Translate

Tradisi Maulid Nabi di Aceh dalam Manuskrip Aceh

KATA maulod atau maulid berasal dari kata serapan bahasa Arab yang dimaknai hari lahir. Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang diperingati atau dirayakan pada setiap 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat.
Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad. Perayaan Maulid Nabi, kabarnya pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193). Dan ada sumber lain yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin al-Ayyubi sendiri.
Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya. Akan tetapi, dalam perkembangan berikutnya tradisi ini menyebar ke daerah-daerah sentral Muslim dalam kegiatan peringatan keagamaan untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad, hingga akhirnya berkembang bukan hanya pada pembacaan syair-syair mahabbah kepada Rasulullah, akan tetapi juga pada ranah sosial budaya dan adat-istiadat yang "dikawal" secara turun-temurun.

Melacak "Nasib" Naskah Tajus Salatin di Aceh

Naskah Tajus Salatin tba-tiba menjadi perhatian saya, yang sebelumnya sudah sejak lama saya mengincar untuk membacanya. Kabarnya naskah tersebut merupakan asas manajemen pemerintahan Kesultanan Aceh sejak periode Sultan Alaidddin Riayat Syah (997-1011 H (1589-1604) karya dari Bukhari al-Jauhari. Sosok tokoh ini juga belum terungkap, dan akhirnya melahirkan tanda tanya dan beberapa asumsi asal usul tokoh tersebut, apakah ia berasal dari Bukhara, ataukah ia dari Johor dengan gelar "al-Jauhari" atau al-Johori. (lihat link: http://www.iranicaonline.org/articles/taj-al-salatin). Semua dapat dilakukan penelitian lebih mendalam untuk perkembangan keilmuan dan intelektual di alam Melayu Nusantara secara umum, dan Aceh khususnya.
Mengapa khusus Aceh, sebab naskah ini dianugerahkan kepada kepada Sultan Aceh. Terlepas dari euforia kejayaannya, tapi warisan ini cukup sulit ditemui di Aceh pada zaman modern ini, padahal isinya mungkin cukup relevan untuk dijadikan cerminan dengan sekarang, (lihat: http://hermankhan.blogspot.com/2011/07/asas-pemimpin-dalam-tajus-salatin.html), setidaknya "belajar" mempertahankan tradisi dan mengembangkan visi. 
Prof. Iskandar menyebutkan bahwa proses transliterasi ke aksara Jawi sekitar tahun 1603 M di Aceh pada masa Sultan Alaiddin Riayat Syah. Pedoman sistem kenegaraan tersebut merujuk kepada karya Persia, mungkin disusun di India, karena bukti internal menunjukkan bahwa penulis memiliki pengetahuan puisi Persia.
Hal tersebut dapat dilihat pada sosok Nuruddin al-Raniry yang mengabdikan dirinya kepada Sultan Aceh di wilayah Kerajaan Aceh. Padahal tokoh tersebut -dalam beberapa penelitian- pernah eksis Pahang dan Haramain, demikian juga asal negerinya di India, akan tetapi kemudian karyanya belum ditemui bahwa ia menulis di Pahang dan atau di Haramain. Kecuali beberapa kitab (3 kitab) yang ditulis di India pasca kepulangannya dari Aceh.
Karena itulah, Bukhari al-Jauhari -dan banyak ulama Aceh-Melayu lainnya- juga meninggalkan banyak tanda tanya tentang dirinya, walaupun harus diakui tradisi penulis di tanah Aceh-Melayu selalu tak ingin dikenal, sebuah sifat tasawuf (sufisme) dalam karya mereka tanpa mengharap apresiasi dari manusia.
Halaman Awal Naskah Tajus Salatin koleksi Malaysia disalin tahun 1967

