Monday, January 25, 2016

NEW


Saat ini, ilmu filologi (philology) tidak lagi sebatas aspek kesusasteraan dan bahasa. Ilmu filologi sudah menjadi bagian integral dari ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti sejarah dan budaya, termasuk antropologi dan sosiologi. Walaupun filologi dan ilmu humaniora lainnya, misalnya kebudayaan, memiliki istilah yang dalam cabang-cabang ilmu kerangka (objek-subjek) dari kajiannya secara tersendiri. Tetapi substansi dari apa yang dibicarakan oleh filologi dan kebudayaan sebagai ilmu, pada hakikatnya tidak terpisahkan, sama seperti apa yang dibahas dalam antropologi dan sosiologi.


Demikian tujuan dalam penelitian kajian naskah atau manuskrip (ilmu filologi), tidak lagi pada pencapaian terhadap geneologi teks dan naskah, terutama keaslian teks dan naskah. Lebih dari itu, kini dokumen-dokumen tertulis itu adalah bagian dari sumber kajian dan budaya masyarakat tertentu dengan "kebudayaan" tertentu pula. Maka teks ataupun manuskrip merupakan bagian dari kebudayaan dan pola hidup manusia (masyarakat) tertentu. Maka kedua ilmu ini senearnya tidak dapat dipisahkan, dan dalam konteks ini, persamaan keduanya (ilmu filologi dan ilmu kebudayaan) adalah memahami hasil kebudayaan masyarakat pada masa dan ruang tertentu.

Oleh karena itu, seorang pengkaji manuskrip dapat memiliki pengetahuan ilmu-ilmu dasar lainnya yang kemudian dikolaborasi untuk melakukan kajian sosial, khususnya ilmu filologi telah memiliki perangkat metodologi tersendiri, seperti kritik teks (textual criticism). Dalam kritik teks memiliki unsur-unsur dapat membantu seorang peneliti menjalankan misinya seperti kebudayaan suatu bangsa dikenal dari hasil sastranya; budaya manuskrip (manuscripts cultures) bagi masyarakat pada jamannya dalam konteks masyarakat masing-masing hingga masa sekarang; mengungkapkan nilai-nilai intelektual dan kepercayaan suatu bangsa; manuskrip merupakan unsur terkuat dalam mengungkapkan nilai-nilai kebudayaan; dan unsur terakhir melestarikan warisan kebudayaan yang bernilai tersebut.

Apabila teks (tulisan) ataupun naskah hanya mengkaji sisi keaslian dan stemma (stemmata), ataupun sebatas parateks (paratext), maka akan ada gap dan kekosongan yang harus diisi kembali dalam sebuah kajian ilmu humaniora, misalnya saja kajian isi teks (kandungan naskah), penulis, kolofon, ilustrasi, iluminasi, perkembangan teks, konteks masyarakat dan lainnya akan sama sekali tidak tertampung seutuhnya dalam kajian filologi murni, atau sebatas mencari kesalahan dan persamaan teks.

Inilah salah satu ilmu manuskrip yang sedang dikembangkan di Eropa dan juga sudah menjalar ke Indonesia. Kajian seperti tersebut di atas adalah salah satu bidang paling diminati oleh ilmuwan (researcher) Barat, sehingga setiap peminat ilmu budaya dan humaniora dapat menjadikan teks sebagai objek penelitiannya, dan menempatkan teks menjadi bagian dari sumber-sumber primer lainnya. Sehingga manuskrip merupakan bagian tak terpisahkan dari ilmu-ilmu humaniora secara keseluruhan, terutama keterikatannya dengan budaya masyarakat.

Kolaborasi Filologi dan Ilmu Budaya

Read More

Saturday, January 23, 2016


"Jumat di Mesjid Albania" adalah shalat Jumat di mesjid yang menggunakan  bahasa Albania sebagai ceramah dalam khutbahnya. Keberadaan mesjid ini berbatasan langsung dengan Mesjid Arab, dan Mesjid Pakistan-Indonesia. Mesjid Albania berada di lantai dasar sederet dengan Mesjid Pakistan-Indonesia, sedangkan Mesjid Arab berada di lantah bawah Mesjid Albania.

Kedua pintu masuk mesjid ini sangat berdekatan, yang diselangi sebuah toko Turki/Albania yang menjual beragam khas Muslim (baju, sajadah, parfum, tasbih, buku) hingga alat elektronik seperti Hp.

Usai Shalat Jumat, 2016
Biasanya, jamaah-jamaah yang shalat di Mesjid Arab akan wudhu (tung ie seumbahyang) ke Mesjid Albania, sebab tempat wudhu di Mesjid Arab terlalu kecil daripada di Mesjid Albania yang berada di dalam gedung di lantai bawah. Sehingga setelah wudhu mereka akan keluar lagi menuju Mesjid Arab. Tidak ada perbedaan antara sesama muslim, mereka saling menerima satu dengan lainnya. Setiap Muslim (jamaah) pun dapat memilih mesjid mana yang mereka inginkan untuk shalat Jumat.

