Tampilkan postingan dengan label Melayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melayu. Tampilkan semua postingan

Senin, Januari 01, 2018

Selasa, 26 Desember 2017 merupakan hari bersejarah bagi Aceh dan bagi Ust. Abdus Somad. Pada hari tersebut tokoh fenomenal alumni Mesir dan Maroko tersebut hadir ke Aceh untuk menyampaikan tausiyah pada acara “Zikir Internasional” dalam rangka memperingati 13 tahun gempa-tsunami Aceh 2004. Acara tersebut dihadiri puluhan ribu jamaah.

Selain itu, momen yang tidak terlupakan juga bagi Ust. Abdus Somad, adalah sehari sebelumnya ia dideportasi oleh otoritas imigrasi Hongkong. Karena itulah, hikmah dan obat hati dari kejadian tersebutlah membawanya ke negeri Serambi Mekkah  di ujung Pulau Sumatera, wilayah yang menjadi salah satu sumber ilmu dan inspirasi baginya.

Ust. Abdus Somad menyampaikan tausiyah lebih dari satu jam, bahasannya berbagai topik, antaranya persoalan ummat di zaman sekarang, Syariat Islam, ukhuwah Islamiyyah, antisipasi LGBT, etika bermazhab, hingga khazanah keilmuan ulama-ulama di Aceh.

Khazanah keilmuan yang ia sebutkan terkait ulama Aceh yang produktif mengarang atau menulis kitab. Peran para ulama Aceh telah mencerdaskan masyarakat tidak hanya di Aceh, tapi juga Melayu-Nusantara hingga sekarang. Para ulama-ulama ini telah berhasil membangunkan khazanah keilmuan dengan karyanya yang menjadi rujukan berabad-abad.

Memang, kekaguman Ust. Abdus Somad terhadap karya ulama Aceh tersebut sering disampaikan dalam beberapa ceramahnya dalam konten bahasan tentang Aceh. Bahkan ia pun penasaran dengan beberapa manuskrip yang belum dijumpainya dan dilihat isinya. Namun demikian, pengetahuan tentang ulama-ulama Aceh dan karya-karyanya, dalam pandangan saya, cukup mumpuni dan sangat baik. Sebab, jarang tokoh dan alim terkenal di Indonesia yang menyampaikan rujukan-rujukan kitab ulama sendiri.

Dan, syukurlah manuskrip-manuskrip yang disebutkan masih tersimpan di beberapa koleksi pribadi dan lembaga di Aceh, salah satunya di koleksi Museum Negeri Aceh Banda Aceh.

Antara tokoh dan kitab yang disebutkan oleh Ust. Abdus Somad adalah: Pertama, Syaikh Abdurrauf al-Jawi al-Fansuri yang mengarang kitab tafsir pertama dalam Bahasa Jawi/Melayu, Tarjuman al-Mustafid.

Biografi Singkat ‘Abdurrauf al-Fansuri 
Nama lengkap pengarang kitab Tarjuman al-Mustafid adalah ‘Abdurrauf bin ‘Ali al-Jawi al-Fansuri, sebagaimana sering ia sebutkan dalam kitab-kitabnya, tanpa as-Singkili.  Tidak ada sumber yang secara jelas menyebutkan tanggal kelahirannya, namun menurut DA. Rinkes5 sebagaimana yang dikutip oleh Azyumardi Azra, ‘Abdurrauf dilahirkan sekitar tahun 1024 H/1615 M. Ia meninggal dunia pada tahun 1105 H/1693 M, dengan usia 78 tahun dan dimakamkan di gampong Kuala Aceh, Lamdingin, di Banda Aceh.

‘Abdurrauf menuntut ilmu di Jazirah Arab selama 19 tahun, ia kembali ke Aceh sekitar tahun 1661 M. Ia aktif mengembangkan ajaran tarekat tasawuf Syattariyah dan menulis atau mengarang kitab multidisiplin ilmu. Hingga saat ini telah teridentifikasi karya mencapai 40 judul kitab. Termasuk kitab Tafsir yang dikarangnya pada masa Sultanah Safiyatuddin Syah (berkuasa 1644-23 Oktober 1675 M).


Kitab Tafsir Melayu Pertama 
Tafsir Tarjuman Al-Mustafid merupakan tafsir pertama berbahasa Melayu yang ditulis lengkap tiga puluh juz. Bahasa Melayu dan aksara Jawi sangat identik dengan Islam karena memang hubungan Melayu dengan Islam sudah terjadi sejak eksis kerajaan Pasee di Aceh menyebar ke wilayah Melayu Nusantara. Kerajaan Samudera Pasee adalah kerajaan pertama yang melegalkan dan mengasas aksara Jawi yang didasari pada tulisan Arab.

Selama lebih daripada tiga abad ia dikenali sebagai terjemahan Tafsir al-Baydhawi. Kitab ini tersebar di pelosok negeri Melayu-Nusantara (Indonesia) sebagai Terjemahan Tafsir al-Baydhawi. Beberapa cetakan yang ada turut menggunakan judul tersebut "at-Tarjamah al-Jawiyyah Lit-Tafsir al-Musamma Anwar al-Tanzil wa Asrar at-Ta'wil lil-Imam al-Qadi al-Baydhawi" atau dikenal dengan istilah "Tafsir al-Baydhawi" dalam bahasa Melayu.
Kitab Cetakan "Tarjuman al-Mustafid" yang menyebutkan terjemahan dari Tafsir "al-Baydhawi"
Cetakan Mustafa al-Bab al-Halabi, Mesir 1370 H/1951 M.

Namun demikian, beberapa peneliti menyebutkan bahwa Kitab Tarjuman al-Mustafid melebihi atau terdapat unsur dan teknik yang berbeda dalam Tafsir Baidhawi, sehingga tidak dapat disebut ia kutipan lansung seluruhnya dari al-Baydhawi.

Kitab Tarjuman al-Mustafid tidak hanya dikenal di tanah Melayu Nusantara, akan tetapi juga dikenal hingga ke Turki, Mesir, Mekah, dan beberapa negara lainnya. Persebaran “santri” yang menuntut ilmu di berbagai wilayah menjadikan kitab tersebut sebagai salah satu rujukannya. Bahkan, ia terus menjadi rujukan hingga ke hari ini, khususnya bagi peneliti dan para al-mufassirin. Dengan demikian, kitab ini menjadi tafsir al-Quran yang lengkap digunakan hampir tiga abad sebelum lahirnya kitab-kitab tafsir yang lain.

Beberapa catatan peneliti menyebutkan bahwa cetakan pertama Kitab Tarjuman al-Mustafid saat Syeikh Muhammad Zain al-Fatani membawa manuskrip Tarjuman al-Mustafid ke Turki dan ditunjukkan kepada sultan Turki. Sang Sultan tertarik dengan karya besar dan penting tersebut, hingga akhirnya dicetak di Istanbul. Ini merupakan cetakan pertama oleh Matba’ah al-Utmaniyyah pada tahun 1302H/1884M dan 1324H/1906M.

Kemudian Kitab Tarjuman al-Mustafid  dicetak di Qahirah oleh Matba’ah Sulayman al-Maraghi, Maktabah al-Amiriyyah di Mekah, Bombay (India), Singapura, Jakarta dan Pulau Pinang. Edisi terakhir ialah cetakan Jakarta pada tahun 1981.

Saat ini, beberapa manuskrip atau tulisan tangan kitab Tarjuman al-Mustafid masih dapat dijumpai dibeberapa koleksi di Aceh, terutama di Museum Aceh dengan nomor inventarisir 07.0269, 07.351, 07.420, dan 07.441.  Selain itu, koleksi Museum Ali Hasjmy Banda Aceh dengan nomor 1/TF/5/YPAH/2005.


Bersambung: Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (2)


Dikutip dari berbagai sumber.

Manuskrip Incaran Ust. Abdus Somad (1)

Read More

Senin, Juli 17, 2017



Kitab Ar-Rahmah fi al-Tibb wa al-Hikmah merupakan karya Syaikh ‘Abbas Kutakarang, salah seorang ulama masyhur dan aktif dalam dunia intelektual dan transmisi keilmuan di Aceh (termasuk dunia Melayu) antara abad ke 18-19 Masehi. Keilmuannya tidak hanya fokus pada bidang agama saja, tetapi juga ikut serta berkonstribusi dalam dunia pendidikan, dakwah, astronomi, peperangan, perobatan dan sebagainya. Ia juga mennjadi penasehat Kerajaan Aceh dalam bidang keagamaan sekaligus pemimpin perang Aceh melawan kolonial Belanda hingga meninggal dunia. 

Karya Syaikh 'Abbas Kutakarang dalam bidang kedokteran dan medical (perobatan) dapat dianggap spesial dan intelektual. Terus terang,  kajian ini di Aceh -dulu dan sekarang- sangat minim sekali, bahkan hampir tidak terekam sama sekali. Walaupun memiliki tradisi pengobatan tradisional, sebagian masyarakat Aceh hanya tahu sekilas Kitab Tajul Muluk, sebagai salah satu kitab perobatan klasik. 

Pada dasarnya, Kitab Ar-Rahmah fil Tibb wal Hikmah salah satu kitab perobatan dan kedokteran paling lengkap di Aceh yang lahir sejak abad ke-19. Ia memiliki kandungan lengkap tentang teori dan praktik perobatan yang telah dikombinasikan dengan konteks Aceh dan Melayu, baik dari sisi material (bahan) obat-obatan, proses mekanisme dan sebagainya.  Kitab ini juga masih sangat relevan dengan kedokteran zaman kekinian (perobatan modern). 

