 1699 H ini memberikan gambaran tentang perjalanan Negeri Aceh (Bilad al-Asyi) dulu dan masa mendatang” adalah kekeliruan luar biasa. Pada hakikatnya, Syiah Kuala meninggal 1693 M, sedangkan tahun 1699 adalah meninggalnya (turun tahta) Sultanah Zainatuddin Kamalat Syah (Sultan perempuan ke-4 di Kesultanan Aceh). Sehingga tahun ramalan jauh setelah Abdurrauf Syiah Kuala meninggal.

Dusta yang ketiga adalah menghubungkan ramalan dengan sejarah Aceh yang tidak linier, bahkan mengada-ngada. Seperti wasiat Nabi Khidir untuk Sultan Iskandar Muda (1606-1637) dan Abdurrauf Syiah Kuala (1661-1693). Keduanya berbeda periode dan tidak saling jumpa, sehingga tidak mungkin mewasiatkan satu sama lainnya tentang ramalan tersebut.

Poin paling penting adalah sisi kajian filologis dan kodikologis, selembar kertas (di Aceh dikenal arakate atau sarakata) tidak disebut kitab. Struktur kitab tidak memenuhi manuskrip secara umum yang ditulis oleh Syekh Abddurauf terdiri dari pembukaan, selawat, sebab, nasab, judul dan isi. Sedangkan sisi paleo-kodikologis menunjukkan teks tulisan periode modern, sebab itulah ditulis "dinukilkan dari pada Syekh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala)" bahwa kata Syiah Kuala hadir pada tahun 1960an. Sedangkan ukuran kertas jauh dari ukuran normal kertas naskah kuno umumnya.  

Alasan selanjutnya bahwa, Syiah Kuala sendiri menentang ramalan-ramalan yang bersifat mistis dan tidak sesuai dengan syariat. Hal tersebut diungkap dalam kitabnya tentang sakaratul maut. Pada saat itu, ia menentang tentang paganism dan sinkritisme di masyarakat Aceh di saat seseorang meninggal akan bercahaya dengan warna (aura) sesuai perilaku seseorang.

Oleh karena itu, perihal tersebut menunjukkan AQM telah bersembunyi dalam selimut kepalsuan dan mengatasnamakan ulama besar Aceh untuk kepentingan politik praktis dan untuk pribadinya saja. Kejahatan ini harus ditindak oleh lembaga  pemerintah terkait keagamaan di Aceh seperti Dinas Syariat Islam (SI), Majelis Permusyawaratan Aceh (MPU), ataupun seperti Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) supaya tidak terus berkembang ramalan hoax dan telah mencatut nama ulama Aceh untuk kepentingan tertentu. []

Mandiyatul Badiyah Manuskrip Hoax

Read More

Sabtu, Maret 02, 2019


Dari Riau, kapal Laut "Marnix" kemudian bersandar di pelabuhan yang tidak terlalu besar di Singapura. Salah satu penumpangnya adalah beberapa orang utusan dari Aceh yang ingin mengadakan hubungan dengan konsulat Amerika dan Italia. 

Pada dasarnya, Konsul Amerika sendiri bersama para utusan tersebut mempersiapkan sebuah konsep perjanjian kerja sama sederajat antara Amerika dan Aceh dalam menghadapi ancaman Belanda. 

Hubungan Aceh dengan Amerika sudah terjalin sebelumnya, pernah membaik dan memburuk, khususnya antara tahun 1831-1832 saat penyanderaan kapal "Friendship" milik Amerika oleh Aceh dan penyerangan balasan oleh Amerika dengan kapal laut USS "Potomac" di wilayah Barat Daya Aceh yang dikenal “Quallah Battoo” atau Kuala Batee. Inilah serangan pertama sekali negara Amerika ke Asia Tenggara.



Belanda sendiri telah mengawasi gerak-gerik para saingannya, terutama Amerika dan Italia dan menemukan bukti konsul-konsul tersebut telah membantu kedudukan Aceh. 


Tepat tanggal 18 Febr 1873 Para penguasa di Nederland memerintahkan James Loudon untuk mengirim pasukan angkatan laut  ke Aceh untuk mewaspadi gerakan lain yang berkoalisi dengan Aceh. Wilayah perairan Aceh diblokade dari bantuan luar negeri.