Sejak Prof. Farish Noor dari Singapura menanyankan tentang keberadaan naskah Tajus Salatin dari negeri asalnya, Aceh, di beberapa media jejaring sosial, yang akhirnya juga mendarat ke inbok elektronik saya. Saya bertambah penasaran dan tanda tanya, salah satunya adalah naskah manuskrip yang dianggap sebagai pedoman tatanegara Kesultanan Aceh yang dipakai beberapa periode lamanya, tak pernah (atau lebih bijak -belum-) ditemukan di Aceh.
Sebut saja, pedoman yang dirujuk dalam naskah Tajus Salatin kemudian masih diaplikasi setengah abad berikutnya, periode Safiyatuddin Syah Tajul Alam terpilih sebagai Sultanah Kerajaan Aceh, tokoh perempuan yang memiliki kontropersi ideologi di dunia Muslim Nusantara, termasuk Jazirah TImur Tengah. 
Sebenarnya hal ini bukan hal yang baru bagi saya, sebab naskah-naskah fenomenal lainnya di Aceh juga bernasib sama, sebut saja Bustanus Salatin karya Nuruddin Ar-Raniry juga tak pernah muncul di koleksi negara atau swasta. Benar atau tidak, memang kita -pemerintah dan masyarakat- sama-sama sepakat tidak menghiraukan karya-karya indatu (leluhur), atau turut bekerjasama "menjajah" karya sendiri bersama dengan penjajah intelektual.
Nasib naskah Tajus Salatin memiliki nasib yang hampir serupa, sepertinya harus diperoleh naskah-naskah lebih tua dan autoritatif untuk mendapatkan informasi lebih kongkret dan detail atas keberadaan naskah itu sendiri, termasuk sosok penulisnya yang kian terlupakan. Tapi sepertinya jalan masih panjang, semoga masih ada harapan naskah itu terselip di rak lemari rumah masyarakat Aceh, wallahu'alam...

Alfiyyah Ibnu Malik dan Pidie

Naskah Alfiyyah
Koleksi Tarmizi A Hamid, Banda Aceh
Bagi sebagian orang, mungkin mendengar kitab berjudul Alfiyyah sudah umum, bahkan bagi dunia dayah dan pesatren salafi sudah mempelajarinya, sebagai bagian dari ilmu alat dalam pengembangan grammatical bahasa Arab. Tapi bagi saya, ini memiliki keistimewaan tersendiri.

Pada Sabtu malam, bapak Tarmizi mengajak saya untuk mengecek dan "mengacak" naskahnya, ada beberapa naskah yang kami buka, tidak terlalu banyak tapi beragam, salah satunya kitab ini (Alfiyyah), karena naskah ini lengkap dari segi fisiknya, mulai pembukaan (mukaddimah), halaman tengah lengkap, hingga kolofon naskah, yang disalin oleh Abdurrahman pada tanggal 5 Ramadhan (tanpa tahun). Jika diterawang kertas naskah, akan terlihat watermark (cap air) bergambar jangkar laut (anchor) dan tulisan AZULAU, kuat dugaan kertas ini diproduksi oleh Roma sekitar tahun 1640 M.
Keunikan lainnya, tiba-tiba kami menemukan sehelai kertas di dalam naskah, entahlah, mungkin ia bagian dari naskah tersebut yang telah lama terlelap diantara lembaran-lembaran naskah, hanya saja dia bukan bagian dari matan naskah.


Di lembaran tersebut tertanggal 12/4/1951 bahwa "Tgk Brahim (Ibrahim) atau Tgk Samalanga telah meminjamkan salah satu kitab tafsir dari pemilik kitab Tgk Imum Fakeh dan Tgk Mat Kasim, negeri Triengdjading (Trieng Gadeng), Pidie, ditulis oleh Djamal". Informasi tersebut menjadi penting bahwa naskah ini –diantara naskah-naskah lainnya- masih eksis dan terus dipelajari.

Selain itu, catatan ini juga juga bermakna karena pada tahun tersebut (1951) Aceh bukan lagi sebagai daerah pengembangan dunia intelektual, akan tetapi sudah menjadi bagian dari Sumatera Utara sejak tahun 1950. Sejak itulah, kekecewaan dan benih pemberontakan mulai menggeliat akibat Jakarta (Pusat) tidak bisa berterima kasih kepada Aceh. Dan Pidie menjadi sentral dalam pemberontakan ketidakadilan tersebut. 