Tata tertib shalat Jumat di Mesjid Albania dimula dengan ceramah (pengajian) dalam bahasa Arab. Sang penceramah duduk di atas podium (bukan Mimbar). Dia menjelaskan (syarah) isi kitab tentang tema-tema tertentu. Menjelang masuk waktu shalat Jum'at, pengajian ceramah selesai.

Sang Muazzin mengumandangkan azan pertama. dan kemudian mengajak Jamaah shalat Sunnah Qabliyah. Sesaat usai shalat Sunnah, sang Khatib naik atas mimbar dari arah Jamaah, seperti mimbar di Madinah dan umumnya negara Islam. Masih menghadap kiblat di atas mimbar sang Khatib membaca do'a sambil mengangkat tangan. Usai membaca doa atas mimbar atau sebelum khatib, kemudian ia membalikkan badan menghadap ke Jamaah dan kemudian duduk, tanpa mengucapkan salam. Tata cara itu juga sama dilakukan oleh Khatib di Mesjid Turki. Disusul kemudian Muazzin mengumandang azan ke dua.

Mimbar Jumat cuma lima anak tangga yang menghadap ke Jamaah, sehingga setiap khatib yang naik atas Mimbar melalui Jamaah. Mimbar yang sama juga di Mesjid Turki, Mesjid Arab, dan Mesjid Pakistan-Indonesia. Hampir semua mimbar memiliki model seperti ini mengikuti mimbar Nabi di Madinah, dan itu sesuai anjurannya. Di Atas mimbar tersebut, sang khatib tidak memegan tongkat, dan tidak disediakan tongkat.

Di Hamburg Jerman, sepertinya masih sulit membedakan orang-orang Albania dengan Turki dan kawasan sekitarnya. Paras wajah dan postur tubuh orang-orang  Albania secara umum sama dan hampir mengikuti Turki. Mungkin saja ini karena Albania pernah berada lama di bawah kekuasaan Ottoman Turki yang sebagian besar kemudian menetap di sana.

baca: Jumat di Turki

Albania adalah sebuah negara yang terletak di Eropa bagian Tenggara. Albania berbatasan dengan Montenegro di sebelah Utara, Serbia (Kosovo) di Timur Laut, Republik Makedonia di Timur, dan Yunani (Greece) di Selatan.
Apabila melihat posisi  geografis negara Albania, maka dapat dipasikan sangat strategis karena berada di perbatasa laut Italia memasuki kawasan Eropa sebelah Timur. Ia juga salah satu negara terbesar dengan negara-negara sekitarnya seperti Kosovo, Macedonia, Montenegro, bahkan dengan Italia. Namun sayangnya, negara ini jatuh dalam "konkalikong skema Piramida" dan perang yang berkepanjangan sehingga membuat negara ini miskin. Negara-negara kuat di Eropa sebaliknya memanfaatkan negara yang "bodoh akibat perang" dalam merekrut kekayaan dan penguasaan ekonomi berdalih bantuan IMF dan lainnya.

Albania adalah salah satu negara di Eropa (pengeculian Turki yang adalah negara lintas benua) yang mayoritas penduduknya beragama Islam selain Bosnia, Herzegovina dan Kosovo. Walau begitu, menurut penelitian tahun 2010, Albania adalah salah satu negara yang paling tidak beriman di dunia; hanya 39% dari jumlah populasi yang menganggap agama memainkan peran penting dalam kehidupan mereka. Hal ini disebabkan karena setelah berdiri atas Kerajaan (1272), kemerdakan dari Kesultanan Usmaniyah (1912), dan Negara Republik (1928) (1946) (1976) (1991). Dari tahun 1912 hingga 1945 tidak menetapkan agama resmi dan melemahkan peran ulama dan klerus dalam kehidupan sehari-hari.


Singkatnya, perang dan konflik politik-agama yang berkepanjangan menjadikan negeri ini miskin. Tahun 1190 berdiri jadi Negara Kerajaan. Abad ke-14 M direbut oleh Turki hingga akhir abad 19. Lepas dari otoritas Ottoman Turki, menjadi negara Republik 1925 dan berubah lagi menjadi Kerajaan (1928). Era PD II menjadi rebutan negara adikuasa. Negara yang letaknya sangat strategis dicaplok oleh Italia 1939-1943, kemudian diambil alih oleh Jerman. Status merdeka diperoleh lagi jadi negara Republik (1946) dan rakyat Sosialis (1976).

Sejak tahun 1945 tidak menetapkan agama resmi dan melemahkan peran ulama dan klerus dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan negara Komunis dan pernah mendeklarasikan "negara ateis" pertama di dunia. Walaupun populasi muslim terbesar di Eropa bagian Tenggara.

