Tampilkan postingan dengan label Tsunami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsunami. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 28, 2024


Pascasarjana UIN Ar-Raniry bekerjasama dengan Kementerian Agama RI, ICAIOS dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan kegiatan diskusi dan talkshow dengan tema “Community Awareness tentang edukasi literasi kebencanaan berbasis pengetahuan lokal di Aceh” dalam rangla peringatan 20 tahun Tsunami Aceh.

Kegiatan tersebut bertempat di aula lantai tiga Pascasarjana UIN AR-Raniry, pada Jumat (15/11/2024). Pada pembukaan kegiatan tersebut juga dilakukan launching buku pedoman tentang kebencanaan yang berjudul “Pegangan Penyuluh Agama tentang Kebencanaan”.
Dr. Fakhriati, MA, Direktur Executive MOST UNESCO BRIN dalam sambutannya mengatakan kegiatan ini sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan resiko bencana dengan pengetahuan lokal, sehingga budaya dan pengetahuan lokal dapat diberdayakan dengan baik untuk mitigasi bencana.

Mego Pinandito, Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN yang turut memberi sambutan mengatakan bahwa 20 tahun tsunami Aceh menjadi refleksi bagi masyarakat Aceh dan Indonesia agar dapat menambil hikmah dan pengajaran dari fenomena tersebut.

Mego juga mengajak masyarakat terutama generasi muda agar dapat memadukan kearifan lokal dalam mitigasi bencana dan disebaran secara inklusif serta dapat diakses secara luas. Menurut Mego, Aceh memiliki banyak kekayaan lokal yang dapat dimanfaatkan dalam penanggulangan bencana.

“Kita memiliki kekayaan budaya lokal yang terkait dengan pendahulu kita yang terkait bencana, seperti budaya smong dari Simeulue.”

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Pascarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Eka Srimulyani, Ph.D, dan dilanjutkan dengan penandatanganan MoA antara Pascarjana UIN Ar-Raniry dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta peluncuran buku “Pegangan Penyuluh Agama tentang Kebencanaan” oleh perwakilan dari Pusat Litbang Lektur, Sugeng Riyanto.

Acara dilanjutkan dengan diskusi bersama para peneliti dan penulis buku yaitu Profesor Eka Srimulyani, Ridwan Bustamam dan Nurmala Hayati. Ketiga pemateri membahas dua buku tentang kebencanaan yang baru diterbitkan, yaitu “Buku Pegangan Penyuluh Agama tentang Kebencanaan” dan “Buku Ajar Tambahan tentang Kebencanaan”.

Prof. Eka Srimulyani, dalam materinya menyampaikan bahwa masyarakat memiliki kapasitas dan cara yang berbeda dalam menghadapi/meng-eksplore bencana. Perbedaan kapasitas yang dimiliki masyarakat dalam menghadapi bencana terlihat saat terjadinya Tsunami 2004, dimana terdapat perbedaan signifikan jumlah korban di kabupaten Simeulu dengan wilayah lain di Aceh yang terdampak.




Di Simeulu hanya menelan 44 korban jiwa, jumlah yang sangat sedikit dibandingkan jumlah di daerah lain seperti Banda Aceh dan Meulaboh yang mencapai ribuan orang. Hal ini menunjukkan adanya kapasitas pengetahuan lokal yang diimplementasikan dengan baik oleh masyarakat Simeulu yaitu melalui tradisi lisan Smong.

Prof. Eka juga mendapati bahwa cara orang-orang Aceh memandang bencana termasuk Tsunami melaui lensa mistisme, teologi dan rasional. Prof. Eka mengutip salah satu idiom yang dimiliki masyarakat Aceh “Adat bak tanyo, hakikat bak Po”. Kalimat tersebut bermakna bahwa kita harus percaya dan taat pada hakikat atau ketetapan dari Allah, termasuk bencana yang diberikan. Ketaatan tersebut menjadi salah satu sumber kekuatan besar masyarakat Aceh.