Khusus dalam kitab perobatan ini, Syekh 'Abbas Kutakarang menyebutkan secara ringkas biografinya dalam pembukaan (oxordium) kitabnya;
“Adapun kemudian dari itu, maka berkata hamba Allah yang dinamai dengan ‘Abbās yang mengharap Tuhannya, Allah Ta‘ālā yang Tuhan sekalian manusia, Shāfi’i nama madhhabnya, Aceh nama negerinya, masjid al-Jami’ Ulee Susu tempatnya kediaman dan kejadiannya”.

Kitāb Ar-Raḥmah dibagi ke dalam 5 bab utama, antaranya:
1. Bab I tentang ilmu tabi’at dan karakteristik manusia.
2. Bab II tentang makanan baik dan sehat, mengandung khasiat, obat dan bermanfa’at.
3. Bab III tentang hal yang baik kesehatan badan.
4. Bab IV tentang perobatan untuk penyakit spesifik di tubuh.
5. Bab V tentang pengobatan secara umum dan bersifat temporer di badan.
Apabila menilik kitab Ar-Raḥmah fil Tibb wal Hikmah, maka dapat disebut Syaikh ‘Abbas Kutakarang termasuk ulama dan penulis aktif di Aceh periode ke-19-20 M. Kitab tersebut semakin menambah referensi bagi para ilmuwan untuk melihat Aceh dalam beragam perspektif dan multidisiplin ilmu. Terutama jaringan keilmuan Aceh-Melayu-Arab yang terus direkat pada akhir-akhir masa Kesultanan Aceh dan era kolonial Belanda-Inggris di dunia Melayu dan Nusantara. 

Kitab ini diterjemahkan dari kitab berbahasa Arab, dengan judul yang sama, dimulai penyalinan dan penerjemahan kitab ini mulai 2 Muharram 1266 H, hingga selesai kurang lebih 4 (empat) tahun lamanya. Itu bukan waktu yang singkat, kerja kerasnya tersebut bukan sebatas menyalin huruf perhuruf, tetapi ia juga menerjemahkan, mempelajari dan menganalisi resep-resep perobatan di dalam kitab tersebut, sehingga itu menunjukkan ia menguasai beberapa hal dalam bidang perobatan.

Saat ini, manuskrip Ar-Rahmah fil Tibb wal Hikmah adalah satu-satunya (codex unicus) koleksi Yayasan Pendidikan dan Museum Ali Hasjmy (YPMAH) di Banda Aceh, lembaga yang menyimpan beribu dokumen penting yang diprakarsai oleh (alm) Ali Hasjmy. Setelah membaca keseluruhan isinya, ternyata manuskrip koleksi YPMAH merupakan salinan dari kitab sebelumnya, itu artinya masih ada varian teks [manuksip] lainnya selain koleksi YPMAH di muka bumi ini, walaupun masih misterius atawa belum ditemukan.  

Melihat manuskrip yang langka dan pentingnya kandungan tersebut, maka buku ini merupakan transliterasi/transkripsi teks tersebut dalam aksara Latin disertai aksara Jawi (Arab-Aceh/Melayu). Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menghadirkan teks manuskrip sedetail dan sebaik mungkin. Oleh karena itu, buku yang hadir dalam "wajah baru" itiu merupakan kolaborasi kajian teks-naskah (filologi) dan medical scientis.

Maka buku ini hadir dalam 5 (lima) bagian:
1.  Tentang naskah (sejarah, biografi penulis dan asbab kitab)
2.  Transliterasi/transkripsi teks ke dalam aksara Latin
3.  Glosari 
4.  Teks dalam aksara (huruf) Jawi.
5.  Bibliografi dan Index.


Buku ini dikaji oleh Dr. Affendi Shafri (pensyarah di IIUM Pahang Malaysia) dan Hermansyah (Dosen di UIN Ar-Raniry-Aceh) diterbitkan oleh Klasika Media Malaysia

Serah terima buku dari perwakilan Pengkaji dengan Penerbit

Ar-Rahmah fi al-Tibb wa al-Hikmah: Manuskrip Perobatan Aceh-Melayu

Read More

Rabu, Januari 11, 2017

Bagi Aceh, bendera tidak hanya sebuah logo dan simbol, tetapi memiliki makna historis dan nasionalisme. Di Aceh, bendera mampu menjadi persoalan krusial, timbul "ganjai" bin aneh dengan beragam polemik bendera. Begitupun, bendera memiliki "marwah" lebih tinggi dari lainnya dalam politik Aceh. Salah satu faktanya terjadi saat ini, tepat saat para pembaca hidup dan sedang membaca coretan ini.

Akan tetapi, kali ini terkait bendera Aceh tempo dulu, bukan bicara "politik bendera" yang tidak kunjung selesai. Berbicara bendera Aceh, maka pertanyaan paling pertama yang muncul adalah bagaimanakah bendera asli kerajaan Aceh? Mendapat pertanyaan seperti ini, dapat dipastikan jawabannya  tidak ada satupu yang secara utuh dan akurat.

Pada era Kesultanan Aceh, hampir setiap kerajaan-kerajaan di dalam wilayah Aceh memiliki bendera yang beragam. Baca: Bagaimana Bendera Aceh Tempo dulu, dimana sistem monarki setiap wilayah memiliki adat dan bendera khas masing-masing, seperti bendera Trumon, Tapak Tuan, Nalaboh (Meulaboh), Samalanga dan lainnya. Bendera tersebut menjadi tanda kedaulatan secara geografis dan kekuasaan.

Bendera Aceh dengan latar belakang merah lebih dominan di wilayah Aceh pantai utara dan timur, sepanjang Selat Malaka. Sedangkan wilayah Barat Selatan Aceh atau di laut lepas India didominasi warna biru.

Bendera Aceh dengan latar belakang warna merah dan gambar pedang disertai bulan bintang seperti ini secara umum dikenal sebagai tanda bendera perang. Dan lebih lama digunakan selama perang dengan Belanda, sebab perang tersebut merupakan era terpanjang bagi Belanda dalam menjajah wilayah-wilayah yang ada di Nusantara.

Bendera yang menggambarkan pedang bermata dua, dua bulan sabit (crescent) dengan di bawah dua bintang sembilan yang berbeda dengan bintang Turki dan bintang yang digunakan sekarang, bintang lima sudut. Namun, tetap saya ada hubungan Aceh dengan Turki, sebab Aceh merupakan salah satu daerah pertama Islam di kepulauan Melayu Nusantara (Indonesia) dan memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Ottoman, Turki.



Bendera di atas adalah koleksi Tropen Museum Belanda dengan nomor koleksi TM-674-730. Bendera dengan ukuran 80 x 159 cm (35 1/16 x 62 5/8 inc) yang ditemukan sekitar tahun 1916 di daerah Calang, Aceh Jaya.

Aceh Jaya merupakan salah satu wilayah basis pertahanan Aceh yang langsung berhadapan dengan pintu masuk Selat Malaka. Banyak sejarah dan peran Aceh Jaya ini pada masa dulu tidak tergali, padahal ini menjadi salah satu basecamp pejuang Aceh dan jalur singgah antara Banda Aceh (Kutaradja) dengan Melaboh, Trumon, Singkel dan sebagainya.

Bendera, termasuk warna merah dan ilustrasi di dalamnya hampir mirip dengan bendera Ottoman yang juga memiliki gambar bulan sabit dan bintang lima. Merah dalam filosofi Islam dan umumnya dimaknai sebagai keberanian, dan disini menjadi penting bagi kekuatan militer.

Sedangkan dua pedang saling berkait yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai pedang Dhul Faqqar (Zulfaqar) -sebagian di Indonesia menyebut Zulfikar- yang dimiliki oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dalam konteks ini Sayyidina Ali adalah salah seorang pemberani, khalifah dan sekaligus penerus perjuangan Nabi Muhammad.



Namun dalam konteks Aceh, gambar pedang di atas dapat disimbolkan dengan rencong (rincöng) Aceh, dapat dikategorikan dengan Rencong Hulu Puntong, Rencong Meucugék ataupun Rencong Meupucôk. Artinya, rencong menjadi salah satu senjata tradisional yang digunakan sebagai bentuk kewibaan, kekhassan dan kepahlawanan. Namun pada zaman kini, rencong hanya jadi barang souvenir.

Lebih jauh, dalam literatur Islam, bendera memiliki sebagai nilai ganda, yaitu sejarah dan agama. Kini pertanyaannya, apakah bendera di Aceh sebenarnya memiliki nilai-nilai tersebut.

Bendera "Zulfaqar" Aceh

Read More

Rabu, Mei 11, 2016

Pasca kepulangan Rasulullah dari Isra dan Mi’raj tersebut, ia menceritakan peristiwa Isra dan Mi’raj di hadapan kaum Qurays Mekkah. Di antara yang hadir adalah Abu Bakar dan Abu Lahab, dua tokoh penting saling berseberangan keyakinan hadir ditengah jamaah pagi tersebut.

Rasulullah mengungkap segala bukti yang terjadi pada dirinya dan kejadian yang sedang berlangsung di pagi hari, Abu Bakar yang telah masuk Islam merupakan salah seorang yang pertama percaya terhadap peristiwa di luar nalar manusia, ia pun kemudian digelar as-shiddiq.

Sebaliknya, Abu Lahab menangkal semua peristiwa tersebut dan dianggap sebagai cerita dongeng Muhammad. Maka Allah melaknat Abu Lahab dengan surat al-Lahab. Bahkan ia mengajak orang-orang Qurays untuk ingkar kepada peristiwa Isra Mi’raj tersebut, perselisihan antara pro vs anti Islam semakin membara, boikot ekonomi, kekerasan terhadap muslim, hingga pembunuhan terhadap orang-orang yang baru masuk Islam.