Belanda khawatir jika dikemudian Amerika akan membantu Aceh. Maka pada 1 Maret 1873 Gubernur Belanda mengangkat F.N Nieuwenhuyzen sebagai Komisaris Pemerintah Hindia Belanda.

Pada tanggal 2 Maret 1873, ia mendapat tugas utama dan berat yaitu dikirim sebagai delegasi ke Aceh dengan misi membujuk dan mengusahakan Sultan Aceh agar mengakui kedaulatan Belanda. 

Andaikata Aceh mau mengakui kedaulatan Hindia Belanda yang berpusat di Batavia (sekarang Jakarta), maka tidak akan ada pengiriman pasukan untuk penyerangan Aceh.

Namun, Kesultanan dan rakyat Aceh adalah bangsa yang merdeka dan berdaulat, mengetahui bahwa Belanda sedang menjajah beberapa negeri serumpun di kepulauan kecil dan besar, pulau Jawa, pulau Sumatera dan lainnya. Penjajahan dan penindasan inilah yang ditolak oleh Aceh. [bersambung] 


* Gambar pertama Surat Sultan Aceh Mansur Syah bin Sultan Jauhar Alam Syah kepada Sultan Ottoman Turki SUltan Abdul Majid Khan bin Sultan Mahmud Khan.
* Gambar kedua lukisan peperangan kapal Potomac milik Amerika ke daerah Kuala Batee di Aceh Barat Daya

Note: Referensi dari berbagai sumber.
- Dr İsmail Hakkı Kadı, Dr Annabel Teh Gallop and Dr Andrew Peacock. Islam, Trade and Politic Across the Indian Ocean.
- Teuku Ibrahim Alfian, Perang Dijalan Allah: Perang Aceh 1873-1912.
- Anthony Reid, The Contest for North Sumatra: Aceh, the Netherlands and Britain, 1858-1898



Detik-detik Perang Belanda-Aceh: Diplomasi Dalam Perang (1)

Read More

Rabu, Oktober 31, 2018

BANDA ACEH - Naskah kuno berjudul “Hikajat Atjeh” (Hikayat Aceh) yang ditulis pada paruh kedua abad 17 dan diyakini sebagai karya Syamsuddin As-Sumatrani, akan diusul dan sedang diperjuangkan Perpustakaan Pusat Nasional (Perpusnas) RI untuk diterima Unesco sebagai warisan Memory of the World (MoW) Tahun 2019.

Terkait dengan upaya itu, Kamis (25/10) siang dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Praregistrasi Hikayat Aceh sebagai Memory of The World 2019 di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh. FGD itu diperlukan untuk memperkaya upaya penyusunan naskah nominasi, karena pengusulan MoW harus disertai kajian akademik.

FGD yang dihadiri 20 pakar itu dibuka Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Dr Wildan MPd dan difasilitasi Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika.

Mengawali FGD, Prof Dr Wardiman Djojonegoro (mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa Orde Baru) dan Hermansyah (Dosen Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-

Raniry) tampil sebagai narasumber utama membahani para peserta yang notabene juga narasumber FGD.

Prof Wardiman yang saat ini berusia 83 tahun dengan penuh semangat membeberkan bahwa Unesco (Badan Resmi PBB untuk Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan) akan kembali membuka pendaftaran MoW, diperkirakan pada Mei 2019. Untuk itu, Kepala Perpusnas, Dr Syarif Bando, mengusulkan dua naskah sastra kuno untuk didaftarkan (diregister) sebagai nominee MoW dari Indonesia. Naskah tersebut adalah Sang Hyang Sikusa dan Hikajat Atjeh. Alasan pengajuan karena naskah Hikajat Atjeh termasuk tua, merupakan warisan sastra kuno, masih tersimpan dengan baik dan aman di Perpusnas dan di Universitas Leiden, Belanda, serta luput dari bencana tsunami.

Kepala Perpusnas, kata Prof Wardiman, juga setuju untuk mengundang Pemerintah Aceh menjadi salah satu co-nominator, di samping Universitas Leiden. “Pemerintah Aceh diajak sebagai co-nominator, agar para ilmuwannya dapat ikut aktif mengkaji pengusulan naskah ini,” kata Wardiman didampingi Dr Ahmad Masykuri, Kepala Pusat Reservasi Bahan Pustaka Perpusnas RI.