Sesi siang dilanjutkan dengan kegiatan talkshow kebencanaan yang diisi oleh empat narasumber yaitu Ahmad Nubli, Rickayautul Muslimah dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Fakhriati dari MOST UNESCO BRIN, dan Hermansyah dari Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry.

Para narasumber menyajikan ragam materi menarik, mulai dari literasi bencana masyarakat Aceh yang ditemukan melalui naskah-naskah kuno, integrasi pengetahuan lokal dengan teknologi dalam mitigasi bencaa, hingga potensi wisata edukasi terkait kebencanaan yang dimiliki Aceh.

Kolaborasi Talkshow dan Seminar Edukasi Kebencanaan Berbasis Pengetahuan Lokal.

Read More

Kamis, Agustus 06, 2020

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) adakan peluncuran dan bedah tiga buku sekaligus, antaranya buku Smong Purba, Khutbah Jum’at Kebencanaan dan Jejak Bencana di Aceh. 

Acara peluncuran dan bedah buku diadakan pada hari Kamis 19 Desember 2019 di Aula BPBA Banda Aceh yang dipandu oleh Hermansyah, dosen filologi di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh sekaligus salah seorang penulis buku tersebut.

Acara yang langsung diresmikan oleh Kepala Pelaksana BPBA, Ir. Sunawardi, M. Si ini dalam sambutannya menginformasikan bahwa 70 (tujuh puluh) peserta yang hadiri kegiatan ini terdiri dari masyarakat umum dan para akademisi kampus.

“Penanganan bencana hanya 30% tugas BPBA dan BPBD namun upaya mitigasi merupakan tugas semua lapisan masyarakat dan ini yang harus kita maksimalkan” ungkap Sunawardi.
Beliau menambahkan bahwa BPBA tidak hanya menerbitkan 9 (sembilan) buku pada tahun 2019 ini BPBA juga masuki jalur sosialisasi dengan lagu-lagu dan jingle-jingle kebencanaan bahkan baru-baru ini film karya anak bangsa berjudul “Ajari Aku Aceh” banyak mendapatkan perhatian dari Pemerintah Nasional.

Registrasi Acara Peluncuran dan Bedah Buku (Foto: BPBA)

Turut pula menghadiri Asisten II Sekda Aceh sekaligus sebagai penulis buku Smong Purba dan Jejak Bencana di Aceh, H.T. Ahmad Dadek, SH. Beliau mengingatkan masyarakat dan akedemisi agar meningkatkan budaya menulis dan membaca khususnya dalam bidang kebencanaan demi memperkaya ilmu mitigasi bencana individu masing-masing keluarga dan masyarakat luas pada umumnya.

“Buku Smong Purba ini tidak hanya tentang smong saja tapi juga menceritakan sejarah tsunami di Aceh dengan nama-nama yang berbeda sebagai contoh bahwa masyarakat Simeulu berhasil menggunakan istilah ini dan mewariskan ke generasi selanjutnya” Jelas Dadek.

Beliau juga berharap dengan penerbitan buku-buku kebencanaan oleh BPBA ini dapat memperkaya literasi sejarah Aceh tentang bencana-bencana yang pernah terjadi sehingga korban akibat bencana tersebut dapat berkurang dengan mitigasi yang baik melalui informasi turun-menurun dari generasi ke generasi.

“Kita dianggap bernilai bukan dari apa yang kita bicarakan tapi dari karya apa yang kita hasilkan” tutup Dadek.

Bpk Kalak BPBA Aceh, Ir. Sunawardi, M.Si., dan para Narasumber Bpk T. Ahmad Dadek, Yarmen Dinamika, Ust. Masrul Aidi, dan moderator Bpk. Hermansyah (Foto: BPBA)

Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Ustaz Masrul Aidi yang juga turut berkontribusi dalam penulisan buku Khutbah Jum’at Kebencanaan mengemukakan alasan kenapa informasi kebencanaan disampaikan melalui kutbah jum’at , tidak lain dikerenakan keyakinan masyarakat Aceh yang lebih mempercayai apa yang agama mereka katakan.

“Pendekatan agama menjadi mitigasi bencana paling tepat yang digunakan oleh BPBA saat ini dan saya setuju itu” sebut Ust. Masrul.