Walau sudah berada di bawah PBB tahun 1990an, iklim ekonomi, politik dan agama tidak pernah akur. Tahun 1998 jadi tahun bersejarah referendum besar. Terlanjur, negeri yang telah berada dalam "skema Piramida" dan mainan IMF dan jadi makanan empuk negara kapitalis. Belum ada negara-negara super power yang membantu "ikhlas" negara-negara miskin akibat perang, kecuali dalam iming-iming penjajahan dan penguasaan. Dan itu yang terjadi di kawasan-kawasan mayoritas Muslim.

(Hamburg, 22 Januari 2016)

Jum'at di Albania

Read More

Tuesday, January 12, 2016


Namun demikian, ketakjuban saya pada anak-anak Aceh yang lahir di negeri tersebut tidak membuat mereka lupa pada bahasa indatunya, padahal mereka sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di Aceh. Mereka mampu berbahasa Aceh dengan fasih melebihi anak Aceh di kota-kota di Aceh. Selain bahasa Aceh yang “meu-Aceh” juga belajar bahasa Denmark dan bahasa Inggris.

Selain itu, acara kenduri maulid Nabi juga menjadi istimewa sebab makanan yang disajikan seluruhnya khas citarasa Aceh, mulai dari makanan ringan hingga asoe hidang kenduri. Ini mengingatkan saya setelah sekian lama tidak menikmati makanan khas Aceh selama berada di Jerman.

Tahun ini, Maulid Nabi diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 11 tahun gempa tsunami Aceh. Usai acara maulid dilanjutkan samadiyah dan doa kepada para syuhada Aceh dan lainnya pada bencana akbar tersebut.

Pada musim dingin, waktu malam lebih awal dan lebih lama daripada siang. Di dalam Meunasah Aceh tersebut, para pemuda dan masyarakat Aceh terus melantunkan dalae-dalae Maulid Nabi, tidak hanya dalam bahasa Arab, tetapi juga dalam bahasa Aceh.

Jamaah Meunasah Aceh baca Dalae Khairat "Berjanzi" saat Maulid Nabi, 1437 H/ 2015 M
Sehari penuh saya berada di sini, sepertinya sedang berada di “Gampong Aceh” Eropa, berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai daerah di Aceh dengan cuaca dingin bersalju. Tidak berlebihan jika masyarakat Aceh di Negara-negara Eropa ingin menikmati Maulid Nabi seperti di Aceh cukup ke Denmark. Di sini, suasana Maulid Nabi meu-Aceh benar-benar kental.

Pada kesempatan emas ini, saya mendapat banyak informasi dari masyarakat Aceh di Denmark tentang kehidupan mereka dan orang-orang Denmark.

Banyak informasi positif yang saya petik, mulai dari pola pikir dan pola hidup masyarakat, sistem pemerintahan yang baik, petani adalah milioner, biaya hidup rakyat ditanggung pemerintah, peluang dan lapangan kerja bagi masyarakat, sistem sharing penghasilan hingga 38% persen, hingga integrasi pendidikan dimulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK).

Sepertinya, Aceh harus banyak belajar pada Denmark yang sama-sama memiliki populasi penduduk lima juta jiwa, tetapi beda tingkat kesejahteraannya.

Baca: Maulid Nabi meu-Aceh di Denmark

Published on Citizen Reporter Serambi Indonesia

Gampong Aceh Eropa

Read More

Sunday, January 10, 2016

Acara ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga mengobati rindu mereka ke Aceh dan transformasi ilmu pengetahuan tentang Rasulullah kepada anak-anak mereka yang lahir dan besar di negeri Eropa yang berpenduduk mayoritas non-Muslim.

Pada hari Maulid dalam cuaca dingin mencapai 5 derajat celcius, lantunan bacaan Barzanji dan puji-pujian telah bersenandung sejak pagi di dalam gedung yang baru direhab tersebut yang disebut “Meunasah Aceh” di Kota Aars, Denmark. Selain di sini, Kota Hjoring juga terdapat “Mesjid Aceh” sebagai wadah perkumpulan masyakarat Aceh yang berjumlah lebih dari 200 orang.

Meunasah Aceh di Denmark berfungsi sebagai tempat shalat berjamaah serta tempat pendidikan dan pengajaran Islam kepada masyarakat Aceh, termasuk anak-anak. Di Kota Aars ini merupakan gedung baru yang disewa secara sumbangsih antar sesama yang dilengkapi beberapa fasilitas lain, seperti ruang kantor, dapur dan ruang-ruang belajar untuk anak-anak.

Sebagaimana di Aceh, semangat Maulid Nabi terlihat dari bacaan Dalae Maulod Nabi dari kitab Syaraful Anam atau lainnya. Meudalae tidak hanya diikuti oleh orang-orang dewasa yang pernah hidup di Aceh, tetapi juga anak-anak mereka yang lahir dan besar di negeri Denmark dan belum pernah merasakan alam Aceh.

