Translate

Strategi Preservasi Manuskrip

Saat restorasi naskah di rumah Tarmizi A Hamid
Bersama tim PKPM, 2012
Pasca gempa-tsunami Aceh 2004 telah menghancurkan banyak cagar budaya Aceh, termasuk manuskrip (naskah kuno). Manuskrip adalah dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis dengan tangan yang telah berumur 50 tahun lebih (UU Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992, Bab I Pasal 2). Pada saat bencana itu datang, ratusan naskah dan ribuan teks tulisan musnah di Aceh dilahap oleh ombak air laut. Beberapa di antara kolektor, seperti Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Tarmizi A Hamid (kolektor pribadi) belum sempat melakukan preservasi, salinan ulang, digitalisasi, ataupun backup manuskrip yang bernilai tinggi dan memiliki informasi penting lainnya.
Belajar dari kejadian tersebut, kemudian banyak lembaga terjun ke Aceh, dari luar dan dalam negeri, untuk melakukan preservasi naskah. Sebagian programnya, ada yang tuntas, setengah jalan, mungkin ada yang gagal total. Tapi kini, melihat semua hasil tersebut belum mencapai sasaran (dalam beberapa bidang) misalnya, pemahaman masyarakat dalam melestarikan warisannya, pengetahuan untuk pelestarian dan perawatan naskah, ataupun pengembangan kajian manuskrip.
Karenanya, perlu ada pendidikan dan informasi umum untuk masyarakat, supaya manuskrip tidak hanya disimpan, disakralkan, atau sebaliknya, dibakar, dimusnahkan, dan diabaikan. Setidaknya ada pengetahuan masyarakat bagaimana mereka menjadi bagian dalam penyelematan warisan indatunya.
Dalam dunia pernaskahan, dan melihat konstektual pernaskahan di Aceh. Ada dua pendekatan dalam mengkaji warisan kebudayaan sastra yang tertuang dalam naskah pertama Filologi kedua kodikologi.

Zawiyah Tanoh Abee: Antara Kemasyhuran dan Kepedulian Kita

Sisi luar gedung penyimpanan manuskrip yang sudah tua dan rusak, 2012
Zawiyah Tanoh Abee, nama yang tidak asing bagi setiap orang di Aceh, bahkan juga di luar negeri. saat disebut Tanoh Abee juga akan diidentikkan dengan "manuskrip Aceh", baik sebagai skriptorium maupun sebagai sarana belajar ilmu agama dalam bentuk tradisi penulisan dan penyalinan.
Tanoh Abee, entah berapa tokoh yang telah diorbitkannya, dan entah berapa profesor yang lahir bersumber penelitian dari tanah debu ini. Memang ironis, saat namanya yang begitu megah, kini ia harus menyendiri dalam kesunyian.
Zawiyah Tanoh Abee tersingkir oleh keangkuhan dan ketidakpedulian generasinya. Konstribusi, perjuangan, dan pergolakannya dalam mencerdaskan umat manusia sepanjang berdiri Kesultanan Aceh hingga kemerdekaan Republik Indonesia belum mampu menggores bekunya hati pemimpin.
Mungkin, kekaguman kita -sebagai muslim- akan biasa terdengar sayup di telinga akan Tanoh Abee, sebagai lembaga yang mampu mewarisi ribuan naskah klasik dan orisinil itu.
Akan tetapi tidak hanya muslim, kekaguman itu telah membuat para peneliti non-muslim pun terkesima, salah satunya Henri Chambert-Loir, sebagai filolog senior dan peneliti, dalam kata pengantarnya di buku Katalog Tanoh Abee, iapun menumpahkan segala isi hatinya.
"Menurut cerita dan silsilah itu, seorang asal Baghdad bernama Syekh Fayrus al-Baghdadi tiba dan menetap di Aceh pada paruh kedua abad ke-17. Anak cucunya kemudian mendirikan empat dayah di Aceh: tiga di daerah Seulimeum (di Tanoh Abee, Klut dan Leupung Ngoum) dan satu di daerah Indrapuri (di Lampucuk). Kata Aceh dayah berasal dari kata Arab zawiyah dan menunjukkan sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional lokal, semisal pesantren di Jawa.

