"Mata Najwa" Bedah Kitab Kuno Aceh


Program talkshow Mata Najwa yang ditayangkan Metro TV setiap hari Rabu pukul 21:30 WIB, akan membedah tentang sosok Tarmizi A Hamid, si pengumpul (kolektor) naskah kuno Aceh. Tarmizi dijadwalkan tampil bersama Ichwan Azhari (doktor sejarah sekaligus penggagas Pustaka Humaniora Medan) dan Kemala Atmojo (kolektor majalah, tabloid, dan poster film lokal, sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Moviegoers).

Informasi diperoleh Serambinews.com dari pihak Mata Najwa menyebutkan, episode "Pemburu Memori" ini akan direkam pada, Senin (14/05/2012) di Studio Grand Metro TV. Namun, mereka menyatakan tidak tahu kapan episode ini akan ditayangkan.

"Karena topik ini bersifat timeless, kita belum bisa memastikan kapan episode ini akan ditayangkan. Kemungkinan sekitar akhir Mei atau awal Juni," kata anggota tim Mata Najwa, Seto Adhi Satrio, yang dihubungi Serambinews.com dari Banda Aceh, malam tadi.

Ia menyebutkan, ide untuk mengangkat episode "Pemburu Memori" ini muncul karena adanya keprihatinan terhadap permasalahan pengarsipan di Indonesia.

Menyedihkan, 26.000 Manuskrip Kuno Indonesia Ada di Belanda


Sekitar 26.000 manuskrip kuno Indonesia [Nusantara] saat ini berada di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda, kata Kepala Perpustakaan Nasional RI Sri Sulasih.

"Jumlah manuskrip kuno Indonesia di luar negeri memang sangat banyak. Angka 26.000 itu belum ditambah dokumen bersejarah lain yang ada di Inggris, Malaysia, dan negara-negara lain," katanya, di Jakarta, Senin.

Sementara manuskrip kuno yang tersimpan di Perpustakaan Nasional hanya berjumlah 10.300 atau tidak sampai setengah dari yang dimiliki Perpustakaan Universitas Leiden.

Padahal Perpustakaan Nasional RI sendiri hanya memiliki 10.300 manuskrip kuno. Itu artinya dokumen Indonesia di Leiden 2,5 kali lipat lebih banyak dibanding manuskrip yang ada di negara asalnya. Sungguh menyedihkan!

"Kami kesulitan untuk mengembalikan manuskrip-manuskrip di luar negeri ke Indonesia karena perpustakaan di luar negeri memperoleh kertas bersejarah tersebut dengan membeli, artinya mereka sudah berinvestasi," katanya.

Misteri 'Manuskrip Nabi' Berhasil Dipecahkan


Manuskrip ini telah membingungkan sejarawan, kriptografer, dan bibliophiles berabad-abad.

Ditulis dalam huruf asing dengan sedikit sketsa sebagai ilustrasi, membuat rahasia Manuskrip Voynich terjaga selama ratusan tahun. Manuskrip ini telah membingungkan sejarawan, kriptografer, dan bibliophiles selama berabad-abad.

Namun sekarang, akhirnya misteri itu telah berakhir. Menurut seorang pengusaha asal Finlandia, Viekko Latvala, dirinya telah berhasil menerjemahkan manuskrip yang diklaim dari 'Nabi Tuhan' itu. Latvala mengklaim telah memecahkan kode dan rahasia manuskrip yang diklaim paling misterius di dunia tersebut.

Rekan kerja Latvala, Ari Ketola, sebagaimana dikutip laman foxnews.com, menggambarkan betapa sulitnya penerjemahan karakter misterius itu. "Buku ini adalah karya hidup dan publikasi ilmiah tentang obat yang akan masih berguna hari ini," kata Ketola.

"Penulisnya adalah seorang ilmuwan tanaman, astrologi, farmasi, dan astronomi. Buku ini berisi ramalan beberapa dekade dan ratusan tahun ke depan dari waktu buku ini dibuat."

Mimpi Museum Manuskrip Aceh Bak Perpustakaan Alexandria


Di kawasan Asia, Aceh punya sejarah tersendiri tentang manuskrip kuno. Sebagai daerah "gudang naskah" sangat wajar jika kemudian Aceh sebagai daerah primadona penelusuran naskah periode kolonial dan kemerdekaan. Hingga naskah Aceh ada dimana-mana, menjadi barang berharga dan mendapat pengawalan esktra di berbagai museum negara.

Berbalik fakta dengan di Aceh, karya ulama dan indatu tidak mendapat perhatian serius hingga saat ini, walaupun naskah Aceh pernah ditelan konflik, dan dihantam tsunami. Ia (manuskrip) tetap tersimpan di kandang ayam atau jerjak meunasah (balai pengajian). Tidak ada museum manuskrip yang khusus menyimpan  naskah-naskah yang berharga. Aceh semestinya belajar ke berbagai museum di luar negeri, salah satunya Alexandrina Bibliotheca (Perpustakaan Alexandria).

Perpustakaan Alexandria adalah reinkarnasi indah perpustakaan kuno yang terkenal dari Alexandria, Mesir. Perpustakaan asli memegang manuskrip koleksi terbesar di dunia dan merupakan pusat belajar selama 600 tahun sampai terbakar pada abad ke-3. Meskipun pernah terbakar, perpustakaan ini mempunyai bentuk yang mengagumkan, menyerupai sebuah diskus miring atau matahari besar. Bangunan ini dirancang oleh arsitek Norwegia dengan biaya sekitar US$200 juta.