Peserta yang hadir dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku (Foto BPBA)

Lanjutnya untuk membuat persepsi yang bagus kepada jama’ah khutbah maka pesan kebencanaan harus dengan kesan dan cara yang tepat.

“Mudah-mudahan dengan kita sudah patuh kepada ajaran agama untuk menjaga alam maka kita juga akan dengan mudah mengikuti peraturan negara yang mengikatnya demi kesiapan menghadapi bencana” tutup Ustaz Masrul mengakhiri.

Source: BPBA
Baca juga: satuacehnews.com

Peluncuran dan Bedah Buku Khutbah Kebencanaan di Aceh

Read More

Jumat, Juni 28, 2013


Teks Naskah Gempa yang disalin di Aceh Besar 1906
 yang menunjukkan gempa di pantai Barat Aceh
berdampak hingga Aceh Besar
Banda Aceh – International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) kembali mengadakan diskusi publik dengan tema menarik, “Gempa: Dialog Sains dan Agama” di Ruang seminar ICAIOS Darussalam, Kamis (27/6/2013).

Diskusi ini menghadirkan Hermansyah MTh MA Hum, filolog muda dan dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry beserta Dr Jamie Mc Caughey dari Earth Observatory Singapore (EOS)-Nanyang Technology University (NTU) Singapura. EOS merupakan lembaga riset yang fokus pada bencana dan perubahan iklim dan dampak keduanya terhadap kehidupan sosial, budaya, dan politik di Asia Tenggara.

Dalam paparannya, Hermansyah menjelaskan, tidak kurang dari 20 teks naskah tabir gempa yang telah teridentifikasi di seluruh koleksi, baik yang ada di Aceh maupun di luar negeri. Ada persamaan dan perbedaan di antara varian teks,” terangnya seperti dalam rilis yang diterima WartAceh.com.

Hermansyah menambahkan bahwa kesamaan struktur teks yang disalin dalam rentang waktu yang berbeda, antara abad ke-17 hingga ke-21 masehi merupakan salah satu ciri tradisi transfer knowledge di masyarakat setiap generasi. Pengalaman masyarakat Aceh tentang gempa sejak dahulu menciptakan sebuah persepsi dan keyakinan tertentu tentang fenomena alam tersebut.

Dari sudut pandang teologis, gempa dipandang sebagai sebuah cobaan bahkan teguran dari Maha Pemberi Peringatan. “Gempa 9.2 Skala Richter pada tahun 2004 memberikan gambaran yang jelas dimana masyarakat memandangannya sebagai sebuah teguran terhadap sikap umat muslim Aceh yang semakin menjauh dari ajaran agama,” kata Hermansyah.

Gempa dalam Perspektif Agama dan Sains

Read More

Kamis, April 19, 2012


Artikel ini berisi tentang penjelasan Tgk H Mulyadi Nurdin Lc dan Syech H Zul Anshary Lc dalam pengajian Balee Beuet di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke, tentang kisah-kisah bencana dalam Alquran dan hadits Rasulullah SAW.
Materi ini dibahas panjang lebar dalam pengajian rutin di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (18/04/2012). Pengajian kali ini lebih ramai dari biasanya. Selain peserta rutin, di antaranya pemilik Warung Kopi Luwak Rumoh Aceh, Muhammad Nur, Kolektor Naskah Kuno Aceh Tarmizi A Hamid, hadir juga dosen IAIN Ar-Raniry Drs Hasan Basri M Nur MAg dan Hermansyah M.Hum serta kalangan jurnalis, mahasiswa, dan para pekerja lepas.

Dari sisi ilmu alam, gempa adalah fenomena alam. Tapi bagi kita seorang muslim dan mukmin, peristiwa semacam ini adalah peringatan dan pelajaran bagi manusia.
Bahwa manusia tidak berarti apa-apa di depan Allah, Sang Pencipta Alam Semesta.