Menurut Wardiman, untuk ukuran sebuah manuskrip Indonesia, naskah Hikajat Atjeh itu tergolong sangat tua (ditulis antara 1650-1700), karena naskah di Indonesia biasanya cepat rusak akibat kelembaban yang tinggi, mengingat Indonesia negeri tropis.

MoW ini, kata Wardiman, bertujuan untuk melestarikan warisan arsip dunia dengan teknologi mutakhir dan meningkatkan preservasi dari arsiap-arsip yang mempunyai arti global, maupun arsip yang mempuyai nilai regional atau nasional. Tujuan lainnya adalah meningkatkan kepedulian para negara anggota atas arsip-arsip mereka, khususnya arsip yang mempunyai nilai warisan dan arti global.

Para peserta FGD seluruhnya setuju dan gembira jika naskah Hikajat Atjeh diregister ke Unesco untuk mendapatkan MoW tahun 2019, karena hal itu menunjukkan tingginya tamadun dan peradaban Aceh pada abad 17 yang bukti fisiknya masih ada hingga kini.

Ms. Hikayat Aceh koleksi Perpustakaan Nasional RI, Jakarta 

Perlu Reproduksi Naskah
Narasumber lainnya, Hermansyah merekomendasikan perlu adanya reproduksi naskah, alih media modern, dan sosialisasi naskah Hikajat Atjeh yang akan didaftarkan ke Unesco itu. Ia menyebut nakah tersebut sebagai salah satu dari Naskah Agung Aceh yang berdasarkan kajian Dr Hoesein Djajadiningrat maupun Dr Teuku Iskandar, diyakini sebagai karya Syamsuddin As-Sumatrani yang pernah menjadi Mufti Agung pada masa Kerajaan Aceh.

Aceh sendiri, menurutnya, memiliki 5.141 naskah yang sudah terdata, tapi baru 944 yang didigitalisasi. Ia berharap, naskah kuno lainnya dari Aceh sepanjang ditemukan naskah aslinya layak diusulkan ke Unesco sebagai MoW. Di antaranya Hikayat Raja-raja Pase yang lebih tua dibanding Hikajat Atjeh.


Artikel ini telah tayang di serambinews.com.
 http://aceh.tribunnews.com/2018/10/27/hikayat-aceh-diusul-masuk-mow-unesco.  Editor: hasyim

Manuskrip Hikayat Aceh Diusul Masuk MoW UNESCO

Read More

Senin, Januari 01, 2018

Selasa, 26 Desember 2017 merupakan hari bersejarah bagi Aceh dan bagi Ust. Abdus Somad. Pada hari tersebut tokoh fenomenal alumni Mesir dan Maroko tersebut hadir ke Aceh untuk menyampaikan tausiyah pada acara “Zikir Internasional” dalam rangka memperingati 13 tahun gempa-tsunami Aceh 2004. Acara tersebut dihadiri puluhan ribu jamaah.

Selain itu, momen yang tidak terlupakan juga bagi Ust. Abdus Somad, adalah sehari sebelumnya ia dideportasi oleh otoritas imigrasi Hongkong. Karena itulah, hikmah dan obat hati dari kejadian tersebutlah membawanya ke negeri Serambi Mekkah  di ujung Pulau Sumatera, wilayah yang menjadi salah satu sumber ilmu dan inspirasi baginya.

Ust. Abdus Somad menyampaikan tausiyah lebih dari satu jam, bahasannya berbagai topik, antaranya persoalan ummat di zaman sekarang, Syariat Islam, ukhuwah Islamiyyah, antisipasi LGBT, etika bermazhab, hingga khazanah keilmuan ulama-ulama di Aceh.

Khazanah keilmuan yang ia sebutkan terkait ulama Aceh yang produktif mengarang atau menulis kitab. Peran para ulama Aceh telah mencerdaskan masyarakat tidak hanya di Aceh, tapi juga Melayu-Nusantara hingga sekarang. Para ulama-ulama ini telah berhasil membangunkan khazanah keilmuan dengan karyanya yang menjadi rujukan berabad-abad.

Memang, kekaguman Ust. Abdus Somad terhadap karya ulama Aceh tersebut sering disampaikan dalam beberapa ceramahnya dalam konten bahasan tentang Aceh. Bahkan ia pun penasaran dengan beberapa manuskrip yang belum dijumpainya dan dilihat isinya. Namun demikian, pengetahuan tentang ulama-ulama Aceh dan karya-karyanya, dalam pandangan saya, cukup mumpuni dan sangat baik. Sebab, jarang tokoh dan alim terkenal di Indonesia yang menyampaikan rujukan-rujukan kitab ulama sendiri.