Mahasiswa IAIN Studi Naskah Ke Kediaman Tarmizi A Hamid



BANDA ACEH – Belasan mahasiswa jurusan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Ar Raniry Banda Aceh melakukan studi naskah ke kediaman kolektor manuskrib, Tarmizi A Hamid, Rabu, 9 Mei 2012.

Kegiatan ini dibuat agar mahasiswa lebih mengenal manuskrip secara langsung, baik dari segi fisik, karakteristik dan keunikannya, ataupun kodikologi dan kandungan isi naskahnya. Dengan adanya studi naskah ini mahasiswa dapat membaca, menyentuh dan menganalisa manuskrip secara langsung sehingga minat mereka semakin besar untuk mengkaji naskah.

Tarmizi A Hamid dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa ia sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa, dengan begitu koleksi naskahnya yang sudah disimpan bertahun-tahun bisa berguna untuk mahasiswa Aceh.

Kesultanan Aceh Darussalam dalam Manuskrip


(Opini Harian Aceh, 29 April 2012) Salah satu referensi utama dan otentik dalam mengungkapkan sejarah Kesultanan Aceh Darussalam adalah manuskrip (naskah kuno), di antaranya yang terpenting berjudul Bustanus Salatin fi Zikr al-Awwalin wal Akhirin (Bustanus Salatin), yaitu satu-satunya kitab fenomenal yang disusun pada abad ke-17, tepatnya pada masa Iskandar Muda (1607-1636) dan Sultan Iskandar Tsani (1636-1641), dan telah mempengaruhi penulisan karya pada abad-abad selanjutnya. Kitab historis sekaligus memiliki nilai sastra ini terdiri 7 bab, dan khusus gambaran tentang Kesultanan Aceh dan geneologi pemimpinnya pada periode tersebut bearada di bab 2 pasal 13.

Pada masa tersebut, kitab inilah paling lengkap menceritakan kisah raja-raja Melayu secara universal, termasuk Kesultanan Aceh Darussalam. Kitab karya ulama non-Aceh Syekh Nuruddin Muhammad ibn Ali ibn Hasanji ibn Muhammad Hamid ar-Raniri, berasal dari Gujarat-India. Jika merujuk kepada kandungan isi naskah maka bisa ditemukan antara bab dan pasal saling bersinambungan dan berkaitan, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa kitab ini dikarang secara periodik dan kontinue sebelum dan setelah berada di Aceh.

Berdasarkan rekaman sejarah, kitab Bustan as-Salatin menjadi perintis yang mengupas tentang historikal Kesultanan Aceh yang bersifat teologis sekaligus historis. Disebut teologis sebab mengurai keesaan Tuhan dan segala wujud tentang penciptaan alam semesta dan kelanjutan prosesnya. Sedangkan dikategorikan historis karna merangkup perjalanan Sultan-sultan Aceh. Kitab Bustan as-Salatin karya Nuruddin ar-Raniri terilhami dari kitab karya ulama sebelumnya, Bukhari al-Jauhari berjudul Taj as-Salatin.

Perang, Tawanan dan Merdeka dalam Manuskrip Aceh


Kata “perang, damai dan merdeka” di Aceh bukanlah kosakata baru. Ketiganya sudah melekat dalam perjalanan sejarah Aceh dan perkembangan peradabannya hingga sekarang ini. Pada saat ini, Aceh telah mencapai suatu kesepakatan perdamaian yang telah lama didambakan, melewati puluhan tahun peperangan, kekerasan, penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia. Tumbuh dan mengikatnya trust and peace building semestinya tetap terpelihara dan terjaga hingga akhir zaman, terutama untuk mengubah “mitos” Aceh yang suka perang.
Mitologi tersebut sudah menjadi pengetahuan umum oleh masyarakat, perihal tersebut tidak terlepas dari sejarah Aceh, baik pada awal-awal proses Islamisasi di Aceh yang menjadi pintu gerbang Islam di Asia dan Nusantara. Hingga periode penjajahan Portugis, Belanda, Jepang dan pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Negeri Aceh tetap berkobar dan berdarah. Terjadi penindasan, pengasingan, pembunuhan hingga penahanan atau tawanan. Banyak tokoh-tokoh  besar ulama dan umara’ Aceh di tawan, termasuk Sultan dan Panglima Perang.
Oleh karena itu, naskah karangan Abdurrahman al-Azhari al-Syahir masyhur dengan gelar “Al-Qabbani” di Aceh menjadi catatan penting, jika dianalisis isi naskah dengan konteks masyarakat atau bangsa Aceh ketika itu. Apabila ditinjau secara umum kandungan naskah merupakan fadhilat para syuhada Ahl Badar dengan bertawassul kepada mereka akan bebas dari tawanan (tahanan). Jika dilakukan kajian lebih mendalam, patut diberi tanda bahwa mereka bukan hanya sekedar menyalin ulang syair-syair syuhada Ahl Badar, akan tetapi juga keyakinan akan amalan tersebut, dengan cara tertentu dapat melepaskan mereka dari tawanan perang kolonial Belanda saat itu.

 

Education

Loading...

adsense

National Geographic Photos

Technology

Loading...