Kini, di era modern, dua kubu ini terus mengalir pengikunya dengan beragam argumentasi, satu kubu berada di pihak Abu Bakar yang meyakini peristiwa itu terjadi secara nyata, dan di kubu lainnya pengikut Abu Lahab yang mengingkarinya.

source: http://aceh.tribunnews.com/2016/05/05/manuskrip-isra-miraj-tour-teristimewa-rasulullah?page=3

Baca juga: Manuskrip Isra Mikraj: Tour Teristimewa Rasulullah

Manuskrip Isra Mikraj: Abu Bakar vs Abu Lahab

Read More

Selasa, Mei 10, 2016


Kado istimewa yang diterima Nabi dalam Isra dan Mi’raj adalah perintah shalat lima waktu sehari semalam, itu merupakan merupakan kado spesial yang diterima Nabi Muhammad. Beberapa riwayat hadist menyebutkan peristiwa perintah ini diterima Nabi langsung dari Allah.

Shalat wajib merupakan kunci surga, ia tidak dapat diwakilkan, tidak dibadal ataupun dibayar dengan apapun. Shalat juga sebagai wujud tunduknya seorang hamba kepada Sang Khaliq, shalat juga merupakan simbol kerukunan dan persatuan ummat Islam, sekaligus ia penangkal dari perbuatan keji dan mungkar. Menurut Nabi, ibadah ini memiliki rahasia inti yang dapat diungkapkan oleh orang-orang yang khusuk dan tidak lalai akan shalatnya.

Pada masa Rasulullah dan Khalifah Rasyidin menunjukkan persatuan ummat Islam yang cukup kuat, terjalinnya ukhuwah dan persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin, orang Arab dan ‘Ajam. Setiap khilafiyah (perbedaan) diselesaikan secara berjamaah dan bersama-sama, seiring sejalan seperti gerakan jamaah shalat yang mengikuti Sang Imam.

Maka wajar apa yang disebut dalam naskah “Rahasia Shalat” bahwa “Itulah yang sebenar2 sembahyang hai ya ikhwan. Takoeh buloeh ikat panjoe # Mangat meuri jrat auliya. Wajib bak insan mengenal droe # Mangat taturi haq Ta'ala”.

Sayangnya, kini sebagian ummat Islam belum mampu memahami nilai-nilai ibadah dan sosial (ukhuwah Islamiyah) yang terkandung dalam shalat. Terjerumus dalam persoalan khilafiyah furu’iyah dan kepentingan kelompok dalam “kapling surga” sehingga mengabaikan ukhuwah Islamiyah sesama mukmin. Padahal para Khulafa Rasyidin, Tabi-tabi’in dan para Imam-imam pasca wafatnya Rasulullah telah menunjukkan sikap kerukunan dan toleransi antar sesama.




Source:  Opini Serambi Indonesia 5/5/2016

Manuskrip Isra Mi'raj: Shalat Kado Spesial

Read More

Senin, Mei 09, 2016

RAJAB merupakan bulan mulia di sisi Allah. Di dalam bulan ini terjadi peristiwa penting pada masa hidup Rasulullah, yaitu Isra dan Mi’raj. Isra dan Mi’raj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad dalam waktu satu malam saja.

Isra merupakan peristiwa “diberangkatkan” Nabi Muhammad oleh Allah dari Masjidil Haram Mekkah ke Masjidil Aqsa Jarussalem Palestina. Sedangkan Mi’raj peristiwa Rasulullah dinaikkan ke langit dari Masjid Al-Aqsa.

Jumhur ulama dan sebagian sejarawan Muslim menyebutkan bahwa peristiwa penting tersebut terjadi pada bulan Rajab setahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Menurut riwayat perjalanan beliau menggunakan kendaraan buraq, ditemani oleh Jibrail dan para malaikat lainnya.
Dari tempat kiblat pertama ini nabi dinaikkan ke langit, sebagian rawi menyebut batu pijakan Nabi saat naik seakan juga ingin ikut terbang bersamanya, dan kini ia menjadi saksi kehadiran manusia paling mulia di tanah para Anbiya.

Ini merupakan paket “tour” teristimewa yang diterima Rasulullah, dan dapat menyaksikan langsung tentang surga dan neraka serta segala kehidupan di luar naluri dan pikiran manusia. Keistimewaan tersebut hanya diberikan kepada nabi terakhir di saat hatinya berduka paska meninggal Abu Thalib dan istrinya Khadijah, dua tokoh yang membantu nabi dari rongrongan kaum Qurays selama di Mekkah.
Dalam masyarakat Aceh dan Nusantara, peristiwa Isra dan Mi’raj merupakan cerita umum dan menjadi santapan wajib bagi para pelajar. Ia memiliki banyak hikmah dan pelajaran di dalamnya, mulai dari perjuangan Rasulullah hingga kasih sayangnya kepada ummat Islam.

Dalam kehidupan masyarakat Aceh, kisah Hikayat Isra dan Mi’raj menjadi bacaan penting pada bulan Rajab oleh para tengku dan da’i di Aceh. Hal tersebut diungkapkan dalam pendahuluan teks manuskrip Hikayat Mi’raj koleksi Museum Aceh “barang siapa membaca dan mendengar Hikayat Mi’raj Nabi maka ia berpahala dan akan diampuni dosanya”. Sebaliknya, “barang siapa tiada percaya akan peri bagi Mi’raj ini bahwasanya orang itu menjadi kafir”.

Naskah Hikayat Mi’raj ini bukan sebuah dongeng kepada anak-anak, tetapi hikayat tersebut ditulis dalam bahasa Jawi (Melayu) disertai dalil-dalil kuat dari al-Qur’an dan Hadits. Tidak ketinggalan disertakan atsar para sahabat akan peristiwa tersebut.

source: http://aceh.tribunnews.com/2016/05/05/manuskrip-isra-miraj-tour-teristimewa-rasulullah?page=2

Baca juga: Manuskrip Isra Mikraj: Abu Bakar vs Abu Lahab

Manuskrip Isra Mikraj: Tour Teristimewa Rasulullah

Read More

Kamis, Desember 31, 2015


Bendera Aceh bukanlah sebuah polemik besar bagi setiap orang yang mengetahui sejarah Aceh. Sebab, sejak era Kesultanan Aceh sudah memiliki bendera, hal tersebut dapat ditelusuri dari berbagai sumber sejarah Aceh di luar negeri. Bendera-bendera di atas, misalnya, adalah hasil sketsa seorang Belanda yang bertugas di Aceh era perang Belanda dengan Aceh antara 1873-1945 yang menunjukkan bendera tersebut telah digunakan, bahkan untuk kerajaan-kerajaan kecil.

Selain bendera sketsa Belanda itu, hasil penelusuran leinnya juga ditemui oleh KMPD (Komite Monitoring Perdamaian dan Demokrasi) perwakilan Eropa dan ASF di Denmark yang menemukan ratusan khazanah kejayaan masa lalu Aceh (Atjeh) yang tersimpan di Museum Nasional Denmark (Nationalmusset) di København. Peninggalan Aceh zaman dahulu tersimpan di dalam gedung istana lama yang sangat besar.

Hasil usaha KMPD dan ASF sangat membanggakan dan memberikan informasi yang lebih, bahwa terdapat selembar Bendera Kedaulatan (Kesultanan) Atjeh di antara tahun 1850-1900. Bendera berlatar warna merah, dihiasi dua peudeung (pedang), tiga titik di antaranya, dan bulan bintang bercahaya delapan, bintang dan dua pedang.

Bendera Aceh koleksi Museum Nasional Denmark

Jika dilihat lebih lanjut, bendera versi Belanda dengan koleksi museum Denmark hampir memiliki kesamaan pada gambar Belanda paling bawah kanan. Kemiripan pada latar belakang warna bendera dan dua pedang saling berhadapan dengan ujung mengarah keluar.

Sejauh ini, bendera Aceh dengan motif pedang biasanya digunakan pada saat perang di kapal-kapal perang Aceh. Jika demikian, bendera itu sudah digunakan pada era kolonial Belanda (1873) atau sebelumnya saat-saat genting Aceh sebagai sinyal diplomasi politik dengan negara-negara berdaulat khususnya di Eropa.


Menurut Bente Wolff, kepala bagian India, Asia Tenggara dan Oceania di koleksi etnografis, Museum Nasional di København tersebut tidak kurang 140 barang antik bersejarah yang sangat bernilai berasal dari Aceh. Selain bendera di atas, terdapat juga selendang dan celana berbenang emas, perisai, kain kepala, topi dan kalung, anting-anting dan rem dari perak, batang rokok dan bungkusnya,tembakau dan gunting, tikar yang berdesain indah dan penutup makanan dibuat dari daun pisang dan kertas berwarna cerah, lampu berhiasan burung kecil, serta pisau perak. Koleksi barang-barang etnografis itu dikumpul oleh penjelajah, pedagang, antropolog atau pelayar yang membawa barang-barang dari Aceh.

Peninggalan tersebut merupakan kekayaan warisan sejarah dan peradaban Aceh. Tentu, pemerintah Aceh harus memiliki "hati" untuk membuka matanya menidaklajuti kajian-kajian pada warisan yang telah disimpan oleh Museum Denmark dengan baik hati.

Harapan itu juga tersirat dari Bente Wolff yang menaruh harapan "akan lebih baik kalau pribumi dari negara asal barang di koleksi etnografis melihatnya dengan mata sendiri". Tentu harapan tersebut sebagaimana dilakukan negara-negara yang terus meneliti dan mengkaji berbagai warisan di dunia dan menjadikan negeranya sebagai sentral ilmu pengetahuan. Kini, Pemerintah Aceh harus berbenah dari "kolotnya pola pikir" terhadap warisan indatu, tidak hanya slogan pemanis mulut apabila ingin memajukan Aceh ke arah yang lebih baik [].