Ribuan Manuskrip Islam Kuno Tersimpan di Perpustakaan Universitas AS



Departemen Perpustakaan untuk buku-buku langka di Universitas Princeton, AS ternyata menyimpan ribuan manuskrip Islam yang ditulis dalam bahasa Arab, Persia, Turki Ustmani dan bahasa-bahasa lainnya dari berbagai negara Muslim di dunia.

Saat ini ada sekitar 9.500 manuskrip Islam yang tersimpan di Library’s Departemen of Rare Books and Special Collection, Universitas Princeton. Dari jumlah tersebut, 200 manuskrip pilihan di sediakan dalam bentuk online sehingga mudah diakses bagi siapa saja yang ingin melakukan penelitian.

Don Skemer, kurator manuksrip kuno mengatakan, Universitas Princeton adalah salah satu lembaga yang memiliki banyak koleksi manuskrip penting dan terbaik di dunia. Akses online terhadap 200 manuskrip Islam pilihan itu, kata Skemer, adalah bagian dari proyek digitalisasi katalog manuskrip-manuskrip Islam yang sudah dimulai sejak tahun 2005. Nantinya, seluruh manuskrip akan dikatalogkan secara online dilengkapi dengan informasi tentang penulis dan isi manuskrip untuk membantu para peneliti apakah akan memesan salinan dalam bentuk mikro film atau hanya perlu datang sendiri ke perpustakaan.

Sarakata Sultan Turki ke Sultan Aceh


Sepucuk surat dari Sultan Ottaman Turki untuk Sultan Aceh muncul di jejaring sosial Twitter hari ini. Surat itu berasal dari abad ke-15.
Adalah akun Lost Islamic History @LostIslamicHist yang memuat surat itu disertai pengantar, "A letter from the Ottoman sultan in #Istanbul to the sultan of #Aceh, in #Indonesia (1500s)."
Postingan itu memang tidak menjelaskan secara detail isi surat itu. Namun, jika mengacu kepada sejarah. Kerajaan Aceh Darussalam memiliki hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki Utsmani sejak abad 15. Saat itu Turki merupakan kerajaan kekhalifahan Islam terbesar di dunia setelah berhasil menaklukkan Konstatinopel yang dikuasai pasukan Eropa.
Hubungan antara Kesultanan Aceh dengan Ottoman Turki Istambul dimulai sejak masuknya pedagang-pedagang Eropa ke nusantara. Para pedagang asal Eropa itu kerap mengganggu kedaulatan kerajaan-kerajaan di semenanjung Malaka, termasuk Aceh.
Guna menghadapi imperialisme bangsa Eropa tersebut, Kerajaan Aceh mencari dukungan dari kerajaan-kerajaan tetangga termasuk dari Khalifah Abdul Aziz dari ke khalifahan Turki Utsmani pada tahun 1563 M.
Utusan dari Aceh membawa serta hadiah-hadiah berharga dari Sultan untuk dipersembahkan kepada penguasa Turki. Hadiah-hadiah itu antara lain berupa emas, rempah-rempah dan lada.

Manuskrip Melayu diseminarkan di IAIN Ar-Raniry


Banda Aceh– Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry Banda Aceh bekerjasama dengan Pusat Kajian Manuskrip Alam Melayu (PUSKAM) UiTM Malaysia menggelar seminar Serantau Kajian Manuskrip Melayu dan Kearifan Tempatan di Aula Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (25/2).

Hermansyah (paling kiri) saat menyampaikan makalahnya tentang Manuskrip 
Sekretaris Panitia, Hermansyah mengatakan, seminar tersebut dilaksanakan untuk melakukan kajian lebih dalam terhadap manuskrip-manuskrip melayu.