"Pasang Surut" Ilmu Faraid

Teks Naskah Ilmu Warisan (Faraid)
Ilmu Waris atau Mawaris sebenarnya sudah menjadi wajib diketahui oleh setiap individu muslim, sebab pembagiannya merupakan ketentuan dari Allah sebagaimana yang telah ditentukan dalam Al-Qur'an (QS An-Nisa': 11).

Anjuran untuk mempelajarinya juga sudah ditegaskan oleh Rasulullah akan hal ini, karena jika tidak ada orang yang mempelajari ilmu faraid atau waris ini, maka telah terjadi kecurangan dan ketidakadilan.

Sepanjang perkembanagan ilmu waris sejak diimplementasikan Rasulullah di periodenya hinga saat ini, maka telah muncul tehnik-tehnik atau tatacara penghitungan warisan yang lebih simpel dan praktis hingga saat ini.

Lahirnya metode penghitungan warisan melalui program-program modern dianggap salah satu kemajuan tersendiri dalam ilmu ini, walaupun persoalan lain belum teratasi sepenuhnya, seperti pengetahuan masyarakat untuk membagikan warisannya sesuai ketentuan fiqih (agama). Mempelajari ilmu faraid (ilmu mawaris) memang hukumnya fardhu kifayah, artinya kalau dalam segolongan umat sudah ada orang yang mengerti dan memahami ilmu faraid (ilmu mawaris), yang lain dari kelompok itu tidak lagi diwajibkan mempelajarinya. Sebaliknya, apabila dalam segolongan umat sama sekali tidak ada yang mengerti ilmu faraid (ilmu mawaris), maka segolongan umat itu berdosa.

Dalam perkembangan ilmu ini, beberapa naskah klasik (manuskrip) juga pernah membuat format untuk penghitungan dan penghapalan ilmu waris supaya lebih efisien dan mudah. Manuskrip di Aceh banyak menyebutkan tentang warisan, penulisan warisan ini tentu dapat diasumsikan oleh beberapa sebab, diantaranya pembelajaran, pengenalan ilmu waris, hingga juga disebutkan warisan dari seseorang yang sengaja ditulis untuk dibacakan ketika ia meninggal, biasanya ini untuk menghindari perselisihan di kemudian hari.

Hadirnya ilmu waris ini sebagai penegak terhadap hak-hak mereka yang tertindas, terzalimi, ataupun memberantas monopoli dari salah satu di antara para ahli waris, problema ranah keluarga ini menjadi sangat sensitif karena dapat menimbulkan perpecahan dalam keluarga, baik langsung ataupun tidak langsung. Selain itu juga dapat berbahaya pada seseorang, jika ia mengambil hak waris orang lain, itu sama dengan mencuri atau memakan yang bukan haknya.

Oleh karena itu, pemerintah yang berkompoten dan yang berada dalam ranah ini harus mensosialisikan dan mengembangkan ilmu waris ini di masyarakat, setidaknya setiap satu desa memiliki satu orang yang paham dalam bidang ini, baik teungku, imum mesjid, alim ulama, atau para intelektual, sehingga masyarakat dan setiap orang dapat bertanya kepada ahlinya dan terhindar dari pertikaian antar keluarga yang akan berdampak lebih besar terhadap ukhuwah islamiyah.


Meulaboh Dalam Lintas Sejarah Aceh

Penulis (paling kanan baju warna merah) bersama dengan Wakil Bupati
Rektor UTU Meulaboh dan pembedah buku


Buku "Meulaboh Dalam Lintas Sejarah Aceh" diluncurkan dan dibedah pada hari Senin (25/11/2013) di kantor Bupati Aceh Barat yang dibuka oleh Wakil Bupati Aceh Barat, Drs. H. Rachmat Fitri HD, MPA, mewakili Bupati Aceh Barat, H. T. Alaidinsyah.
Buku ini ditulis oleh Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) Aceh Barat, HT Ahmad Dadek bersama Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang juga ahli manuskrip Aceh, Hermansyah, serta editor Arif Ramdan, wartawan Serambi Indonesia di Aceh.