Baca: Maulid Nabi Meu-Aceh di Denmark

Published on Citizen Reporter Serambi Indonesia  (07/01/2016)

Meunasah Aceh di Denmark

Read More

Friday, January 08, 2016

Hamburg, 6 November 2015.
Mesjid An-Nour merupakan mesjid yang menggunakan khutbah Jumat dalam bahasa Arab, maka saya lebih menyebutnya Mesjid Arab. Walaupun demikian, jamaah yang hadir tentu saja bukan dari Arab, tetapi juga orang Jerman, orang-orang Eropa dan juga Afrika dan Asia. Hal tersebut cukup mudah untuk mengenalinya, hanya dengan melihat baris jamaah, akan banyak "wajah khusuk"  dari berbagai daerah shalat menghadap sang Khalik.

Mesjid ini tidak terlalu luas, hanya satu lantai. Sedangkan lantai di atasnya digunakan untuk Mesjid Albania. Di lantai bawah untuk parkir mobil. Pada saat mobil tidak terlalu banyak pada hari Jumat, maka digunakan untuk jamaah shalat Jumat. Saya pernah merasakan shalat Jumat di tempat parkir ini bersama dengan jamaah lain, di antara sela-sela mobil yang terparkir rapi. Begitulah perjuangan Muslim di sini yang tidak mendapat tempat cukup untuk beribadah. Namun, seminggu kemudian semuanya berubah.

Jumat selanjutnya, seperti pihak kepolisian menutup tempat shalat di tempat parkir tersebut. Maka, sejak tanggal 13 November 2015, shalat Jumat dilakukan dua gelombang. Gelombang pertama dari jam 12.00-12.45, dan gelombang kedua 13.00-13.45.

Durasi shalat Jumat berjamaah di sini dilakukan tidak terlalu cepat, perkiraan keseluruhannya sekitar 30-40 menit. Dari sebelum azan pertama, jamaah sudah memenuhi mesjid ini. Usai azan, jamaah shalat sunnah qabliyah Jumat. Khatib menaiki mimbar dan mengucapkan salam, kemudian Muazzin mengumandangkan azan kedua. Khutbah disampaikan sepenuhnya dalam bahasa Arab, termasuk nasehat.


Jumat di Arab

Read More

SETIAP tahun menjelang bulan Rabiul Awwal dirayakan hari kelahiran Nabi Muhammad di mayoritas negara-negara muslim, tak terkecuali di masyarakat Aceh, termasuk masyarakat Aceh di Denmark. Mereka telah menetap di negeri Scandinavia ini sejak era konflik GAM-RI di Aceh.

Mayoritas mereka mendapat suaka politik dari Perserikatan Bangsa-bangsa atau UN (United Nations), kemudian berdomisili dan bekerja di negara Eropa.

Melihat kehidupan penduduk di Denmark, termasuk masyarakat Aceh hampir tiada tekanan dari pemerintah atau masyarakat asli, baik dalam bidang politik maupun agama. Maka, ureng-ureng Aceh di Denmark masih menjaga baik tradisi keagamaan sama seperti di Aceh, termasuk maulid (maulod) Nabi.

Pada maulid tahun ini 1437 H (2015-2016), masyarakat Aceh di Denmark mengadakan Maulid Nabi tepat pada 11 tahun gempa-tsunami Aceh, 26 Desember 2015. Saya berkesempatan memberikan tausiyah tentang keteladanan dan hikmah maulid Nabi.

Peringatan Maulid Nabi telah dilaksanakan setiap tahunnya oleh masyarakat Aceh di Denmark, dan menjadi tradisi untuk melaksanakannya seperti di kampung halamannya yang jauh di sana.

Baca: Meunasah Aceh di Denmark

Published on Cititzen Reporter Serambi Indonesia (07/01/2016) 

Maulid Nabi Meu-Aceh di Denmark

Read More

Friday, January 01, 2016

Hamburg merupakan kota kedua terbesar di Jerman, jumlah populasi penduduk beragam dan multi etnis. Orang-orang Turki merupakan imigran Muslim terbesar di wilayah ini. Mayoritas mereka bekerja sebagai pedagang toko dan restoran. Warung-warung makan (restoran) didominasi oleh mereka dengan makanan khas ala Turki. Maka tidak salah, mesjid Turki (disebut demikian karena khutbah Jumat disampaikan dalam bahasa Turki) merupakan salah satu mesjid terbesar di kota perdagangan ini selain mesjid Iran.