Dikutip dari berbagai sumber:
- Tarmizi Age (Mukarram)
National Museum of Denmark
- Bendera Aceh di Museum Nasional Copenhagen Denmark
- 10 Negara Eropa yang menyimpan peninggalan Indonesia (I)

Bendera Aceh (2) di Denmark

Read More

Senin, Desember 21, 2015


Masyarakat di belahan dunia menganggap bahwa setiap tahun memiliki istilah-istilah tertentu. Sebagian menyebut "zodiak" yang digambarkan dalam bentuk nama-nama hewan atau bentuk lainnya. Di China, atau Korea dan beberapa negara lainnya memiliki tradisi lebih kental, misalnya menyebut tahun Naga, atau dengan istilah lainnya, seperti Harimau, Kerbau, Tikus, Kuda, Domba, Ayam, dan sebagainya. Setiap istilah memiliki makna tertentu yang berlaku silih berganti selama dua belas simbol (disesuaikan dengan dua belas bulan).

Sebagian lainnya menamai tahun-tahun tersebut sesuai kejadiannya, misalnya di Jazirah Arab, di Mekkah al-Mukarramah pada tahun kelahiran Nabi Muhammad disebut Tahun Gajah. Istilah tersebut karena pada tahun tersebut Raja Abrahah al-Asyram dari Bani Gassan di Hirah Yaman dengan ratusan pasukan gajah dan ribuan bala tentaranya ingin menghancurkan Ka'bah. Namun, Allah menyelamatkan Ka'bah dan Mekkah. Maka tahun itu masyhur dengan istilah Tahun Gajah, padahal sejarawan sudah menemukan dan sepakat tahun itu bertepatan dengan 570 masehi.

Di Aceh, tahun 2004 lebih dikenal dengan tahun Gempa Tsunami, sebab masyarakat mengenangperistiwa bencana tersebesar sepanjang sejarah abad ke-20 dan 21 tersebut. Dan setahun kemudian, 2005 disebut tahun MoU Helsinki, karena pertengahan Agustus antara GAM dan Pemerintah RI sepakat bersalaman dan damai. Begitu seterusnya, setiap kejadian (momen) penting dan besar di tahun tertentu akan dikenang dan menjadi simbol tahun tersebut

Menghadapi tahun 2016, melihat fenomena Aceh kedepan, di saat persatuan semakin rapuh, saling membantu semakin jauh, orang tua dan guru berubah jadi buruh, mufakat dan musyawarah semakin lumpuh, anak yatim dan fakir miskin mati bersimpuh, ulama bukan lagi tempat berteduh, pemimpin sombong menjadi angkuh, kaya dan takabur menjadi teguh. Maka fenomena itu terjadi, saya lebih menyebutnya "Tahun Jampok".

Jampok adalah sejenis burung hantu (English: Owl). Dalam "Hikayat" bahasa Aceh, Jampok diidentikkan dengan sifat tidak baik. Ini berawal dari kisah Nabi Sulaiman saat memilih pemimpin di "Negeri Cicem", Di mulai saat "Ma Jampok" dengan tiba-tiba menunjuk "Aneuk Jampok" menjadi raja, hingga akhir ceritanya memilih seseorang sesuai keahliannya. Banyak hikmah dan pelajaran dalam haba jameun (cerita zaman) Aceh ini.

Deungo lon kisah khabaran jameun
Masa keurajeun Nabi mulia
Masa keurajeun Nabi Sulaiman
Yang mat hukuman ban sigom donya

Nibak Siuroe Nabi Jak Meu en
Ka dengon angen sajan seureta
Ka Nabi neuduk ateuh kursi
Angen bapoet lee ban siklep mata

'Oh ban saree troh bak saboeh tempat
Geumusyawarah geu beuk boeh raja
Nabi neutanyong bak mandum ciceem
Toeh saree kateem lon bouh keu raja

Seuot po Jampok Hai Tuanku Ampon
Nyoe pat sigam lon neuboh keuraja
Seubab Sigam long rupa that ceudah
Lagi ngen hebat meubulee mata

Mata jih bulat babah meukuweit
Cukop meusaheet sigam keuraja
Nabi Sulaiman masa nyan meuseuheh neukhem
Dum cicem laen surak meubura

Teuma jiseuot Burong Keutok-tok
Meuhanjeut Jampok bah lon keu raja
Seubab di ulon nyoe na meupiyasan
Long peh canang prang oh malam jula

Lheuh nyan jiseuout Tok-tok Beuragoe
Hana meusoe-soe taboh keu Raja
Seudangkan di lon kupiah Beusoe
Hantom siuroe lakee keu Raja.

Teuma jiseuout Beurujuk Balee
Han kuteem banlee Jampok keu raja
Hana meusoe-soe ka tajak lakee
Golom meuteuntee tajak peutaba

Saweub digobnyan leuthat piyasan
Geupeeh ngen geundrang oh malam jula
Ngon Ciceem Got-got Geumeu en Geudrang
Leupah that garang karu ngen subra

Laju jiseuout si ciceem Enggang
Leupah that garang meunyoe jih keu Raja
Ampon Tuanku Saidil Ambiya
Galak lon raya gob nyan keu raja

Ciceem kakirouh nyang na di sinan
Nabi Sulaiman teukheem lagoina
Apa Jampok yoh nyan kamalee muka
kaleupah haba nariet jipuga

Di cicem Pala jigroep-groep lamboeng
di Cicem Buroeng surak meubura
Beurujuek Balee surak di sampeng
Cicem keureuleng sama-sama

Leumpah that malee ji apa Jampok
Teuduk meuseupok beu blek-blek mata
Malee ji that-that ka deungon rakan
Hana meu'oh ban cukop that gura

Teuma jidamee uleh Keudidi
Si Rajawali tabouh keu raja
Cicem Dama Peudana Meuntri
Beurujuk Campli Keupala Teuntra

Leuk Bangguna taboh keu Meuntri
Keupala negeri nyoe Ciceem Dama
Kleung Puteeh Ulee jeut Polisi
Si Mirah pati jeut keu wedana

Keu Peuneurangan po ciceem Tioeng
Nyang mat hukom Po ciceem Pala
Tok-Tok Beuragoe geuchiek gampong
Ciceem Keucuboeng keu ureung Ronda

Di cicem Tuloe jeut keu Peunerangan
Cicem Rajangan boeh keu Panglima
Di cicem Bubruk taboeh mak Bidan
Seubab gobnyan geukuwa-kuwa

Semoga hikayat "Aneuk Jampok" dapat menjadi pelajaran dalam hidup kita.

Ayo rileks sambil mendengar lagu-lagu "Jampok"



2016, Aceh Tahun Jampok

Read More

Rabu, Desember 16, 2015


Naskah-naskah yang berkaitan dengan selawat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad saw yang terdapat di Aceh mayoritasnya akan dihiasi dengan iluminasi dan ilustrasi yang indah. Kecantikan seni tersebut menghias teks-teks yang memuji keagungan seorang Nabi terakhir. Biasanya, hiasan tersebut ditempatkan pada awal-awal halaman dan di akhir sebagai penghormatan dan kemuliaan kepada Nabi Muhammad saw yang paling mulia. Hal senada juga banyak (lebih konsisten) dijumpai pada mushaf-mushaf Aceh dan Nusantara.


Nabi lahir pada malam Senin, atau Senin pagi sebelum Subuh tanggal 12 Rabiul Awal bertepatan pada Tahun Gajah (570 Masehi). Ini adalah pendapat paling sahih yang merujuk pada pendapat Ibn Ishaq dan jumhur yang lainnya. Nabi mulia dilahirkan di Mekkah, di rumah kakeknya, Abdul Muthallib, pada saat itu Siti Aminah sejak meninggal suaminya Abdullah (ayah tercinta nabi Muhammad) dan selama ia mengandung dirawat di rumah kakeknya.

  


Dikenal tahun Gajah sebab pada tahun tersebut, Pimpinan besar Abrahah al-Asyram berasal dari Bani Gassan telah membangun satu peribadatan yang indah dan cantik di Hirah Yaman untuk dapat menarik simpati luar melaksanakan ibadah tahunan di sana. Namun sayang, hal itu tidak membuat masyarakat luar tertarik ke sana, dan  tetap berkunjung ke Mekkah dalam melaksanakan haji sebagai peribadatan tahunan. Abrahah berang, dan ingin menghancurkan Ka'bah di Mekkah. Sebagian riwayat menyebut ini terjadi 2 bulan sebelum kelahiran Nabi, sebagian menyebut hanya beberapa minggu, dan lainnya berpendapat ini terjadi pada waktu-waktu Siti Aminah akan melahirkan.


Pada hari ketujuh kelahiran Nabi, sang kakek Abdul Muthallib menyembelih unta dan mengundang masyarakat Mekkah sebagai acara syukuran (aqiqah) makan bersama. Dan memberitakan kepada masyarakat Mekkah bahwa cucunya diberi nama Muhammad, sedangkan ibunya menamainya Ahmad, yang keduanya berarti terpuji. Masyarakat Mekkah pun bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyangnya yang sudah mentradisi di bangsa Arab saat itu. "Aku ingin dia (Muhammad) menjadi orang yang terpuji (Ahmad) bagi Tuhan yang di langit, dan (Muhammad) bagi makhluk-Nya di bumi". jawab Abdul Muthallib.