Dan, syukurlah manuskrip-manuskrip yang disebutkan masih tersimpan di beberapa koleksi pribadi dan lembaga di Aceh, salah satunya di koleksi Museum Negeri Aceh Banda Aceh.

Antara tokoh dan kitab yang disebutkan oleh Ust. Abdus Somad adalah: Pertama, Syaikh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri yang mengarang kitab tafsir pertama dalam Bahasa Jawi/Melayu, Tarjuman al-Mustafid.

Biografi Singkat ‘Abdurrauf al-Fansuri 
Nama lengkap pengarang kitab Tarjuman al-Mustafid adalah ‘Abdurrauf bin ‘Ali al-Jawi al-Fansuri, sebagaimana sering ia sebutkan dalam kitab-kitabnya, tanpa as-Singkili.  Tidak ada sumber yang secara jelas menyebutkan tanggal kelahirannya, namun menurut DA. Rinkes5 sebagaimana yang dikutip oleh Azyumardi Azra, ‘Abdurrauf dilahirkan sekitar tahun 1024 H/1615 M. Ia meninggal dunia pada tahun 1105 H/1693 M, dengan usia 78 tahun dan dimakamkan di gampong Kuala Aceh, Lamdingin, di Banda Aceh.

‘Abdurrauf menuntut ilmu di Jazirah Arab selama 19 tahun, ia kembali ke Aceh sekitar tahun 1661 M. Ia aktif mengembangkan ajaran tarekat tasawuf Syattariyah dan menulis atau mengarang kitab multidisiplin ilmu. Hingga saat ini telah teridentifikasi karya mencapai 40 judul kitab. Termasuk kitab Tafsir yang dikarangnya pada masa Sultanah Safiyatuddin Syah (berkuasa 1644-23 Oktober 1675 M).


Kitab Tafsir Melayu Pertama 
Tafsir Tarjuman Al-Mustafid merupakan tafsir pertama berbahasa Melayu yang ditulis lengkap tiga puluh juz. Bahasa Melayu dan aksara Jawi sangat identik dengan Islam karena memang hubungan Melayu dengan Islam sudah terjadi sejak eksis kerajaan Pasee di Aceh menyebar ke wilayah Melayu Nusantara. Kerajaan Samudera Pasee adalah kerajaan pertama yang melegalkan dan mengasas aksara Jawi yang didasari pada tulisan Arab.

Selama lebih daripada tiga abad ia dikenali sebagai terjemahan Tafsir al-Baydhawi. Kitab ini tersebar di pelosok negeri Melayu-Nusantara (Indonesia) sebagai Terjemahan Tafsir al-Baydhawi. Beberapa cetakan yang ada turut menggunakan judul tersebut "at-Tarjamah al-Jawiyyah Lit-Tafsir al-Musamma Anwar al-Tanzil wa Asrar at-Ta'wil lil-Imam al-Qadi al-Baydhawi" atau dikenal dengan istilah "Tafsir al-Baydhawi" dalam bahasa Melayu.
Kitab Cetakan "Tarjuman al-Mustafid" yang menyebutkan terjemahan dari Tafsir "al-Baydhawi"
Cetakan Mustafa al-Bab al-Halabi, Mesir 1370 H/1951 M.

Namun demikian, beberapa peneliti menyebutkan bahwa Kitab Tarjuman al-Mustafid melebihi atau terdapat unsur dan teknik yang berbeda dalam Tafsir Baidhawi, sehingga tidak dapat disebut ia kutipan lansung seluruhnya dari al-Baydhawi.

Kitab Tarjuman al-Mustafid tidak hanya dikenal di tanah Melayu Nusantara, akan tetapi juga dikenal hingga ke Turki, Mesir, Mekah, dan beberapa negara lainnya. Persebaran “santri” yang menuntut ilmu di berbagai wilayah menjadikan kitab tersebut sebagai salah satu rujukannya. Bahkan, ia terus menjadi rujukan hingga ke hari ini, khususnya bagi peneliti dan para al-mufassirin. Dengan demikian, kitab ini menjadi tafsir al-Quran yang lengkap digunakan hampir tiga abad sebelum lahirnya kitab-kitab tafsir yang lain.