Kriteria mesjid besar di sini adalah memiliki kubah dan menara. Dan, untuk ukuran mesjid Turki ini memiliki empat lantai. Lantai ke dua dan ke tiga digunakan shalat berjamaah, dan lantai ke empat difungsikan untuk kaum hawa. Kemungkinan juga untuk anak-anak. Sedangkan lantai dasar untuk kantor mesjid, toko buku/kitab, serta disudut terdapat warung teh alias warung kopi (warkop)

Menjelang waktu Jum'at (musim dingin dimulai jam 12.15 pm), setiap jamaah yang hadir akan melakukan shalat sunnah tahiyat mesjid 4 rakaat. Kemudian menunggu hingga tiba waktunya azan. Disini, azan dikumandang dua kali; pertama saat masuknya waktu Jumat, dan kedua saat khatib telah di atas mimbar.

Azan pertama di kumandang dengan lantang dan tegas, tidak terlalu panjang iramanya. Usai azan, maka muazzin pun membaca doa dan menyeru untuk Shalat Sunnah Qabliyah. Shalat sunnah tersebut dilakukan mayoritas jamaah (didominasi jamaah Turki dan sekitarnya) sebanyak 4 rakaat juga. Pelaksanaan shalat sunnah empat rakaat diutamakan pada siang hari merujuk kepada beberapa hadist Nabi tentang pelaksanaan Shalat Sunnah di siang hari.

Saat khatib naik ke atas mimbar yang memiliki 4 anak tangga, ia membaca do'a di atas membar menghadap kiblat (membelakangi jamaah). Usai membaca doa, ia balikkan badan dan duduk. Sang muazzin pun mengumandangkan azan ke dua yang lebih lembut dan syahdu. Sebelum mengumandangkan azan, maka muazzin membaca "Inna Allah wa malaikatahu yashallu 'ala an-Nabi... dst".

Mimba Jumat mengikuti mesjid Madinah dan Turki, anak tangga terbuka menghadap jamaah, sehingga saat berdiri Khatib di atas mimbar terlihat seutuhnya tubuh Khatib dari kaki hingga kepalanya. Ini mengikuti anjuran Nabi saat naik mimbar menghadap kiblat dan membaca doa di atasnya menghadap kiblat, sebelum berbalik menghadap ke Jamaah. Tidak ada tongkat yang disediakan di atas mimbar.

Khatib Jumat menyampaikan ceramah (maw'izah) dalam bahasa Turki, tidak terlalu lama waktu yang digunakan untuk memberikan nasehat dalam khutbah tersebut, hanya berkisar selama 5-10 menit. Kemudian masuk rukun dua khutbah dan dilaksanakan shalat Jum'at. Usai Jum'at, tidak ada shalat i'adah Jumat atau shalat Zuhur. Di mesjid ini, waktu shalat Jumat termasuk dipercepat jika dibandingkan dengan mesjid-mesjid sekitarnya di Hamburg.

Mimbar Jumat yang digunakan sama seperti mimbar di Madinah atau di mayoritas tempat muslim lainnya, yaitu mimbar terbuka menghadap jamaah, sang khatib akan menaiki mimbar dari arah jamaah, menghadap kiblat. Biasanya akan membaca doa sebelum menaiki mimbar. Itulah fungsi mimbar menghadap kiblat, supaya sang khatib dapat membaca doa sebelum memaling ke jamaah untuk khutbah Jumat. Sang khatib tidak menggunakan tongkat, dan tidak disediakan tongkat di atas mimbar. Mesjid besar di Hamburg ini tergolong indah ornamen dan hiasan di dalamnya, bunga-bunga hiasan di dinding mencerminkan kemegahan Ottoman Turki.

~ Hamburg, 16 Oktober 2015


Jumat di Turki

Read More

Thursday, December 31, 2015


Bendera Aceh bukanlah sebuah polemik besar bagi setiap orang yang mengetahui sejarah Aceh. Sebab, sejak era Kesultanan Aceh sudah memiliki bendera, hal tersebut dapat ditelusuri dari berbagai sumber sejarah Aceh di luar negeri. Bendera-bendera di atas, misalnya, adalah hasil sketsa seorang Belanda yang bertugas di Aceh era perang Belanda dengan Aceh antara 1873-1945 yang menunjukkan bendera tersebut telah digunakan, bahkan untuk kerajaan-kerajaan kecil.

Selain bendera sketsa Belanda itu, hasil penelusuran leinnya juga ditemui oleh KMPD (Komite Monitoring Perdamaian dan Demokrasi) perwakilan Eropa dan ASF di Denmark yang menemukan ratusan khazanah kejayaan masa lalu Aceh (Atjeh) yang tersimpan di Museum Nasional Denmark (Nationalmusset) di København. Peninggalan Aceh zaman dahulu tersimpan di dalam gedung istana lama yang sangat besar.