Peluncuran buku ini dipadukan dengan bedah buku oleh Dr.Gunawan Adnan, MA., Ph.D, yang menurut beliau hadirnya buku ini patut diapresiasi dan dibaca, sebab ini dapat menjadi rujukan utama karena kajian dalam buku ini dipadu dari sumber-sumber primer, manuskrip dan buku-buku Belanda.

Buku tersebut berisi tiga dimensi periode. Meliputi Meulaboh dalam literatur klasik; Kesultanan Aceh, orang-orang Pribumi, Teungku dan Datuk: literatur klasik Manuskrip; 

Periode kedua merupakan periode Kolonial Belanda, sejak menginjak kakinya di Meulaboh pada tahun 1877. Pada bagian ini antara lain terdapat Hikayat-hikayat Aceh versi van Langen, Hikayat Teungku di Meukek, dan Hikayat Ranto, West Kust van Atjeh, dan lain-lain.


Manuskrip Ilmu Matematika di Aceh dan Melayu-Nusantara

Manuskrip mengenai ilmu matematika (hisap) ini agak sulit ditemui di Aceh, termasuk wilayah Melayu-Nusantara. Namun, perkembangan ilmu ini sudah ada di tanah Asia Tenggara sejak sebelum Islam hadir, walaupn rumusan ilmu tersebut dapat disimpulkan periode Islamisasi di Nusantara. Sebab ilmu ini sudah menjadi kajian menarik sejak Islam ada di Jazirah Arab, sebab sangat berkaitan dengan ilmu waris, ilmu falak, dan ilmu-ilmu lainnya.
Dalam lintas sejarah Islam, ilmu matematika telah dikembangkan sejak abad ke-8 Masehi, beberapa tokoh penting seperti Al-Hajjaj bin Yusuf bin Matar (786-883 M), Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, Al-Qalasadi, Abdul Qadir al-Sakhawi, Al-Abbas bin Said al-Jawhari, Abdul Hamid bin Turk, Ya'qub bin Ibn Ishaq al-Kindi, Banu Musa, Al-Bahani, Al-Khazin, Al-Kharaji, Abul Wafa al-Buzjani, Umar Kayyam, Al-Batani, dan lain sebagainya, merupakan pengasas dan pengembang ilmu matematika.
Dari beberapa sumber literatur menyebutkan bahwa Bangsa Semit menggunakan huruf abjad Arab. Mereka membakukan angka dengan abjad ini. Demikian juga halnya mengenai huruf abjad pada zaman Rasulullah. Pada abad pertama Hijriyah para ilmuwan muslim menggunakan huruf-huruf abjad dalam menuliskan karangan-karangan mereka. Setiap huruf mempunyai angka khusus untuk menunjukkannya. Huruf alif melambangkan angka 20, huruf lam melambangkan angka 30 dan seterusnya.
Pengenalan angka-angka India-Arab serta perluasan penggunaannya di dunia Arab dan Islam adalah berkat jasa ilmuwan terkenal, Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (164-235 H/781-850 M), yang menulis buku tentang angka-angka India-Arab. Dengan demikian, bentuk-bentuk dari angka-angka India-Arab mulai menempati huruf-huruf abjad.
Cara penulisan angka-angka di kalangan orang India, oleh para ilmuwan muslim, terlihat mudah dan jelas serta tidak mempunyai kerumitan apa pun. Karena itu, para ilmuwan muslim mengambil gagasan tentang angka-angka dari orang India, tetapi dalam pengcmbangannya mereka mengambil arah yang berbeda dalam hal tertentu dari arah yang diambil oleh orang India. Bagaimanapun, saya melihat, sebaiknya angka-angka, dinamakan angka India-Arab karena gagasan awalnya berasal dari India. Sedangkan angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 adalah angka-angka Arab. Sekalipun akar-akarnya berasal dari angka-angka India-Arab, bangsa Arab-lah yang telah memasukkan ke dalamnya berbagai penyesuaian dan penyederhanaan sehingga terkenal di dunia dalam bentuknya yang sekarang. Bangsa Arab telah mengenal angka kosong (nol) sejak semula.
Naskah Ilmu Matematika yang ditemui di Aceh
karya Abdul Qadir bin Ali as-Sakhawi, 