Beberapa catatan peneliti menyebutkan bahwa cetakan pertama Kitab Tarjuman al-Mustafid saat Syeikh Muhammad Zain al-Fatani membawa manuskrip Tarjuman al-Mustafid ke Turki dan ditunjukkan kepada sultan Turki. Sang Sultan tertarik dengan karya besar dan penting tersebut, hingga akhirnya dicetak di Istanbul. Ini merupakan cetakan pertama oleh Matba’ah al-Utmaniyyah pada tahun 1302H/1884M dan 1324H/1906M.

Kemudian Kitab Tarjuman al-Mustafid  dicetak di Qahirah oleh Matba’ah Sulayman al-Maraghi, Maktabah al-Amiriyyah di Mekah, Bombay (India), Singapura, Jakarta dan Pulau Pinang. Edisi terakhir ialah cetakan Jakarta pada tahun 1981.

Saat ini, beberapa manuskrip atau tulisan tangan kitab Tarjuman al-Mustafid masih dapat dijumpai dibeberapa koleksi di Aceh, terutama di Museum Aceh dengan nomor inventarisir 07.0269, 07.351, 07.420, dan 07.441.  Selain itu, koleksi Museum Ali Hasjmy Banda Aceh dengan nomor 1/TF/5/YPAH/2005.


Bersambung: Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (2)


Dikutip dari berbagai sumber.

Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (1)

Read More

Kamis, Desember 24, 2015


Memasuki bulan Rabiul Awal tahun hijriyah selalu diperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal) di seluruh negara muslim.

Peringatan tersebut diadakan dalam beragam bentuk, mayoritasnya membaca selawat dan barzanji. Demikian di Aceh (termasuk Melayu Nusantara) sejak dulunya melakukan yang sama yang dapat dilihat dari beragam manuskrip tentang Maulot (Maulid) Nabi Muhammad.

Naskah-naskah tersebut cukup banyak sekali varian dan jumlahnya, yang kini menjadi bacaan “wajib” dalam perayaan maulid Nabi.

Salah satunya manuskrip paling banyak beredar yang digunakan adalah kitab Dala’il al-Khairat karya Abu Abdillah Muhammad ibn Sulaiman Al-Jazuli, ulama terkenal berasal dari Maghrib (Maroko) (m. 870 H 1465 M).

Menjelang dewasa, ia berangkat dan belajar ke daerah Fas yang tidak jauh dari kota Mesir. Di sinilah ia mengarang kitab “Dala'il al-Khairat” yang ditujukan kepada baginda Nabi Muhammad. Di Aceh disebut “meudalae'e” yaitu membaca dalail.

Sebelumnya, Abu 'Abdallah Muhammad ibn Sa'id al-Busiri Ash-Syadhili (1211-1294) di Mesir mengarang puji-pujian selawat kepada Nabi berjudul “Qasidah al-Burdah” yang juga cukup terkenal di masyarakat muslim Nusantara.

Selain dari itu, masih banyak puji-pujian Hizb an-Nasr dan Hizb al-Bahr karya Imam Abu Hasan Syazili, juga terdapat Hizb karya Imam Nawawi, Hizb karya Mulla ‘Ali al-Qari, dan puji-pujian Hizb lainnya sebagai persembahan kepada sisi mulia tersebut.


Khusus di Aceh, membaca “dalaee” ataupun syair-syair pujian dalam bahasa Arab (Hizb) sejenisnya yang terkenal dilakukan sejak bulan Rabiul Awal dan seterusnya.

Selain itu, masih ada tradisi nalam (Arab: nazham) juga dalam bentuk syair yang berisikan tentang pujian dan selawat kepada Rasulullah dalam bahasa Aceh.

Dalam tradisi sastra Aceh, masih digolongkan hikayat, maka dikenal dengan Nazam (Hikayat) Maulot Nabi, salah satunya karya Tgk Syeh Ya’kub atau dikenal juga Tgk Pante Ceureumen dari Padang Tiji.