Hasil usaha KMPD dan ASF sangat membanggakan dan memberikan informasi yang lebih, bahwa terdapat selembar Bendera Kedaulatan (Kesultanan) Atjeh di antara tahun 1850-1900. Bendera berlatar warna merah, dihiasi dua peudeung (pedang), tiga titik di antaranya, dan bulan bintang bercahaya delapan, bintang dan dua pedang.

Bendera Aceh koleksi Museum Nasional Denmark

Jika dilihat lebih lanjut, bendera versi Belanda dengan koleksi museum Denmark hampir memiliki kesamaan pada gambar Belanda paling bawah kanan. Kemiripan pada latar belakang warna bendera dan dua pedang saling berhadapan dengan ujung mengarah keluar.

Sejauh ini, bendera Aceh dengan motif pedang biasanya digunakan pada saat perang di kapal-kapal perang Aceh. Jika demikian, bendera itu sudah digunakan pada era kolonial Belanda (1873) atau sebelumnya saat-saat genting Aceh sebagai sinyal diplomasi politik dengan negara-negara berdaulat khususnya di Eropa.


Menurut Bente Wolff, kepala bagian India, Asia Tenggara dan Oceania di koleksi etnografis, Museum Nasional di København tersebut tidak kurang 140 barang antik bersejarah yang sangat bernilai berasal dari Aceh. Selain bendera di atas, terdapat juga selendang dan celana berbenang emas, perisai, kain kepala, topi dan kalung, anting-anting dan rem dari perak, batang rokok dan bungkusnya,tembakau dan gunting, tikar yang berdesain indah dan penutup makanan dibuat dari daun pisang dan kertas berwarna cerah, lampu berhiasan burung kecil, serta pisau perak. Koleksi barang-barang etnografis itu dikumpul oleh penjelajah, pedagang, antropolog atau pelayar yang membawa barang-barang dari Aceh.

Peninggalan tersebut merupakan kekayaan warisan sejarah dan peradaban Aceh. Tentu, pemerintah Aceh harus memiliki "hati" untuk membuka matanya menidaklajuti kajian-kajian pada warisan yang telah disimpan oleh Museum Denmark dengan baik hati.

Harapan itu juga tersirat dari Bente Wolff yang menaruh harapan "akan lebih baik kalau pribumi dari negara asal barang di koleksi etnografis melihatnya dengan mata sendiri". Tentu harapan tersebut sebagaimana dilakukan negara-negara yang terus meneliti dan mengkaji berbagai warisan di dunia dan menjadikan negeranya sebagai sentral ilmu pengetahuan. Kini, Pemerintah Aceh harus berbenah dari "kolotnya pola pikir" terhadap warisan indatu, tidak hanya slogan pemanis mulut apabila ingin memajukan Aceh ke arah yang lebih baik [].

Dikutip dari berbagai sumber:
- Tarmizi Age (Mukarram)
National Museum of Denmark
- Bendera Aceh di Museum Nasional Copenhagen Denmark
- 10 Negara Eropa yang menyimpan peninggalan Indonesia (I)

Bendera Aceh (2) di Denmark

Read More

Thursday, December 24, 2015


Memasuki bulan Rabiul Awal tahun hijriyah selalu diperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal) di seluruh negara muslim.

Peringatan tersebut diadakan dalam beragam bentuk, mayoritasnya membaca selawat dan barzanji. Demikian di Aceh (termasuk Melayu Nusantara) sejak dulunya melakukan yang sama yang dapat dilihat dari beragam manuskrip tentang Maulot (Maulid) Nabi Muhammad.
Naskah-naskah tersebut cukup banyak sekali varian dan jumlahnya, yang kini menjadi bacaan “wajib” dalam perayaan maulid Nabi.

Salah satunya manuskrip paling banyak beredar yang digunakan adalah kitab Dala’ilul Khairat karya Abu Abdillah Muhammad ibn Sulaiman Al-Jazuli, ulama terkenal berasal dari Maghrib (Maroko) (m. 870 H 1465 M).

Menjelang dewasa, ia berangkat dan belajar ke daerah Fas yang tidak jauh dari kota Mesir. Di sinilah ia mengarang kitab “Dalailul Khairat” yang ditujukan kepada baginda Nabi Muhammad. Di Aceh disebut “meudalaee” yaitu membaca dalail.

Sebelumnya, Abu 'Abdallah Muhammad ibn Sa'id al-Busiri Ash-Syadhili (1211-1294) di Mesir mengarang puji-pujian selawat kepada Nabi berjudul “Qasidah Burdah” yang juga cukup terkenal di masyarakat muslim Indonesia.

Selain dari itu, masih banyak puji-pujian Hizb an-Nasr dan Hizb al-Bahr karya Imam Abu Hasan Syazili, juga terdapat Hizb karya Imam Nawawi, Hizb karya Mulla ‘Ali al-Qari, dan puji-pujian Hizb lainnya sebagai persembahan kepada sisi mulia tersebut.