Naskah ini menunjukkan bagaimana Abdul Qadir al-Sakhawi juga senada dengan penggunaan nama angka ini, disebut dalam naskah tersebut "Yaqulu rahimallahu rabbahu Abdul Qadir  bin Ali as-Sakhawi as-Syafi'i amilahum Allah bikhaffi lafzhihi fi ad-Dunya wal Akhirah, Hadha Mukhtashar fi Ilmu al-Hisab Sahhala Lil-Mubtadi nafi'ah, insyaAllah Ta'ala, wa-rattabahu 'ala Muqaddimah, wa ahada 'asyara baban, wa-khatimah. 
Fa-al-Muqaddimah fi sifat al-ahruf al-Hindiyyah wa-hiya tis'atu asykalin..." (Terjemahan: Abdul Qadir bin Ali as-Sakhawi as-Syafii -Allah memudahkan mereka di dunia dan akhirat- disebutkan bahwa ini Ringkasan Ilmu Hidab (Matematika) untuk memudahkan para pemula, Insya Allah bermanfaat. Maka disusun terdiri dari Mukaddimah, 11 bab, dan penutup. Maka, dipembukaan ini disebut karakter huruf Hindi (India) yaitu ada 9 bentuk...)
Pada dasarnya, tokoh Abdul Qadir bin Ali as-Sakhawi terkenal di wilayah Melayu-Nusantara berkat Syekh Ahmad al-Fathani yang mengkaji kitab (karya) beliau berjudul matan Ilmu Hisab. Kemungkinan termasuk kitab ini merupakan hasil kerja keras Syekh Ahmad Fathani.
Tidak banyak ditemui pembicaraan beliau tentang ilmu hisab itu dalam bahasa Melayu. Ini kerana Sheikh Ahmad al-Fathani lebih banyak menulisnya dalam bahasa Arab. Tulisan beliau dalam bahasa Arab mengenai ilmu hisab dimulai dengan penerbitan kitab Matn as-Sakhawiyah fi ‘Ilmil Hisab karya Sheikh Abdul Qadir as-Sakhawi. Penerbitan dan pentahqiqan dilakukan pada tahun 1304 H/1886 M. Kemudian kitab tersebut beliau syarah pula dalam bahasa Arab.

Punahnya Sastra Aceh

Naskah Hikayat Prang Sabi
"Bangsa disayang, bahasa dibuang" mungkin tepat untuk menggambarkan Aceh saat ini. Di atas pusaran politik dan status Aceh yang berusaha membangkitkan nasionalisme keacehan dengan menjadi bangsa yang mendapat "keistimewaan" dan "otonomi" dari RI. Namun sayang, identitasnya musnah dari sisi sastra dan bahasa.

Realitanya tidak semua orang yang status KTP Aceh mampu berbahasa Ibu, ataupun lokal. Dalam konteks ini seluruh bahasa khas kedaerahan yang ada di wilayah Aceh. Dalam beberapa diskusi juga terungkap bahwa, sebagian generasi muda dan tingkat pemula sudah enggan menggunakan bahasa Aceh sebagai komunikasi dua arah, apalagi dalam diskusi publik.