Hadirnya naskah-naskah kuno (manuskrip) yang dihiasi indah beragam hiasan menunjukkan kecintaan para orang-orang terduhulu dan menjunjung kelahiran dan kehidupan Nabi dengan teks-teks selawat kepada Nabi, biasanya teks-teks seperti Dalail al-Khairat, Selawat Nabi dan Barzanji lainnya akan menghiasi indahnya tulisan-tulisan pujian tersebut.

        


Allah telah menujukkan bukti Nabi terakhir, Rasul paling mulia, pemberi syafaat kepada mukmin di akhirat, dan telah diakui oleh Nabi-nabi sebelumnya akan keberadaannya, serta telah diungkapkan dalam kitab-kitab Taurat, Zabur dan Inzil. Di atas semuanya, terpenting mengikuti seluruh sunnah Nabi, berpedoman pada sirahnya, dan selalu bersalawat dan memujinya setiap saat tanpa terbatas oleh dinding perayaan maulid.


Tamma.

Indahnya Manuskrip Maulid Nabi di Aceh

Read More

Jumat, Desember 04, 2015


Kerajaan Aceh yang gemilang dalam lintas sejarah Melayu Nusantara sejak abad ke-16 hingga bergulir ke pertengahan abad ke-20 masehi, dan meninggalkan banyak tanda tanya, salah satunya bendera Aceh. Saban hari, isu bendera menjadi polemik dan bergelinding semakin membesar. Tidak hanya membesar karena digelinding dalam ranah politik Aceh sekarang, tetapi juga dalam prioritas kepentingan "kesejahteraan" pasca damai Aceh, dan tentu juga dalam lingkaran sejarah Aceh.

Hasan Tiro mengakui beberapa tambahan dalam bendera versinya, tujuannya bendera yang dibuatnya untuk "Aceh Merdeka", dan itu artinya ia salah seorang yang tahu sejarah tentang bentuk bendera Aceh pada awal Kesultanan dan era kolonial Belanda.

Bendera secara filolofis merupakan hal penting yang tidak terlepas dari simbol kedaulatan, geografis dan patriotisme. Namun, tentu bendera tidak serta mensejahterakan masyarakatnya, bahkan untuk sebuah negara yang merdeka sekalipun atau negara yang kaya bukan tergantung pada bendera. Namun, bendera juga dapat membuat makhluk yang diberi pikiran tidak mampu berpikir, dan juga tidak sedikit yang terharu dan menangis saat kain selembar itu berkibar.
Museum voor Volkenkunde, Leiden

Dalam riwayat sejarah Kesultanan Aceh memiliki bendera tersendiri, beberapa riwayat bendera sesuai dengan situasi dan kondisi negara (kesultanan) ketika itu. Bahkan beberapa kerajaan kecil di bawah otoritas Aceh memiliki bendera sendiri, seperti Kerajaan Samalanga, Kerajaan Tapak Tuan dan Kerajaan Trumon. Bahkan terdapat juga bendera perdagangan (handel) Nalaboe. Kata Nalaboe merupakan nama awal yang kini berubah menjadi Na Laboeh, dan Meulaboh.

Baca lainnya:

Bagaimana Bendera Aceh Tempo Dulu

Read More

Jumat, September 19, 2014

This article discusses the development of Syattariyah Sufi order as one of religious traditions in Aceh in the colonial era based on the manuscript of Muhammad Khatib Langien’s Mi‘rāj al-Sālikīn ilá Martabat al-Wāsilīn bi-Jāh Sayyid al-Mursalīn. The Syattariyah teachings in Mi‘rāj al-Sālikīn have proved the existence of Muhammad Khatib Langien in the Malay-archipelago world. In applying his teachings, Muhammad Khatib Langien has the different procedures than that one of  ‘Abd al-Raūf al-Fansuri. In addition to practical teachings, Muhammad Khatib Langien employs local symbols such as wearing skullcaps and turbans in the swear oath (bay‘ah) process. This tradition is meant to respond the foreign culture as well as to show the identity of each members of Syattariyah sufi order. It is proved that Muhammad Khatib Langien’s teachings that can be accepted by all people and groups even without having support from the local authorities at the time.

Di Aceh, jalur ‘Abd al-Raūf al-Fansuri (Abdurrauf Syiah Kuala) bukanlah satu-satunya penghubung tarekat Syatariyah dari dunia Islam (Mekah dan Madinah) ke dunia Melayu-Nusantara, khususnya Aceh. Beberapa naskah koleksi Tanoh Abee menyebutkan terhubungnya murid-murid tarekat Syatariyah di sana tanpa melalui jalur Abdurrauf al-Fansuri di era yang sama. Demikian juga jaringan silsilah Syatariyah di Pidie dari tokoh utama adalah Muhammad bin Ahmad Khatib Langien di Pidie. Berada di Gampong (desa) Langien di wilayah kemukiman berada di Pidie (Kabupaten) yang jauh dari sentral Kesultanan Aceh (Banda Aceh).
Hubungan silsilah tarekat Syatariyah terjalin kuat antara ulama Nusantara, Arab dan India secara langsung ataupun tidak. Konsep ajaran yang disebarkan di Nusantara –khususnya Aceh- tidak berbeda jauh dengan konsep di tempat lahir dan berkembangnya tarekat ini. Walaupun belum didapatkan tokoh Arab atau India dalam tarekat ini yang langsung berkiprah di Aceh, seperti peran Nūr al-Dīn al-Ranirī periode Iskandar Tsani (w. 1641) dan pamannya, Hamīd al-Rānirī di masa Iskandar Muda (w. 1630), yang mengembangkan tarekat Qadiriyah di Aceh.
Tarekat Syatariyah masuk dan berkembang di Aceh hampir bersamaan dengan atau setelah tarekat Qadiriyah. Sejauh ini, ‘Abd al-Raūf al-Fansuri memiliki jaringan terluas di Nusantara, dan dapat dipastikan yang pertama. Dengan pengalamannya selama 19 tahun di Jazirah Arab dan “berguru Syatariyah” kepada Ahmad al-Qushāshī dan Ibrāhim al-Kurānī hingga dipercayakan untuk mengembangkan ajaran tarekat di Nusantara. Ia mampu mengorbitkan ulama-ulama dalam tarekat Syatariyah di seluruh wilayah Melayu-Nusantara, diantaranya Burhanuddin Ulakan, (w. 1699 M) dari Pariaman, Sumatra Barat, Abdul Muhyi (w. 1738 M) dari Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat, Yusuf al-Makassari (w. 1999 M) dari Sulawesi, dan Syaikh Abdul Malik bin Abdullah atau Tok Pulau Manis (1678-1736) dari Terengganu.

Mi‘rāj al-Sālikīn: Survivalitas Ajaran Tarekat Syatariyah di Aceh Periode Kolonial

Read More

Selasa, Februari 25, 2014

KATA maulod atau maulid berasal dari kata serapan bahasa Arab yang dimaknai hari lahir. Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang diperingati atau dirayakan pada setiap 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat.
Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Perayaan Maulid Nabi, kabarnya pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193). Dan ada sumber lain yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin al-Ayyubi sendiri.
Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya. Akan tetapi, dalam perkembangan berikutnya tradisi ini menyebar ke daerah-daerah sentral Muslim dalam kegiatan peringatan keagamaan untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad, hingga akhirnya berkembang bukan hanya pada pembacaan syair-syair mahabbah kepada Rasulullah, akan tetapi juga pada ranah sosial budaya dan adat-istiadat yang "dikawal" secara turun-temurun.

Tradisi Maulid Nabi di Aceh dalam Manuskrip Aceh

Read More

Selasa, November 26, 2013

Penulis (paling kanan baju warna merah) bersama dengan Wakil Bupati
Rektor UTU Meulaboh dan pembedah buku


Buku "Meulaboh Dalam Lintas Sejarah Aceh" diluncurkan dan dibedah pada hari Senin (25/11/2013) di kantor Bupati Aceh Barat yang dibuka oleh Wakil Bupati Aceh Barat, Drs. H. Rachmat Fitri HD, MPA, mewakili Bupati Aceh Barat, H. T. Alaidinsyah.
Buku ini ditulis oleh Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) Aceh Barat, HT Ahmad Dadek bersama Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang juga ahli manuskrip Aceh, Hermansyah, serta editor Arif Ramdan, wartawan Serambi Indonesia di Aceh.

Peluncuran buku ini dipadukan dengan bedah buku oleh Dr.Gunawan Adnan, MA., Ph.D, yang menurut beliau hadirnya buku ini patut diapresiasi dan dibaca, sebab ini dapat menjadi rujukan utama karena kajian dalam buku ini dipadu dari sumber-sumber primer, manuskrip dan buku-buku Belanda.

Buku tersebut berisi tiga dimensi periode. Meliputi Meulaboh dalam literatur klasik; Kesultanan Aceh, orang-orang Pribumi, Teungku dan Datuk: literatur klasik Manuskrip; 

Periode kedua merupakan periode Kolonial Belanda, sejak menginjak kakinya di Meulaboh pada tahun 1877. Pada bagian ini antara lain terdapat Hikayat-hikayat Aceh versi van Langen, Hikayat Teungku di Meukek, dan Hikayat Ranto, West Kust van Atjeh, dan lain-lain.