Salah satu teks Nazham Maulot Nabi bahasa Aceh:
Ya Ilahi poe ku Rabbi lon ek saksi gata Tuhan
Lon ek saksi Nabi Muhammad Rasulullah gata bagi jin insan
Tabri Islam dengoen Iman ngon makrifat tauhid sajan
Tapeuteutap lam kalimah hudep matee bangket meunan
Berkat Rasul yang troen kitab Nabi lengkap sekalian
Berkat mukjizat Taha Yasin Sayyidil Mursalin Muhammadan

Para penceramah Aceh sering menyebut nama selain “Muhammad” dan “Ahmad”, juga dijuluki Sayyidil Mursalin, Yasin, dan Taha.

Salah seorang staff Belanda era kolonial, Damste, termasuk yang banyak mengumpulkan manuskrip Aceh dan membawa ke Belanda menamai bahwa teks-teks “Seulaweuet keu Nabi” sebagaimana kolofon teks menyebut “tamat seulaweuet maulot Nabi” sangat banyak di masyarakat dan menjadi tradisi bulan-bulan perayaan kelahiran Nabi.

Selain itu, menurut inventarisasi (alm) Teuku Iskandar, sarjana Aceh di Belanda menemukan juga naskah-naskah Likee Maulot, atau disebut juga Maulid Barzanji yang sebagian berbahasa Arab dan sebagian lagi berbahasa Aceh.

Dalam edisi cetaknya kemudian dikenal “Maulid Syaraful Anam”.

Bahkan di Perpustakaan Nasional Jakarta mengoleksi kitab Maulot Nabi yang berstempel Tgk. Chik Saman Tiro dan Tgk M. Sa’id Krueng Kalee tahun 1315 H (1898 M), lebih tua naskahnya yang dikoleksi Snouck yang ditemukan tentara Belanda di Rumoh Aceh di Pasar Aceh Samalanga tahun 1916.

Kecintaan mereka (orang terdahulu) mengarang nazam (seulaweut), menyalin dan membacanya sebagai salah satu bentuk kecintaannya kepada baginda Rasulullah.

Kini, karya-karya mereka sudah dicetak dan dapat diakses dengan mudah untuk dibaca, semoga kita dan generasi seterusnya dapat menghidupkan sinar kemuliaan Nabi dan menghayatinya di kehidupan sehari-hari.

Telah dipublikasi di Serambi Indonesia: Ini Dia Manuskrip Maulid (21 Des 2015 M /9 Rabiul Awal 1437 H)

Ini Dia Manuskrip Maulid Nabi

Read More

Senin, Desember 21, 2015


Masyarakat di belahan dunia menganggap bahwa setiap tahun memiliki istilah-istilah tertentu. Sebagian menyebut "zodiak" yang digambarkan dalam bentuk nama-nama hewan atau bentuk lainnya. Di China, atau Korea dan beberapa negara lainnya memiliki tradisi lebih kental, misalnya menyebut tahun Naga, atau dengan istilah lainnya, seperti Harimau, Kerbau, Tikus, Kuda, Domba, Ayam, dan sebagainya. Setiap istilah memiliki makna tertentu yang berlaku silih berganti selama dua belas simbol (disesuaikan dengan dua belas bulan).

Sebagian lainnya menamai tahun-tahun tersebut sesuai kejadiannya, misalnya di Jazirah Arab, di Mekkah al-Mukarramah pada tahun kelahiran Nabi Muhammad disebut Tahun Gajah. Istilah tersebut karena pada tahun tersebut Raja Abrahah al-Asyram dari Bani Gassan di Hirah Yaman dengan ratusan pasukan gajah dan ribuan bala tentaranya ingin menghancurkan Ka'bah. Namun, Allah menyelamatkan Ka'bah dan Mekkah. Maka tahun itu masyhur dengan istilah Tahun Gajah, padahal sejarawan sudah menemukan dan sepakat tahun itu bertepatan dengan 570 masehi.

Di Aceh, tahun 2004 lebih dikenal dengan tahun Gempa Tsunami, sebab masyarakat mengenangperistiwa bencana tersebesar sepanjang sejarah abad ke-20 dan 21 tersebut. Dan setahun kemudian, 2005 disebut tahun MoU Helsinki, karena pertengahan Agustus antara GAM dan Pemerintah RI sepakat bersalaman dan damai. Begitu seterusnya, setiap kejadian (momen) penting dan besar di tahun tertentu akan dikenang dan menjadi simbol tahun tersebut

Menghadapi tahun 2016, melihat fenomena Aceh kedepan, di saat persatuan semakin rapuh, saling membantu semakin jauh, orang tua dan guru berubah jadi buruh, mufakat dan musyawarah semakin lumpuh, anak yatim dan fakir miskin mati bersimpuh, ulama bukan lagi tempat berteduh, pemimpin sombong menjadi angkuh, kaya dan takabur menjadi teguh. Maka fenomena itu terjadi, saya lebih menyebutnya "Tahun Jampok".