Tentunya, tidak terlalu ekstrim jika disebut "punahnya sastra Aceh", sebab begitulah realita saat ini. Selama kemerdekaan, belum hadir satupun karya dalam bahasa dan kesusasteraan Aceh untuk dapat dibaca dan dikagumi. Walaupun semangat "pan-acehnisme" (meminjam istilah pan-Islamisme) pernah muncul di bidang karya sastra pasca rehab-rekon gempa-tsunami, tapi redup kembali oleh isu-isu politik, pemerintahan dan kepentingan "sekterian" alias kelompok.

Beranjak dari kasus-kasus tersebut pasca perdamaian dan kebencanaan di Aceh, sepatutnya pemerintah dan pemangku kebijakan di bidang ini untuk merumuskan kembali membangun pondasi sastra Aceh sebagaimana dahulunya. Dahulu yang dimaksud adalah periode kesusasteraan pernah mencapai puncak keselarasan.

Karya sastra berbahasa Aceh, meskipun telah muncul sejak abad XVII M, namun perkembangannya baru menemukan momentumnya pada abad XVIII. Perkembangan tersebut semakin pesat pada abad XIX seiring dengan semakin surutnya peranan Aceh sebagai pusat kebudayaan Melayu.  Hal tersebut ditandai dengan banyaknya karya sastra, umumnya berbentuk puisi dan ditulis dalam bahasa Aceh Jawoe (Aceh bertulisan Arab),  yang muncul dalam periode ini, baik lisan maupun tulisan. Sementara penulisan prosa dalam bahasa Aceh tidak berkembang sebagaimana perkembangan bahasa Melayu, bahkan hingga sekarang.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa karya sastra Aceh tertua yang dapat ditelusuri adalah: Hikayat Seuma’un,  tanpa diketahui identitas pengarang (anonim), sekitar tahun 1069 H/1658 M. Hikayat ini bercerita tentang kepahlawanan Seuma’un, anak Khalid ibn Walid (pejuang Islam), yang lahir dan besar di Mekah. Kemudian muncul Hikayat Tujoh Kisah (Hikayat Tujuh Kisah) tahun 1074 H/1663 M. Karya tersebut merujuk kepada sebuah karya Nuruddin al-Raniri, Akhbar al-Akhirah,  yang ditulis tahun 1052 H/1642 M.

Karya berbahasa Aceh lainnya, yang muncul dalam abad XVIII dan XIX, di antaranya:

A 'Golden letter' in Malay to Napoleon III

Illuminated letter in Malay from Engku Temenggung Seri Maharaja (Daing Ibrahim) of Johor to the Emperor of France (Napoleon III), written in Singapore on Monday 17 Syaaban 1273 (12 April 1857). Or.16126.
This beautiful royal Malay letter (Or.16126) from the ruler of Johor, Temenggung Daing Ibrahim, to the Emperor of France, written in Singapore in 1857, is a triumph of style over substance. Its thirteen golden lines pay effusive compliments to Napoleon III but little else, as can be seen from the translation (see link given below). The letter was accompanied by a handsome gift of Malay weaponry.
It is hard to know what either side hoped to gain from the despatch of such a magnificent missive, for in the mid-19th century French interests in Southeast Asia were primarily focused on Indochina, while Johor’s allegiance was firmly with the British. In the letter the Temenggung makes no requests of the French, and adroitly expresses his greatest praise for Napoleon III in terms of the Emperor’s cordial relations with Queen Victoria, ‘both sides thereby gaining in such strength that no other nation can match them, as long as the sun and moon revolve’ (bertambahlah kakuatan antara kedua pihak tiadalah siapa bangsa yang boleh bandingannya selagi ada perkitaran bulan dan matahari). It is most likely that the French envoy named in the letter, M. Charles de Montigny, who was in 1857 based in Singapore, procured the letter for his own personal or professional advancement.

Politically, historically and diplomatically this letter could be regarded as something of a dead end, but as a work of art it is far more significant. Despite the frequent use of gold in Malay manuscript illumination, this is the earliest known example of chrysography – writing in gold ink – in a Malay letter. It is beautifully illuminated with a rectangular golden frame on all four sides of the textblock, surmounted with an elaborate arched headpiece in red, blue and gold.