“Pada seminar ini dipaparkan materi yang berkenaan dengan manuskrip Melayu, jaringan Ulama Melayu dalam manuskrip, kearifan tempatan dalam manuskrip Melayu, sumber kajian sejarah dan kebudayaan Islam di Nusantara, karakteristik manuskrip Aceh-Jawi dan beberapa materi lainnya,” sebutnya.

Melacak Naskah Hamzah Fansuri

Ada dua hal penting terkait Hamzah Fansuri dan karya yang menjadi kajian, atau penelitian, hingga saat ini belum terjawab, pertama biografi Hamzah Fansuri, dan kedua, orisinil dan konstribusi karyanya. Kedua problematika tersebut –belum- mewakili dari teka-teki lainnya yang hingga saat ini menjadi ranah kajian multidisiplin ilmu, sebut saja teolog, arkeolog, sastrawan, sejarawan, dan lainnya.

Riwayat Hamzah Fansuri semakin buram saat dua naskah sejarah, Hikayat Aceh dan Bustan as-Salatin, yang diyakini akurat, ternyata sama sekali tidak mencatat nama Hamzah Fansuri, ini yang menjadi tanda tanya bagi peneliti seperti Van der Tuuk (1877) dan Kraemer (1921). Karenanya, timbullah kubu-kubu yang mengasumsi masa hidup dan kiprah Hamzah Fansuri. Kelompok pertama; Doorenbos (1933), Winstedt (1969), Harun Hadiwijono (1967), dan Ali Hasjmy (1984) menyatakan Hamzah Fansuri hidup hingga tahun 1636 M.

Klaim tersebut dibantah oleh Nieuwenhuyze (1945) dan Voorhoeve (1952) yang menyebut ia hidup hingga akhir abad ke-16 M, atau seirama dengan Drewes (1986) bahwa Hamzah meninggal 1590 M. Alasannya, karena ia hanya mengajar ‘Martabat 5’ dantidak mengajari ‘Martabat 7’ dari inti kitab Tuhfah by M Fadhlullah al-Burhanpuri, yang eksis abad ke-17.

Akan tetapi, argument tersebut disanggah oleh kelompok ketiga, Naquib al-Attas (1970), Brakel (1979), dan Braginsky (1992), menurut mereka,

Melafaz Sarakata Wali Nanggroe



Bismillahirahmanirrahim, wabihi nasta’in.
Alhamdulillah ladhi ‘azza sya’nuhu, was-shalatu was-salamu ‘ala Rasulihi waaminihi. Fas-Salamu ‘alaikum warahmatullahi Ta’ala wabarakatuhu ‘ala ad-dawami, serta diiringi pula dengan ‘izzah wa-mahabbah dengan takrim yang tiada berkeputusan selama-lamanya daripada kami Seri Paduka Tuanku Mahmud dan Tuanku Raja Keumala dan Seri Muda Perkasa Teuku Panglima Polem yang adalah sekarang di Kutaraja Aceh Besar adanya barang disampaikan Allah SWT kehadapan Majelis Hazhratul al-Aziz al-Mukarram punghulu kami Habib Abdurrahman Teupin Wan dan guru kami Teungku Mahyiddin dan Teungku di Buket ibnal-Mukarram Maulana al-Mudabbir al-Malik teungku di Tiro dan Teungku Hasyim dan Teungku di Ulee Tuetue dan Teungku Ibrahim dan sekalian ikutannya yang ada di ahyal khairi di dalam mengerjakan perang Sabilillah di dalam rimba belantara negeri Pidir dengan selamat sejahtera.  Mata’anallah Ta’ala bi-liqa’ihim, Amin.