Meulaboh Dalam Lintas Sejarah Aceh

Read More

Kamis, November 22, 2012

Dalam masyarakat Aceh kita akan menjumpai sejumlah karya sastra dari zaman lampau. Diantara karya sastra itu ialah hikayat. Hikayat ditulis hampir seluruhnya berbentuk puisi dengan menggunakan huruf Arab-Melayu tetapi tetap dalam teks berbahasa Aceh. Ditinjau dari segi masyarakat Aceh, hikayat tidaklah dipandang sebagai karya fiksi yang utuh. Hikayat dan cerita rakyat semacam itu lebih berat dipandang sebagai suatu peristiwa kehidupan yang benar-benar ada daripada sebagai buah pikiran pengarangnya. Juga, isi kandungan hikayat dianggap mewakili sekelumit peristiwa kehidupan sosial Aceh sehingga amat mempengaruhi tingkah laku, norma atau nilai-nilai sosial, kehidupan bermasyarakat dan berbudaya pada umumnya.
Hikayat adalah salah satu jenis sastra Aceh, pada umumnya dalam bentuk puisi diucapkan atau ditulis dalam bahasa Aceh. Hikayat Aceh pada awalnya dikembangkan hanya melalui lisan, disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Periode ini mengutamakan hafalan dan komunikasi lisan dari satu orang ke orang lain. Seiring perkembangan zaman maka beralihlah ke era tulisan yang dituangkan dalam naskah-naskah atau tulisan tangan. Kini jenis sastra ini menjadi khazanah budaya dan warisan leluhur yang didalamnya mengandung kekayaan, nilai-nilai moral, pemikiran, pengetahuan, adat istiadat, hukum, sejarah dan perilaku masyarakat pada masa lalu.  Warisan khazanah budaya Aceh dalam bentuk naskah informasinya jauh lebih luas dan lebih jelas jika dibandingkan dengan peninggalan budaya yang berbentuk material seperti istana, mesjid, batu nisan, mata uang, dan sebagainya.
Istilah Hikayat berasal dari bahasa Arab “hikāyah” artinya cerita, dongeng, kisah, bentuk masdar dari kata kerja “hakā” yaitu; menceritakan, mengatakan sesuatu kepada orang lain.  Di Aceh hikayat dikenal sebagai sebuah karya sastra umumnya berbentuk syair sajak, sebagian kecil saja yang berbentuk prosa, isinya meliputi segala aspek bidang ilmu dan berbagai corak seperti dongeng, cerita, sejarah, nasehat, kisah, surat, nazam, dan sebagainya.
Berbeda dengan istilah hikayat dalam bahasa Melayu yaitu merupakan narrative story yaitu dalam bentuk prosa beralur cerita (narasi) atau dikenal novel dalam sastra modern. Para ulama-ulama Aceh lebih mengarahkan ciptaan karya mereka (hikayat) pada karya keagamaan dan nasehat yang berisi amar makruf nahi mungkar serta ajaran-ajaran lainnya sesuai dengan tuntunan agama Islam, walaupun sisi ilmu pengetahuan umum tak diabaikan.
Hal tersebut selaras dengan pendapat C. Snouck Hurgronje bahwa sastra Hikayat Aceh berbeda dengan sastra Hikayat Melayu, Hikayat Melayu berbentuk prosa, sedangkan Hikayat Aceh berbentuk puisi di luar jenis pantun, nasib, dan kisah. Hikayat bagi orang Aceh tidak hanya berisi cerita fiksi belaka, tetapi berisi pula butir-butir yang menyangkut pengajaran moral; ke dalam kelompok ini termasuk kitab-kitab pelajaran sederhana, asalkan ditulis dalam bentuk sanjak.
Sastra melayu sebagai salah satu karya sastra lama yang memiliki nilai-nilai budaya luhur, dibedakan menjadi dua jenis (genre) sastra, yaitu jenis sastra lisan dan sastra tulis. Sastra lisan melayu tumbuh dan berkembang melalui tuturan cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari orang tua kepada anak, dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Jenis lisan ini ada yang didengarkan dan dihayati secara bersama-sama pada peristiwa tertentu, dengan maksud untuk mencapai tujuan tertentu.

Hikayat Aceh Dalam Ranah Kesusasteraan Melayu-Indonesia (1)

Read More

Selasa, November 20, 2012


A. Pengantar
Sejarah kesusastraan Melayu yang penuh dengan hingar bingar karya sastra dalam beragam bentuknya memang tidak bisa dipisahkan dari ajaran Islam. Ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ini menyebar di wilayah Melayu melalui peranan para saudagar dari negeri-negeri muslim lain yang telah terlebih dahulu mengenal agama samawi terakhir ini. Selanjutnya, sendi-sendi kehidupan masyarakat Melayu diwarnai oleh ajaran-ajaran Islam, tak terkecuali sisi sastra yang memang telah menjadi bagian terpenting masyarakat Melayu selama ini tentunya. Persentuhan dan interaksi Islam dengan masyarakat Melayu ini kemudian melahirkan beragam karya sastra. Sejarah kemudian mencatat mengemukanya cerita-cerita Melayu yang bernuansa Islam atau buku-buku mengenai keislaman yang ditulis oleh para penulis Melayu yang senantiasa menjadi bahan kajian beragam pihak hingga saat ini.
Salah satu karya yang cukup menarik perhatian banyak kalangan yang dihasilkan penulis di era Melayu klasik adalah ”Hikayat Muhammad Hanafiyah”. Cerita yang termuat dalam hikayat ini sebagian besarnya berasal dari India Selatan dan merupakan peristiwa tertentu yang pernah terjadi dalam sejarah. Naskah-naskahnya tersebar di berbagai tempat di dunia dan beragam kajian telah dilakukan oleh banyak pihak terhadap hikayat ini. Tulisan berikut mencoba untuk meneliti naskah cerita Melayu klasik tersebut berdasarkan tahapan penelitian yang diterapkan dalam kajian filologi.

B. Analisis Filologis Terhadap ”Hikayat Muhammad Hanafiyah”
Penelaahan filologis atas ”Hikayat Muhammad Hanafiyah” menjadi menarik karena di samping menjadi salah satu cerita yang sangat populer dalam kesusastraan Melayu, hikayat ini juga merupakan bentuk apresiasi yang tinggi terhadap Nabi Muhammad dan keluarganya. Apresiasi yang tinggi kaum muslim tersebut tidak hanya sebatas pujian-pujian saja, tetapi lebih jauh lagi menjadi budaya yang mewujud dalam beragam tradisi yang memiliki satu tujuan, yaitu penghormatan terhadap Nabi Muhammad dan keluarganya. Salah satu contoh dari mengemukanya tradisi penghormatan atau memperingati perjuangan dan pengorbanan Nabi dan keluarganya adalah tradisi Tabuik di Pariaman dan Taboot di Bengkulu.
Untuk melakukan analisis filologis terhadap hikayat ini, diperlukan seperangkat tahapan yang mesti dilakukan. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menganalisis hikayat ini menurut ilmu filologi adalah pencatatan dan pengumpulan naskah, metode kritik teks, susunan stema, dan rekonstruksi teks.

Kajian Filologis "Hikayat Muhammad Hanafiyah"

Read More

Selasa, Mei 03, 2011



Selamat untuk dunia Filolog dan pengkaji manuskrip, tasawuf dan sejarah.
Kini, hadir satu teks naskah terbaru berjudul "Durr al-'Aqaid Li Abtal Aqwal al-Mulahid" ( Durar al-'Aqaid Li Abtal Aqwal al-Mulahid ). Awalnya saya menduga ini adalah teks naskah yang sama dengan "Durr al-Faraid Li Syarh al-'Aqaid" karya Nuruddin al-Raniri, ternyata setelah didalami isinya, dilakukan perbandingan teks dan struktur bahasa yang berbeda.

Didalam teks naskah ini tidak disebutkan penulis kitab. Namun, didalamnya disebutkan kitab ini terjemahan dari kitab Arab, dengan judul yang sama.

Sejauh melakukan peninjauan dalam berbagai katalog, saya belum menemukan referensi naskah ini, baik dalam rangkuman karya Nuruddin al-Raniri, karna karyanya identik dengan pertentangan Wujudiyyah yang dinggap Mulhid dan Zindiq. Maka, saya menduga ini manuskrip terbaru, -paling tidak- dalam pengetahuan saya.

Semoga, hadirnya naskah ini menambah kekayaan khazanah intelektual Muslim di Nusantara, khususnya dalam bidang pengkajian keagamaan dan tasawuf.
Juga, ini sekaligus membuktikan masih banyak tersimpan naskah-naskah Ulama di sekitar yang belum tersentuh kajiannya.

Naskah Aceh terbaru "Durr al-'Aqaid Li Abtal Aqwal al-Mulahid"

Read More

Rabu, Januari 05, 2011

1. Pendahuluan

Penelitian naskah Melayu yang termasuk dalam sastra lama di Indonesia sebenarnya sampai sekarang belum dapat dikatakan banyak, jika dibandingkan dengan khazanah naskah sastra lama yang terdapat di tanah air kita, serta jika dibandingkan dengan khazanah naskah sastra lama yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Orang telah beberapa kali mencoba untuk memperkirakan jumlah naskah Melayu yang masih ada. Sampai sekarang, angka yang menunjukkan jumlah naskah yang tersebar ini tidak pasti. Ada yang menyebut jumlah 4.000 (Chambert-Loir, 1980), ada yang memperkirakan 5.000 (Hussein, 1974: 12), bahkan ada yang menduga sampai 10.000 (Jones, 1980). Jumlah negara yang memiliki naskah ada dua puluh delapan, yaitu Afrika Selatan, Amerika Serikat, Australia, Belanda, Belgia, Brunei Darussalam, Cekoslowakia, Denmark, Hongaria, Indonesia, Inggris, Irlandia, Italia, Jerman Barat, Jerman Timur, Malaysia, Mesir, Norwegia, Polandia, Perancis, Rusia, Singapura, Spanyol, Sri Lanka, Swedia, Swiss, dan Thailand (Chambert-Loir, 1980: 27). Miller (1982) menambahkan Australia.