In format and structure, this epistle an exemplar of the courtly Malay art of letterwriting. At the top is the kepala surat or letter heading in Arabic, Nur al-shams wa-al-qamr, ‘Light of the sun and the moon’; this phrase is very commonly encountered in Malay letters addressed to European officials. The letter opens conventionally with extensive opening compliments or puji-pujian, identifying the sender and addressee, and with fulsome praise for the Emperor on account of his renown. Strangely, we do not encounter the Arabic word wa-ba‘dahu or its equivalents such as the Malay kemudian daripada itu, traditionally used to terminate the compliments and mark the start of the contents proper, for the simple reason that there is no real content to this letter. The compliments meld seamlessly with a brief mention of the French envoy entrusted with the letter, before gliding into the final section with a statement of the accompanying gift and thence onto the termaktub, the closing line giving the place and date of writing.

Adab IAIN Ar-Raniry Adakan Workshop Manuskrip di Museum Ali Hasjmy


FAKULTAS Adab dan Humaniora IAIN Ar-Raniry mengadakan workshop tahqiq naskah-naskah Arab yang berpengaruh di Aceh dan Nusantara, Senin (7/10) lalu di Museum Lembaga Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy (YPAH).

Peserta yang workshop dikhususkan bagi mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) tersebut diikuti oleh 16 orang peneliti muda dari kalangan mahasiswa dan peserta umum lainnya mencapai 20 orang. Demikian disampaikan oleh filolog Aceh Hermansyah yang juga dosen IAIN Ar-Raniry.

“Selama ini, naskah-naskah Arab di Aceh, khususnya karya ulama Aceh dalam bahasa Arab, sering terabaikan disebabkan fokus kajian mahasiswa lebih kepada kitab-kitab dan tokoh Arab. Padahal sumber-sumber manuskrip di Aceh sangat melimpah, karena ulama-ulama terdahulu belajar langsung ke jazirah Arab. Problem tersebut juga dipengaruhi oleh sumber daya mahasiswa dalam kajian naskah Arab masih minim,” sebut Hermansyah.

Hermansyah juga menyebutkan, Lembaga YPAH dipilih sebagai tempat pelatihan karena lembaga ini menyimpan naskah-naskah Arab.

Ada sekitar 232 bundel naskah dengan 314 teks di dalamnya sudah dideskripsikan, dan ternyata 45% dari jumlah itu berbahasa Arab. Jauh mengalahkan persentase naskah berbahasa Aceh yang mencapai 10%, dan sisanya berbahasa Jawi (Melayu). Ke depan diharapkan mahasiswa atau peneliti muda dapat menindak lanjuti kajian manuskripnya yang tersimpan disana.

Hermansyah sebagai pengarah dalam workshop tersebut juga mengharapkan setiap tahunnya ada penelitian manuskrip di kampus IAIN Ar-Raniry, khususnya Fakultas Adab dan Humaniora, bukan hanya satu bidang disiplin, tapi mencakup untuk multidisipliner ilmu-ilmu yang ada. Karena, banyak naskah yang belum terjamah yang kini menunggu sentuhan mahasiswa dan penelitian.

“Diharapkan, masa mendatang kita akan buat lebih besar dan luas lagi, melibatkan beberapa universitas atau perguruan tinggi yang ada di Banda Aceh, serta lembaga masyarakat yang focus terhadap manuksrip atau ilmu-ilmu yang linier mencakup semua bahasa dan pembahasan yang ada,” harapnya.

source:
http://www.theglobejournal.com/Pendidikan/mahasiswa-adab-humaniora-workshop-manuskrip/index.php
http://seputaraceh.com/read/20252/2013/10/09/workshop-manuskrip-menunggu-sentuhan-mahasiswa-dan-peneliti
http://pemerintah.atjehpost.com/read/2013/10/07/68350/0/71/Mahasiswa-IAIN-Ar-Ranirry-gelar-workshop-manuskrip

 

Education

Loading...

adsense

National Geographic Photos

Manuscript

Loading...