“Bagaimana pun tingginya ilmu pengetahuan dan canggihnya teknologi yang dihasilkan manusia, tidak ada yang mampu menghentikan bencana yang telah ditakdirkan oleh Allah. Belum pernah ada dalam sejarah, manusia mampu menghentikan goyangan bumi akibat gempa. Bahkan, jangankan mengantisipasi gempa, memprediksikan kapan dan di mana gempa terjadi saja, banyak yang tidak akurat,” kata Mulyadi Nurdin.

Selebihnya, kedua

Kisah Bencana Dalam Al-Qur'an dan Manuskrip

Read More

Sabtu, April 14, 2012

Ta'bir gempa
Aceh adalah salah satu wilayah di Nusantara berdampak guncangan gempa bumi dari belahan bumi ini sebab berada pada patahan lapisan bumi, demikian kesimpulan satu dasawarsa terhadap berbagai bencana yang menimpa Aceh dan sebagian wilayah Nusantara, penanganan serius dan fokus terhadap gempa memang sudah ditunjukkan oleh badan instansi yang menangani khusus di bidang ini, seiring dengan perkembangan teknologi dunia terhadap berbagai gejala alam yang terjadi belakangan ini.

Perhatian terhadap gempa sebenarnya juga sudah menjadi fokus utama para pendahulu terhadap gempa bumi dan dampak ikutannya di Aceh, bahkan perhatian tersebut lebih mendalam dan serius dari pada bencana-bencana lainnya yang pernah terjadi di Nusantara seperti angin puting beliung, petir, banjir, letusan gunung dan sebagainya. Sebagai buktinya paradigma preventif orang-orang terdahulu (paling tidak sebagian besar intelektual dan arif) telah merekam dengan menulis dan menyalinnya sesuai dengan setting sosial yang kemudian diwariskan kepada anak cucunya.
Pemahaman dan pengetahuan keilmuan budaya lokal yang diwariskan leluhur sering terabaikan, penggalian budaya asli (setempat) sebagai sistem peringatan dini terhadap bencana tidak efektif diakibatkan tidak adanya kajian terhadap dokumentasi mengenai pengetahuan tradisional baik formal maupun non formal. Sebaliknya urbanisasi dan jumlah populasi penduduk suatu wilayah begitu pesat dengan bercampur berbagai kultur dan budaya semakin terabaikan konteks lokal tersebut, padahal para leluhur telah merekam dan mendokumentasi bencana gempa sebagai bagian mitigasi bencana yang terukir dalam manuskrip (naskah kuno).

Tabir Gempa Dalam Manuskrip: Rekaman atau Ramalan?

Read More

Senin, Maret 12, 2012

Gempa-Tsunami Aceh 26 Desember 2004 bukanlah bencana yang pertama kali terjadi di Aceh. Negeri Tanoh Rencong ini telah mengalami beberapa kali guncangan gempa dan Tsunami sebelumnya. Puluhan, bahkan ratusan tahun sebelumnya, dalam pengetahuan lokal masyarakat Aceh disebut ie beuna di wilayah Timur Laut atau smong di wilayah Timur Barat Aceh. Dan kejadian besar itu dikenal dalam manuskrip sebagai Ta'bir Gempa. 

Naskah Ta'bir Gempa adalah salah satu bukti khazanah intelektual yang merekam sejarah kebencanaan, dampak ikutan (bencana susulan) dan penanganan yang harus dilakukan oleh masyarakat sedini mungkin. Dengan pengetahuan dan pengalaman masyarakat setempat, dan kemudian disadur sebagai kearifan lokal masyarakat dalam menjalani "hidup nyaman bersama bencana".  

Gempa dan dampak bencana susulan yang diakibatkan oleh bencana itu, akan dipresentasikan dalam seminar  "Naskah Ta’bir Gempa: Antara Mitigasi Bencana dan Kearifan Lokal di Aceh (Kajian Terhadap Naskah-Naskah Kuno)" , Insya Allah  pada kegiatan Seminar International Aceh Development International Conference (ADIC) Malaysia, tanggal 26-27 Maret 2012.

Support by :

Naskah Ta'bir Gempa: Antara Mitigasi dan Kearifan di Aceh

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top