Peta penyebarluasan di Indonesia juga belum dapat diketahui dengan pasti. Selain di Museum Nasional Jakarta, naskah Melayu juga terdapat di Aceh, Nusa Tenggara Barat, dan Ambon dalam jumlah kecil maupun besar. Namun jumlah terbesar tersimpan di Museum Nasional Jakarta (Rujiati-Mulyadi, 1980, 1981, 1984). Diperkirakan di tempat-tempat lain di Indonesia juga masih ada. Secara lisan pernah terbetik berita mengenai masih adanya naskah pribadi di daerah-daerah Minangkabau dan Bangka. Sayangnya informasi tertulis mengenai hal seperti itu tidak banyak tersedia.

Penelitian Naskah Melayu: Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan *

Read More

Jumat, November 19, 2010

Tgk Chik Pante Kulu dikenal sebagai pengarang Hikayat Perang Sabi. Dia dilahirkan tahun l25l H (l836 M) di desa Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Kecamatan Kemalawati, Kabupaten Pidie, Aceh. Nama lengkapnya Tgk Chik Haji Muhammad Pante Kulu.

Mula-mula ia belajar Al Quran dan ilmu-ilmu agama Islam dalam bahasa Melayu (Jawi). Kemudian melanjutkan pelajarannya pada 'Dayah Tiro' di Pidie yang dipimpin Tgk Haji Chik Muhammad Amin Dayah Cut, seorang ulama Tiro yang kebetulan baru pulang menunaikan ibadah haji di Mekkah.

Chik Pante Kulu pernah belajar di Mekkah. Menurut salah satu versi riwayat bahwa Puisi 'Hikayat Perang Sabil' ditulisnya dalam perjalanan Mekkah-Aceh, artinya saat pelayaran dilakukan didalam kapal ditengah laut, jika menilik alur cerita syairnya sangat besar kemungkinan ini dikarang disana (Arab) paling tidak dua judul (bagian) kisah Pasukan Gajah dan Sa'id Salmy jelas adalah kisah di negeri Arab.

Sedangkan versi ke dua ialah hikayat perang sabil ini ditulis Chik Pante Kulu adalah atas suruhan Tgk. Chik Abdul Wahab Tanoh Abee yang lebih dikenal Tgk. Chik Tonoh Abee. Dari dua kisah dari empat kisah keseluruhan mencerminkan semangat petriotisme dan epos melawan penjajah di negerinya. Maka menurut asumsi saya adalah

Prang Sabi Dikenang, Tgk Chik Pante Kulu Terlupakan

Read More

Rabu, Oktober 27, 2010



Aceh telah mewariskan pusaka khazanah berharga berupa naskah-naskah tulisan tangan (manuscripts) sejak beberapa abad yang lalu, negeri Serambi Mekkah bagi para ilmuwan filolog dikenal juga sebagai "Lumbung Naskah" tersimpan puluhan, atau bahkan ratusan ribu naskah dipastikan terdapat di nanggroe Rencong, yang sebagiannya kini sulit terjamah di negerinya sendiri, sedangkan sebagian lainnya tersimpan di sejumlah perpustakaan di luar Aceh, seperti Perpustakaan Nasional RI di Jakarta, Perpustakaan Universitas Leiden dan Universiteitsbibliotheek di Belanda, Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) di Kuala Lumpur.

Banyaknya karya ulama-ulama Aceh terkemuka terutama pada abad ke-16 sampai abad ke-18 seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatra’i, Nuruddin al-Raniri, Abdurauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri, Fakih Jalaludin, Teungku Khatib Langgien, Muhammad Zein, Abbas Kuta Karang, Teungku Chik di Leupe (Daud Rumi), Jalaluddin Tursany, Jamaluddin ibn Kamaluddin, Zainuddin, Teungku Chik  Pante Kulu, dan banyak tokoh lainnya yang memiliki karakteristik dan kekhasan serta identik dengan khazanah Islam lokal dan universal.
 
Diantara kitab terkenal adalah Buṣtān as-Salātīn fī Zikr al-Awwalīn wal Ākhirīn (Bustan as-Salatin), yaitu salah satu kitab fenomenal yang disusun pada abad ke-16 tepatnya pada masa Iskandar Muda (1607-1636) sampai pada masa Sultan Iskandar Tsani (1636-1641), kitab ini memberikan gambaran tentang Aceh dan kerajaannya pada periode ke-16 dan ke-17 M.

Pada masa tersebut, kitab inilah paling lengkap menceritakan kisah raja-raja Melayu secara universal, khususnya kerajaan Aceh Darussalam, termasuk merekam jejak perjalanan istana kerajaan Aceh dan struktural kenegaraan, yang dikarang oleh seorang ulama berasal dari negeri anak benua, Hindustan (India) bernama Syeikh Nuruddin Muhammad ibnu 'Ali ibnu Hasanji ibn Muhammad Hamid ar-Raniri.

Nuruddin ar-Raniry seorang ulama dan negarawan yang telah berhasil memberikan sumbangsih sejarah melalui kitab Bustan as-Salatin pada saat pengabdiannya di Aceh, menurut sejarawan untuk menyelesaikan kitab Bustan as-Salatin dalam waktu relatif lama, namun tidak dapat dipastikan secara pasti tahun berapa kitab itu mulai ditulis, hanya perkiraan tahun 1640 (1050 H) sudah beredar dan menjadi bacaan para penghuni istana raja dan ulama-ulama Aceh. Menurut Braginsky kitab Bustan as-Salatin ditulis antara tahun 1638-1641, hal tersebut dapat terlilhat dari syair naskah Bustan as-Salatin berbunyi “Ialah perkasa terlalu berani, Turun-temurun nasab Sultani, Ialah menyunjung inayat Rahmani, Bergelar Sultan Iskandar Tsani”, sebagian lain berpendapat bahwa Bustan as-Salatin sudah diisyaratkan kajiannya dalam kitab Asrar al-Insan fi Ma’rifah al-Ruh wal Rahman, juga karya Nuruddin as-Raniry usai dikarang pada tahun 1640 M (1050 H).

Nuruddin ar-Raniry berasal dari Ranir (Randir) Gujarat, India, sebagai foreigner menjadi asing bagi masyarakat Aceh, namun ia sudah banyak mengetahui tentang Melayu khususnya Aceh. Hal tersebut sangat dimungkinkan memperoleh seluruh informasi tersebut dari pamannya Syekh Muhammad Jailani bin Hasan Ar-Raniry, yaitu seorang ulama yang sudah berkarya sebelumnya di Aceh sebagai da’i sekaligus pedagang. Ia adalah salah seorang dari sekian banyak para pedagang dan mubaligh India yang mengajar dan berbisnis di Aceh dari satu generasi ke generasi lain secara turun temurun, maka dipastikan Nuruddin ar-Raniry sudah menguasai bahasa Melayu dan aksara Jawi sebelum menginjak kakinya di Aceh.

Ada sekitar 30 lebih judul kitab karya Nuruddin ar-Raniry dalam pelbagai disiplin bidang ilmu dan kajian mayoritasnya beraksara Jawi berbahasa Melayu, diantaranya Kitab As-Sirath al-Mustaqim, Durrat al-Faraid bi Syarh al-‘Aqaid, Hidayat al-habib fi al Targhib wa’l-Tarhib, Bustanus as-Salatin fi Zikr al-Awwalin Wal Akhirin, Latha’if al-Asrar, Asrarul Insan fi Ma’rifat al-Ruh wa al-Rahman, Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan, Akbar al-Akhirah fi Ahwal al-Qiyamah, Hill al-Zill, Ma’ul Hayat li Ahlil Mamat, Jawahirl ‘Ulum fi Kasyfil Ma’lum, Syifa’ul Qulub, Hujjat as-Shiddiq Lidaf’il Zindiq, Fathul Mubin ‘alal Mulhidin, dan kitab lain sebagainya.

Kitab Bustanus as-Salatin lah menjadi salah satu bacaan para kediaman kerajaan Aceh, secara prikologis kitab tersebut memiliki nilai historis yang bernilai tinggi yang menjadi rujukan para sejarawan dan research dalam melakukan berbagai kajian dari dulu hingga kini. Penggunaan bahasa Melayu (beraksara Jawi) sebagai bahasa resmi baik dibidang politik, dagang, agama, dan budaya, di Aceh sejak abad ke-15 telah mendorong perkembangan tradisi tulis dan tradisi keilmuan yang sangat pesat di wilayah ini hingga abad-abad berikutnya, khususnya abad ke-16 dan ke-17 ketika kesultanan Aceh menggapai masa keemasannya.

Berdasarkan rekaman sejarah, kitab Bustan as-Salatin menjadi perintis perdana yang mengupas tentang historikal kerajaan yang bersifat teologis sekaligus historis. Disebut teologis sebab mengurai keesaan Tuhan dan segala wujud tentang penciptaan alam semesta dan kelanjutan proses tersebut, sekaligus disebut historis karna merangkup perjalanan raja-raja Aceh. Menurut Teuku Iskandar dalam bukunya, karya Nuruddin ar-Raniry mengikuti jejak kitab karya ulama sebelumnya Bukhari al-Jauhari berjudul Taj as-Salatin, jika ditinjau dari beberapa sisi ada persamaan, namun juga terdapat banyak perbedaannya, sebab kitab Taj as-Salatin disusun lebih berat pada titik religious cultures yang ditujukan kepada raja-raja Iran (Parsi), yaitu tidak lain merupakan ilustrasi untuk konsepsi etika dalam membentuk harmoni peradaban manusia dan alam ini.