Jampok adalah sejenis burung hantu (English: Owl). Dalam "Hikayat" bahasa Aceh, Jampok diidentikkan dengan sifat tidak baik. Ini berawal dari kisah Nabi Sulaiman saat memilih pemimpin di "Negeri Cicem", Di mulai saat "Ma Jampok" dengan tiba-tiba menunjuk "Aneuk Jampok" menjadi raja, hingga akhir ceritanya memilih seseorang sesuai keahliannya. Banyak hikmah dan pelajaran dalam haba jameun (cerita zaman) Aceh ini.

Deungo lon kisah khabaran jameun
Masa keurajeun Nabi mulia
Masa keurajeun Nabi Sulaiman
Yang mat hukuman ban sigom donya

Nibak Siuroe Nabi Jak Meu en
Ka dengon angen sajan seureta
Ka Nabi neuduk ateuh kursi
Angen bapoet lee ban siklep mata

'Oh ban saree troh bak saboeh tempat
Geumusyawarah geu beuk boeh raja
Nabi neutanyong bak mandum ciceem
Toeh saree kateem lon bouh keu raja

Seuot po Jampok Hai Tuanku Ampon
Nyoe pat sigam lon neuboh keuraja
Seubab Sigam long rupa that ceudah
Lagi ngen hebat meubulee mata

Mata jih bulat babah meukuweit
Cukop meusaheet sigam keuraja
Nabi Sulaiman masa nyan meuseuheh neukhem
Dum cicem laen surak meubura

Teuma jiseuot Burong Keutok-tok
Meuhanjeut Jampok bah lon keu raja
Seubab di ulon nyoe na meupiyasan
Long peh canang prang oh malam jula

Lheuh nyan jiseuout Tok-tok Beuragoe
Hana meusoe-soe taboh keu Raja
Seudangkan di lon kupiah Beusoe
Hantom siuroe lakee keu Raja.

Teuma jiseuout Beurujuk Balee
Han kuteem banlee Jampok keu raja
Hana meusoe-soe ka tajak lakee
Golom meuteuntee tajak peutaba

Saweub digobnyan leuthat piyasan
Geupeeh ngen geundrang oh malam jula
Ngon Ciceem Got-got Geumeu en Geudrang
Leupah that garang karu ngen subra

Laju jiseuout si ciceem Enggang
Leupah that garang meunyoe jih keu Raja
Ampon Tuanku Saidil Ambiya
Galak lon raya gob nyan keu raja

Ciceem kakirouh nyang na di sinan
Nabi Sulaiman teukheem lagoina
Apa Jampok yoh nyan kamalee muka
kaleupah haba nariet jipuga

Di cicem Pala jigroep-groep lamboeng
di Cicem Buroeng surak meubura
Beurujuek Balee surak di sampeng
Cicem keureuleng sama-sama

Leumpah that malee ji apa Jampok
Teuduk meuseupok beu blek-blek mata
Malee ji that-that ka deungon rakan
Hana meu'oh ban cukop that gura

Teuma jidamee uleh Keudidi
Si Rajawali tabouh keu raja
Cicem Dama Peudana Meuntri
Beurujuk Campli Keupala Teuntra

Leuk Bangguna taboh keu Meuntri
Keupala negeri nyoe Ciceem Dama
Kleung Puteeh Ulee jeut Polisi
Si Mirah pati jeut keu wedana

Keu Peuneurangan po ciceem Tioeng
Nyang mat hukom Po ciceem Pala
Tok-Tok Beuragoe geuchiek gampong
Ciceem Keucuboeng keu ureung Ronda

Di cicem Tuloe jeut keu Peunerangan
Cicem Rajangan boeh keu Panglima
Di cicem Bubruk taboeh mak Bidan
Seubab gobnyan geukuwa-kuwa

Semoga hikayat "Aneuk Jampok" dapat menjadi pelajaran dalam hidup kita.

Ayo rileks sambil mendengar lagu-lagu "Jampok"



2016, Aceh Tahun Jampok

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top