Khusus di Aceh, membaca “dalaee” ataupun syair-syair pujian dalam bahasa Arab (Hizb) sejenisnya yang terkenal dilakukan sejak bulan Rabiul Awal dan seterusnya.

Selain itu, masih ada tradisi nalam (Arab: nazham) juga dalam bentuk syair yang berisikan tentang pujian dan selawat kepada Rasulullah dalam bahasa Aceh.

Dalam tradisi sastra Aceh, masih digolongkan hikayat, maka dikenal dengan Nazam (Hikayat) Maulot Nabi, salah satunya karya Tgk Syeh Ya’kub atau dikenal juga Tgk Pante Ceureumen dari Padang Tiji.

Salah satu teks Nazham Maulot Nabi bahasa Aceh:
Ya Ilahi poe ku Rabbi lon ek saksi gata Tuhan
Lon ek saksi Nabi Muhammad Rasulullah gata bagi jin insan
Tabri Islam dengoen Iman ngon makrifat tauhid sajan
Tapeuteutap lam kalimah hudep matee bangket meunan
Berkat Rasul yang troen kitab Nabi lengkap sekalian
Berkat mukjizat Taha Yasin Sayyidil Mursalin Muhammadan

Para penceramah Aceh sering menyebut nama selain “Muhammad” dan “Ahmad”, juga dijuluki Sayyidil Mursalin, Yasin, dan Taha.

Salah seorang staff Belanda era kolonial, Damste, termasuk yang banyak mengumpulkan manuskrip Aceh dan membawa ke Belanda menamai bahwa teks-teks “Seulaweuet keu Nabi” sebagaimana kolofon teks menyebut “tamat seulaweuet maulot Nabi” sangat banyak di masyarakat dan menjadi tradisi bulan-bulan perayaan kelahiran Nabi.

Selain itu, menurut inventarisasi (alm) Teuku Iskandar, sarjana Aceh di Belanda menemukan juga naskah-naskah Likee Maulot, atau disebut juga Maulid Barzanji yang sebagian berbahasa Arab dan sebagian lagi berbahasa Aceh.

Dalam edisi cetaknya kemudian dikenal “Maulid Syaraful Anam”.

Bahkan di Perpustakaan Nasional Jakarta mengoleksi kitab Maulot Nabi yang berstempel Tgk. Chik Saman Tiro dan Tgk M. Sa’id Krueng Kalee tahun 1315 H (1898 M), lebih tua naskahnya yang dikoleksi Snouck yang ditemukan tentara Belanda di Rumoh Aceh di Pasar Aceh Samalanga tahun 1916.

Kecintaan mereka (orang terdahulu) mengarang nazam (seulaweut), menyalin dan membacanya sebagai salah satu bentuk kecintaannya kepada baginda Rasulullah.

Kini, karya-karya mereka sudah dicetak dan dapat diakses dengan mudah untuk dibaca, semoga kita dan generasi seterusnya dapat menghidupkan sinar kemuliaan Nabi dan menghayatinya di kehidupan sehari-hari.

Sudah dipublikasi di Serambi Indonesia: Ini Dia Manuskrip Maulid (21 Des 2015 M /9 Rabiul Awal 1437 H)

Ini Dia Manuskrip Maulid Nabi

Read More

Monday, December 21, 2015


Masyarakat di belahan dunia menganggap bahwa setiap tahun memiliki istilah-istilah tertentu. Sebagian menyebut "zodiak" yang digambarkan dalam bentuk nama-nama hewan atau bentuk lainnya. Di China, atau Korea dan beberapa negara lainnya memiliki tradisi lebih kental, misalnya menyebut tahun Naga, atau dengan istilah lainnya, seperti Harimau, Kerbau, Tikus, Kuda, Domba, Ayam, dan sebagainya. Setiap istilah memiliki makna tertentu yang berlaku silih berganti selama dua belas simbol (disesuaikan dengan dua belas bulan).

Sebagian lainnya menamai tahun-tahun tersebut sesuai kejadiannya, misalnya di Jazirah Arab, di Mekkah al-Mukarramah pada tahun kelahiran Nabi Muhammad disebut Tahun Gajah. Istilah tersebut karena pada tahun tersebut Raja Abrahah al-Asyram dari Bani Gassan di Hirah Yaman dengan ratusan pasukan gajah dan ribuan bala tentaranya ingin menghancurkan Ka'bah. Namun, Allah menyelamatkan Ka'bah dan Mekkah. Maka tahun itu masyhur dengan istilah Tahun Gajah, padahal sejarawan sudah menemukan dan sepakat tahun itu bertepatan dengan 570 masehi.