Sedangkan kitab Bustan as-Salatin adalah sebuah kitab yang bersifat religious histories, yaitu terfokus pada teologi-historis dimana didalamnya dilukiskan gambaran dinamis tentang penciptaan alam semesta dan kelanjutan prosesnya, namun tak terlepas dari etik dan syariat yang diutamakan. Dan dalam naskah Bustan as-Salatin inilah jelas dan tegas memasukkan sejarah bangsa Melayu ke dalam sejarah dunia yang dipaparkan sebelumnya, dan khususnya perjalanan sejarah Kerajaan Aceh sebagai Dar as-Salam (Darussalam). Demikian juga menurut Hooykaas menyebutkan jika dibandingkan dengan Sejarah Melayu karangan Tun Sri Lanang yang disebut Paduka Raja dalam Bustan as-Salatin, maka kitab ini (Bustan as-Salatin) lebih bersifat pengetahuan, baik agama, sejarah dan nasehat (etika).
 
Kitab masyhur ini kemudian menjadi bacaan para alim ulama dan raja-raja setelah Sultan Iskandar Tsani, seperti Sultanah Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675), Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678) sampai kepada abad ke 18 pada masa Sultan Ala al-Din Johan Syah (1735-1760), perubahan ideologi karakteristik masyarakat Aceh pada saat itu berubah terhadap hadirnya penjajah di Aceh, dalam kondisi ini posisi kerajaan mulai beralih pada pertahanan dan penguatan wilayah daripada pengembangan intelektual masyarakat, namun peranan ulama pada era ini sangat penting untuk menjaga persatuan ummat dan semangat patriotisme.

Dalam Bustan as-Salatin juga digambarkan patriotisme dan peperangan masa kerajaaan, dapat dikatakan naskah ini merupakan kitab perdana di dunia Melayu (Nusantara) yang berbentuk gubahan ensiklopedis yang menggabungkan genre universal histories dengan ‘cermin didaktis’. Menurut Braginsky bahwa kitab ini sangat tebal sehingga tidak tersimpan semua bab dalam satu bundel, dan biasanya naskah-naskahnya berisi hanya satu atau dua-tiga bab tertentu. Namun, jika mengupas isinya maka bisa ditemukan antar bab dan pasal saling bersinambungan dan berkaitan, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa kitab ini dikarang secara periodik dan kontinue.

Menilik isinya, naskah Bustan as-Salatin yang terbagi kepada 7 (tujuh) bab dan terdiri dari 40 (empat puluh) pasal, pembahasannya dimulai dari wujud penciptaan Alam ini, penciptaan Nur Muhammad, Malaikat dan segala bentuk perwujudan, kemudian pada bab selanjutnya uraian wilayah kekuasaan Aceh dan Melayu, histografi dan silsilah Sultan Aceh serta kemegahan dengan segala hukum dan qanun yang diterapkan dalam menjalankan roda pemerintahan dan hubungannya dengan negara-negara luar Aceh, baik diplomasi maupun perebutan kedaulatan di wilayah sekitar seperti Deli, Johor, Malaka, Kedah dan Pattani (Thailand Selatan). Pada bab inilah yang menjadi patokan para sejarawan menelusuri silsilah dan potret kerajaan Aceh serta ‘patron’ dalam penegakan hukum syariat Islam dimasa keemasan Kesultanan Aceh.

Dapat dibayangkan gambaran uraian dalam naskah Bustan as-Salatin tentang kemegahan kerajaan Aceh Dar ad-Donya as-Salam “Syahdan, di darat Balai Keemasan yang memiliki Balee Ceureumeen (Aula Kaca) di istananya yang megah, di dalam istana ada Maligai Mercu Alam, dan Maligai Daulat Khana dan Maligai Cita Keinderaan dan Medan Khayali, dan aliran sungai Dar al-Isyki itu suatu dan terlalu amat luas, kersiknya daripada batu pelinggam, bergelar Medan Khairani yang amat luas. Dan pada sama tengah medan itu Gegunungan Menara Permata, tiangnya dari tembaga, dan atapnya daripada perak seperti sisik rumbia, adalah dalamnya beberapa permata puspa ragam, dan Sulaimani dan Yamani”.

Pada bab-bab selanjutnya diuraikan tentang etika seorang pimpinan, penegakan hukum dan keadilan, sosial dan komunitas masyarakat Melayu serta patriotisme yang zuhud dan wara’, hikayat didalam naskah ini tidak terlepas dari local history dan adat-istiadat yang terjadi di kerajaan Aceh untuk melukiskan kehidupan antara kerajaan dan masyarakat yang majemuk. Pada bab terakhir (bab 7) membagi pembahasan kepada bermacam tema dan topik seperti pengajaran, pendidikan, pengabdian, masalah Nisa’ dan juga khusus pada bab ini Nuruddin ar-Raniry berpolemik dengan berbagai kisah mistis dan ganjil sebagai i'tibar bagi pembaca.

Selaras dengan perkembangan dunia pernaskahan, pada pertengahan abad ke-19 tepatnya pada awal agresi Belanda ke Aceh pada tahun 1873 M, perang paling terpanjang dalam catatan sejarah dan penyerangan besar-besaran ke Aceh, telah menjadikan perhatian ilmuwan dan rakyat Aceh terhadap karya-karya ulama spektakuler terabaikan, pada saat yang sama perhatian rakyat Aceh tertuju kepada perjuangan fisik (perang) mengusir penjajah dari tanah kelahirannya. Situasi ini dimanfaatkan oleh Barat (penjajah) untuk memboyong karya-karya ulama ke luar negeri, walau sebagian kecil peran ulama menyelamatkan naskah dengan mengkaji dan memperbanyak di dayah-dayah sekaligus menjadi benteng perjuangan seperti apa yang terjadi di Zawiyah Tanoh Abee, Awe Geutah dan di dayah-dayah lainnya.

Dan kini, dalam penelusuran inventarisasi dan konservasi manuskrip karya ulama-ulama Aceh sangat jarang ditemukan, pada kajian inventarisir naskah Bustan as-Salatin yang menjadi cikal bakal pengungkapan sejarah keemasan dan kejayaan kerajaan Aceh sudah tidak ditemukan lagi sumber asli, kitab fenomenal tersebut menjadi misteri di negerinya sendiri, tidak ditemukan koleksi kitab ini baik di Museum Negeri Aceh maupun di koleksi perpustakaan swasta yang ada di Aceh. Tentunya, sangat disayangkan dengan hilang dan luputnya pelestarian naskah berharga di negeri ini, walau sudah dapat dipastikan bahwa manuskrip karangan asli tangan pengarang (autograph) telah musnah.


Dalam dunia pernaskahan, para ilmuwan telah menyusun berbagai katalog naskah-naskah kuno untuk dapat menginventarisir karya khazanah warisan leluhur, dalam penelusuran ini ditemukan bahwa sebagian salinan kitab Bustan as-Salatin hanya tersimpan di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta dalam versi tidak lengkap, sedangkan lainnya satu bundel naskah di Perpustakaan Universitas Malaya di Malaysia dari bab I, III sampai V, serta dua naskah berada di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda juga dalam versi tidak lengkap. Sedangkan di tanah kelahirannya belum ditemukan kitab masyhur ini yang pernah mengharumkan nama Aceh Darussalam di kancah dunia. Namun cahaya lilin belum redup, tentu masih ada secercah harapan untuk memberikan perhatian lebih kepada semua karya ulama-ulama indatu, mengungkapkan sejarah dan identitas keacehan lebih mendalam, mengkaji isi teks naskah serta kekayaan khazanah karun Aceh yang tak pernah khatam.


* oleh : Hermansyah, adalah Mahasiswa PascaSarjana Jur. Filologi di UIN Jakarta, sekaligus pemerhati Sosial, Budaya dan Manuskrip, bekerja dan mengajar di Banda Aceh.

Bustan As-Salatin; Manuskrip Masyhur Yang Tergusur *

Read More

Selasa, Juni 22, 2010

Membedakan huruf Arab pegon dengan huruf Arab asli sangat mudah. M Irfan Shofwani dalam bukunya Mengenal Tulisan Arab Melayu menerangkan bahwa penulisan Arab pegon menggunakan semua aksara Arab Hijaiyah dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang ditulis dengan aksara Arab yang telah dimodifikasi.

Modifikasi huruf Arab ini dikenal sebagai huruf jati Arab Melayu yang berwujud aksara Arab serapan yang tak lazim. Misalnya, untuk konsonan nga, Arab pegon menggunakan huruf ain atau ghain dengan tiga titik di atasnya. Sedangkan, untuk konsonan p diambil dari huruf fa dengan tiga titik di atasnya dan sebagainya. Selain itu, huruf Arab pegon meniadakan syakal (tanda baca) layaknya huruf Arab gundul.

Namun, sumber lain menyebutkan, huruf Arab pegon hampir selalu dibubuhi tanda baca vokal. Ini berbeda dengan huruf Jawi yang ditulis gundul (tanpa tanda baca). Bahasa Jawa memang memiliki kosakata vokal yang lebih banyak daripada bahasa Melayu. Sehingga, vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Syamsul Hadi menjelaskan, kata pegon berasal dari bahasa Jawa pego yang artinya tidak lazim dalam mengucapkan bahasa Jawa. Hal ini, menurutnya, disebabkan banyaknya kata Jawa yang ditulis dengan tulisan Arab dan menjadi aneh ketika diucapkan. Penje lasan itu diperkuat oleh Titik Pudji astuti dalam tulisan Aksara pegon: Sarana Dakwah dan Sastra dalam Budaya Jawa. Menurutnya,

Perkembangan Penggunaan Aksara Pegon Dan Melayu

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top