Syahdan adalah kami ketiganya mengharapkan dengan sehabis-habis harap kepada Allah wa Rasul, dibelakang itu kami harap dengan sehabis-habis harap akan penghulu kami dan akan syaikhuna kami, maka sebab berani harap tawakkal kami beserta dengan yakin tambahan lagi tulus semata-mata kepada guru kami ketiganya oleh karena berkenang kami akan Maulana wa Syaikhuna Mudabbir al-Mulki yang telah ke kubur mengadap [menghadap] ke Rahmatullah Ta’ala, itulah jadinya tiada berkeputusan ingatan kami akan penghulu kami dan akan guru-guru kami.

Maka adapun hal dunia pada zaman ini selama kami meninggalkan guru kami adalah kami bangkit dari negeri Aceh qasadnya membayar fardhu Islam pergi ke tanah Makkah al-Mukarramah, hatta dengan berkat doa-doa guru-guru kami Alhamdulillah sudahlah Allah SWT persempurnakan empat kali  haji, kami ada tinggal di tanah Mekkah beserta di dalam itupun adalah kami ijtihad serta memandang dengan mata kepala sendiri atas tiap-tiap bangsa Islam di dalam zaman ini terlampaulah amat sangat masyaqqah kesukarannya  masing-masing terlebih maklum penghulu kami serta guru-guru kami  sebab dunia ini akhir zaman, bukan seperti dahulu kalanya.

Maka adapun seperti kita-kita semuanya berperang dahulu dengan kompeni Belanda, maka jikalau sudah habis ikhtiar tiada kuasa lagi melawan dia patutlah kita taslim kepadanya oleh karena dianya tiada mengubah dan melarang kita punya agama melainkan kita juga masing-masing yang mengubahnya.
Cobalah penghulu kami serta guru-guru kami pikirkan yang halus tambahan lagi pasal kita taslim kepada musuh apabila tiada kuasa melawan dia, bukanlah sekali-kali kita memulakan isti’adat itu melainkan telah berlaku di atas angin yang terlalu amat abnyaknya, seperti negeri Hindi semuanya Taslim di bawah perintah kompeni Inggris, seperti tanah Magrib semuanya taslim di bawah perintah Prancis, dan seperti tanah Mesir bersyarikat [berserikat] perintahnya dengan Inggris, dan lain-lainnya terlalu amat banyak di atas angin daripada jenis orang Islam mentaslim di bawah perintah musuhnya dan habis kesemuanya sebelah bawah angin taslimnya.

Maka adapun yang pikiran mereka itu berpaka semuanya atas taslim ketika lemah mereka itu, sebab takut mereka itu habis kerusakan agamanya serta negerinya, maka apabila sudah mereka itu taslim jadi mereka itu masing-masing memeliharakan agamanya barang sekuasanya sekedar mungkin supaya tiada hilang semuanya. Demikianlah pikiran mereka yang telah zahir pada pandangan kami.

Maka sekarang Habib yang penghulu kami dan guru-guru kami pada zaman sekarang terlebih baik guru kami dan penghulu kami janganlah duduk di rimba lagi dengan permintaan kami baik Habib turun serta guru-guru kami kemari beserta semuanya mengikut seperti yang telah dijalani oleh orang atas angin  yang terlebih kuasanya dan akal daripada kita beserta jangan sekali-kali ketinggalan barang yang ada alat niscaya supaya jangan jadi fitnah hari kemudian.

Maka yang akan hal dengan kompeni adalah Allah dan Rasul dan adalah kami ketika pertemukan penghulu kami dan guru-guru  kami dengan Paduka Seri Yang Dipertuan Besar Aceh adanya, maka sehabis-habis harap kami sebagaimana pikiran dan tambahnya daripada penghulu kami serta guru kami lazim memberi jawab surat ini dengan segeranya.
Tertulis di Kutaraja, Kampung Kedah pada 18 Rajab 1317 H  (Rabu, 22 November 1899 M)

Note; Sebagian menyebut tertanggal 18 Rajab 1327 H   (Kamis, 5 August 1909 M)

 

Education

Loading...

adsense

National Geographic Photos

Technology

Loading...