Di Aceh, tahun 2004 lebih dikenal dengan tahun Gempa Tsunami, sebab masyarakat mengenangperistiwa bencana tersebesar sepanjang sejarah abad ke-20 dan 21 tersebut. Dan setahun kemudian, 2005 disebut tahun MoU Helsinki, karena pertengahan Agustus antara GAM dan Pemerintah RI sepakat bersalaman dan damai. Begitu seterusnya, setiap kejadian (momen) penting dan besar di tahun tertentu akan dikenang dan menjadi simbol tahun tersebut

Menghadapi tahun 2016, melihat fenomena Aceh kedepan, di saat persatuan semakin rapuh, saling membantu semakin jauh, orang tua dan guru berubah jadi buruh, mufakat dan musyawarah semakin lumpuh, anak yatim dan fakir miskin mati bersimpuh, ulama bukan lagi tempat berteduh, pemimpin sombong menjadi angkuh, kaya dan takabur menjadi teguh. Maka fenomena itu terjadi, saya lebih menyebutnya "Tahun Jampok".

Jampok adalah sejenis burung hantu (English: Owl). Dalam "Hikayat" bahasa Aceh, Jampok diidentikkan dengan sifat tidak baik. Ini berawal dari kisah Nabi Sulaiman saat memilih pemimpin di "Negeri Cicem", Di mulai saat "Ma Jampok" dengan tiba-tiba menunjuk "Aneuk Jampok" menjadi raja, hingga akhir ceritanya memilih seseorang sesuai keahliannya. Banyak hikmah dan pelajaran dalam haba jameun (cerita zaman) Aceh ini.

Deungo lon kisah khabaran jameun
Masa keurajeun Nabi mulia
Masa keurajeun Nabi Sulaiman
Yang mat hukuman ban sigom donya

Nibak Siuroe Nabi Jak Meu en
Ka dengon angen sajan seureta
Ka Nabi neuduk ateuh kursi
Angen bapoet lee ban siklep mata

'Oh ban saree troh bak saboeh tempat
Geumusyawarah geu beuk boeh raja
Nabi neutanyong bak mandum ciceem
Toeh saree kateem lon bouh keu raja

Seuot po Jampok Hai Tuanku Ampon
Nyoe pat sigam lon neuboh keuraja
Seubab Sigam long rupa that ceudah
Lagi ngen hebat meubulee mata

Mata jih bulat babah meukuweit
Cukop meusaheet sigam keuraja
Nabi Sulaiman masa nyan meuseuheh neukhem
Dum cicem laen surak meubura

Teuma jiseuot Burong Keutok-tok
Meuhanjeut Jampok bah lon keu raja
Seubab di ulon nyoe na meupiyasan
Long peh canang prang oh malam jula

Lheuh nyan jiseuout Tok-tok Beuragoe
Hana meusoe-soe taboh keu Raja
Seudangkan di lon kupiah Beusoe
Hantom siuroe lakee keu Raja.

Teuma jiseuout Beurujuk Balee
Han kuteem banlee Jampok keu raja
Hana meusoe-soe ka tajak lakee
Golom meuteuntee tajak peutaba

Saweub digobnyan leuthat piyasan
Geupeeh ngen geundrang oh malam jula
Ngon Ciceem Got-got Geumeu en Geudrang
Leupah that garang karu ngen subra

Laju jiseuout si ciceem Enggang
Leupah that garang meunyoe jih keu Raja
Ampon Tuanku Saidil Ambiya
Galak lon raya gob nyan keu raja

Ciceem kakirouh nyang na di sinan
Nabi Sulaiman teukheem lagoina
Apa Jampok yoh nyan kamalee muka
kaleupah haba nariet jipuga

Di cicem Pala jigroep-groep lamboeng
di Cicem Buroeng surak meubura
Beurujuek Balee surak di sampeng
Cicem keureuleng sama-sama

Leumpah that malee ji apa Jampok
Teuduk meuseupok beu blek-blek mata
Malee ji that-that ka deungon rakan
Hana meu'oh ban cukop that gura

Teuma jidamee uleh Keudidi
Si Rajawali tabouh keu raja
Cicem Dama Peudana Meuntri
Beurujuk Campli Keupala Teuntra

Leuk Bangguna taboh keu Meuntri
Keupala negeri nyoe Ciceem Dama
Kleung Puteeh Ulee jeut Polisi
Si Mirah pati jeut keu wedana

Keu Peuneurangan po ciceem Tioeng
Nyang mat hukom Po ciceem Pala
Tok-Tok Beuragoe geuchiek gampong
Ciceem Keucuboeng keu ureung Ronda

Di cicem Tuloe jeut keu Peunerangan
Cicem Rajangan boeh keu Panglima
Di cicem Bubruk taboeh mak Bidan
Seubab gobnyan geukuwa-kuwa

Semoga hikayat "Aneuk Jampok" dapat menjadi pelajaran dalam hidup kita.

Ayo rileks sambil mendengar lagu-lagu "Jampok"



2016, Aceh Tahun Jampok

Read More

Hermankhan Google+ Followers

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip Aceh dan Malay | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top